0

Menemukanmu

Tuhan menjadikanmu jalan untukku mengenal diri
Jalan yang kerap kali kususuri dari pagi ke pagi

Kau menemukanku di batas hari
Saat kesepian sekian lama tersimpan rapat di dasar hati

*Judul dan sajak pertama diambil dari karya Tiara Rizkina*
*Moonlight-Yiruma*

Iklan
0

Apa Kabar Maryam?

Halo, Maryam apa kabar? Happy kah di sekolah baru?

Kak Dinar baper (terbawa perasaan) ketika tadi Umma tiba-tiba whatsapp minta foto-foto Maryam waktu di Maryam&Isa. Kak Dinar bilang ke Umma kalau ternyata rasanya ada yang hilang saat Maryam tidak datang lagi kesini.

Umma bilang, Maryam masih sering ngobrolin kakak-kakak di rumah. Umma bilang, Maryam masih suka excited dan bilang “itu sekolahku” kalau lewat sini. Maryam bilang, ‘Afiyah nggak boleh ke Maryam&Isa karena Maryam cuma mau kakak-kakak ngajarin Maryam.

Maryam pasti aslinya juga rindu, seperti kami disini. Tepatnya Kak Dinar sih. Rindu, rindu sekali.

Maryam cantik, lincah dan cerdas. Semua orang pasti akan senang saat lihat Maryam, lalu akan bertanya “itu siapa? usianya berapa?” Beberapa yang tidak bertanya akan bilang “Ih cantiknyaa,,” atau “ih,,,lucunya pakai hijab.”

Tapi bukan itu yang bikin kami rindu, Kak Dinar rindu. Lebih dari segala kelucuan sebagai anak-anak, Maryam adalah teman bagi kami. Teman mendewasa. Tepat saat Maryam tumbuh menjadi anak yang sangat manis dan cerdas, kami tumbuh menjadi orang yang lebih sabar, lebih mengerti dan lebih penyayang.

Kami punya banyak kenangan yang tak terlupakan dengan Maryam. Kenangan itu menempel di memori kami karena itu adalah pertama kalinya pula bagi kami. Mungkin Maryam akan melupakannya, tapi Kak Dinar yakin, jejak pembelajarannya akan tersimpan dalam jati diri Maryam sampai nanti.

Tiap datang Maryam selalu menangis, katanya mau sama Abah. Padahal sepuluh detik setelah Abah pergi, Maryam juga diam sendiri dengan ritual merenung sebentar. Dulu waktu Maryam kecil, kami harus bawa Maryam ke kebun dekat komplek untuk lihat ayam. “Ayam dimana dicari Maryam?” begitu kata kuncinya. Kami jadi tahu, anak-anak pun perlu waktu untuk meregulasi dirinya sendiri. Maka tiap mood Maryam tidak bagus, kami akan biarkan Maryam untuk duduk berdiam diri dulu

Saat Maryam berumur 2,5 tahun, Maryam bilang kata Umma nyanyi lagu ulang tahun itu nggak boleh. Dan sebenarnya, kakak-kakak juga tidak pernah mengajarkan lagu itu di sekolah, tapi teman-teman menyanyikannya. Mungkin tahu dari rumah. Waktu Sunda ulang tahun dan teman-teman bernyanyi lagu selamat ulang tahun, Maryam cuma diam. Sambil agak cemberut. Percayakah Maryam, kalau kami belajar dari sikap Maryam waktu itu? Sekecil itu Maryam sudah teguh prinsip, kami jadi malu. Kami, yang makin tua makin permisif ini.

Di sekolah, Maryam datang selalu dengan berhijab. Kalau pakai rok, Maryam selalu pakai celana panjang di dalamnya. Sebenarnya kebiasaan teman-teman juga begitu. Tapi pernah suatu kali Athaya pakai dress yang terlalu pendek dan tidak bawa celana panjang. Kami tidak minta Maryam, tapi Maryam langsung berikan celana panjang cadangan ke Athaya. “Pakai punya aku aja” kata Maryam. Begitu pula saat Rafa ngompol dan tidak bawa celana lagi. Maryam ambilkan celana merah polkadotnya untuk Rafa. Dan kami jadi tertawa terbahak-bahak, karena lihat Rafa jadi imut banget pakai celana polkadot. Anak kecil memang peka, tapi kami tak pernah menyangka akan sepenyayang itu. Kami jadi tertohok. Kami yang makin besar makin cuek ini.

Sejak bisa bicara, Maryam jadi ceriwis. Dan memang seharusnya begitu. Tapi Maryam juga mendengarkan teman saat mereka bicara, juga mengingatnya. Sejak itu pula kami tak pernah membicarakan teman-teman dan Maryam di dekat Maryam atau teman-teman. Kami juga tak pernah memaksa Maryam melakukan sesuatu, karena Maryam tidak suka dipaksa. Maryam hanya bisa diberi pilihan dan negoisasi. Dan dari situlah kami belajar, terhadap anak-anak pun, kami tidak boleh bicara main-main. Segala hal yang diterima dengan sungguh-sungguh, seharusnya juga diberikan dengan sungguh-sungguh. Termasuk kata-kata.

Begitu Maryam, Kakak kadang lupa, Maryam anak kecil dan bukan teman sebaya. Itu karena Maryam dewasa sejak dari dalam hatinya. Waktu itu Kakak bahkan pernah minta didoakan sama Maryam. Maryam cuma mengangguk-angguk dan tersenyum, entah tahu entah tidak.

Sudah itu dulu ya ceritanya. Setidaknya menulis sekian paragraf ini sudah menjawab kerinduan pada Maryam. Sebab yang terpenting nyatanya bukan hanya kenangan, namun pembelajaran yang diperoleh darinya. Maryam bagian dari titik balik yang Kak Dinar lalui.

Umma tidak pernah upload foto Maryam di social media. Dan karenanyalah Kak Dinar bangga sekali padanya. Tapi sekali ini, eh tidak, untuk kedua kalinya, biar foto Maryam ada disini ya, di blog pribadinya Kak Dinar.

A Brief Moment : Selfie with her

A Brief Moment : Selfie with her

0

Pada Sebuah Tanya

Pada sebuah tanya, pernah kusandarkan rasa,
Apakah kita, memang terlahir untuk mencipta kata yang menggoreskan luka bagi sesama?
Hingga dunia, tampak seperti udara gelap yang keluar dari kantong nafas penuh murka

Pada sebuah tanya, air mata tak dapat lagi menahan dirinya
Apakah kita, memang ada untuk menciptakan kerusakan, permusuhan dan tangisan di wajah semesta?
Hingga pohon, daun dan nyamuk, tak mengerti lagi, untuk apa manusia diberi hati yang suci di alam rahim

Pada sebuah tanya, kuletakkan diriku dalam ruang penghayatan
yang berkali-kali gagal kutemukan kedalamannya
Apakah kesombongan telah menempel di sekujur lapisan epidermis yang terkoyak satu per satu oleh panasnya matahari?
Hingga tak sadar lagi, di hadapan takdir, manusia hanyalah sebutir debu yang terbang, hilang dan terlupakan

Pada sebuah tanya, yang belum kutemukan jawabnya
Ruhku berbisik memberi kehangatan pada malam hujan yang tak berkesudahan
Inilah kita yang demi masa depan seperti ini dulu Nabi pernah bersedu sedan pada detik menjelang kepergiannya
Inilah kita yang kini begitu sibuk berteriak-teriak pada urusan yang tak memberikan faedah apa-apa
Inilah kita yang terlena oleh kemajuan peradaban namun tersesat diantara substansi kehidupan
Pun begitu, tangan Tuhan tak pernah berhenti meraih segala keputusasaan
DibiarkanNya segala gaduh bergulung-gulung, bersahut-sahutan hingga sampai ke langit yang tujuh
Dan kita tahu, yang tersisa hanyalah kekosongan
Dan kesunyian yang dalam

lonely-012

0

Selamat Tinggal Banda Neira

Beberapa orang belajar dari orang lain, beberapa orang belajar dari buku, beberapa orang belajar dari musik dan beberapa diantaranya belajar dari kesemuanya. Saya, salah satu diantaranya. Sekitar tiga-empat tahun yang lalu, bersama sahabat setengah kembaran saya yang seorang musisi otodidak, saya mulai menggemari kelompok-kelompok musik indie. Itu tepatnya ketika youtube dan streaming internet mulai menjamur di kalangan anak muda. Payung Teduh, Efek Rumah Kaca, Angsa dan Serigala dan Float, mereka awalnya. Kemudian Banda Neira, White Shoes and Couples Company sampai Silampukau, Barasuara dan masih banyak lagi. Mereka itu, apa ya, seperti ke-kerenan dalam bentuk maksimal. Musik iya, sastra iya, kritik sosial juga iya. One package lah.

Maka, ketika tadi pagi, melalui akun fanpagenya, Banda Neira mengumumkan akhir perjalanan karyanya, saya seperti dilanda perasaan semacam sedih, patah hati dan “yahhh,,,kok bubar sih.” Entahlah, mungkin ada pengaruhnya dari banyaknya kabar kurang menyenangkan yang saya terima akhir-akhir ini. Tapi terlepas dari itu, beberapa nada dan lirik yang dibawakan oleh suara syahdunya Mbak Rara Sekar dan Mas Ananda Badudu ini pernah membantu batin saya melewati episode-episode yang tidak mudah di awal perjalanan.

Sampai sekarang lagu Di Atas Kapal Kertas selalu mengingatkan saya pada Raisa, gadis kecil dengan Pervasive Development Disorder Not Otherwise Specified (PDD NOS) bagian dari gangguan autistik yang pernah mengaduk-ngaduk perasaan saya antara kasihan, marah, sedih dan nelangsa. Dulu, karena keterbatasan pengetahuan yang saya miliki, sering sekali saya bersikap tak adil pada Raisa. Lagu ini secara sederhana menceritakan seorang anak yang bersembunyi di balik tirai, ingin keluar namun tidak bisa karena di luar sedang hujan. Tiba-tiba segala ke’baper’an yang melanda saya sewaktu Raisa tidak mau mendengar saya, sewaktu Raisa tidak mengalami banyak kemajuan, seperti terjawab. Bukan Raisa yang salah, saya yang kurang mengerti. Anak-anak dengan spektrum autistik seperti manusia yang terperangkap dan mencari jalan untuk keluar. Saya tersadar, bahwa terlepas dari segala ekpetasi saya padanya, tugas saya hanyalah membantu Raisa membangun kapal kertas agar ia bisa keluar melewati tirai di hari yang hujan, sedangkan yang bisa melewatinya, hanyalah Raisa sendiri.

Lagu Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti ini ultimate banget menurut saya, penutup yang paripurna di akhir masa karya. Lirik lagu ini seperti mengingatkan kita, bahwa suatu saat, yang patah akan tumbuh kembali, yang telah hilang bisa saja berganti, yang pernah jatuh akan bangkit lagi dan yang sia-sia tetap saja bermakna. Selanjutnya, adalah pengulangannya. Patah-tumbuh, hilang-ada, jatuh-bangkit, sia-sia -bermakna. Ini semacam pengingat bahwa, segala kekecewaan, kehilangan dan perasaan jatuh dan terbuang, tidak akan selamanya bersemayam. Sederhananya, adalah masa yang tetap harus dilalui, seberat apapun. Dan hidup, harus tetap berjalan dan baik-baik saja bukan? What’s done is done, what’s gone is gone, one of life’s lessons is always moving on.

Cyclamen

Cyclamen

Jadi, apakah postingan ini semacam curhat tipis-tipis?
Bukan. Bukan begitu maksudnya :D. Saya merasa saya perlu menjadi lebih santai sejak dalam pikiran, kalau perilaku sih sudah dari dulu. Intinya, saya sedang merasa perlu bermelankolia denga rasa sedih. Sedih karena Banda Neira berhenti, dan rasa sedih lain yang datang di hari-hari ini.

Selamat tinggal Banda Neira
Yang sekarang patah, akan ada masanya akan tumbuh lagi

0

Sementara Itu

Sekitar dua minggu yang lalu, tiba-tiba saya ditelfon salah seorang sahabat lama saya yang selama ini terlupa dari prioritas hidup saya. Setelah lebih dari dua tahun kami tak berhubungan sama sekali, bahkan di hari besar seperti Idul Fitri, adalah hal yang sangat menyenangkan untuk bicara dengan sahabat sejak kecil, teman mendewasa seperti ini. Nyaris tak ada yang berubah darinya, caranya mengolok-olok saya, caranya menunjukkan kekonyolan-kekoyolannya dan caranya memberikan banyak pandangan hidup dalam bentuk celetukan gila. Kami berbicara seperti saat kami berumur sepuluh tahun, lima belas tahun, hingga kami terpisah kampus dan bertemu sesekali.

Sebagai perantauan, barangkali bertemu dengan teman mendewasa seperti ini lebih manjur daripada bepergian kemanapun sebagai relesing stress. Tidak ada candaan orang-orang kota dan orang-orang daerah lain yang lebih bisa membuat tertawa melebihi candaan dengan teman sekampung halaman. Kami berbicara tentang kekonyolan zaman sd hingga sma, kami bicara tentang rumah dan keluarga hingga sampai pada cita-cita. Tentang apa-apa yang pernah kami jadikan harapan, kami telah sampai padanya di masa sekarang, yang tentu saja, jalan yang telah kami lalui sebagian tak sesuai dengan apa yang dicita-citakan.

Percakapan dengan teman yang sempat terlupa dalam hidup seperti ini menyadarkan saya akan sesuatu. Sejauh apa saya meninggalkan asal, selama apapun saya melewati masa lalu, pada akhirnya hati dan pikiran dalam kepala, tak bisa menghapus segala kenangan di dalamnya. Mereka adalah yang membentuk saya saat ini. Bersama mereka, kadang adalah pelepas penat, refleksi dan katarsis. Saya juga kemudian menyadari hal lain yang ada dalam diri saya, terkadang nasehat kawan lama yang disampaikan dengan celotehan tak berkelas dan penuh tawa, lebih ampuh dari segala tulisan penuh sumber yang dibagikan dalam setiap akun social media. Setidaknya bagi saya begitu.

reminiscing

Malam hujan, ketika sebagian isi kepala sudah dihabiskan oleh tugas akhir.

0

Maryam

Manusia selalu mampu belajar hal baru atau hal lama yang diperbarukan pada setiap pertemuannya dengan manusia lain. Namun kemampuan manusia terbatas dalam berperasaan dan memberi kesan. Sehingga ketika sesungguhnya mampu belajar pada setiap hal, hanya beberapa manusia yang benar-benar berkesan bagi manusia lainnya. Begitu juga dengan Maryam. Walau segala kelebihannya membuat takjub, namun pada banyak hal ia tetap sama seperti yang lainnya. Kisah tentang Maryam, terlepas dari perasaan sayang dan semacamnya. Melalui dialah, Tuhan membukakan padaku pintu cakrawala untuk semakin mengerti tentang kehidupan anak manusia. Ia tertulis, barangkali karena ia termasuk ke dalam “beberapa manusia yang dapat memberi kesan” padaku.

Aku mengenalnya pertama kali, ketika dia adalah seorang manusia yang baru dapat memijakkan kaki di bumi. Lima belas bulan usianya kala itu. Secara fisik, ia bayi yang rupawan dan menyenangkan jika dipandang. Sebab orang tuanya pun termasuk rupawan. Nama tengahnya berarti keridhoan Tuhan. Barangkali karena itulah, terhadap prinsip-prinsip ketuhanan yang diajarkan padanya secara sederhana, ia melakukannya dengan kesungguhan dan kepolosan seorang anak.

Pada hari-hari pertama ia datang dengan penuh tangisan, entah seperti apa, aku merasa tenang. Aku seperti mengerti bahwa dia akan diam saat ingin diam, dan menangis adalah salah satu caranya untuk meredakan ketakutan. Rumit ya? Tapi itulah yang kurasakan. Tak ada yang tahu bahwa itu adalah salah satu cara yang dilalui oleh pikiranku nantinya, untuk mengerti bagaimana perasaan manusia bekerja semenjak kecilnya.

Di awal episode hubungan kami yang setelah hari itu terus berlanjut, Maryam terlihat sangat introvert. Ia menyendiri ketika aku dan temanku berbicara-yang kadang-kadang juga-tentangnya. Ia menolak dekat-dekat dengan orang yang baru dilihatnya terutama laki-laki dewasa, pada saat tertentu, ia diam sampai ada orang yang berkenan menyapanya. Barangkali hal tersebut memang wajar bagi anak-anak. Tetapi pada sinar matanya, aku melihat tentang betapa dalamnya dia mencoba melihat situasi, meregulasi dirinya sendiri. Seakan-akan ia berkata “terhadap hal-hal yang merusak ketenanganku, biarkan aku mencobaa menyelesaikannya sendiri.”

Semakin aku mengenalnya, semakin bertumbuhlah karakternya. Maryam bukanlah anak yang gagap logika. Ia melakukan atau menolak sesuatu karena telah paham dengan cara yang paling sederhana. Bahkan terkadang dengan negoisasi yang tanpa sadar membuatku menjadikannya sebagai teman, bukan anak-anak. Kamu boleh itu kalau sudah ini atau kalau kamu melakukan ini kamu harus itu, kataku padanya. Ia terbiasa memilih dan menanggung pilihannya sendiri, maka sejak itulah aku mengerti, anak-anak tidak bodoh dan tak ada yang bodoh, jika orang dewasa memahaminnya dan memberikan pilihan-pilihan di masa awal hidupnya. Keberadaan Maryam, seperti meruntuhkan Blank State Theory (Tabula Rasa) yang dikukuhkan John Locke empat abad silam. Anak-anak memang suci, namun mereka bukan kertas putih yang kosong tak berisi apa-apa. Mereka membawa simpul genetikanya masing-masing, yang kelak akan menjadi bekal pertumbuhannya sebagai orang dewasa.

Tentu saja, ada kalanya Maryam menjadi tidak penurut, malas dan egois. Seiring dengan bertambah usia dan meningkatnya kemampuan verbal, anak-anak akan melaluai fase ke’aku’an yang tinggi, yang jika tidak dibiarkan juga tidak akan berlama-lama ada dalam diri anak. Hal itu membuat Maryam lebih seperti anak-anak kebanyakan. Dan tentu saja, dengan pengalaman dan pengetahuanku yang sedikit, aku pernah kesulitan mentolerir itu semua.

Lantas apa yang membuatnya berkesan bagiku? Kesan, terkadang dihadirkan Tuhan begitu saja pada diri manusia. Setiap aspek dalam diri Maryam mengesankan bagiku. Tapi terlebih dari itu dari dirinya aku belajar mengenali karakter anak-anak. Menganggap mereka manusia yang juga sama seperti orang dewasa terlepas dari kepolosan yang menjadi dunianya. Pernah suatu hari, ketika keadaan hati dan mukaku kurang bagus karena kelelahan, Maryam hendak melakukan sesuatu pada temannya namun terhenti saat aku melihatnya. Kutanyakan padanya kenapa dia seperti itu, dan dia tak menjawab. Kulihat di tangannya terdapat bekas gigitan. Dan aku hampir menangis saat kukatakan kenapa ia tak berteriak, menangis atau memanggilku ketika digigit, namun ia hanya diam melihatku.

Sekarang usianya menjelang tiga tahun. Banyak hal yang telah ia bisa, dan karenanyalah ia maju mendahului beberapa tahap perkembangan. Namun bukan itu yang membuat ia dicintai banyak orang. Adalah perubahannya dari seorang gadis kecil yang introvert menjadi seorang balita yang affectionate, penyayang, peduli dan di sisi lain juga teguh prinsip. Sesungguhnya ada banyak anak seperti dia. Maryam hanya salah satunya.

Di sore hari, ketika kami berjalan berdua, pernah kukatakan padanya, bahwa jika nanti Tuhan mengizinkanku punya anak, aku ingin anak seperti dia. Bukan hanya karena dia cantik dan menyenangkan, tapi karena dia mampu mengerti dunia di sekitarnya dan punya kesempatan untuk menumbuhkan karakternya menjadi baik bagi sesama. Ia melihatku dengan senyum yang sedikit ditahan karena malu dan menggemggam tanganku erat.

Maryam, seperti itu tentu karena doa kedua orang tuanya. Namun satu hal dari orang tuanya yang memberiku sebuah catatan berharga. Tak sekalipun orang tuanya berbangga-bangga, memperlihatkan kelebihan anak-anaknya. Dan barangkali justru karena itulah, Maryam tumbuh dengan banyak cinta menghampirinya.

Bertumbuhlah sebagaimana kebaikan yang telah dilukiskan Tuhan di masa kecilmu
Kamu, dan teman-temanmu….

When she met me for the first time back then, she was just a cute little girl. Now, she is beyond that.

When she met me for the first time back then, she was just a cute little girl. Now, she is beyond that.

Adagio in C Minor by Yanni

0

Piknik, Hadiah dan Bahagia

Apa saja yang menjadi resolusimu di tahun ini? Pertanyaan itu sering saya temui setiap menjelang akhir tahun dan permulaan tahun yang baru. Seperti telah menjadi kebiasaan bersama untuk mencanangkan sebuah target hidup dan hal-hal yang ingin dicapai di awal tahun sambil berharap kebaikan di tahun yang akan berlangsung. Tentu saja ini adalah sebuah kebiasaan baik terlepas dari seberapa konsistennya kita untuk mewujudkannya.

Bagi saya hal-hal berbau perayaan seperti ulang tahun ataupun pergantian tahun sejujurnya tidak lebih penting dari mengerjakan pekerjaan rumah hingga selesai ataupun membaca buku di atas tempat tidur. Saya termasuk yang malas melakukan hal-hal tersebut termasuk salah satunya menandainya dengan semacam resolusi. Barangkali alasan saya seperti yang lainnya, perubahan di dalam hidup, resolusi sesederhana apapun bisa dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu pergantian tahun. Tapi alasan utamanya mungkin lebih kepada ketakutan-ketakutan saya sendiri terhadap takdir. Saya takut bahwa resolusi dalam bentuk capaian justru mengerdilkan keyakinan saya terhadap kuasa Tuhan. Semacam mendahului ketetapan Tuhan, yang jika pada akhirnya berbeda dengan apa yang saya mau, saya akan dipenuhi rasa kecewa, dan tentu tidak rela akan keputusanNya. Saya pernah melaluinya bertahun-tahun silam, dan setelahnya hidup terasa semakin berat.

Belajar dari pengalaman itulah, saya tak lagi menandai pergantian tahun dengan sebuah produk bernama target. Sebab yang saya percayai, saya bukanlah orang yang mampu seperti itu. Biarkan Tuhan yang memberikan apa-apa yang sudah pantas bagi saya, sementara apa yang menjadi tugas saya hanyalah melakukan yang baik, lebih baik dan terbaik.

Awal tahun ini menjadi sebuah pertanda bagi saya untuk mengkilasbaliki satu tahun kebelakang. Bahwa Serangkaian peristiwa tak terduga seringkali menjadi tanjakan pendewasaan bersamaan dengan perasaan tak percaya, semuanya telah dapat dilalui. Series of tragedy berupa kekhawatiran dan kehilangan mengiringi permulaan langkah kaki saya berjuang di dunia yang baru. Berat, tapi juga manis. Berangkat dari situlah saya merasa di tahun ini saya perlu melakukan hal-hal yang selama ini jarang sekali saya lakukan. Bila ini tak bisa disebut resolusi (karena saya juga tak hendak menyebutnya begitu), biarlah ini menjadi “hal-hal yang ingin saya lakukan” di sepanjang tahun ini.

1. Piknik
Manusia modern manakah kini yang tak mengenal kata “piknik”? Piknik, travelling, backpacker atau apapun itu, mengandung satu unsur yang sama, perjalanan. Dulu, saya masih ingat, saya senang sekali dengan semua aktivitas berbau pergi dan berperjalanan. Bepergian kemanapun, walaupun melelahkan tak sampai membuat saya stress, tertekan atau sakit. Mungkin karena melakukan perjalanan, seringkali terasa menarik. Maka benarlah mereka yang mengatakan orang yang suka marah-marah adalah orang yang kurang piknik karena melakukan perjalanan melepas gumpalan-gumpalan dalam saraf limbik. Though the road’s been rocky, it sure feels good to me, kata Bob Marley.

Tapi piknik yang lebih berarti, bukan hanya soal itu. Bukan hanya tentang pergi kemana, bersama siapa dan membagikan apa dalam akun media sosial. Percayalah, yang seperti itu sudah terlalu banyak, dan menjemukan. Piknik bahkan walaupun hanya berangkat ke kantor namun menemukan banyak sekali kebijaksanaan hidup adalah perjalanan yang sesungguhnya. Jika setahun ini, saya lebih banyak membaca buku di rumah, semoga tahun ini Tuhan merahmati niat saya. Untuk melakukan perjalanan demi perjalanan mendekat pada alam, berinteraksi dengan manusia dan menuliskannya menjadi kenangan pembangun jiwa. Tahun ini, saya akan berusaha untuk lebih banyak “piknik”.

2. Hadiah
Tahaadduu wa tahaabbu, saling memberi hadiah maka kamu saling menyayangi. Adalah perintah Nabi yang sederhana namun selama ini saya abaikan. Terhadap hal ini saya belajar dari drama dan variety Korea yang sering saya lihat. Orang Korea mempunyai kultur yang jelas dan tegas soal hierarki dan kecenderungan untuk selalu memberikan hadiah. Ulang tahun, tahun baru, bertamu bahkan meminta maaf selalu disimbolkan dengan hadiah. Sahwa (Apel) mempunyai pengucapan yang mirip dengan sahwa (minta maaf). Maka saat meminta maaf, orang yang bersalah biasanya akan membawakan Apel terhadap rang yang dimintai maaf.

Memberi hadiah adalah kebiasaan yang ingin saya lakukan untuk meruntuhkan ego saya sendiri. Untuk melawan segala ketidaksenangan saya dalam berinteraksi. Untuk selalu menyadarkan saya, bahwa hubungan antar manusia bukan hanya persoalan memberi dan menerima, tapi juga tentang perasaan dihargai, diingat dan diperhatikan. Semoga dengan ini Tuhan membukakan kembali pada saya pintu-pintu kedamaian berupa kedekatan dengan manusia dan dijauhkan dari segala sifat rendah diri ataupun tinggi hati.

3. Bahagia
Tidak satupun keinginan ada untuk membuat kita menjadi tidak bahagia. Termasuk dua hal di atas dan banyak hal lain. Dilakukan untuk menjadikan saya lebih bahagia. Bahagia yang sesungguhnya. Bahagia yang tertuang dalam empat jenis kesabaran. Kesabaran dalam menjalankan perintah Tuhan, kesabaran dalam melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, kesabaran menghadapi ujian, dan kesabaran terhadap manusia yang tak menyenangi kita. Bersabarlah dan berbahagialah.

bianglala

Wherever you go,go with all your heart (Confusius)