0

Ela

Aku bertemu Ela tiga bulan yang lalu. Seorang anak umur enam tahun yang sering berbicara kasar. Mungkin aku terlalu percaya diri, tapi dia terlihat sangat tertarik dengan diriku, keberadaanku yang begitu baru untuknya.

Dia adalah anak yang menancapkan kesan tak terlupakan padaku ketika pertama kali bertemu dengannya dia berbicara dengan kata yang jarang sekali ku dengar diucapkan oleh anak kecil disekitarku, “mampus lu!!!” Seketika itu juga kucatat sesuatu di kepalaku, bahwa aku harus tahu tentangnya.

Mungkin dari awal aku memang tertarik dengannya. Bukan karena dia pintar ataupun istimewa, namun karena adanya sesuatu yang aneh padanya terbaca olehku. Ela punya raut wajah yang mudah dibaca. Sesungguhnya, dia mempunyai isi kepala dan keaadaan hati yang melebihi umurnya. Dia anak yang sebenarnya mampu memahami permasalahan orang dewasa.

Aku bergaul dengannya seperti biasa. Tidak memanjakannya dan cenderung tegas. Dia memahamiku. Ela adalah anak yang begitu menyayangi ibunya bahkan disaat ibunya berada di titik paling tidak logis ketika memperlakukannya dengan kasar. Segala perasaan yang ia pendam tertumpah dalam sebuah coretan crayon hitam. Begitulah saat ia marah.

Tiga bulan aku mengenalnya dan sedikit waktu terkadang banyak merubah seseorang. Saat kami harus berpisah oleh satu hal, ibunya bercerita padaku. Bahwa ia selalu teringat padaku, mengatakan bahwa aku baik, membelikannya es krim dan tidak pernah marah padanya.

Interaksi ibu dan anak itu pun kini menjadi lebih lembut. Ela berubah menjadi anak yang lembut sekarang. Tidak pernah berkata kasar. Tapi lebih daripada itu aku melihat diriku sendiri. Tentang kenyataan masa lalu yang membuat penyesalan seumur hidupku ketika aku pernah menjadi orang yang begitu pemarah, pada adikku yang waktu itu masih kecil. Dan kini, ada anak kecil yang baru mengenalku dan mengatakan bahwa aku tak pernah marah.

Mungkin bukan Ela yang membuatku tertarik padanya. Sesuatu yang lain. Mungkin karena aku melihat diriku dalam dirinya. Melihat segala peristiwa yang pernah memenuhi ruang hati dari raut wajahnya. Melihat kemungkinan perubahan yang telah kulalui dan akan kujalani.

Baikkah aku?
Tidak pernah marahkah aku?
Mungkin karena aku juga berubah
Semoga…..

150714
A song for you by Tohpati

0

Gaza Tonight

Siapakah dia yang selalu terjaga saat malam, menyaksikan ribuan cahaya tercipta dari gesekan-gesekan bahan kimia berbahaya yang bisa membunuhnya kapan pun dia mendekat? Siapakan dia yang menjalani  hari-hari kehilangan orang tercinta bukan dengan tangis kesusahan namun dengan senyum keyakinan untuk menjalani hari lebih kuat esok dan esoknya lagi?

Dia adalah mereka, yang dipaksa meninggalkan tanah kelahirannya sejak 1946, rakyat Palestina. Jauh lebih lama daripada apa yang juga dialami oleh rakyat Bosnia,Chechnya, Suriah dan penduduk Rohingnya. Dan kita telah banyak belajar tentang dunia dewasa ini, bahwa kemanusian berkaitan erat dengan termanifestasikannya hak untuk hidup di tanah yang menjadi tempat seseorang lahir.

Rakyat Palestina, anak-anak Gaza, kini namanya tengah memenuhi ruang indra kita. Dunia bersuara atas penyerangan Israel pada rakyat Palestina, setelah lebih dari enam puluh tahun derita tak juga kunjung membuat negeri adidaya itu tersadar.

Kita telah tahu fakta penderitaan mereka dan mengasihinya seolah-olah hidup mereka lebih buruk dari kita. Namun sisi lain tentang betapa heroiknya rakyat Palestina diciptakan sebagai manusia, terkadang gagal ditangkap oleh mereka yang tak terbiasa membaca makna. Walau begitu, munculnya sisi humanis dari manusia di seluruh penjuru dunia tetap adalah rahmat.

Pernah ibu bertanya padaku, pada saat Israel menginvasi Gaza besar-besaran tahun 2010 lalu, tentang kenapa mereka tidak mengungsi untuk menyelamatkan diri. Ibu yang berpengetahuan terbatas kala itu kujelaskan dengan cerita singkat, bahwa mengungsi tak pernah terlintas dalam pikiran mereka disaat keyakinan untuk dapat melawan masih ada di dada. Mereka hidup dengan kepala tegak melawan penjajahan dan pengusiran. Pergi dari tanah Palestina artinya belajar atau menyuarakan. Maka,mereka yang berimigrasi keluar Palestina dan hidup dalam kondisi yang lebih baik daripada mereka yang tinggal di Gaza pastilah berjuang keras untuk menempuh pendidikan yang tinggi, belajar sebanyak-banyaknya ilmu, menjadi seorang penghafal Qur’an atau berkeliling menyuarakan dan memberitahukan keadaan Gaza.

Pada penduduk Gaza kita telah tahu satu hal bahwa, keadaan yang sulit tak selalu membawa keburukan bagi manusianya. Di tanah itulah tiap hari diwisuda puluhan anak-anak di bawah sepuluh tahun yang mampu menghafal enam ribuan ayat Al Qur’an, disana pulalah ibu-ibu cerdas tiap hari tercipta berdasarkan sebuah penelitian yang menyatakan bahwa Human Development Index of Palestine Women tetap berada di atas Indonesia. Itulah kenapa, anak-anak Gaza selalu menjadi sasaran penyerangan.

Gaza, tempat yang penuh cerita luka. Kini, malam ini, di bulan suci ini, mereka melihat lagi cahaya ledakan-ledakan itu, mereka hirup lagi udara terisi fosfor tak terlihat yang berbahaya itu. Seperti apa malam mereka, sahurkah mereka dan dengan apa mereka berbuka adalah pertanyaan yang sulit untuk diterima jawabnya kemudian.

Kita tak perlu menjadi muslim dulu untuk peduli dengan Palestina sebab ini masalah kemanusiaan adalah sesuatu yang kusetujui dalam bentuk apapun. Tapi, muslim Indonesia perlu menyadari hutang besar kita terhadap rakyat negeri tersebut.

Kala itu sebelum wafat, Rasulullah pernah menitipkan sebuah pesan pada Umar, “Kutitipkan Al Aqsha kepadamu, agar kalian menjaga warisan ini untuk ummat, kiblat pertama Muslim.” Ya, Al Aqsha adalah amanah besar, dan dari sekian manusia yang terpilih menjaganya adalah rakyat Palestina.

Mereka memilih mengemban kewajiban menjaga amanah suci sang Nabi, Masjid Al Aqsha. Menjadikan gugurnya kewajiban kita untuk turut serta menjaganya.Sebagai muslim,tidakkah seharusnya kita berucap terima kasih pada mereka?

Selain itu, ada cerita masa lalu. Detik dimana pemimpin bangsa ini dulu mengucap deklarasi kemerdekaan untuk pertama kalinya, mufti besar Palestina lah yang pertama kalinya -melalui Mesir- mengucap kata selamat mengakui berdirinya negara Indonesia dan secara otomatis memenuhi syarat ketiga berdirinya sebuah negara, yaitu pengakuan kedaulatan oleh negara lain.

Terimakasih Palestina adalah kata yang seharusnya kita ucapkan.

Gaza malam ini masih mencekam. Tangis anak-anak Gaza yang menyayat hati itu bersatu dengan sebuah reaksi luar biasa, “Bagaimana Israel berani menyerang kita dari atas, padahal ada Allah di atasnya lagi?”

Mereka menderita tapi bahagia. Mereka kesusahan tapi menerima.
Mereka dalam kesedihan tapi tetap berkeyakinan.
Dan disaat mereka diperbolehkan untuk meronta, mereka memilih bersikap tegar dan dewasa.

Lalu masihkah kita menganggap mereka tak beruntung padahal surga dan seisinya telah siap bagi mereka?

How is Gaza tonight?
How is Gaza tonight?
Don’t,,,,don’t go down
In Gaza tonight

Kamar , 13 Ramadhan 1435H
Saat2 merindukan kisah epik perlawanan Yahya Ayyash