0

(Tentang) Belajar Mencintai Kambing

Belajar Mencintai Kambing adalah buku terbitan Mojok sekaligus buku fiksi berupa kumpulan cerpen pertama yang saya baca tahun ini. Dan seperti yang telah diperkirakan dari seseorang yang pernah memenangi Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta, Mahfud Ikhwan telah dengan apik menceritakan kisah-kisah berlatar desa yang sederhana.

Belajar Mencintai Kambing berisi empat belas cerita pendek yang dalam daftar isinya seperti terbagi menjadi tiga kelompok tema, Balajar, Mencintai dan Kambing. Saya sendiri tidak merasa pengelompokan tersebut amat berarti karena setiap cerita punya maksudnya sendiri-sendiri.
Betapa sederhana, mengalir dan cair namun begitu kuat bahasa Mahfud Ikhwan menuliskannya, membuat saya pribadi harus menghela nafas dan berhenti sejenak setiap selesai membaca satu cerita. Barangkali seperti itulah keberhasilan seorang penulis, bukan hanya membuat orang membaca dan mengerti ceritanya, namun juga menyediakan satu momen kontemplasi bagi para pembacanya.

Pada kisah Jeritan Tengah Malam misalnya, kita disuguhi cerita tentang gagalnya panen jagung warga desa. Orang-orang desa mengira kegagalan karena kerusakan yang sistematis tersebut dilakukan oleh gerombolan kera yang tinggal di tebing bernama Rahtawu. Akhirnya tindakan balasan diambil warga desa yaitu dengan membantai populasi kera. Kegagalan panen memang menyakitkan. Dan manusia terkadang dengan mudahnya berubah menjadi kejam dan tak berperikemanusiaan oleh sebab kesakitan-kesakitan semacam itu. Membaca ini saya dipaksa untuk membayangkan wajah-wajah kasihan para kera yang mungkin saat ini terjadi juga di hutan-hutan Kalimantan.

Atau dalam cerita berjudul Kobokan Wungkal, Tentang Seseorang Yang Terus Menulis yang walaupun ceritanya hanya sejengkal dan tak berakhir, namun narasi penulis amat sangat mengesankan. Tentang Seseorang Yang Terus Menulis berkisah tentang seseorang yang terus menulis di tepi Kobokan Wungkal yang oleh orang dianggap gila. Dia terus menulis hingga kakinya lumutan. Katanya, menulis bagi sebagian orang adalah pengasingan, asketisme bahkan kegilaan itu sendiri. Dia dianggap gila karena kebiasaannya ganjil diantara orang-orang yang melihatnya. Hal sama yang dialami Muhammad di tengah-tengah masyarakat Quraisy atau Gunter Grass, seorang penulis Jerman yang menulis sambil berdiri.

Kisah lain yang menarik adalah Bola,Mata yang berkisah tentang seorang calon kiper nasional membangun mimpi-mimpinya. Tak ada yang mengira bahwa sebuah kejadian, membuat Slamet Sudarmanto kelak harus mengubur cita-citanya dan bayangan-bayangan di dalamnya untuk menjadi atlet nasional. Banyak hal yang disesali, namun hidup harus terus berjalan. Menjadi apapun dia, sepak bola tetaplah ada di hati Slamet. Kisah ini mewakili jutaan hidup manusia yang berjalan tak seperti apa yang diimpikannya. Namun segalanya,akan tetap baik-baik saja. Di catatan akhir penulis, diceritakan bahwa kisah ini ditujukan pada seorang pemain Persebaya yang mengalami cacat mata akibat ulah suporternya, Nurkiman.

Dan tentu saja, cerita yang paling berkesan bagi saya adalah cerita yang menjadi judul kumpulan cerpen ini, Belajar Mencintai Kambing. Adalah seorang anak yang meminta dibelikan sepeda pada ayahnya untuk bermain di musim liburan. Alih-alih diberi sepeda untuk bermain,ayahnya justru membelikannya kambing agar ia belajar menjadi gembala. Diantara ketidakpercayaan,adakah ayah semacam itu di dunia nyata sekarang, saya tetap merasa cerita ini memberikan sebuah wawasan tersendiri tentang bagaimana orang tua di desa mendidik anaknya.
Terhadap keadaan yang tak mampu dihindarinya, si anak kemudian berusaha untuk menyukai kambing-kambing yang digembalakannya. Menggembala kambing juga telah mengubah pola hidupnya dan tentu saja mengembangkan pengetahuannya. Ia tak lagi bisa main-main setelah salat subuh, tak boleh melakukan hal lain sebelum kambingnya kenyang, rumput dan dedaunan mana yang disukai kambing dan cara menyabit rumput yang benar. Puncak kebahagiaan diraih si anak ketika ia duduk di punggung kambing dan merasa dunia ada dalam genggamannya. Ia juga telah belajar, bagaimana caranya mencintai hal-hal yang dibenci namun tak bisa dihindari.
Pada bentuk yang lain,saya justru melihat cerita ini begitu dalam memuat nilai pendidikan karakter. Ayahnya tak memberi sepeda yang dimintanya,tapi kambing untuk digembalakan. Yang ia minta kesenangan, yang diberi ayahnya kesusahan. Dan kesusahan itulah yang membentuk tanggung jawab pada anak, menumbuhkan rasa cinta sang anak pada kambing, rumput, pepohonan, angin dan alam. Gembala memang tak semudah kelihatannya. Dan barangkali karena itulah,sosok besar nan mulia seperti Nabi Muhammad menjadi seorang gembala di usia kanak-kanaknya. Ia menggembala kambing, sebelum memimpin umatnya.

Membaca keempat belas cerita pendek beserta catatan penulis dalam buku ini saya merasa seperti bersafari. Seperti yang tertulis dalam salah satu cerita, bahwa cerita-cerita ini bisa jadi kisah hiburan bagi orang kota yang kesepian. Saya tak tumbuh dalam suasana desa kecuali sesekali saja saat lebaran di rumah nenek. Saya tak banyak melihat kambing,rerumputan liar, bukit, tebing dan dilema orang desa. Yang saya lihat sejak kecil adalah jalanan yang tak lagi tanah, orang kota yang sibuk berangkat ke kantor dan gemerlapan lampu-lampu jalan di malam hari. Maka dari itulah,selama hidup saya tak pernah punya cita-cita hidup di desa. Tapi barangkali benar apa yang dikatakan Mahfud Ikhwan, untuk desa, tebing, orang-orang dan kisah-kisahnya, yang atasnya kita bersikeras pergi, namun selalu diam-diam kembali untuk mencuri.

Sekarang mungkin aku akan mencuri
Besok-besok aku mulai mencintai
Tentu saja ada waktunya aku akan kembali

image

Iklan