0

Monolog Sekumpulan Aksara : Jeda

Sejak kapan kau mulai dapat melihat keindahan dan merasakannya diantara gerak bola matamu? Kau bilang kata-kata adalah bahasa Tuhan yang paling menembus ke dalam hatimu. Kau bilang kata-kata selalu mencipta rasa dalam sekujur ragamu. Kata-kata itu, kau temukan dalam tarian sekumpulan aksara yang tanpa henti mengalirkan ribuan sajak tentang kehidupan. Sejak aksara mampu kau makna, sejak itulah Tuhan menyelipkan setiap sisi keindahanNya dalam hidupmu.

Kau bilang, kata-kata menjadi indah karena sekumpulan aksara yang tersusun di dalamnya. Tapi akan kuberitahu kau satu hal yang barangkali kau lupa, bahwa kata hanya terbaca ketika sekumpulan aksara mempunyai jeda. Lihatlah ketika aksara-aksara itu tak berjeda, adakah keindahannya mampu kau baca? Adakah maknanya dapat kau rasa? Jeda, adalah ruang pemaknaan dalam setiap gerak waktu kehidupan.

Dalam setiap masa, kau membawa dirimu dalam sebuah pusara yang melelahkan bernama ambisi. Kau melangkah dan lupa berhenti. Kau menjauh dan lupa kembali. Kau tertawa, dalam raut muka tak bahagia. Semua itu barangkali, karena kau lupa mengambil jeda, sehingga ritme kehidupan tak lagi benar-benar kau rasa. Kau seperti hidup yang tak berkehidupan.

Maka lihatlah kembali pada aksara-aksara yang menari, pada apa yang kau cintai tanpa pamrih, pada sembilu masa lalu yang telah menjauh, bahwa jalan yang baik bukanlah apa-apa yang kau paksakan. Terhadap setiap episodenya, kau perlu jeda,berhenti dan melanjutkan kembali, menangkap suara-suara yang dikirim semesta. Hingga dalam satu persatu fasenya, kau bertumbuh, menjalarkan ranting-ranting kebijaksanaan. Itulah keindahan, yang sebener-benarnya, akan mampu kau tuliskan dalam setiap cerita zaman.

Duduk dan lupakanlah waktu
Sebab yang kau perlukan adalah
sejenak menyejajari nurani

104194656

Jelajahi waktu
Ke tempat berteduh hati kala biru
Dan lalu…
Sekitarku tak mungkin lagi kini
Meringankan lara
Bawa aku pulang, rindu
Segera

-Pulang by FLOAT-

Iklan
0

Sementara Itu

Sekitar dua minggu yang lalu, tiba-tiba saya ditelfon salah seorang sahabat lama saya yang selama ini terlupa dari prioritas hidup saya. Setelah lebih dari dua tahun kami tak berhubungan sama sekali, bahkan di hari besar seperti Idul Fitri, adalah hal yang sangat menyenangkan untuk bicara dengan sahabat sejak kecil, teman mendewasa seperti ini. Nyaris tak ada yang berubah darinya, caranya mengolok-olok saya, caranya menunjukkan kekonyolan-kekoyolannya dan caranya memberikan banyak pandangan hidup dalam bentuk celetukan gila. Kami berbicara seperti saat kami berumur sepuluh tahun, lima belas tahun, hingga kami terpisah kampus dan bertemu sesekali.

Sebagai perantauan, barangkali bertemu dengan teman mendewasa seperti ini lebih manjur daripada bepergian kemanapun sebagai relesing stress. Tidak ada candaan orang-orang kota dan orang-orang daerah lain yang lebih bisa membuat tertawa melebihi candaan dengan teman sekampung halaman. Kami berbicara tentang kekonyolan zaman sd hingga sma, kami bicara tentang rumah dan keluarga hingga sampai pada cita-cita. Tentang apa-apa yang pernah kami jadikan harapan, kami telah sampai padanya di masa sekarang, yang tentu saja, jalan yang telah kami lalui sebagian tak sesuai dengan apa yang dicita-citakan.

Percakapan dengan teman yang sempat terlupa dalam hidup seperti ini menyadarkan saya akan sesuatu. Sejauh apa saya meninggalkan asal, selama apapun saya melewati masa lalu, pada akhirnya hati dan pikiran dalam kepala, tak bisa menghapus segala kenangan di dalamnya. Mereka adalah yang membentuk saya saat ini. Bersama mereka, kadang adalah pelepas penat, refleksi dan katarsis. Saya juga kemudian menyadari hal lain yang ada dalam diri saya, terkadang nasehat kawan lama yang disampaikan dengan celotehan tak berkelas dan penuh tawa, lebih ampuh dari segala tulisan penuh sumber yang dibagikan dalam setiap akun social media. Setidaknya bagi saya begitu.

reminiscing

Malam hujan, ketika sebagian isi kepala sudah dihabiskan oleh tugas akhir.