0

Bila Kita Suka, Biarkan Tuhan yang Menilainya

Di ruang pribadi ini, jarang sekali kutulis episode-episode bahagia nan membahana tentang hari-hari penuh cinta. Memang seringkali, inspirasi lebih menepi ketika sedang ada mendung di hati. Maka tulisan pun lebih banyak berbentuk pencarian energi yang membuahkan kekuatan mengahdapai kesedihan. Sekarang biarlah kutulis tentang suka, rasa dimana seringkali kita mungkin melupakanNya. Biar menjadi kenangan dalam ingatan, bahwa saat suka pun, kita mengingatNya.

Suatu hari dalam sejarah cerita, aku berjalan sendiri di pinggir jalan kota besar. Panasnya, gerahnya, baunya, mengingatkan ku pada sebuah cerita di dalam kitab suci, tentang bagaimana Hajar waktu itu tertinggal sendiri d bukit yang tak menyediakan banyak harapan untuk tetap bertahan. Jikalau mungkin ada gubuk di sekitaran padang tandus itu, mungkin ia aku memasukinya dan menangis sekencang-kencangnya, sewaktu suami yang dicintainya sepenuh jiwa harus meninggalkan dirinya dan bayinya sendirian disaja di bukit maha tandus. Tapi yang dilakukannya bukan itu. Yang dilakukannya adalah perkara hebat tiada tara!

Hajar yang tak lagi mampu menyusui putranya yang haus, berlarian di antara dua bukit untuk mencari setetes air penghidupan. Dan yang ia temukan hanyalah fatamorgana, tak lebih tak kurang. Bukankah fatamorganapun seringkali menyakitkan bagi sebagian besar logika orang awam??

Dengan fatamorgana itulah ia terus berharap. Dengan fatamorgana itulah ia terus bergerak. Karena walaupun menyakitkan, fatamorgana juga mampu membuat seseorang menjadi penuh pengharapan. Ia lihat di bukit nun jau ada ir, maka ia berlari. Dan ketika tidak ditemui, ia cari ke tempat yang lain. Senantiasa berusaha.

Dan pada titik kemampuannya, Tuhan ternyata lebih tahu. Tuhan tau tapi menunggu. Mata air itu justru keluar dari bawah mata kaki anaknya. Air jernih tiada terkira, yang ternyata mampu memberi kebermanfaatan jauh di masa semenjak ia hidup. Pada titik inilah, sukanya kemudian menjadi berkah.

Untuk Dinar, biarkan kemudian cerita Hajar ini terpatri di lorong-lorong neutron. Sehingga di setiap sisi kegagalan dalam hidup, kita pun akan tetap bangkit. Hingga tuhan, berkenan membayar lelah kita, hingga muncul perasaan suka di hati kita. Jadikan kesukaan itu menjadi satu bentuk kebermanfaatan yang lain.

Maka bila kita suka, biarlah tuhan yang menilainya.

24.2.12
13.46
tiba2 teringat salah satu ibu hebat di dunia, Ibunda Siti Hajar, dan ibuku sendriri:)
Gang atap, depok

Iklan
0

Jika Aku Takut, Tak Ada Lagi yang Lain Selain Mengembalikan Segalanya PadaMu

Menjdi takut, pasti adalah hal yang tak pernah kita ingini. Kita selalu ingin berani dengan berbagai dalih motivasi. Apapun itu, adalah hal yang mustahil untuk tidak menjadi takut sama sekali.

Aku pernah mendengar, bagaimana Tuhan menyuruh kita untuk berlaku diantara dua hal, yaitu harap dan cemas. Bgiku, harap itulah yang menumbuhkn satu motif keberanian, dan cemas itulah penimbul rasa takut. Jika Tuhan telah menggariskan pada manusia untuk merasai kedua hal tersebut, maka adalah sebuah kemestian bagi kita untuk menjadi berani semntara kita pun juga mesti untuk takut.

Baru kusadari kini, pada banyak hal aku pun takut. Bukan takut yang dibuat-buat, tapi perasaan cemas yang terkadang mampu melumpuhkan daya tahan. Dan baru kusadari pula, semua ini tentang hal yang belum kuketahui semuanya bernama Masa Depan.

Aku mendapati kita -diriku dan orang-orang di sampingku- berusaha mengeja huruf demi huruf kehidupan yang kita jalani. Dan tak jarang, harapan-harapan tersebut rapuh tersebab kecemasan yang cenderung mencekam. Adakah yang salah disini, hingga seringkali ketakutan ini membuyarkan mimpi-mimpi?

Dinar, aku coba mengulang kembali episode-episode pembuktian mimpi. Kudapati banyak diantaranya yang terhenti. Entah sudah tercapai entah pergi melambai. Dan untuk mereka yang pergi, aku sering membersamainy dengan ketakutan.

Tak ada yang salah dengan harapan. Karena bukankah memang hidup berawal dari harapan? Lalu aku mengeja harapan-harapan yang perlahan sirna. Banyak kegagalan datang. Dan oleh karenanya aku mendapati jalan yang berlawanan. Demikianlah, rupanya kadang-kadang takdir kita sebagai manusia memang mengharuskan kita hidup di wilayah yang mendua, ambigu, bahkan paradoks. Tapi kita harus menikmatinya (Fahd Djibran).

Tuhan, aku mencoba, memadukan antara harapan dan ketakutan menjadi sebuah jalan untuk menujuMu. Kau janjikan manusia dengan harapan, maka engkau pulalah yang menjawab segala ketakutannya. Karena betpa sesungguhnya begitu lemahnya kita jikalau sendirian.

Disini aku teringat oleh sebuah ungkapan dari seorang bernama Hasan Al Banna :

” Aku tidak takut jika seluruh dunia melawan kalian. Yang kutakutkan hanya jika kalian lupa pada Allah sehingga Allah melupakan kalian sehingga menyerahakan urusan kalian pada diri kalian sendiri”

Betapa baiknya engkau Tuhan. Bahkan ketakutan pun berbuah berkah jika pada akhirnya hanya kepadmu kami berserah?? Harapanpun akan menjadi juga akan menjadi rumpun kesyukuran. Maka pada ketakutanku kali ini pun, tak ada lagi yang lain selain mengembalikan segalanya padaMu.

Esok kusongsong hari penuh harapan, agar setiap ketakutan tak akan melemahkan kekuatan. Sebab cintaMu, pertolonganMu, tak pernah jauh dariku. Maka kemudian aku paham, mengapa harus kusandarkan segala urusan pada pertengahan harap dan cemas, agar segalanya pada akhirnya bermuara padaMu.

“Sesungguhnya segala yang dari Allah akan kembali pad Allah”

Malam hari dipenuhi takut yang menyesak hati
Mulai belajar lagi
Masa depan tetap harus diraih
Selama bunga masih mekar
Selama nafas masih berhembus
Dan selama tuhan masih memberi hidup
Ditemani Silver Queen dari sahabat
aku mencoba menguatkan tekat
19.2.12 (seseorang lahir di tanggal ini)
23.14

3

You Are Complete Me

There’s so many thing happening in my life, your life, our life. So many thing is too giving us a power, to alive,alive and alive. And one of my power,is you. A power because of love. Even I still do not know you yet. So before I find you, meet you, I just want to talk to myself about you. You woud have complete me.

I was born in the world as first daughter, in ordinary family with no word “love” each others even all we do are love. No pleonastic affection, no overprotecting, no spoiled attitude, just ordinary. But I learned how to love there. In my little house. In my ordinary family.

It was making me up to be independent. Do anything independently. I do not like to dependent someone moreover to a man. My close friends and I want to looked strong. Even I know, sometimes we are poor. Some dignity make us to be stronger. But,trust me, oftentimes,it’s so bad. I see that.

All of the people recognized me as expressionis, extrovert, cheerfull, humour, and some other characteristic around them. I do not reject it. I just want to say, I have another side whose people may not recognize. I love literature. Really love it. And from that I learning to be a sensitive person. This thing is make me to write it for you, even I do not know you yet.

Someday, I’ve know God telling me a guidance
Someday, a man that I’ve loved so much even I ‘ve never met him directly,giving me an advice
Take care of yourself, take care of your heart
And the first time I knew it, I asked “What’s for?”
Suddenly I found out the answer
“Because your self are dependent on your heart”
Then I thinked, “If I want to be good, so repairing of my heart”
Repairing of my heart, that’s clue is work me out to learn.
Everything started from that
My Lord, now I know what’s on Your Holy Word
My man, now I learn something you have done
And then, i wish only do that till I meet you
I don’t know who you are, but I know, you have choosen by Lord for me
I don’t know who you are, but I know, I will spend the rest of my life with you
InshaAllah
I don’t know how you lived as far as now, but I want our life is full of God’s bless
I don’t know how you grow up, but I want to growing a love with you
I don’t know how your past, but I want to make a shinning future with you
I don’t know what is your friends alike, but I want to be their friends too
I don’t know what is your lovely thing, but I want to love it too
And I don’t know who you are, but I wanna know who are you
And everything I do to you, may it pointed out by God’s love
Do you know, it’s not easy thing to spend my life with someone who I don’t know
But, isn’t life like this?? We don’t know anything until God teach us
So that, I want to learn about you
Even I know, you are not perfect person, and I know it is impossible to be perfect
You make me feel perfect
And You Are Complete Me.

15.2.12
With Sountrack by REVOLVER PROJECT –KAU YANG MENGUTUHKAN AKU-

0

Aku Sayang Bapak

Sejena saja, sebentar saja,aku tuliskan disini. Karena si senyu tdak bersama dengan saya, tapi dengan bapak. Jadi Sekarang sedang dengan piranti pinejaman,maka kenapa tidak dimanafaatkan juga untuk posting^^

Tiba-tiba ingin menuis tentang bapak, sedikit saja. Karena kenanganku dengannya tak sebnayak kenangan dengan ibu ataupun teman-temanku. Tapi cintanya membuncah pad ruang rinduku di setiap detik masa perantauanku.

Bapak, mengajariku tentang agama, sejak kecil walaupun kutemuan hisayah oleh pencarianku sendiri. Tapi aku bersyukur akan semua nilai-nilai sederhana yang ditanamkannya.

Bapak bukan orng yang mudah mengungkapkan cinta, dan oleh karenanya aku mewarisi sifat ini. Termasuk sifat yang jarang mengeluh saat menolong orang lain.

Di penghujung jalan menuju mimpi satu pesannya yang sedrhana tp kemudian memebri kesejukan pad seangat hidupku

“Perbanyak Istighfar dan Sholawat”

Ya Allah, betapa kemudian aku sayang bapak kareaMu.

Semoga Engkau menjaganya selalu.

9.2.12
esok berjuang meraih mimpi
bismillah
oga Allah mmberkahi

0

Film Review: Otokritik saya untuk film Di Bawah Lindungan Ka’bah

Mungkin satu karya berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah, sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia terutama mereka pecinta karya sastra. Namun sekarang bisa jadi karya ini dikenal lebih banyak orang lagi setelah dimanifestasikan dalam bentuk film oleh salah satu sineas kita.

Saya sendiri tergolong terlambat dalam menonton film ini. Tidak di bioskop, tapi cukup di piranti saya bernama “Senyum” :). Dan saya bersyukur karenanya, uang saya tidak terbuang hanya untuk melihat betapa mengecewakannya film yang diadaptasi dari cerita roman yang saya sukai. Ya, ini mungkin masukan juga, untuk yang menonton filmnya tetapi belum membaca karya aslinya,akan lebih baik jika baca karya Buya Hamka ini.

Well, hal ini saya tulis, oleh sebab penghormatan saya yang besar terhadap penulis novel Di Bawah Lindungan Ka’bah, Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) sebagai salah satu pahlawan muslim yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Saya menyukai semua karyaya lebih karena idenya yang tulus dan bahasa yang lembut mampu membuat jiwa pembacanya turut lembut pula. Sekian karyanya yang bertema cinta sesama manusia, selalu didasarkan pada cinta terhadap Yang Kuasa. Dan itulah yang tidak saya dapat dari fim Di Bawah Lindung Ka’bah yang dibuta di tahun 2011 lalu.


Otokritik ini saya tulis, bukan untuk menjelek-jelekkan film tersebut, karena bagiamanapun para pemeran dan kru film telah dengan bekerja keras dengan sangat baik. Hanya saja, saya tulis disini, untuk mengingatkan saya pula, tentang esensi dari sebuah cerita Di Bawah Lindungan Ka’bah yang dapat kita ambil hikmahnya.

Berikut ini adalah bagian-bagiannya:

1. Bagian masa kecil Hamid yang menderita bersama ibunya sepeninggal ayah Hamid sama sekali tak disinggung di film ini. padahl menurut saya, bagian ini lah yang menunjukkan sosok Hamid dan ibunya adalah orang yang tegar dan terdapat pelajaran hidup di dalamnya.

2. Hamid dan Zainab bertemu di masa mereka kecil, saat Hamid mulai ditolong oleh Haji Ja’far,ayah Zainab. Mereka pun bersikap seperti kakak-adik yang alami dan natural sebagaimana ketika seorang saudara tumbuh bersama. Namun di film, saya tidak melihat adegan naturalisasi disana. Yang ada hanya sikap Zainab dan Hamid yang menunjukkan mereka tertarik satu sama lain semenjak film ini mulai.

3. Daripada novelnya, alur cerita film ini membingungkan.

4. Tidak diceritakan bahwa Haji Ja’far meninggal saat perjalanan Haji.

5. Di dalam novel tidak ditemukan peruistiwa jatuhnya Zainab ke sungai kemudian diselamatkan Hamid dan diberi nafas buatan yang membuat Hamid diusir dari kampung. Adat masyarakat minang kala itu, tak mengizinkan adanya interaksi laki-laki dan perempuan bukan mahram bersama apalagi menyentuh. Adegan nafas buatan ini berlebihan menurut saya apalagi saat itu, ada perempuan lain selain Zainab di sekitar tempat peristiwa. Jika sutradara cerdas, mestinya perempuan itulah yang diminta untuk memberi nafas buatan bagi Zainab.

6. Tak lama setelah kematian Haji Ja’far, ibu Hamid juga meninggal. Hamid sebatang kara saat itu, sehingga membuat ia jarang pergi ke rumah Haji Ja’far.

7. Hamid ke Mekkah setelah mengetahui Zainab akan dijodohkan. ia berada selama satu tahun di sana sebelum musim haji datang.

8. Hamid dan Zainab baru tahu bahwa mereka saling mencintai ketika sudah berada saling berjauhan. Saat Ros dan Saleh yang telah menikah mengatakan pada keduanya.

9. Ketika Hamid tahu ternyata Zainab mencintainya, saat itu Zainab telah sekarat dan meninggal. Hamid mendengar kabar itu dan ikut nelangsa, sehingga ia berhaji dalam keadaan sakit. Itulah kenapa diberi ia sandarkna cintanya DI Bawah Lindungan Ka’bah.

10. Pada intinya, cerita mereka tulus untuk mengharap ridho Allah swt.

Mungkin sebagian sama. Tapi substansi yang diberikan terlampau jauh berbeda.

Semoga ini bisa membuat film-film adaptasi novel lain juga turut berbenah^^

Dan di akhir cerita, Buya Hamka menyisipkan sebuah puisi yang indah

Dalam kerendahan diri, ada ketinggian budi
Dalam kemiskinan harta, ada kekayaan jiwa,
Dalam kesempitan hidup, ada keluasan ilmu,
Hidup ini indah jika segalanya kerana Allah S.W.T.

Tribute to alm.Buya HAMKA
Adoring you so much

01.02.12
14.43