0

Kenapa tak kita kenali pahlawan2 muslimah Indonesia yg lain….

Setahun sekali, dan mungkin sudah sepanjang hidup kita merayakan Hari Kartini, satu hari dimana aktivitas dan dinamika perempuan banyak diperbincangkan. Setahun sekali, dan sepanjang tahun itulah, mungkin justru yang terjadi adalah semakin mengikisnya orisinalitas tujuan perjuangn perempuan Indonesia. Mengutip sebuah status milik komikus, mas Vbi Djenggoten, “Di tahun 1911 Ny. Abendanon yang berkebangsaan Belanda membukukan surat2 Kartini, dan di tahun 2011,segelintir orang Indonesia menjual kemolekan wanita dengan mendatangkan Miyabi dan Sora Aoi”

Ironis memang. Ada banyak hal yang makin lama makin tidak substantif yang diangkat pada setiap perayaan Hari Kartini. Lama-lama pola pikir kita juga tidak berkembang. Bahwa bisa jadi, apa yang kita alami di masa kini adalah karena kurang tahunya kita pada sejarah kita sendiri. Sejarah perempuan2 muslimah yang menajadi pahlawan bagi bangsa ini, walaupun secara eksistensi tak banyak yang menyadari hadirnya pahlawan2 ini. Sebab saya pernah tahu, ingin saya bagi pada sahabat-sahabat saya, fakta lain tentang adanya pahlawan2 muslimah Indonesia yang lain. Dialah

Cut Njak Dien : seorang perempuan Aceh yang mungkin sudah banyak yang mengenalnya sebagai pejuang wanita Aceh. Tapi tak banyak yang mengenal bahwa beliau hidup mengangkat rencong sampai menjelang akhir hayatnya. Ditinggal mati oleh suaminya yang syahid, dan tetap teguh melawan penjajahan di pedalaman Meulaboh

Tengku Fakinah : biasa disebut Tengku Faki, seorang wanita Aceh yang menjadi Ulama Besar Aceh, menjadi Panglima Perang melawan Agresi Militer Belanda dan bahkan berkililing Aceh untuk menjalankan praktek Diplomasi. Beliau juga seorang pembangun dan pendidik yang hebat, mendirikan BAdan Amal Sosial yang beranggotakan Janda-janda perang untuk menyokong logistik peperangan, membuat para janda-janda itu turut berdarma bakti terhadap tanah air, juga mendatangi orang2 kaya untuk meminta zakat dalam rangka menyokong pendanaan perang Aceh.

Rahma El Yunusiyah : Seorang perempuan Minang yang bertekad membuka sekolah khusus perempuan di tahun 1923, sebuah tindakan di luar kebiasaa masyarkat Minangkabau saat itu. Dan tak lama, perguruan ternama, Al Azhar Kairo pun meniru jejaknya…..

Laksamana MAlahayati : Permpuan yang menjadi Panglima Perang Angkatan LAut Kerajaan Aceh. Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah tewas) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11 September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal, dan mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati

Dewi Sartika : adalah perempuan Sunda yang mendirikan Sekolah Kautamaan istri pertama seHindia-Belanda.Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis, dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu

Sultanah Safiatudin : putri tertua Sultan Iskandar Muda, memerintah Aceh di masa-masa sulit ketika terjadi perbutan Malaka oleh antara VOC dan Portugis namun memimpin dengan sangat baik. Ia menjalankan pemerintahan dengan bijak, cakap dan cerdas. Pada pemerintahannya hukum, adat dan sastra berkembang baik. Beliau juga seorang ilmuwan yang menguasai bahasa Aceh, Melayu, Arab, Persia, Spanyol dan Urdu.

Siti Aisyiah We Tenriolle : seorang perempuan Sulawesi yang ahli dalam kasusastraan, menulis epos La Galigo yang mencakup lebih dari 7000 halaman folio. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.

Rohana Kudus : Perempuan Bukittinggi yang selama 88 tahun hidupnya ia baktikan pada aktivitas yang berorientasi pada pendidikan, jurnalistik, bisnis dan bahkan politik. Mendirikan Rohana School dan Kerajinan Amal Setia yang mengahsilkan produk2 bermutu dan industri rumah tangga yang berkualitas. Juga menjadi sorang jurnalis yang mendirikan koran Sunting Melayu, Wanita Bergerak, Radio dan Cahaya Sumatra. Rohana turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda dan mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan.

dan sebenarnya masih ada banyak nama, yang rangkaian perjuangannya tersembunyi oleh cerita sejarah kita…..

dan pejuang yang tak pernah lelah menegakan harga diri

sampai mati

karena dia menulis bahasa hati

sajak kecil hanya bisa mewakili

suara pengiring doa

kami orang-orang yang mencinta

(Sajak Sejarah Kecil Untuk Rosihan Anwar)

_SemoGa Mencerahkan Kawan….._

Best Regards, Me^^v

Source:

Wikipedia,Kompas,Arif Munandar,Prof. Harsja W. Bachtiar,Era Muslim, Pengembangan Potensi Muslimah FSLDK