0

Menemukan Diri (Kembali)

Jika ada banyak hal yang tak bisa diperkirakan terjadi, bagi saya itu banyak terjadi di tahun ini. Puncaknya, barangkali adalah pada akhirnya saya menikah dengan seseorang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya, namun mengenalnya adalah seperti melihat kepada diri saya sendiri. Adalah ketentuan Tuhan jika waktu membawa kita menemui seseorang yang begitu serupa dengan diri kita sendiri dan sebaliknya. Keduanya bisa berarti berkah ataupun ujian. Orang yang menikahi saya itu, adalah definisi teman hidup terbaik yang diberikan Tuhan kepada saya, disaat saya berkali-kali gagal menemukan manusia seperti apa yang saya inginkan dan butuhkan.

Takdir tidak pernah berkhianat terhadap mereka yang bersungguh-sungguh terhadap dirinya sendiri. Setidaknya itulah yang coba saya simpulkan sendiri tentang bagaimana setiap fase membawa pembelajarannya terhadap diri. Kegagalan demi kegagalan membawa saya, dan mungkin manusia pada dasarnya, untuk pergi mencari “jalan pulang’, perjalanan untuk menemukan diri saya kembali. “Jalan pulang” itulah yang membawa saya pada tempat, manusia dan peristiwa yang tak pernah saya duga sebelumnya. Hidup menyediakan banyak kejutan bahkan ketika kita belum benar-benar merencanakannya. Itulah barangkali nilai dari sebuah keberpasrahan.

Sebelumnya, seperti orang kebanyakan, saya memilih menghindar dan membenci untuk menghadapi situasi dan pertanyaan yang menjemukan.

Saya tak pernah punya pekerjaan yang dianggap bagus dalam ukuran masyarakat, dan lebih memilih menghindar ketika ditanya “pekerjaanmu apa?”

Saya tak pernah terlibat hubungan dengan lawan jenis yang membuat saya tampak atraktif dalam kacamata sosial, sehingga lebih banyak menyembunyikan diri karena risih dengan pertanyaan, “kapan menikah?”

Tapi Tuhan membukakan jalan pembelajaran bagi saya. Buku, manusia dan waktu adalah yang telah banyal membantu saya, menemukan diri saya kembali, yang baru dan mudah-mudahan lebih baik. Untuk memilih berdamai daripada membenci, untuk memilih mengikuti daripada melawan. Pada contoh contoh itu misalnya, Saya akan jelaskan tentang pekerjaan yang telah membentuk saya menjadi manusia yang lebih berguna daripada hanya penyebutannya saja pada orang-orang yang bertanya, saya meminta doa dengan setulus-tulusnya pada orang-orang yang menanyakan tentang takdir pernikahan saya, dan banyak hal lain. Tentu saja, disertai dengan doa orang tua.

Sekarang, ketika waktu menghadapkan pada kejutan-kejutan lain, duduk dan tenanglah. Kau akan segera temukan dirimu yang baru dan baru. Dan Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu.

Trading Patience – Time

Samarinda, 121017
Diantara waktu

Iklan