0

Hukum Kebalikan

Minggu yang cerah diantara langit sore, sekawanan burung pipit meninggalkan atap sebuah menara satelit. Entah apa alasan ilmiahnya, aku tak tahu. Mungkin disanalah sarangnya. Hanya saja, sekawanan burung yang mungkin jumlahnya ratusan itu terlihat memikat, ramai dan menyenangkan. Justru disaat sendirian melihatnya, keramaiannya terasa menenangkan.

Saat menengadahkan kepala melihatnya pikiranku seperti tersasar mengikuti arah burung-burung itu pergi. Mungkin hanya dengan ketenangan, keramaian yang memikat seperti itu dapat dirasakan. Kadang-kadang dalam hidup kita memang mendapati hukum kebalikan. Seperti yang banyak dikatakan orang, kau tak akan tahu rindu jika tak berpisah, kau tak akan tahu berharganya sesuatu sampai dia hilang darimu.

Kenapa kita harus seperti itu, kadang aku tak paham. Rindu tetaplah rindu dekat atau jauh. Berharga tetap berharga, dia hilang atau ada. Semudah itu. Tapi segala hal berkebalikan ada sebagaimana segala hal juga berpasangan. Jadi untuk merasakan sesuatu kadangkala kita harus melalui rasa sebaliknya. Lapar lalu kenyang, sakit lalu sembuh, dan berpisah lalu bertemu. Selanjutnya adalah rangkaian pengulangannya.

Terhadap hukum kebalikan, aku mendapati suatu permasalahan yang belum kutemui jawabannya. Kenapa saat mengurangi intensitas bertemu dengan orang-orang baik disekitarku, aku merasa lebih bertumbuh dan lebih baik. Kenapa hukum kebalikan bekerja dengan tak seharusnya. Aku lebih mampu belajar, lebih mampu berpikir, lebih beriman, saat bertemu mereka yang keimannya barangkali tidak lebih baik dari orang baik di dekatku. Lupakan soal iman, karena ia terlalu abstrak untuk didefinisikan. Tapi orang yang perilakunya tidak lebih baik dari orang-orang baik di sekitarku, pada kenyataannya banyak membuat ruang di kepalaku sebagai tempat berpikir. Sama halnya saat aku membaca berbagai macam literatur barat, buku-buku yang mengandung pikiran-pikiran tak terbatas, justru semakin kudapati tentang betapa terarahnya hidupku dengan batasan-batasan yang telah mengaturku.

Sederhanya kadang-kadang seperti ini. Aku tak menemukan inspirasi dan ilmu baru yang menambah kadar keyakinanku dari orang-orang baik yang setiap pekan mengguruiku selain daripada bahwa mereka adalah bagian dari pembelajaran hidup yang memang harus kulalui. Bagaimanapun mereka tetap ada untuk menjagaku agar tetap dalam garis-garisku. Aku juga lebih menemukan kedalaman pemikiran dari setiap buku yang dibuat dengan tujuan yang tidak menggurui. Sebab dari buku biasa dan orang biasa, isi kepalaku diijinkan untuk berputar memikirkan banyak hal. Setelahnya terkadang tercipta kebijaksanaan baru.

Bagi banyak orang, mungkin apa yang kuanggap hukum kebalikan berdasarkan cerita tersebut adalah biasa dan wajar. Namun aku belum bertemu mereka. Sehingga terkadang, diam adalah cara terbaik untuk membiarkan semesta di kepalaku berjalan dengan sendirinya sementara orang-orang di sekitarku tetap di dalam orbitnya. Ya, perbedaan gaya kadang menjadi dinding pembatas antara kepalaku dan orang-orang di sekitarku.

Ratusan burung-burung tersebut menghilang di balik cemara besar yang menjulang di samping kiriku. Seiring dengan tenggelamnya senja yang berganti dengan munculnya bintang di langit malam. Sore itu barangkali aku belajar dari sekawanan burung yang terbang bersama-sama. Menuju tempat sama, dalam waktu dan barisan yang sama, kadang pandangan tetaplah harus berbeda. Cara kita memberlakukan hukum kebalikan yang berbeda, membuat kita membangun orbit yang berbeda. Dan terhaadapnya kita tak perlu saling menggurui, kita hanya harus saling berpikir.

Lintasan pikiran di hari Minggu yang sedikit wagu
diiringi Michael Meet Mozartnya The Piano Guys

flock of migrating canada geese birds flying at sunset

flock of migrating canada geese birds flying at sunset

1

Human

Sering aku menyimpan pertanyaan-pertanyaan dalam hati yang tak kunjung kutemui jawaban pastinya. Kenapa manusia ingin menguasai manusia? Kenapa manusia mengusir manusia? Dan apa yang sesungguhnya yang membuat manusia menjadi manusia?

Manusia menguasai manusia, kadang adalah hal tak manusiawi yang menjadi manusiawi untuk didengar. Seseorang merasa menjadi lebih tinggi dari yang lainnya. Seseorang menginginkan dirinya diikuti, ditaati dan ditakuti tak peduli apa yang terjadi adalah nafsu yang paling menjebak sejarah kehidupan umat manusia. Itulah kenapa, manusia terjajah hampir tak memiliki kehidupan di muka bumi. Mereka hidup dibawah ketakutan yang mengancam. Dalai Lama tahu dengan pasti rasanya berjuang melepaskan Tibet dari kuasa Tiongkok selama bertahun-tahun yang kini belum juga ia dapatkan hasil dari perjuangannya itu.

Kenapa manusia mengusir manusia jika pada akhirnya segala yang di atas tanah ini bukan milik manusia seutuhnya. Kesakitan yang dirasakan bangsa Yahudi berpuluh tahun terusir dan terpinggirkan nyatanya tak membuatnya sadar dan belajar untuk tidak mengusir bangsa Palestina dari tanah tempat tinggalnya.

Jika manusia, tak lagi merasa sama dengan manusia lainnya, lantas apa yang menjadikan manusia itu sebagai manusia.

Rajab, 1436 bagi penduduk Rohingnya mungkin adalah bulan paling menyakitkan diantara tahun-tahun kelam keterusiran mereka. Ratusan manusia pergi dari tanah lahirnya, menggunakan kapal seadanya, meninggalkan Rohingnya, mencari suaka setelah bertahun-tahun teraniaya oleh pengusiran dan kehilangan. Barangkali mereka tahu, kewajiban bagi kedzaliman yang tak dapat dilawan adalah, pergi meninggalkannya, hijrah. Namun tempat kemana mereka harus melabuhkan diri,adalah sesuatu yang tak terpikirkan. Thailand, Malaysia, Indonesia, Australia, saudara sekawasan menolak hadirnya mereka dengan sejuta alasan diplomatik; kedaulatan, teritori dan hal-hal rumit lain yang hanya bisa kita temukan dalam buku haluan negara. Dan mereka, kembali terlunta-lunta di laut lepas. Terberkatilah pimpinan Aceh dan seluruh rakyatnya yang pada akhirnya menampung hadirnya ratusan penduduk Rohingnya, memberi mereka makanan, air dan selimut setelah kelaparan dan kedinginan berhari-hari.

Adakah yang salah dari orang lapar, terusir dan tak punya rumah memintamu untuk memberinya makan dan tempat tidur?

Humanity made us human

Kutemukan jawabnya dari kedalam mata gambar-gambar pengungsi Rohingnya. Kemanusiaanlah yang menjadikan kita manusia. Kau menjadi manusia karena perasaanmu memanusiakan manusia. Membuat bayangan pada pikiranmu bahwa apa yang terjadi pada manusia lain bisa saja terjadi pada dirimu dan karena itulah rasa kemanusiaanmu muncul.

Barangkali kita bukan siapa-siapa. Tak bisa berbuat banyak bagi mereka. Dan jelas kita punya doa bagi mereka. Tapi doa,di hati tempatnya, ialah selemah-lemahnya keyakinan. Maka kemanusiaan yang diajarkan Nabi lebih realistis dari apa yang sebelumnya kita bayangkan. Lakukan dengan tanganmu dan mulutmu. Berikan sedikit uang yang kau punya untuk makan mereka, jika mampu berikan tenagamu untuk menyalurkannya, dan tuliskan, katakan tentang penderitaan mereka agar dunia melihatnya, agar dunia juga menyuarakan nasib mereka. Sebab bisa jadi, kelak kita akan ditanya, dimana kita saat saudara keyakinan kita meminum air kencingnya sendiri.

Let’s help Rohingnya
Isra’ Mi’raj 27 Rajab 1436H

huffingtonpost

Rohingya migrants bring back food supplies dropped by a Thai army helicopter after jumping to collect them at sea from a boat drifting in Thai waters off the southern island of Koh Lipe in the Andaman sea on May 14, 2015. A boat crammed with scores of Rohingya migrants — including many young children — was found drifting in Thai waters on May 14, with passengers saying several people had died over the last few days. AFP PHOTO / Christophe ARCHAMBAULT (Photo credit should read CHRISTOPHE ARCHAMBAULT/AFP/Getty Images)

Huffingtonpost

A Rohingya migrant woman holds her child as she stands on a boat drifting in Thai waters off the southern island of Koh Lipe in the Andaman sea on May 14, 2015. The boat crammed with scores of Rohingya migrants — including many young children — was found drifting in Thai waters on May 14, according to an AFP reporter at the scene, with passengers saying several people had died over the last few days. AFP PHOTO / Christophe ARCHAMBAULT (Photo credit should read CHRISTOPHE ARCHAMBAULT/AFP/Getty Images)

When I hear your footsteps, greeting you with a smile
That is the only gift that I could give you
Are you feeling sick anywhere? Was it hard?
Don’t worry about me, I just need you to be okay
When your heart is aching, when no one is there for you, just come here

Home by Roy Kim