0

Titik Keseimbangan

Pada adikku ingin kukatakan,bahwa perubahan adalah sebuah kepastian dalam hidup. Tuhan menyampaikan sendiri dalam sebuah firman,bahwa Ia tak akan mengubah nasibmu sebelum kau mengubahnya.Kau sendirilah yang mampu mengubah dirimu. Kukatakan ini dalam satu kata sederhana, gerak.

Hidup adalah gerak dan kehidupan adalah sebuah pergerakan. Setiap hal dalam semesta ini bergerak,dari yang besar hingga pada tingkat terkecil, dari yang terlalu besar untuk dilihat,hingga yang terkecil dan tak mampu dilihat. Bumi bergerak, angin bergerak, benda mati bergerak dengan sebuah sifat perubahan bentuk; mencair, membeku,memuai menyublim, dan bahkan, setiap organ tubuh kita bergerak dalam kondisi kita tak sadar sekalipun.

Gerak adalah nafas kehidupan. Ia yang bergerak berarti hidup. Namun tak semuanya yang hidup benar-benar berkehidupan. Tahukah kau apa yang membuat kau tak hanya hidup tapi juga memiliki kehidupan? Adalah kau mampu menemukan sebuah keseimbangan dalam setiap keadaan di dalam hidup. Aku menyebutnya titik keseimbangan. Paulo Coelho menyebutnya Aleph, Haruki Murakami menemukannya dengan berlari, Tolstoy menyebutnya pengakuan, Dalai Lama menyebutnya harmoni, samurai menyebutnya Bushido, Shakespeare menuliskannya sebagai kisah cinta, Rumi menceritakannya dengan sajak-sajak sufi, Che memanifestasikan bentuknya dengan penyamarataan, Umar r.a menyebutnya keadilan, Ali r.a menyebutnya sebagai ilmu dan kesederhanaan, Abdurrahman ibn auf menyebutnya kedermawanan. Negarawan menyebutnya idealisme, seniman menyebutnya kreativitas, dokter menyebutnya kesembuhan.

Titik keseimbangan tak benar-benar ada tanpa sebuah pencarian,tanpa pergerakan. Keseimbangan adalah konsep paling teoritis yang pernah kita terima dalam hidup.Karena sungguh, dalam setiap berputarnya waktu, keseimbangan tak pernah benar-benar tersedia. Kita mencari titik yang mampu kita pijak menjadi titik keseimbangan kita, titik kenyamanan kita.
Kesembuhan, kreativitas dan idealisme adalah titik kenyamanan yang muncul dari balik sebuah ketidakseimbangan, dari tidak idealnya sebuah keadaan.

Hari ini seseorang mengajarkan padaku, betapa tubuh adalah kawan paling setia, teman bersahaja yang membantu kita untuk menemukan titik keseimbangan dalam setiap keadaan. Saat dalam kemacetan,kebisingan atau keadaan-keadaan buruk lain. Otak kita,memegang peranannya disitu. Atas pertemuan ini aku berterimakasih kasih pada Tuhan. Bertemu dengan orang yang tepat,yang membuatmu berpikir lebih hebat adalah titik keseimbangan dalam  sebuah pertemuan.

Kini,aku tahu,mungkin kunci dari segala kebahagian,ketenangan barangkali adalah bertemunya titik keseimbangan. Pada adikku ingin kukatakan itu. Carilah titik keseimbanganmu, dalam kondisi yang paling tak seimbang sekalipun. Dalam kondisi kau pantas mengeluh sejadi-jadinya,tetap jangan berhenti mencarinya.

Padamu ingin kukatakan, bacalah tentang Muhammad saw, banyaklah bicarakan tentang hidupnya, karena dialah, titik keseimbangan semesta.

image

27.9.14
To Abbas, Rosyi
I’ve just found,,,
There’re so many people i had to met up
As one of my balance point

0

Rurouni Kenshin 2 : Kyoto Inferno

Setelah melihat movie pertamanya tahun 2013 lalu, Ruroni Khensin 2: Kyoto Inferno bagi saya jelas masuk ke dalam Non Hollywood Most Anticipated Movie tahun 2014 ini. Selain cerita yang disuguhkan bukan hanya sekedar cerita action roman biasa, adegan Martial Artsnya juga tak kalah bekelas. Jika dulu juga membaca serial manganya dan mengikuti episode animenya pasti juga tahu cerita macam apa yang sesungguhnya disugukan oleh kisah yang dalam terbitan Indonesia berjudul Samurai X ini.

New-Rurouni-Kenshin-Kyoto-Fire-poster

Cerita diambil di masa pemerintahan baru Meiji,tahun 1860-1870an. Kenshin Himura, seorang mantan Battosai Hitokiri yang dulunya menjadi legenda sebagai pembunuh ini kini menjadi seseorang yang bertekat untuk tak membunuh manusia lagi. Ia menjalani hari-harinya di Dojo sekolah pedang milik Kaoru Kamiya . Dalam sekuelnya kali ini, Kyoto Inferno menghadirkan musuh utama Kenshin, Makoto Shissio yang berusaha menciptakan neraka di Kyoto untuk mendukung usahanya membangun era baru. Shissio adalah musuh tandingan Kenshin yang bahkan –menurut saya ini manis banget- dia memanggil Kenshin dengan sebutan Senpai, yang diartikan sebagai senior,guru, atau orang yang dianggap mempunyai kemampuan yang lebih. Karena disini Shissio diceritakan sebagai main foe –musuh utama- Kenshin, tentunya manuver yang dijalankan Shissio juga tidak sederhana. Kyoto Inferno adalah salah satu caranya membalas dendam terhadap pemerintahan baru.

Agak berbeda ketika melihat sekuel sebelumnya tahun 2012 lalu, Rurouni Kenshin:Meiji Kenkaku Roman Tan yang menurut saya konfliknya lebih mudah dicerna bagi orang yang tidak begitu tahu serial manganya seperti saya karena menyuguhkan inti cerita sederhana mengenai pembuatan dan penjualan ilegal opium. Kyoto Inferno menyajikan semacam political conflict yang oleh direktur Keishi Otomo diramu dengan melibatkan sisi-sisi psikologis, roman dan persahabatan. Saya sendiri beberapa menit di awal dan sering di beberapa bagian cerita merasa agak roaming dengan alurnya karena memang saya dulunya tidak sepenuhnya mengikuti serial manga ini dan minim pengetahuan tentang sejarah pemerintahan Jepang.

Setelah, baca, browsing, googling sana sini, barulah sekarang saya mengerti kronologis dalam film Kyoto Inferno ini. Biar nanti saat melihat The Legend Ends (sekuel terakhirnya) tidak roaming lagi, hehe.

Tahun 1867/1868 adalah masa berakhirnya era Tokugawa Shogun dimana pemerintahan Meiji kemudian memimpin Jepang. kekuasaan kekaisaran Meiji kemudian dipindahkan dari Kyoto menjadi Tokyo sebagai ibu kotanya (jadi paham sekarang,kenapa setting melibatkan Kyoto). Kelas-kelas sosial di masa Shogun menjadi tak berarti lagi di masa Meiji. Samurai yang dulunya adalah kalangan elit tak tersentuh, menjadi setara dengan yang lain. Menjadi wajar bila kemudian mantan-mantan Samurai ini menjadi sosok yang bersebrangan dengan pemerintahan baru, bahkan ingin menggulingkannya. Termasuk Makoto Shissio, sosok yang dalam cerita ini digambarkan sebagai seorang psikopat oleh sebab dendam terhadap masa lalu yang dialaminya (CMIIW :)). Dalam peperangan melawan Shissio di Kyoto ini,ada tiga elemen yang bergabung, Kenshin Himura (the single fighter forever,karena gak ada yang bisa nandingin dia), prajurit pemerintahan Meiji, dan Ninja Oniwabatshu- segerombolan mantan intel kekaisaran.

Shissio ini ambisinya juga adalah untuk membuat Kenshin membunuh manusia lagi. Kaoru adalah sosok yang paling menjaga agar Kenshin jangan sampai membunuh manusia lagi. Sosok Kaoru adalah the most psychological character disini, yang mampu membawa film menjadi lebih bisa dirasa sekaligus menyajikan sebuah romantic anticlimax untuk sebuah cerita roman klasik.

kyoto-inferno

Dialog film ini bagus walupun yang saya ingat, banyak dialog dari film pertamanya lebih bisa dijadikan quote. Akting pemainnya juga lebih keren jelas. Takeru Sato, is always in deep expression yang kadang-kadang bikin melting walau dia gak ngomong apa-apa dan cuma senyum,hehe. Emi Takei, si Kaoru juga lebih charming di film ini, mungkin dia diet dan poninya model miring, hehe.
RuroKen_visual-300x200
Akting komikalnya Munetaka Aoki sebagai Sanosuke inilah satu-satunya yang bisa bikin ketawa sekaligus mengingatkan kita bahwa, yess,this is Manga. Ada juga Ryosuke Kamiki sebagai Seta Sojiro yang agak setengah androgini karena sebagai cowok dia imut banget dan tadinya saya kira dia sahabat Sato, Haruma Miura (udah girang banget dikira Miura ikut main) dan sederet aktor senior Jepang yang kata sutradaranya jadi big burden buat Sato to do the best.

Pada akhirnya, setelah melihat film ini,memori masa kecil saat rajin-rajinnya ngikutin serial komik itu datang lagi. Ya, saya dan generasi waktu itu beruntung, komik-komik saat itu, yang kita baca, menyuguhkan cerita yang tidak biasa. Yes, i really love Asia :))