Apa Kabar Maryam?

Halo, Maryam apa kabar? Happy kah di sekolah baru?

Kak Dinar baper (terbawa perasaan) ketika tadi Umma tiba-tiba whatsapp minta foto-foto Maryam waktu di Maryam&Isa. Kak Dinar bilang ke Umma kalau ternyata rasanya ada yang hilang saat Maryam tidak datang lagi kesini.

Umma bilang, Maryam masih sering ngobrolin kakak-kakak di rumah. Umma bilang, Maryam masih suka excited dan bilang “itu sekolahku” kalau lewat sini. Maryam bilang, ‘Afiyah nggak boleh ke Maryam&Isa karena Maryam cuma mau kakak-kakak ngajarin Maryam.

Maryam pasti aslinya juga rindu, seperti kami disini. Tepatnya Kak Dinar sih. Rindu, rindu sekali.

Maryam cantik, lincah dan cerdas. Semua orang pasti akan senang saat lihat Maryam, lalu akan bertanya “itu siapa? usianya berapa?” Beberapa yang tidak bertanya akan bilang “Ih cantiknyaa,,” atau “ih,,,lucunya pakai hijab.”

Tapi bukan itu yang bikin kami rindu, Kak Dinar rindu. Lebih dari segala kelucuan sebagai anak-anak, Maryam adalah teman bagi kami. Teman mendewasa. Tepat saat Maryam tumbuh menjadi anak yang sangat manis dan cerdas, kami tumbuh menjadi orang yang lebih sabar, lebih mengerti dan lebih penyayang.

Kami punya banyak kenangan yang tak terlupakan dengan Maryam. Kenangan itu menempel di memori kami karena itu adalah pertama kalinya pula bagi kami. Mungkin Maryam akan melupakannya, tapi Kak Dinar yakin, jejak pembelajarannya akan tersimpan dalam jati diri Maryam sampai nanti.

Tiap datang Maryam selalu menangis, katanya mau sama Abah. Padahal sepuluh detik setelah Abah pergi, Maryam juga diam sendiri dengan ritual merenung sebentar. Dulu waktu Maryam kecil, kami harus bawa Maryam ke kebun dekat komplek untuk lihat ayam. “Ayam dimana dicari Maryam?” begitu kata kuncinya. Kami jadi tahu, anak-anak pun perlu waktu untuk meregulasi dirinya sendiri. Maka tiap mood Maryam tidak bagus, kami akan biarkan Maryam untuk duduk berdiam diri dulu

Saat Maryam berumur 2,5 tahun, Maryam bilang kata Umma nyanyi lagu ulang tahun itu nggak boleh. Dan sebenarnya, kakak-kakak juga tidak pernah mengajarkan lagu itu di sekolah, tapi teman-teman menyanyikannya. Mungkin tahu dari rumah. Waktu Sunda ulang tahun dan teman-teman bernyanyi lagu selamat ulang tahun, Maryam cuma diam. Sambil agak cemberut. Percayakah Maryam, kalau kami belajar dari sikap Maryam waktu itu? Sekecil itu Maryam sudah teguh prinsip, kami jadi malu. Kami, yang makin tua makin permisif ini.

Di sekolah, Maryam datang selalu dengan berhijab. Kalau pakai rok, Maryam selalu pakai celana panjang di dalamnya. Sebenarnya kebiasaan teman-teman juga begitu. Tapi pernah suatu kali Athaya pakai dress yang terlalu pendek dan tidak bawa celana panjang. Kami tidak minta Maryam, tapi Maryam langsung berikan celana panjang cadangan ke Athaya. “Pakai punya aku aja” kata Maryam. Begitu pula saat Rafa ngompol dan tidak bawa celana lagi. Maryam ambilkan celana merah polkadotnya untuk Rafa. Dan kami jadi tertawa terbahak-bahak, karena lihat Rafa jadi imut banget pakai celana polkadot. Anak kecil memang peka, tapi kami tak pernah menyangka akan sepenyayang itu. Kami jadi tertohok. Kami yang makin besar makin cuek ini.

Sejak bisa bicara, Maryam jadi ceriwis. Dan memang seharusnya begitu. Tapi Maryam juga mendengarkan teman saat mereka bicara, juga mengingatnya. Sejak itu pula kami tak pernah membicarakan teman-teman dan Maryam di dekat Maryam atau teman-teman. Kami juga tak pernah memaksa Maryam melakukan sesuatu, karena Maryam tidak suka dipaksa. Maryam hanya bisa diberi pilihan dan negoisasi. Dan dari situlah kami belajar, terhadap anak-anak pun, kami tidak boleh bicara main-main. Segala hal yang diterima dengan sungguh-sungguh, seharusnya juga diberikan dengan sungguh-sungguh. Termasuk kata-kata.

Begitu Maryam, Kakak kadang lupa, Maryam anak kecil dan bukan teman sebaya. Itu karena Maryam dewasa sejak dari dalam hatinya. Waktu itu Kakak bahkan pernah minta didoakan sama Maryam. Maryam cuma mengangguk-angguk dan tersenyum, entah tahu entah tidak.

Sudah itu dulu ya ceritanya. Setidaknya menulis sekian paragraf ini sudah menjawab kerinduan pada Maryam. Sebab yang terpenting nyatanya bukan hanya kenangan, namun pembelajaran yang diperoleh darinya. Maryam bagian dari titik balik yang Kak Dinar lalui.

Umma tidak pernah upload foto Maryam di social media. Dan karenanyalah Kak Dinar bangga sekali padanya. Tapi sekali ini, eh tidak, untuk kedua kalinya, biar foto Maryam ada disini ya, di blog pribadinya Kak Dinar.

A Brief Moment : Selfie with her

A Brief Moment : Selfie with her

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s