0

Titik Nol

Sudah sepekan ini saya banyak terbaring di tempat tidur karena terserang flu,batuk, masuk angin dan serangkaian penyakit yang umum datang pada musim yang basah. Tahun ini, entah kenapa hujan turun sepanjang tahun termasuk di bulan-bulan matahari seharusnya bersinar dengan teriknya. Tidak ada musim panas yang benar-benar panas tahun ini. Hujan dan angin menyelingi,hingga menuju musim penghujan lagi. Hujan adalah berkah tentu, tapi rupanya juga tantangan bagi tubuh-tubuh yang mulai terasa rapuh. Maka selama sepekan ini, aktivitas saya hanya berkisar diantara rutinitas bekerja, makan dan baca buku. Semua dilakukan kalau tidak diatas tempat tidur atau di meja. Tidak ada perlintasan ide, pemaknaan akan sesuatu bahkan tugas akhir observasi pun tidak semangat saya kerjakan (dan malah menulis blog 🙂 )

Namun anehnya walaupun tidak ada ide atau tidak mengerjakan apa-apa, pikiran saya tidak benar-benar hampa. Justru dari ranjang tempat tidur selama beberapa hari inilah, saya merasa sedang mengelilingi wilayah Asia Tengah dan merasakan ketakjuban-ketakjuban yang muncul diantaranya. Adalah Titik Nol, karya Agustinus Wibowo, sebuah buku yang tergolong “tidak baru-baru amat” yang tidak sengaja saya ambil karena saya sedang dilanda jenuh dengan fiksi. Semacam butuh angin kesegaran, ini adalah buku perjalanan pertama yang saya baca di tahun ini. Dan rupanya Titik Nol tidak hanya memberikan kesegaran, lebih dari itu, adalah tentang sesuatu yang juga harus dipikirkan.

titik-nol

Selama ini, saya menghindari buku-buku bertema travel writing oleh karena beberapa hal. Pertama, kebanyakan buku travelling hanya bercerita tentang fisik suatu tempat, gambar dan fakta-fakta di dalamnya. Gaya bercerita semacam itu, pada akhirnya hanya akan membuat saya berpikir, “ah enak ya kalau aku juga kesana, nanti jadi tahu”. That’s all. Tidak ada kelanjutan “kenapa kalau sudah tahu”. Kedua, buku-buku travelling berisi tentang do’s and dont’s, apa-apa yang sebaiknya kita lakukan dan hindari saat bepergian. Yang kedua ini adalah jenis buku yang paling saya hindari. Memang penting dan infromatif, namun bagi saya setiap orang berhak melakukan sesuatu dengan caranya sendiri, kecuali jika memang sangat buta terhadap sesuatu itu. Hal yang sama diungkapkan Lam Li, backpacker wanita senior Agustinus dalam buku ini, “bacalah buku yang membuatmu berpikir.” And this book did the same for me.

Titik Nol, adalah cara bertutur yang benar-benar baru dalam travel writing di negeri ini, kata Qaris Tajudin. Tidak hanya soal bertutur, Titik Nol bagi saya juga menyuguhkan cerita tentang destinasi baru (yang barangkali di kalangan backpacker, traveller sebenarnya biasa) yang selama ini dianggap tidak memliki daya tarik apapun namun ternyata mengandung unsur eksotisme yang tinggi. Tibet, Nepal, India, Kashmir, Pakistan, Afghanistan adalah negeri-negeri dimana gambaran yang muncul saat disebut namanya adalah konflik, perang dan kemelut yang berkepanjangan. Siapakah turis dari sesama negara dunia ketiga yang rela menghabiskan uang dan waktunya berlama-lama disana? Berjalan-jalan, berpetualang, jika itu adalah ke luar negeri bukankah lebih baik dilakukan di Eropa, Australia atau setidaknya Amerika yang menyuguhkan kenyamanan dan kemajuan sebuah peradaban? Tapi Agsutinus Wibowo, menempuh jalan ektrim seorang backpacker sejati untuk menunjukkan pada dunia cahaya kehidupan macam apa yang menyinari orang-orang di daerah tak terjamah.

Tibet, yang saya tahu selain merupakan atap dunia, jalan masuk menuju Himalaya, adalah juga tempat asal Dalai Lama. Secara pribadi saya menyukai ajaran-ajaran Buddha dan penggemar Dalai Lama XIV, Tenzin Gyatso sebagai pemimpin spiritual umat Buddha. Di Tibetlah, kesejatian umat Buddha terhadap ajarannya bisa terlihat. Sejak “pembebasan” dan revolusi kebudayaan yang dilakukan oleh Tiongkok, Dalai Lama menyikngkir ke Dharmasala, Tibet dalam kuasa pembaharuan. Maka tak heran ketika Agustinus sampai di Lhasa -ibukota Tibet sekaligus kota suci- setelah perjalanan panjangnya dari Beijing dan Xinjiang yang tidak nyaman, terkaget-kaget melihat modernitas di jantung Lhasa. Yang menarik dari Tibet ternyata justru saat Agustinus berkejaran dengan petugas keamanan, dialog-dialog politik pro dan kontra revolusi dan kisah perjalanan yang panjang, kotor dan tidak nyaman dalam kereta. Mengalahkan cerita tentang spiritualitas peziarah Gunung Khailash dan misteri Shangri La.

Cr pic. agustinuswibowo.com

Cr pic. agustinuswibowo.com

Sejak kecil, saya menyukai pelajaran tentang negara-negara lebih dari pelajaran apapun di sekolah. Ketika pertama kali mendengar kata Nepal waktu SD, gambaran yang ada di pikiran saya adalah, India, hitam, kumuh dan terbelakang. Dan setelah membaca penuturan Agustinus di buku ini, gambaran saya saat kecil itu ternyata tak jauh-jauh dari aslinya. Orang biasa seperti saya tentu tak mau pergi ke tempat yang kumuh, tidak nyaman dan di sisi lain membentangkan sebuah ironi paling menyayat hati tentang modernitas dan kemiskinan jika hanya untuk sekedar jalan-jalan. Di India pun juga begitu. Katanya, backpacker sekuat apapun pasti akan terserang diare saat berada di India. Tapi perjalanan bukan hanya tentang fisik suatu tempat. Sebab justru dari temmpat-tempat tak nyaman itulah manusia-manusia paling bahagia, manusia-manusia yang tersenyum dan menari ternyata banyak ditemui. Kebahagiaan kadang sungguh tak mahal.

Cr pic. agustinuswibowo.com

Cr pic. agustinuswibowo.com

Tentang Kashmir, Pakistan dan Afghanistan, negeri-negeri muslim ini memberikan sebuah gambaran nyata tentang bagaimana tamu begitu dimuliakan, seperti yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Tak peduli apakah itu sedang berduka, tertimpa bencana, berbahagia, kedatangan tamu adalah suatu berkah. Lebih baik tidak makan daripada tamu kelaparan. Adakah sesunggunya yang lebih indah daripada manusia yang memuliakan manusia lainnya?

Di beberapa bab dalam buku ini, setelah melalui berbagai peristiwa maha berat, Agustinus secara jujur mengungkapkan segala kegalauannya akan mimpi-mimpi. Haruskah perjalanan terhenti sampai disini? Haruskah pulang saja ke rumah? Dan untuk apa semua perjalanan ini? adalah beragam pertanyaan manusiawi dalam setiap perjalanan menempuh apapun. Penuturan seperti itu, terasa sangat jujur.

Pada akhirnya, Titik Nol brhasil mengungkapkan sebuah kesimpulan paradoks paling tinggi dalam cerita sebuah perjalanan. Bahwa sejauh apapun ia melangkah menyusuri dunia, nyatanya makna hidup paling mendalam justru ia temukan dalam sujud di samping ranjang ibunya yang tak pernah kemana-mana. Titik nol, tempat memulai sekaligus tempat kembali. Barangkali seperti itulah kita berjalan menyusuri mentari, dimulai dengan sujud di pagi hari, ditutup dalam sujud di malam hari. Hingga kita sadar, sejauh apapun kita berjalan, nyatanya kesejatian ditemukan di atas sajadah, dalam sujud di malam yang panjang.

Lam Li berkata dalam pengantarnya untuk buku ini, nilai perjalanan tidak terletak pada jarak yang ditempuh seseorang, bukan tentang seberapa jauhnya perjalanan, tapi lebih tentang seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan. Senada dengan itu, seorang sahabat saya yang saat ini sedang ditempa kerasnya kehidupan di Australia mengatakan keinginannya untuk mengelilingi Indonesia setelah pulang nanti. Katanya, setelah berada di luar negeri, ia menyadari betapa ia tak memahami negaranya sendiri. Tanah air tempat ia dilahirkan. Mungkin memang begitu paradoks bekerja. Menjauh adalah mendekat yang tertunda.

Travelling, bepergian atau apapun itu, saya selalu menyukainya. Menyimpannya sebagai bagian dari mimpi yang perlu diwujudkan. Mengunjungi tempat baru terasa menyenangkan, namun terlebih dari itu, makna bisa kita temukan saat bertemu dengan manusia.

Jadi pertanyaannya, akan kemanakah kamu atau bersama siapakah kamu Dinar?

0

Maryam

Manusia selalu mampu belajar hal baru atau hal lama yang diperbarukan pada setiap pertemuannya dengan manusia lain. Namun kemampuan manusia terbatas dalam berperasaan dan memberi kesan. Sehingga ketika sesungguhnya mampu belajar pada setiap hal, hanya beberapa manusia yang benar-benar berkesan bagi manusia lainnya. Begitu juga dengan Maryam. Walau segala kelebihannya membuat takjub, namun pada banyak hal ia tetap sama seperti yang lainnya. Kisah tentang Maryam, terlepas dari perasaan sayang dan semacamnya. Melalui dialah, Tuhan membukakan padaku pintu cakrawala untuk semakin mengerti tentang kehidupan anak manusia. Ia tertulis, barangkali karena ia termasuk ke dalam “beberapa manusia yang dapat memberi kesan” padaku.

Aku mengenalnya pertama kali, ketika dia adalah seorang manusia yang baru dapat memijakkan kaki di bumi. Lima belas bulan usianya kala itu. Secara fisik, ia bayi yang rupawan dan menyenangkan jika dipandang. Sebab orang tuanya pun termasuk rupawan. Nama tengahnya berarti keridhoan Tuhan. Barangkali karena itulah, terhadap prinsip-prinsip ketuhanan yang diajarkan padanya secara sederhana, ia melakukannya dengan kesungguhan dan kepolosan seorang anak.

Pada hari-hari pertama ia datang dengan penuh tangisan, entah seperti apa, aku merasa tenang. Aku seperti mengerti bahwa dia akan diam saat ingin diam, dan menangis adalah salah satu caranya untuk meredakan ketakutan. Rumit ya? Tapi itulah yang kurasakan. Tak ada yang tahu bahwa itu adalah salah satu cara yang dilalui oleh pikiranku nantinya, untuk mengerti bagaimana perasaan manusia bekerja semenjak kecilnya.

Di awal episode hubungan kami yang setelah hari itu terus berlanjut, Maryam terlihat sangat introvert. Ia menyendiri ketika aku dan temanku berbicara-yang kadang-kadang juga-tentangnya. Ia menolak dekat-dekat dengan orang yang baru dilihatnya terutama laki-laki dewasa, pada saat tertentu, ia diam sampai ada orang yang berkenan menyapanya. Barangkali hal tersebut memang wajar bagi anak-anak. Tetapi pada sinar matanya, aku melihat tentang betapa dalamnya dia mencoba melihat situasi, meregulasi dirinya sendiri. Seakan-akan ia berkata “terhadap hal-hal yang merusak ketenanganku, biarkan aku mencobaa menyelesaikannya sendiri.”

Semakin aku mengenalnya, semakin bertumbuhlah karakternya. Maryam bukanlah anak yang gagap logika. Ia melakukan atau menolak sesuatu karena telah paham dengan cara yang paling sederhana. Bahkan terkadang dengan negoisasi yang tanpa sadar membuatku menjadikannya sebagai teman, bukan anak-anak. Kamu boleh itu kalau sudah ini atau kalau kamu melakukan ini kamu harus itu, kataku padanya. Ia terbiasa memilih dan menanggung pilihannya sendiri, maka sejak itulah aku mengerti, anak-anak tidak bodoh dan tak ada yang bodoh, jika orang dewasa memahaminnya dan memberikan pilihan-pilihan di masa awal hidupnya. Keberadaan Maryam, seperti meruntuhkan Blank State Theory (Tabula Rasa) yang dikukuhkan John Locke empat abad silam. Anak-anak memang suci, namun mereka bukan kertas putih yang kosong tak berisi apa-apa. Mereka membawa simpul genetikanya masing-masing, yang kelak akan menjadi bekal pertumbuhannya sebagai orang dewasa.

Tentu saja, ada kalanya Maryam menjadi tidak penurut, malas dan egois. Seiring dengan bertambah usia dan meningkatnya kemampuan verbal, anak-anak akan melaluai fase ke’aku’an yang tinggi, yang jika tidak dibiarkan juga tidak akan berlama-lama ada dalam diri anak. Hal itu membuat Maryam lebih seperti anak-anak kebanyakan. Dan tentu saja, dengan pengalaman dan pengetahuanku yang sedikit, aku pernah kesulitan mentolerir itu semua.

Lantas apa yang membuatnya berkesan bagiku? Kesan, terkadang dihadirkan Tuhan begitu saja pada diri manusia. Setiap aspek dalam diri Maryam mengesankan bagiku. Tapi terlebih dari itu dari dirinya aku belajar mengenali karakter anak-anak. Menganggap mereka manusia yang juga sama seperti orang dewasa terlepas dari kepolosan yang menjadi dunianya. Pernah suatu hari, ketika keadaan hati dan mukaku kurang bagus karena kelelahan, Maryam hendak melakukan sesuatu pada temannya namun terhenti saat aku melihatnya. Kutanyakan padanya kenapa dia seperti itu, dan dia tak menjawab. Kulihat di tangannya terdapat bekas gigitan. Dan aku hampir menangis saat kukatakan kenapa ia tak berteriak, menangis atau memanggilku ketika digigit, namun ia hanya diam melihatku.

Sekarang usianya menjelang tiga tahun. Banyak hal yang telah ia bisa, dan karenanyalah ia maju mendahului beberapa tahap perkembangan. Namun bukan itu yang membuat ia dicintai banyak orang. Adalah perubahannya dari seorang gadis kecil yang introvert menjadi seorang balita yang affectionate, penyayang, peduli dan di sisi lain juga teguh prinsip. Sesungguhnya ada banyak anak seperti dia. Maryam hanya salah satunya.

Di sore hari, ketika kami berjalan berdua, pernah kukatakan padanya, bahwa jika nanti Tuhan mengizinkanku punya anak, aku ingin anak seperti dia. Bukan hanya karena dia cantik dan menyenangkan, tapi karena dia mampu mengerti dunia di sekitarnya dan punya kesempatan untuk menumbuhkan karakternya menjadi baik bagi sesama. Ia melihatku dengan senyum yang sedikit ditahan karena malu dan menggemggam tanganku erat.

Maryam, seperti itu tentu karena doa kedua orang tuanya. Namun satu hal dari orang tuanya yang memberiku sebuah catatan berharga. Tak sekalipun orang tuanya berbangga-bangga, memperlihatkan kelebihan anak-anaknya. Dan barangkali justru karena itulah, Maryam tumbuh dengan banyak cinta menghampirinya.

Bertumbuhlah sebagaimana kebaikan yang telah dilukiskan Tuhan di masa kecilmu
Kamu, dan teman-temanmu….

When she met me for the first time back then, she was just a cute little girl. Now, she is beyond that.

When she met me for the first time back then, she was just a cute little girl. Now, she is beyond that.

Adagio in C Minor by Yanni