0

Asmaa’ Has Been Knocking Heaven’s Door

Asma’ yang telah mengetuk pintu surga, tak pernah kukenal sebelumnya karena dunia juga tak pernah menyebutnya, hingga kudengar kabarnya, sebulan yang lalu, empat belas Agustus dua ribu tiga belas, dadanya tertembus peluru milik prajurit militer di lapangan Rabiah Al Adawaiyah,Mesir. Asma’ Muhammada Baltaji, putri tunggal pimpinan Ikhwanul Muslimin, Dr.Muhammad Baltaji itu masih berusia tujuh belas tahun, saat ia dengan berani untuk turut ikut berdemonstrasi menentang kedzaliman militer di negaranya. Entah bagaimana rusuhnya situasi saat itu, saat media disini ragu untuk menyampaikannya, tetap masih tak dapat dimengerti, prajurit yang mengaku sebagai pasukan keamanan kemudian mengarahkan pelurunya pada seorang gadis. Asmaa’ yang cantik wafat di perjalanannya menuju rumah sakit.
Dan dunia pun bersuara, menyadari betapa beraninya gadis ini. Dan betapa tidak warasnya manusia-manusia bersenjata itu. Hingga kini, tak membuat berubah sedikitpun pendapatku, bahwa senjata tak pernah menjadi suatu jawaban. Namun Asma’ kemudian menjadi sebuah jawaban, bahwa bisa jadi, senjatalah yang dapat mengantarmu mengetuk pintu surga. Asmaa’ Muhammad Baltaji, tahukah ia disana, bahwa ia telah menjadi guru bagi banyak manusia yang mendamba surga?
Kutulis cerita Asma’, disini, agar aku bisa terus mengingat, ada gadis cantik dan ayah baik hati yang menunjukkan padaku cita-cita macam apa yang harus terus ada dalam hidupku.

Beginilah surat seorang ayah pada putri tercintanya :

Putriku tercinta dan guru yang bermartabat, Asma al – Beltaji , ayah tidak mengucapkan selamat tinggal kepadamu, ayah katakan besok kita akan bertemu lagi .

Kau telah hidup dengan kepala terangkat tinggi , memberontak melawan tirani dan belenggu dan mengasihi kebebasan. Kau telah hidup sebagai seorang pencari cakrawala baru yang tenang untuk membangun kembali bangsa ini menjdikannya suatu tempat di antara peradaban .

Kau tidak pernah membiarkan dirimu dengan hal-hal yang menyibukkan mereka di usiamu . Meskipun pelajaran tradisional tak berhasil memenuhi aspirasi dan ketertarikanmu , kau selalu menjadi yang pertama di kelas.

Ayah tak cukup menjadi sahabat berhargamu dalam hidup yang singkat ini , terutama waktu ayah yang tidak memungkinkan ayah untuk menikmati persahabatan denganmu . Terakhir kali kita duduk bersama di lapangan Rabaa Al Adawiya kau bertanya padaku ” bahkan ketika ayah bersama kami ayah sibuk ” dan ayah katakan ” tampaknya waktu dalam kehidupan ini tidak akan cukup untuk bisa menikmati setiap persahabatan, jadi ayah berdoa kepada Tuhan agar kita bisa menikmati persahabatan kita di surga . ”

Dua malam sebelum kau dibunuh ayah melihatmu dalam mimpi mengenakan gaun pengantin putih dan kau adalah simbol kecantikan . Ketika kau berbaring di samping ayah, ayah bertanya padamu ” Apakah itu adalah malam pernikahanmu?” Kau menjawab , ” Itu adalah di siang, bukan malam ” . Ketika mereka bilang kau dibunuh pada Rabu sore aku mengerti apa yang kau maksud dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai martir . Kau memperkuat keyakinan ayah bahwa kita berada di atas kebenaran dan musuh kita adalah kebohongan .

Yang membuat ayah begitu sedih adalah tidak berada di sisimu saat perpisahan terakhirmu dan melihatmu untuk terakhir kalinya , tidak mencium dahimu , dan tidak beruntung untuk memimpin doa di pemakamanmu. Aku bersumpah demi Tuhan , Sayang, ayah tidak takut terhadap hidup ayah ataupun penjara yang tidak adil , tapi ayah ingin membawa pesan pengorbananmu, untuk menyelesaikan revolusi , untuk menang dan mencapai tujuan.
Jiwamu telah diangkat dengan kepala terangkat tinggi melawan tiran . Peluru berbahaya itu telah mengenai dadamu . Betapa hebatnya tekad dan jiwa yang murni . Ayah yakin bahwa kau tulus kepada Allah dan Dia telah memilihmu di antara kita untuk menghormatimu dengan sebuah pengorbanan .

Akhirnya , putriku tercinta dan guru yang bermartabat, Ayah tidak mengucapkan selamat tinggal , tapi ayah mengucapkan selamat jalan . Kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta dan sahabat-sahabatnya di Surga di mana keinginan kita untuk bisa menikmati persahabatan kita dan persahabatan dengan yang kita cintai akan menjadi kenyataan.

Mesir-asma-beltaji-syahidah-jpeg.image_

Asmaa’ Muhammad Baltaji, usianya jelas lebih muda dariku saat ia syahid. Namun melalui kisahnya, kutumbuhkan satu lagi harapan pada Tuhan. Allah, jika amalku tak banyak yang Kau terima, jika aku tak banyak berguna bagi yang lainnya, dan jika banyak aku berbuat yang Kau tak suka, maka ijinkanlah aku masih pantas, untuk mati sebagaimana Asmaa’ , yang tetap menyimpan ketulusan untukMu ketika Kau memanggilnya.

When she was just a girl
She expected the world
But it flew away from her reach
And the bullets catch in her teeth
Life goes on, it gets so heavy
The wheel breaks the butterfly
Every tear a waterfall
In the night the stormy night she’ll close her eyes
In the night the stormy night away she’d fly
And dreams of
Para-para-paradise
Para-para-paradise
Para-para-paradise

-Paradise, Coldplay-

Mama take this badge from me
I can’t use it anymore
It’s getting dark too dark to see
Feels like I’m knockin’ on heaven’s door
-Knocking Heaven’s Door, Bob Dylan-

In Regards to Asmma Beltaji, Ahmad Dhiya’, Habibah Ahmd,semoga berada di sisi Tuhannya