0

Di Tempat Baru

Di tempat yang baru, manusia mengurai rasa, antara kenangan, harapan dan sedikit banyak tentang ketakutan. Disela-selanya, selalu ada sudut padang baru yang tercipta.

Sudah lebih dari dua minggu ini saya tinggal di tempat baru, sebuah kota di timur Kalimantan, Samarinda dan menjalani peran sebagai ibu rumah tangga penuh waktu. Dua hal yang dulu pernah saya bayangkan tapi tentu saja menjalaninya adalah hal yang berbeda dari membayangkannya. Tempat dan kehidupan yang baru terkadang memberimu semacam kebingungan dan ketakutan, hal manusiawi yang sewajarnya dialami manusia sebagai bagian dari perjalanan rasa.

Di Samarinda setidaknya selama dua minggu ini telah menunjukkan betapa kota ini begtu damai pada kami para pendatang. Mungkin karena sebagian besar diantaranya adalah juga pendatang. Dsini, komoditas tidak berharga murah, namun orang-orang tak pernah marah oleh semua yang serba mahal itu.

Seorang supir angkot ( disini disebut taksi) pernah beberapa kali meminta maaf pada saya karena menunggu penumpang tambahan selama setengah jam agar bisa berangkat, tanpa dia tahu, bahwa saya pernah kenyang menunggu dua setengah jam hingga angkot penuh untuk bisa berangkat selama di Surabaya. Di pasar ketika saya tak tahu dan membeli barang secara eceran di toko grosir, pedagang memberi tahu pada saya dimana dan cara bagiamana saya harus membelinya, tanpa marah-marah, apa yang barangkali jarang sekali saya dapat selama di Jakarta. Satu saat ketika hendak ke masjid di subuh hari, suami bercerita pernah juga dtawari tumpangan motor ke masjid yang hanya berjarak sekitar dua ratus meter itu.

Kebaikan-kebaikan sederhana semacam itu, membuat saya melihat kedamaian di mata orang-orang dsini dan mengkilasbaliki hari-hari saya hidup di sekitaran Jakarta. Jakarta kota yang marah, mungkin tidak tapi itulah memori yang tergambar di kepala saya. Banyak hal. Jalanan, pekerjaan, makanan, tetangga, dan semuanya. Saya ingat bagaimana saya ditegur dengan begitu kerasnya karena tidak menutup portal komplek dan bagaimana tetangga bisa menjadi sangat emosional karena permasalahan sesederhana itu. Saya ingat bagaimana menjadi pejalan kaki yang diiringi klakson-klakson mobil dan teriakan anak-anak belum cukup umur yang mengendarai motor. Banyak hal disana yang membuat saya berkali-kali bersumpah untuk menjadikan diri saya dan anak-anak saya kelak tidak seperti beberapa perilaku mereka. Namun tetap saja, hal-hal itulah yang menidik kami untuk kuat, untuk bertahan dan untuk bersabar.

Samarinda bukanlah kota yang atraktif, tidak banyak yang menarik disini. Tapi saya belajar melihat tempat bukan lagi dari segala hal bersifat fisik di dalamnya. Sehingga pertanyaan betah atau tidak betah tidak lagi menjadi penting. Saya percaya setiap tempat yang kita singgahi selalu memberikan cerita, bagaimana membuatnya menjadi sebuah pembelajaran adalah pilihan kita. Disini, pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah ketenangan dan keikhlasan.

The Absence of Strong Emotions (Cr.pic. Arief Kurniawan)

Iklan