0

Menangislah

Kau datang padaku seperti biasa
Kusambut bahagia dengan tangan terbuka
Kau balas dengan senyum seadanya
Kutahu ada sesuatu yang berbeda

Kau hanya diam seribu bahasa
Hanya matamu yang coba berbicara
Bahwa saat ini hatimu terluka
Kau tahu ku ada di sini untukmu

Mencoba tak berkedip menahan tegar di ujung mata
Hingga kau pun tak kuasa, berderailah air mata
Dalam pelukku kau curahkan semua

Menangislah …
Kadang manusia terlalu sombong tuk menangis
Lalu untuk apa air mata telah dicipta
Bukan hanya bahagia yang ada di dunia
Menangislah …
Di bahuku kau berikanku kepercayaan
Bahwa laramu adalah haru biruku
Kerna aku adalah sahabatmu
Menangislah … dibahuku ku disini untukmu
Menangislah … dibahuku kerna ku sahabatmu

By;Haris Isa

12.10.10

“kadang menangis menjadi saat kontemplasi paling indah”

Iklan
0

Hidup Itu Seru!!!

 

Jalan dengan “Mbak” Dosen yang Baik Hati

Jadi assisten dosen ternyata nggak Cuma ngasisteni mata kuliah aja. Ternyata jalan-jalan a.k.a shopping juga butuh assisten, hehehe…Tapi gak papa, itu bisa dikatakan rejeki buat kaum mahasiswa proeletar macam diriku ini.

Aku biasa memanggil satu dosen ini dengan panggilan “Mbak” Fitra. Bukan tidak menghormati, tapi karena mbaknya emang masih muda. Pengantin muda dan ibu muda, wajahnya muda banget. Aku belum biasa jadi assisten mbak Fitra, sebab memang pertemuan pertama kuliah Statistik Bisnis bukan beliau yang masuk.

Satu hari, kuliah pengganti statisbik, beliau yang ngajar. Minta ditemani pula. Jadilah aku stay di kelas, macam para mahasiswa yang ambil matkul ini. Hanya menemani, sebab aku belum sipa buat ngajar a.k.a nutori. Ya namanya asisten lah….

Tiba-tiba keluar kelas, mbak Fitra tanya ukuran sepatuku. Asal saja aku menjawab kalo gak 39 ya 40. Beliau otomatia kaget. Baru aku bisa mengerti setelah sehari kemudian kenapa waktu itu dia kaget. Masak iya badan kecil kayak lidi gini punya kaki macam gajah panjangnya, hahahah. Saat di kantor mau berpamitan pulang, mbak Fitra tiba-tiba memanggilku. Menyuuruhku memakai sepatunya, dan ternyata PAS.

Dia bialng sepatu itu pembelian suaminya, tapi kekecilan karena semenjak hamil kakinya membengkak, eh maksudnya tambah besar , gitu. Sungkan kalo dia bilang sepatu itu kekecilan. Makanya daripada dibuang, lebih baik dikasih ke aku. Luamayn banget batinku, masih dua hari pake, hehehe. Tapi setelah itu, beliau memintaku menemaninya beli tu sepatu dengan ukuran lebih besar di Mall dekat kampus alias Delta.

Sampai disana, kami langsung menuju Matahari Dept Store, temapt sepatu itu berada. Ternyata ada. Dan, GOD, terdiam aku melihat harga sepatu itu, IDR 429.000. Aku hanya membatin, Tuhan….itu kan biaya makan saya satu bulan…………

Setelah itu aku merenung….tuhan baik, sebab tanpa kusangka, walau dalam keadaan penuh keterbatasan, Dia selalu memberikan yang kubutuhkan…

Dan memang, Hidup Itu Seru!!!

07.10.10

0

Yang Kuinginkan, adalah Ikhwan yang Berkomitmen dan Bertanggung jawab

Semenjak berada pada satu ranah pilihan Allah, dunia penuh tantangan  bernama dakwah, menjadi menu perbincangan kami sehari-hari. Kami, aku dan teman-teman aktivis dakwah kampus se kampus B unair seangkatanku. Dan kini, yang menjadi fokus kerja kami, adalah sesuatu bernama pemngkaderan.

Seorang ikhwan pernah berkata, bahwa dakwah pengkaderan, adalah dakwah yang paling berat. Di satu sisi kami dituntut memikirkan dan melakukan sesutau yang sama, namun di sisi lain, inovasi dan kreatidfitas dalam hal ini juga menjadi hal yang krusial untuk dilakukan. Yah, dari situlah, dari beban yang dirasa cukup berat jika ditanggung sendiri itulah, kami sering berkumpul, berjuang bersama, mendiskusikan semua hal ini. Dan saat mereka ada, segalanya memang terasa lebih ringan dan menyenangkan untuk dilalui.

Kami sadar, bahwa masa amanah kami tak lama lagi, seumur jangung, 3 bulan lagi. Dan capaian kami, mungkin tak seberapa. Memang, Imam Syahid Hasan Al  Banna saja mempertaruhkan seumur hidupnya untuk bekerja di bidang pengkaderan, lantas bagaimana kami yang hanya punya waktu satu tahun saja? Tapi sungguh itu bukanlah pembelaan. Seorang ustadz pada kajian pagi berpesan, yang pesan ini disampaikan oleh seorang ukhti saat kami berkumpul bersama, “ Janganlah kita merasa telah melakukan banyak amal sholeh. Mari kita terus merasa belum melakukan amal sholeh, agar kita senantiasa beramal sholeh.” Dan berbekal itulah, kami mencetuskan program bersama, untuk mempersatukan adik-adik kami, sebagaimana kami telah bersatu terlebih dulu, untuk mengemban amanah dakwah kampus di wilayah kami bersama-sama.

Beberapa ikhtiar telah kami lakukan. Syuro, koordinasi, dan hal-hal teknis lainnya. Saat syuro, ikhwan memang tak lengkap. Kami pun menunjuk seorang koordinator yang tak berada di tempat syuro waktu itu, tujuannya satu, agar yang tak datang tersebut  tertular semangat yang datang. Niat yang baik bukan???Tapi sekali pun itu adalah niat baik, Allah tetaplah menginginkan kami untuk lulus satu ujian tentang niat, kepercayaan, keikhlasan dan kesabaran.

Menjelang hari H, tak ada halangan yang berarti. Dan siapapun tak menyangka, bahwa  ujian itu datang tiga jam sebelum acara. TAK ADA SEORANG PANITA IKHWAN PUN YANG BISA DATANG!!! kami berusaha tetap tenang, menghubungi mereka satu persatu. Dan betapa kami kecewa, sungguh, ketika alasan mereka adalah pulang kampung tanpa pemberitahuan sebelumnya. Sedih??jangn ditanya. Shock??mungkin stadium empat. Mereka tak mencoba berkomunikasi sebelumnya, padahal ini adalah sebuah kesepakatan majlis Allah bernama syuro.

Antara, sedih, kecewa dan mati rasa. Pada akhirnya air mata kami sayup-sayup tak mau keluar. Hanya berkaca-kaca saja, dan kami pun tertawa, Berusaha melepas kesedihan yang ada. Tuhan, merka lah para qiyadah, merekalah para penggerak, tapi kenapa bergerka saja tanpa arah????Mereka menuntut komitmen dari seorang anak buah, tapi mengapa komitmen mereka saja dipertanyakan??? Suntgguh tuhan, yang kuinginkan, yang kami inginkan adalah ikhwan yang berkomitmen dan bertanggungjwab.  Jujur, setelah itu kami seperti manusia tanpa kendali. Mulut kami kurang terjaga. Dan sungguh, itulah yang membuat kami menyesal kemudIan.

Apapu yang terjadi, semuanya harus berjalan. Seorang ikhwan membantu kami, menata perlengkapan teknis. Walaupun saat acara berlangsung, dia tetap tak berada di tempat karena suatu kepentingan. Tapi sungguh, terima kasih kami tak terkira. Pada saat lain, saat kami benar-benar tidak tahu siapan ikhwan yang harus menjadi MC, Allah kembali menurunkan pertolongannya. Seorang ikhwan yang lain, yang seharusnya mempunyai amanah mulia untuk mnjadi munakish pembinaan baca qur’an harus meninggalkan amanahnya sebentar untuk menjadi MC pembuka. Namun saat acara, beliau tetap tinggal di tempat menemani pembicara sembari mencatat. Dalam benak kami, mungkinkah ada guratan rasa kasihan darinya karena memang tak ada seorang ikhwan panitia pun yang berada di tempat. Tapi, kami, tetap tak mau dikasihani.

Senyuman adik-adik kami, rasa terima kasih mereka, sampai pada pancaran mata penuh semangat hingga menitikkan air mata, membuat semua kegelisahan sedikit terobati. Harapan kami hanya satu, semoga semua ini barakah bagi kami dan mereka, adik-adik,agar dakwah kampus ini semakin menjadi baik.

Saat evaluasi tiba, dan Demi Allah, ternyata banyak dari kami yang justru mengevaluasi diri kami. Me ngevaluasi sikap-sikap dan kata-kata kami yang mungkin menekan ikhwan sehingga membuat mereka justru menjauh pergi.  Aku belajar banyak hal dari akhwat-akhwat ini. Para ukhti yang selama tiga tahun ini, dengan tidak secara langsung mentarbiyahku dari hal-hal kecil, diskusi kecil, perhatian kecil dan segala candaan yang memenuhi ruang komunikasi kami.

Maka setiap syuro kutemukan lagi inspirasi-inspirasi. Bahwa jangn samapai kita merasa telah berbuat amal sholeh. Bahwa jangan sampai segala amalan yang kita lakukan disusupi niat-niat buruk selain karena Allah. Bahwa kesbaran itu berada di pukulan pertama. Dan bahwa jangan sampai kita merasa hebat dari yang lain. Komitmen dan tanggung jawab adalah yang penting di sini. Maka, dengan segala kerendahan hati kami ingin meminta maaf pada para ikhwan, dan sungguh dengan lapang dada pulan kami akan memaafkan mereka. Namun, satu yang pasti, jika dakwah mampu berbicara, maka pesan pertama yang mungkin disampaikan pada saudaraku ikhwanfillah adalah, “Yang Kubutuhkan,  Adalah Ikhwan Yang Berkomitmen dan Bertanggungjawab”.

 

Al Khansa, 09.10.10

Saat sekali lagi, kami hanya bisa tersenyum di awal kekecewaan

Senyum akhwat kampus Beeeeee ^^v