0

The Vegetarian : Manusia yang Gagal Selesai Dengan Dirinya Sendiri

Nama Han Kang, setidaknya baru saya kenal, dan sepertinya mulai melambung sebagai penulis dunia asal Korea Selatan, setelah memenangkan penghargaan Man Booker International Prize tahun 2016 lalu. Setelahnya The Vegetarian banyak dibicarakan sebagai buku terbaik oleh berbagai media internasional. Eka Kurniawan, penulis Indonesia yang juga menjadi nominator penghargaan tersebut bahkan menyebut The Vegetarian adalah satu dari lima novel terbaik yang pernah ia baca. Latar belakang semacam itulah yang kadang-kadang menumbuhkan antusiasme seseorang terhadap sebuah buku. Saat banyak yang mengatakan bagus, sebenarnya sebagus apakah buku tersebut?

Kim Yeong Hye adalah seorang perempuan biasa, yang dalam kacamata suaminya dikatakan sebagai istri yang sangat biasa, tidak mempunyai kelebihan ataupun kekurangan khusus. Suatu hari Yeong Hye merubah perilakunya menjadi seorang vegetarian setelah diganggu mimpi buruk berkepanjangan. Ia membuang semua makanan yang tidak berasal dari tumbuhan baik itu daging, ikan, telur bahkan makanan olahan protein hewan seperti mayonaise. Perilakunya sebagai seorang vegetarian berkembang menjadi obsesi dan menyeret keluarganya pada sebuah skandal yang menakutkan.

Cerita berkembang lebih mencekam hingga akhrinya Yeong Hye harus berada di rumah sakit untuk mengatasi permasalahan mentalnya. Yeong Hye bahkan menolak makan. Kakaknya, In Hye adalah sosok setia yang mendampinginya hingga akhir. Melalui narasi-narasi In Hye inilah tertuang bagaimana sebenarnya mereka adalah manusia-manusia yang mencari jiwanya diantara kungkungan waktu dan tersesatnya jati diri.

Daripada berbicara tentang makanan, buku ini memang lebih banyak bercerita tentang peristiwa-peristiwa mengerikan dan konflik personal-interpersonal yang dialami tokoh-tokoh di dalamnya akibat Yeong Hye memutuskan menjadi vegetarian. Di negara Asia, gaya hidup vegetarian memang belumlah diterima secara luas seperti di negara-negara Barat. Dan Korea Selatan, adalah negara yang memang secara kultural terlihat sulit menerima kehadiran seorang vegetarian karena komposisi makanan tradisionalnya selalu tidak jauh dari daging dan ikan. Maka ketika Yeong Hye memutuskan menjadi vegetarian, hampir seluruh anggota keluarganya menentang. Ayahnya yang temperamental bahkan menamparnya ketika ia menolak memakan daging yang disuapkan kepadanya.

Setidaknya dari sudut pandang In Hye saya jadi bisa sedikit menyimpulkan sesuatu yang sedikit disinggung Han Kang disini, bahwa apa yang terjadi pada kondisi kejiwaan dua bersaudara ini adalah buah yang ditanam di masa kecilnya. Besar dengan ayah yang temperamental dan suka sekali bermain tangan mejadikan In Hye dan Yeong Hye tumbuh tanpa benar-benar menjadi dirinya sendiri.

“Ia baru memahami Yong Hye lama setelahnya. Pukulan Ayah hanya ditunjukkan kepada Yeong Hye. Young Ho suka memukuli anak tetangga sebanyak ia dipukuli Ayah, sehingga ia merasa tidak terlalu terusik. Sementara, dirinya adalah putri sulung yang setia menyajikan sup untuk memulihkan tubuh setelah ayahnya mabuk sehingga Ayah tanpa sadar lebih berhati-hati untuk memukulnya. Yong Hye yang berhati lembut dan bersifat halus tidak pernah melawan ayah dan hanya menerima semua pukulan sampai ke dalam tulangnya. Sekarang ia paham. Paham bahwa sifat rajinnya sebagai putri sulung waktu itu bukan karena dia dewasa, melainkan karena ia pengecut. Namun, itu caranya untuk bertahan hidup.
Apakah ia mencegahnya? Semua hal tak terduga meresap ke tulang Yeong Hye. Akhirnya, mereka menuruni jalan di seberang gunung dan menumpang sebuah mesin penanam padi menuju desa kecil melalui jalanan yang asing. Ia merasa tenang, tapi Yeong Hye tidak senang. Yeong Hye hanya memandangi pepohonan yang terbakar cahaya senja tanpa mengatakan apa-apa.”

Pada akhirnya, walaupun Han Kang menarasikan cerita dengan sangat mengalir dan dalam, tetap saja bagi saya buku ini kurang mengesankan dan tragedinya terlalu memprihatinkan. Sebab The Vegetarian berbicara tentang luka yang tak disembuhkan, dibiarkan tersembunyi, tertumpuk dan menganga secara tiba-tiba. Ada perasaan semacam marah karena dalam hidup yang berharga ini seseorang menyianyiakan dirinya sendiri akibat persoalan jiwa yang tak terselesaikan. Dari balik rasionalitas, saya selalu percaya bahwa setiap orang pernah dan mempunyai luka dan terhadapnya selalu ada pilihan untuk sembuh ataupun berdamai untuk melangkah bersamanya. Untuk itulah bagi saya, sosok In Hye justru menjadi heroine dalam The Vegetarian ini mengalahkan tokoh utamanya. Sebab walaupun tersesat, In Hye tak mau menyerah pada dirinya sendiri dan melanjutkan hidup yang penuh anugrah bersama anaknya.

Lalu lama-lama pepatah yang mengatakan bahwa dibalik tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat nampak kurang relevan lagi kini. Dari jiwa yang kuatlah terpancar kesehatan tubuh dan semangat hidup yang tinggi.

Dan ya satu lagi, apa yang ditorehkan di masa kecil, apapun itu, melekat kuat ke dalam tulang dan menjadikan siapakah seseorang di masa depannya.

Iklan
0

Istirahatlah Kata-Kata (Solo, Solitude)

Pertama kali mendengar bahwa sosok Wiji Thukul akan difilmkan tahun lalu, saya telah bertekat untuk menontonnya, bersama dengan orang yang tepat. Terlepas dari pengetahuan saya tentang sosok Wiji Thukul itu sendiri. Saya selayaknya generasi milenial yang tumbuh tanpa benar-benar tahu apa itu reformasi, demokrasi dan tokoh-tokoh di baliknya, termasuk Wiji Thukul. Kecuali mereka yang pernah menjadi aktivis kiri dan banyak mendatangi forum-forum diskusi, nama Wiji Thukul barangkali begitu asing sebagai salah satu sosok yang pernah menentang rezim. Saya termasuk diantaranya, sampai dengan sajak-sajak dalam Nyanyian Akar Rumput dikutip oleh banyak orang yang tulisannya saya baca dan entah karena apa, kata dalam sajak-sajak puisi WIji Thukul seperti bergaung di dalam hati saya.

Wiji Thukul, banyak orang yang mengenalnya sebagai seorang sastrawan. Dulu, saya mengira,ia adalah aktivis buruh. Namun hidupnya sesungguhnya sangat bersinggungan dengan politik perlawanan dan juga seni. Bersama Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang didirikan oleh sekumpulan aktivis perlawanan, ia pernah menjadi bagian penentang rezim orde baru yang membuatnya masuk ke dalam daftar orang yang diburu. Selain itu, Wiji Thukul juga sangat aktif dalam teater dan musik yang menjadi dunianya semenjak muda dan berkali-kali melakukan aksi dengan para petani.

Wiji Thukul, lahir dari sebuah keluarga sederhana, ayahnya seorang tukang becak dan ibunya menjual ayam bumbu. Ia memutuskan berhenti sekolah di sekolah menengah atas karena kesulitan keuangan yang dihadapi. Kemudian memutuskan bekerja untuk menyambung hidup dengan berjualan koran, tukang pelitur di perusahaan mebel dan calo karcis bioskop (wikipedia). Kendati demikian, di rumahnya ditemukan ratusan buku-buku dan manuskrip atas puisi-puisinya yang menjadi ketertarikannya sejak ia berada di bangku SD. Wiji Thukul, telah menunjukkan pada kita, betapapun berat kehidupan diri sendiri yang dijalani, tak membuatnya berhenti untuk berjuang mengikuti kata hati. Hidupnya sederhana, tapi bermakna bagi banyak orang.

Film Istirahatlah Kata-Kata, menjadi pembuka tahun 2017 ini dengan amat mengesankan. Pertama, sebelum akhirnya ditayangkan di bioskop komersial dalam negeri, film ini telah terlebih dulu ditayangkan di beberapa festival film internasional seperti Locarno (Swiss), Vladivostok (Rusia), Rotterdam (Belanda) dan lain-lain. Dan sebagaimana film festival pada umumnya, saya percaya selalu ada yang berbeda dan bernilai dari sebuah film yang telah diakui oleh masyarakat film internasional dari film komersil lainnya. Ini terjawab oleh sosok-sosok yang di balik pembuatan Istirahatlah Kata-Kata.

Yosep Anggi Noen, Okky Mandasari, Marissa Anita dan Gunawan Maryanto, misalnya, adalah nama-nama yang secara umum barangkali belum banyak dikenal dalam dunia film nasional, namun karya-karyanya selalu tidak main-main. Pemain utama yang berlatar belakang teater menambah keyakinan saya bahwa film ini akan terasa sangat luar biasa. Maka saya merelakan diri jauh-jauh ke Bandung untuk melihat bersama seorang sahabat saya, Elin yang sama seperti saya, dulunya pernah bergabung dalam sebuah kelompok teater semasa SMA, hanya untuk supaya saya dapat berdiskusi dengannya tentang film ini.

Yosep Anggi Noen, punya pilihan yang tepat untuk lebih mengeksplorasi kehidupan Wiji Thukul sebagai manusia biasa daripada menceritakan mengenai kronologis peristiwa yang dialaminya dengan mengambil masa pelarian di Pontianak selama delapan bulan. Menurut hasil risetnya, itu adalah periode paling krusial dalam hidupnya, ketika untuk pertama kalinya Wiji Thukul ditetapkan sebagai tersangka. Dan film ini menggambarkan dengan sangat apik apa yang diungkapkan Wiji Thukul “ternyata, jadi buron itu jauh lebih menakutkan daripada menghadapi sekompi kacang ijo bersenapan lengkap yang membubarkan demonstrasi.” Saya dan Elin, beberapa kali merasakan gaung ketakutan ketika Wiji Thukul diceritakan harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tidak tidur dan bertemu tentara tanpa diduga.

Simbolisasi yang disajikan dalam film ini menjadikannya terasa sunyi sekaligus dalam. Penonton diberi kesempatan untuk terpaku dan merasakan, ketika melihat Wiji Thukul tidak tidur dan tak melakukan apa-apa selain diam,ketika Sipon melihat di kejauhan, ketika Wiji Thukul mengayuh sepeda lalu diam dan mendengarkan narasi puisi dan musik sebagai latar suaranya. Pada adegan-adegan seperti itu, kami terdiam dan tanpa sadar menitikkan air mata. Ini pertama kalinya, saya menonton film tanpa banyak bercakap dengan teman saya.

Beberapa blocking juga terasa unik. Misalnya ketika Wiji Thukul, Thomas dan Martin minum teh di pinggiran Kapuas dishoot secara jarak jauh. Terdapat adegan-adegan pendukung diantaranya seperti motor lewat dan pemain gitar di dekatnya. Adegan ini mengingatkan saya beberapa teknik panggung teater yang dulu pernah diajarkan oleh pelatih saya saat di teater. Saya tidak begitu tahu apa namanya, namun penggambaran seperti ini di film terasa tidak biasa.

Last but not least, Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul dan Marissa Anita sebagai Sipon menjadi dua sosok yang hingga hari ini membuat saya belum bisa move on dari film Istirahatlah Kata-Kata. Diamnya ekspresi Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul telah menggambarkan banyak hal, kebingungan, ketakutan sekaligus keberanian. Saya bahkan merasakan kesedihan hanya dengan melihat Wiji Thukul mengayuh sepeda dari belakang dan mendengarnya bicara yang sedikit pelo. Benar-benar kelas seorang sutradara teater. Marissa Anita, telah menjadi favorit saya sejak dulu pertama kali melihatnya sebagai anchorwoman. Saya tahu bahwa ia tergabung dalam sebuah kelompok teater, namun saya tak menyangka bahwa permainannya bisa semengesankan ini. Sebagai Sipon, ia menggunakan bahasa Jawa logat Solo hampir sempurna. Pengucapannya tidak medok berlebihan atau dibuat-buat. Istirahatlah Kata-Kata, ditutup dengan adegan pamungkas saat Sipon menangis mengeluarkan segala kebingungannya, tentang suaminya, yang baginya antara ada dan tiada. Diantara segala duka dan bahaya yang dialaminya, tangisnya keluar justru karena suaminya ada di sisinya.

Dari jauh saya berharap, film-film simbolis seperti ini akan lebih banyak dibuat.

cr pic. rollingstone.id

cr pic. rollingstone.id

kuterima kabar dari kampung

rumahku kalian geledah

buku-bukuku kalian jarah

tapi aku ucapkan banyak terima kasih
karena kalian telah memperkenalkan sendiri
pada anak-anakku
kalian telah mengajari anak-anakku
membentuk makna kata penindasan
sejak dini

0

Selamat Tinggal Banda Neira

Beberapa orang belajar dari orang lain, beberapa orang belajar dari buku, beberapa orang belajar dari musik dan beberapa diantaranya belajar dari kesemuanya. Saya, salah satu diantaranya. Sekitar tiga-empat tahun yang lalu, bersama sahabat setengah kembaran saya yang seorang musisi otodidak, saya mulai menggemari kelompok-kelompok musik indie. Itu tepatnya ketika youtube dan streaming internet mulai menjamur di kalangan anak muda. Payung Teduh, Efek Rumah Kaca, Angsa dan Serigala dan Float, mereka awalnya. Kemudian Banda Neira, White Shoes and Couples Company sampai Silampukau, Barasuara dan masih banyak lagi. Mereka itu, apa ya, seperti ke-kerenan dalam bentuk maksimal. Musik iya, sastra iya, kritik sosial juga iya. One package lah.

Maka, ketika tadi pagi, melalui akun fanpagenya, Banda Neira mengumumkan akhir perjalanan karyanya, saya seperti dilanda perasaan semacam sedih, patah hati dan “yahhh,,,kok bubar sih.” Entahlah, mungkin ada pengaruhnya dari banyaknya kabar kurang menyenangkan yang saya terima akhir-akhir ini. Tapi terlepas dari itu, beberapa nada dan lirik yang dibawakan oleh suara syahdunya Mbak Rara Sekar dan Mas Ananda Badudu ini pernah membantu batin saya melewati episode-episode yang tidak mudah di awal perjalanan.

Sampai sekarang lagu Di Atas Kapal Kertas selalu mengingatkan saya pada Raisa, gadis kecil dengan Pervasive Development Disorder Not Otherwise Specified (PDD NOS) bagian dari gangguan autistik yang pernah mengaduk-ngaduk perasaan saya antara kasihan, marah, sedih dan nelangsa. Dulu, karena keterbatasan pengetahuan yang saya miliki, sering sekali saya bersikap tak adil pada Raisa. Lagu ini secara sederhana menceritakan seorang anak yang bersembunyi di balik tirai, ingin keluar namun tidak bisa karena di luar sedang hujan. Tiba-tiba segala ke’baper’an yang melanda saya sewaktu Raisa tidak mau mendengar saya, sewaktu Raisa tidak mengalami banyak kemajuan, seperti terjawab. Bukan Raisa yang salah, saya yang kurang mengerti. Anak-anak dengan spektrum autistik seperti manusia yang terperangkap dan mencari jalan untuk keluar. Saya tersadar, bahwa terlepas dari segala ekpetasi saya padanya, tugas saya hanyalah membantu Raisa membangun kapal kertas agar ia bisa keluar melewati tirai di hari yang hujan, sedangkan yang bisa melewatinya, hanyalah Raisa sendiri.

Lagu Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti ini ultimate banget menurut saya, penutup yang paripurna di akhir masa karya. Lirik lagu ini seperti mengingatkan kita, bahwa suatu saat, yang patah akan tumbuh kembali, yang telah hilang bisa saja berganti, yang pernah jatuh akan bangkit lagi dan yang sia-sia tetap saja bermakna. Selanjutnya, adalah pengulangannya. Patah-tumbuh, hilang-ada, jatuh-bangkit, sia-sia -bermakna. Ini semacam pengingat bahwa, segala kekecewaan, kehilangan dan perasaan jatuh dan terbuang, tidak akan selamanya bersemayam. Sederhananya, adalah masa yang tetap harus dilalui, seberat apapun. Dan hidup, harus tetap berjalan dan baik-baik saja bukan? What’s done is done, what’s gone is gone, one of life’s lessons is always moving on.

Cyclamen

Cyclamen

Jadi, apakah postingan ini semacam curhat tipis-tipis?
Bukan. Bukan begitu maksudnya :D. Saya merasa saya perlu menjadi lebih santai sejak dalam pikiran, kalau perilaku sih sudah dari dulu. Intinya, saya sedang merasa perlu bermelankolia denga rasa sedih. Sedih karena Banda Neira berhenti, dan rasa sedih lain yang datang di hari-hari ini.

Selamat tinggal Banda Neira
Yang sekarang patah, akan ada masanya akan tumbuh lagi

0

When Breath Becomes Air

Seorang filusuf Yunani pernah berkata, nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua. (Catatan Seorang Demonstran- Sok Hok Gie)

Filusuf Yunani yang disebutkan Gie tersebut mungkin ada benarnya. Tanpa membuat urutan semacam itu, dilahirkan tapi mati muda, bukanlah apa yang disebut dengan kesialan. Tentu tak layak menyebut kehidupan dengan kata kesialan, namun pilu duka karena nasib membawa seseorang pada kematian di masa mudanya bukanlah sesuatu yang layak untuk lama-lama diratapi. Sebab seperti yang dikatakan Gie, mati muda barangkali adalah nasib terbaik. Gie pun menjemput ujung akhirnya ketika usianya juga masih muda.

When Breath Becomes Air adalah kisah tentang hidup yang dijalani dengan bayang-bayang kematian di saat segala mimpi tentang kehidupan dan masa depan berada di depan mata. Paul Kalanithi adalah seorang dokter bedah syaraf yang telah menjalani pelatihan panjang menjadi ahli bedah syaraf dari sebuah universitas ternama. Kurang dari satu setengah tahun, pelatihannya akan berakhir dan ia akan menjadi seorang ahli sekaligus ilmuawan bedah syaraf. Masa depan tampak begitu menjanjikan, sampai dengan kanker datang mengubah segala rencana hidunya. Memoar ini ditulis pada hari-hari Kalanithi berjuang melawan kankernya. Perubahan dari seorang dokter yang membantu pasien menjadi pasien itu sendiri, memberikan sebuah kontemplasi mendalam baginya tentang makna kehidupan. Jika sudah begini, apa sesungguhnya yang membuat hidup layak untuk dijalani?

1163565_f3df296e-1a15-4681-b2df-8542b98b04f9
Pada awal kisahnya, Kalanithi banyak bercerita tentang bagaimana kehidupan masa kecilnya di Kingsman, sebuah kota yang berhadapan dengan gurun di Arizona telah membentuk dirinya. Tinggal dikelilingi bentangan gurun dan binatang yang menghuninya tidak membuat Kalanithi menjadi anak yang miskin pemikiran. Sastra telah membentuk pemikirannya, dan terlebih dari itu, ibunyalah yang menjadikannya seperti itu.

Seperti saat usia sepuluh tahun, ibunya telah menyuruhnya membaca 1984, menyediakan buku-buku milik sastrawan dunia seperti Gogol,Dickens,Twain atau Austeen dan mengantarnya berkendara berkilo-kilometer jauhnya untuk mengikuti ujian SAT. Pada satu bagian, Kalanithi menceritakan bagaimana ibunya menjadi fenomena karena berhasil mengubah sistem pendidikan di Kingsman yang kemudian memunculkan sebuah perasaan bahwa yang menjadi definisi cakrawala bukan lagi rangkaian pegunungan yang membatasi kota, melainkan apa yang membentang di baliknya. Paul Kalanithi, tumbuh menjadi seorang laki-laki pemikir hingga akhirnya ia diterima di Stanford.

Di Stanford, Paul Kalanithi mengambil jurusan Sastra Inggris dan Biologi Manusia. Kedua bidang tersebutlah yang berperan besar dalam proses pencariannya tentang makna hidup, ketersambungan antara biologi, moralitas dan filosofi sekaligus rasa penasaranya terhadap mortalitas. Ia mempelajari sastra dan organ manusia secara bersamaan. Yang kemudian memunculkan sebuah kesimpulan sederhana, kesusastraan memberikan berbagai penuturan mengenai makna menjadi manusia, maka otak adalah mesin yang entah bagaimana memungkinkan hal itu. Kegelisahan-kegelisahan itu, membawanya mendalami ilmu bedah syaraf.

Di bagian perjalannya mempelajari ilmu dan menjadi dokter, Kalanithi banyak memberikan cerita dan narasi-narasi mendalam tentang bagaimana menjadi dokter itu sendiri. Terlalu banyak mengahadapi darah, kegagalan dan kelelahan beban kerja, secara perlahan dapat menyebabkan memudarnya kesakralan menyentuh organ manusia dan pentingnya hubungan antar-manusia, dalam hal ini adalah dokter dan pasien. Pasien, apalagi yang telah menjalani bedah syaraf, akan menjalani hari yang tidak sama seperti sebelumnya. Mereka dihadapkan pada sebuah identitas baru yang barangkali jauh berbeda dari yang sebelumnya. Kelumpuhan setelah dulunya adalah seorang olahragawan, kecacatan bahasa setelah dulunya adalah pengajar, dan lain sebagainya. Di persimpangan-persimpangan kritis di antaranya, pertanyannya bukan hanya apakah pasien hidup atau mati, melainkan jenis kehidupan seperti apakah yang patut dijalani setelahnya.

Melalui kedalaman penuturannya mengenai dunia profesi yang dijalaninya setidaknya Kalanithi mengajak kita untuk berpikir, bahwa apa yang disebut panggilan hati memungkinkan seseroang melihat ruang-ruang tersembunyi dalam hubungan antar manusia yang tak hanya sekedar memberi dan menerima. Lebih dari itu adalah, memberi arti pada kehidupan orang lain. Ini disampaikannya tentang cita-cita tertingginya dalam menjadi seorang dookter. Keunggulan teknik tidaklah cukup. Sebagai dokter residen, cita-cita tertinggiku bukanlah menyelamatkan nyawa orang-orang -toh semua pada akhrinya akan meninggal- melainkan membimbing pasien dan keluarganya agar bisa memahami kematian atau penyakit yang diderita.

Bagian terakhir ketika Kalanithi menceritakan perubahan statusnya dari dokter menjadi seorang pasien kanker seperti menunjukkan betapa semakin melemahnya kondisi fisiknya. Tulisannya kadang meloncat-loncat, tanda bahwa ia amat bekerja keras untuk menyelesaikannya. Yang menarik bukan hanya penderitaan yang dialaminya melainkan perasaan-perasaannya dalam menerima hadirnya penyakit dan bayang-bayang kematian di depan mata. Ia mengalami krisis identitas, penyangkalan, depresi hingga kembali pada kehidupan relijius yang telah sekian lama ia tinggalkan. Hingga kemudian memutuskan menjalani kehidupannya di sisa waktu dengan penuh arti, sebab walaupun sekarat, ia masih hidup sampai benar-benar mati. Apa yang dulu banyak dirasakan oleh para pasiennya.

Epilog

Bagi saya, buku ini banyak memberikan jalan perenungan pada hari-hari dimana saya dilanda duka yang mendalam atas kepergian sahabat-sahabat saya. Kami yang masih sama-sama muda, sama-sama berjuang, namun segala akhir berbeda waktunya. Kematian adalah sebuah kepastian. Dan sebelum ia benar-benar datang, kita selalu punya kesempatan untuk mencari kehidupan macam apakah yang seharusnya kita jalani.

Bagian terakhir dan epilog dari Lucy Kalanithi membuat rasa sesak dalam dada saya pada akhirnya tertumpahkan dalam sedu sedan air mata. Itu adalah ketika Paul membersamai putrinya Cady di hari-hari terakhirnya. Cady yang saat Paul meninggal berusia delapan bulan. Kalimat yang paling mengharukan adalah bagaimana Paul yang fisiknya melemah membersamai Lucy saat melahirkan, sebab dimasa yang akan datang akan ada begitu banyak ketidakhadirannya dalam hidup Lucy dan putrinya.

Paul, Lucy & Cady Kalanithi

Paul, Lucy & Cady Kalanithi


Saya membayangkan Cady menjadi besar tanpa menyimpan memori sedikitpun tentang ayahnya. Membayangkannya menyanyikan Dance With My Father di depan potret ayahnya tanpa pernah mengingat ia pernah bercengkrama bersama ayahnya. Inilah momen yang membawa saya pada sebuah refleksi sederhana, apa jadinya saya jika tanpa Bapak, dan juga Ibu.

Lucy banyak bercerita bagaimana sesungguhnya keluarga dari pasien pun seringkali sama berjuangnya, sama menyangkalnya dan sama bingungnya dengan pasien itu sendiri. Terutama adalah bagi pasangan pasien. Namun kejujuran pasien dalam menghadapi penyakitnya, terkadang mengalihbentukkan segala keputusasaan menjadi cinta dan kehangatan diantara keluarganya. Hal yang menjadikan mortalitas sebagai sesuatu yang lebih mudah dipahami.

Paul Kalanithi wafat pada 2015 ketika usianya tiga puluh enam tahun. Setelah seumur hidupnya belajar mengungkap misteri dibalik kematian. Meninggalkan istri, bayi putrinya dan keluarga yang amat mencitainya.

Ketika nafas menjadi udara, dan jiwa terangkat dari persemayamannya, yang tersisa hanyalah kenangan dalam pusara keabadian

0

The Last Princess, Deok Hye of Korea

Lee Deok Hye adalah putri terakhir dalam sejarah kerajaan Korea. Ia dikenal dengan sebutan Deok Hye Ongju dan bukan Deok Hye Gongju sebab merupakan keturunan Raja yang lahir dari selirnya sedangkan Gongju (tuan puteri) diberikan hanya kepada anak raja dari permaisuri. Lahir di tahun 1912 dimana Korea berada dalam kekuasaan pendudukan Jepang membuat nasib Deok Hye Ongju berada pada transisi kedua zaman, berakhirnya masa kekaisaran Daehanjeguk dan dimulainya modernitas yang ditandai dengan imperialisme bangsa-bangsa berkuasa.

Ia lahir ketika usia raja menginjak enam puluh tahun, dan menjadi putri kerajaan yang mendapat limpahan kasih sayang. Sebagai keturunan dari seorang selir, Deok Hye sebelumnya tidak masuk dalam silsilah resmi keluarga kerajaan dan keberadaanya dianggap seperti tak ada. Namun atas desakan ayahnya, pemerintah pendudukan Jepang kemudian memasukkannya dalam keluarga resmi kerajaan Korea.

Saat kecil, Deok Hye hendak dijodohkan dengan keluarga bangsawan, Kim Jang Han untuk melindungi sang putri dari bahaya, namun gagal karena intervensi dari pemerintah imperialis Jepang. Ayahnya meninggal oleh sebab yang tak diketahui di tahun 1919 dan beberapa tahun setelahnya Deok Hye dibawa secara paksa untuk pergi ke Jepang dengan alasan melanjutkan pendidikan. Disitulah berbagai tekanan mulai ia hadapi sebagai seorang putri yang dikenal diam, lemah dan tertutup. Ia menderita penyakit mental hingga kepulangannya ke Korea pada tahun 1962, tiga puluh tujuh tahun semenjak pertama kali ia meninggalkannya. Terlepas dari usia dan penyakit mental yang dihadapinnya, Deok Hye Ongju secara akurat dapat mengingat berbagai aturan di istana.

Sebagai film biografi, film ini digarap dan dimainkan dengan sangat baik dan sangat “Asia” oleh nama-nama yang tak asing lagi di Korea sana. Tokoh Deok Hye Ongju diperankan oleh Son Ye Jin dengan sangat apik. Bagi saya, yang sudah sejak lama melihat film-film Son Ye Jin, karakter Deok Hye yang ia mainkan ini adalah yang terbaik karena benar-benar dapat menggambarkan bagaiamana sosok tersebut menjalani hari-harinya sehingga layak dijadikan cerita. Son Ye Jin mampu memberi gambaran betapa tertekannya hidup yang sejak awal ditentukan oleh bangsa lain, kesendiriannya terpisah dari ibunya, kerinduannya akan tanah air dan ketidaksanggupan menjalani kenyataan yang membuatnya menderita penyakit mental.

Jika berbicara tentang produk hiburan Korea, tentu saja tidak akan terlepas dari melodrama dan kisah cinta. Begitu juga dengan film ini. Tokoh Kim Jang Han dihadirkan sebagai sosok lelaki pelindung putri yang sampai akhirnya mampu membuat pemerintah pasca kemerdekaan menerima kembalinya keluarga kerjaan termasuk Deok Hye Ongju. Kim Jang Han dalam kenyataanya sendiri tidak banyak deketahui kisahnya.

The Last Princess

Dalam sejarah, selalu ada nama-nama yang terlupakan di masa depan. Deok Hye Ongju adalah salah satunya. Film ini pun dibuat salah satunya untuk mengingatkan publik Korea pada sosok putri terakhir yang oleh berbagai hal dalam hidupnya memang tak sungguh-sungguh dapat diingat. Seorang putri,raja ataupun ratu, adalah sebuah dongeng yang bayangan tentang kepahlawanan, keberanian dan sumbangsih yang besar selalu ada di dalamnya. Tentu saja, dalam kenyataan tak sepenuhnya seperti itu. Deok Hye Ongju adalah putri yang tak memberikan sumbangsih apa-apa, terlupakan dan gagal membangkitkan harapan bangsanya. Namun terlepas dari itu, ia adalah orang yang juga menjalani hari-hari berat seumur hidupnya. Pergi dalam tekanan di usia muda, diliputi ketidakbahagiaan dan kelemahan jauh dari tanah leluhurnya dan kembali pada dua puluh tahun terakhir masa hidupnya. Sebenarnya, di luar segala harapan tentang kemanusiaan, manusia memanglah berjuang untuk dirinya sendiri.

Seperti yang dikatakan Grace Kelly,aktris sekaligus Putri Kerajaan Monaco, the idea of my life as a fairy tale is itself a fairytale.

0

Titik Nol

Sudah sepekan ini saya banyak terbaring di tempat tidur karena terserang flu,batuk, masuk angin dan serangkaian penyakit yang umum datang pada musim yang basah. Tahun ini, entah kenapa hujan turun sepanjang tahun termasuk di bulan-bulan matahari seharusnya bersinar dengan teriknya. Tidak ada musim panas yang benar-benar panas tahun ini. Hujan dan angin menyelingi,hingga menuju musim penghujan lagi. Hujan adalah berkah tentu, tapi rupanya juga tantangan bagi tubuh-tubuh yang mulai terasa rapuh. Maka selama sepekan ini, aktivitas saya hanya berkisar diantara rutinitas bekerja, makan dan baca buku. Semua dilakukan kalau tidak diatas tempat tidur atau di meja. Tidak ada perlintasan ide, pemaknaan akan sesuatu bahkan tugas akhir observasi pun tidak semangat saya kerjakan (dan malah menulis blog 🙂 )

Namun anehnya walaupun tidak ada ide atau tidak mengerjakan apa-apa, pikiran saya tidak benar-benar hampa. Justru dari ranjang tempat tidur selama beberapa hari inilah, saya merasa sedang mengelilingi wilayah Asia Tengah dan merasakan ketakjuban-ketakjuban yang muncul diantaranya. Adalah Titik Nol, karya Agustinus Wibowo, sebuah buku yang tergolong “tidak baru-baru amat” yang tidak sengaja saya ambil karena saya sedang dilanda jenuh dengan fiksi. Semacam butuh angin kesegaran, ini adalah buku perjalanan pertama yang saya baca di tahun ini. Dan rupanya Titik Nol tidak hanya memberikan kesegaran, lebih dari itu, adalah tentang sesuatu yang juga harus dipikirkan.

titik-nol

Selama ini, saya menghindari buku-buku bertema travel writing oleh karena beberapa hal. Pertama, kebanyakan buku travelling hanya bercerita tentang fisik suatu tempat, gambar dan fakta-fakta di dalamnya. Gaya bercerita semacam itu, pada akhirnya hanya akan membuat saya berpikir, “ah enak ya kalau aku juga kesana, nanti jadi tahu”. That’s all. Tidak ada kelanjutan “kenapa kalau sudah tahu”. Kedua, buku-buku travelling berisi tentang do’s and dont’s, apa-apa yang sebaiknya kita lakukan dan hindari saat bepergian. Yang kedua ini adalah jenis buku yang paling saya hindari. Memang penting dan infromatif, namun bagi saya setiap orang berhak melakukan sesuatu dengan caranya sendiri, kecuali jika memang sangat buta terhadap sesuatu itu. Hal yang sama diungkapkan Lam Li, backpacker wanita senior Agustinus dalam buku ini, “bacalah buku yang membuatmu berpikir.” And this book did the same for me.

Titik Nol, adalah cara bertutur yang benar-benar baru dalam travel writing di negeri ini, kata Qaris Tajudin. Tidak hanya soal bertutur, Titik Nol bagi saya juga menyuguhkan cerita tentang destinasi baru (yang barangkali di kalangan backpacker, traveller sebenarnya biasa) yang selama ini dianggap tidak memliki daya tarik apapun namun ternyata mengandung unsur eksotisme yang tinggi. Tibet, Nepal, India, Kashmir, Pakistan, Afghanistan adalah negeri-negeri dimana gambaran yang muncul saat disebut namanya adalah konflik, perang dan kemelut yang berkepanjangan. Siapakah turis dari sesama negara dunia ketiga yang rela menghabiskan uang dan waktunya berlama-lama disana? Berjalan-jalan, berpetualang, jika itu adalah ke luar negeri bukankah lebih baik dilakukan di Eropa, Australia atau setidaknya Amerika yang menyuguhkan kenyamanan dan kemajuan sebuah peradaban? Tapi Agsutinus Wibowo, menempuh jalan ektrim seorang backpacker sejati untuk menunjukkan pada dunia cahaya kehidupan macam apa yang menyinari orang-orang di daerah tak terjamah.

Tibet, yang saya tahu selain merupakan atap dunia, jalan masuk menuju Himalaya, adalah juga tempat asal Dalai Lama. Secara pribadi saya menyukai ajaran-ajaran Buddha dan penggemar Dalai Lama XIV, Tenzin Gyatso sebagai pemimpin spiritual umat Buddha. Di Tibetlah, kesejatian umat Buddha terhadap ajarannya bisa terlihat. Sejak “pembebasan” dan revolusi kebudayaan yang dilakukan oleh Tiongkok, Dalai Lama menyikngkir ke Dharmasala, Tibet dalam kuasa pembaharuan. Maka tak heran ketika Agustinus sampai di Lhasa -ibukota Tibet sekaligus kota suci- setelah perjalanan panjangnya dari Beijing dan Xinjiang yang tidak nyaman, terkaget-kaget melihat modernitas di jantung Lhasa. Yang menarik dari Tibet ternyata justru saat Agustinus berkejaran dengan petugas keamanan, dialog-dialog politik pro dan kontra revolusi dan kisah perjalanan yang panjang, kotor dan tidak nyaman dalam kereta. Mengalahkan cerita tentang spiritualitas peziarah Gunung Khailash dan misteri Shangri La.

Cr pic. agustinuswibowo.com

Cr pic. agustinuswibowo.com

Sejak kecil, saya menyukai pelajaran tentang negara-negara lebih dari pelajaran apapun di sekolah. Ketika pertama kali mendengar kata Nepal waktu SD, gambaran yang ada di pikiran saya adalah, India, hitam, kumuh dan terbelakang. Dan setelah membaca penuturan Agustinus di buku ini, gambaran saya saat kecil itu ternyata tak jauh-jauh dari aslinya. Orang biasa seperti saya tentu tak mau pergi ke tempat yang kumuh, tidak nyaman dan di sisi lain membentangkan sebuah ironi paling menyayat hati tentang modernitas dan kemiskinan jika hanya untuk sekedar jalan-jalan. Di India pun juga begitu. Katanya, backpacker sekuat apapun pasti akan terserang diare saat berada di India. Tapi perjalanan bukan hanya tentang fisik suatu tempat. Sebab justru dari temmpat-tempat tak nyaman itulah manusia-manusia paling bahagia, manusia-manusia yang tersenyum dan menari ternyata banyak ditemui. Kebahagiaan kadang sungguh tak mahal.

Cr pic. agustinuswibowo.com

Cr pic. agustinuswibowo.com

Tentang Kashmir, Pakistan dan Afghanistan, negeri-negeri muslim ini memberikan sebuah gambaran nyata tentang bagaimana tamu begitu dimuliakan, seperti yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Tak peduli apakah itu sedang berduka, tertimpa bencana, berbahagia, kedatangan tamu adalah suatu berkah. Lebih baik tidak makan daripada tamu kelaparan. Adakah sesunggunya yang lebih indah daripada manusia yang memuliakan manusia lainnya?

Di beberapa bab dalam buku ini, setelah melalui berbagai peristiwa maha berat, Agustinus secara jujur mengungkapkan segala kegalauannya akan mimpi-mimpi. Haruskah perjalanan terhenti sampai disini? Haruskah pulang saja ke rumah? Dan untuk apa semua perjalanan ini? adalah beragam pertanyaan manusiawi dalam setiap perjalanan menempuh apapun. Penuturan seperti itu, terasa sangat jujur.

Pada akhirnya, Titik Nol brhasil mengungkapkan sebuah kesimpulan paradoks paling tinggi dalam cerita sebuah perjalanan. Bahwa sejauh apapun ia melangkah menyusuri dunia, nyatanya makna hidup paling mendalam justru ia temukan dalam sujud di samping ranjang ibunya yang tak pernah kemana-mana. Titik nol, tempat memulai sekaligus tempat kembali. Barangkali seperti itulah kita berjalan menyusuri mentari, dimulai dengan sujud di pagi hari, ditutup dalam sujud di malam hari. Hingga kita sadar, sejauh apapun kita berjalan, nyatanya kesejatian ditemukan di atas sajadah, dalam sujud di malam yang panjang.

Lam Li berkata dalam pengantarnya untuk buku ini, nilai perjalanan tidak terletak pada jarak yang ditempuh seseorang, bukan tentang seberapa jauhnya perjalanan, tapi lebih tentang seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan. Senada dengan itu, seorang sahabat saya yang saat ini sedang ditempa kerasnya kehidupan di Australia mengatakan keinginannya untuk mengelilingi Indonesia setelah pulang nanti. Katanya, setelah berada di luar negeri, ia menyadari betapa ia tak memahami negaranya sendiri. Tanah air tempat ia dilahirkan. Mungkin memang begitu paradoks bekerja. Menjauh adalah mendekat yang tertunda.

Travelling, bepergian atau apapun itu, saya selalu menyukainya. Menyimpannya sebagai bagian dari mimpi yang perlu diwujudkan. Mengunjungi tempat baru terasa menyenangkan, namun terlebih dari itu, makna bisa kita temukan saat bertemu dengan manusia.

Jadi pertanyaannya, akan kemanakah kamu atau bersama siapakah kamu Dinar?

0

In The Footsteps of Prophet : Lessons from the Life of Muhammad by Tariq Ramadan

Ada ribuan buku yang telah ditulis tentang sosok Nabi Besar Muhammad saw di dunia ini. Entah itu berupa kitab, biografi ataupun telaah kritis yang ditulis baik oleh penulis muslim ataupun bukan muslim. Kita mengenal banyak sirah nabawiyah yang ditulis oleh berbagai ulama klasik seperti Ibnu Hisyam atau ulama di masa sekarang seperti DR.Said Ramadhan Al Buthi, kita membaca banyak biografi yang ditulis oleh akademisi muslim seperti Fethulah Gullen dan kita juga mengetahui ada banyak yang mengagumi Nabi walau bukan pengikutnya, seperti Washington Irving dalam Life of Mahommet-nya. Setiap buku tentang Muhammad, pada dasarnya menceritakan hal yang sama, kronologis yang sama, kisah yang sama, namun setiap membacanya, selalu ada kebijaksaan, wawasan dan inspirasi baru tercipta.

Saya sendiri rupanya belum pernah benar-benar menuntaskan membaca satu buku tentang kehidupan Nabi Muhammad kecuali memang itu berbentuk novel, yang tentu saja tidak menceritakan keseluruhan fakta sejarah yang ada. Maka pada Ramadhan ke 1437 ini, ketika ada sebuah gagasan mengenai Ramadhan adalah bulan literasi, saya merasa saya harus menuntaskan membaca keseluruhan cerita hidup Nabi Muhammad saw yang selama ini saya terima secara sepotong-sepotong dari beberapa buku dan majelis ilmu. Sejak pertama kali melihat ada buku ini, saya secara langsung membelinya. In The Footsteps of Prophet : Lessons from the Life of Muhammad,yang oleh penerbit Serambi diterjemahkan dengan judul Biografi Intelektual-Spiritual Muhammad, Pelajaran Hidup dari Perjalanan Hidup Rasulullah adalah buku yang membuat saya begitu ingin membacanya karena sosok pengarangnya, Tariq Ramadan.

22595657_a2e62531-768c-4a66-9913-e648acab6d59

Tariq Ramadan, adalah seorang intelektual muslim yang namanya mendunia karena gagasan-gagasannya tentang Islam dan perdamaian menawarkan konsepsi baru dalam toleransi di dunia barat. Ia tumbuh dalam keluarga yang menjalankan praktek keislaman secara ketat ketika ayahnya, yang merupakan anak dari pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin Hasan Al Banna, harus menjalani pengasingan karena tekanan rezim pemerintah negaranya. Majalah TIME pernah memasukkannya ke dalam salah satu inovator dunia di bidang spiritualitas karena pandangan-pandangannya tentang posisi umat Islam di dunia dapat diterima secara luas oleh baik kalangan muslim atau non muslim. Ceramah-ceramahnya lebih banyak mengajak untuk memikirkan kembali, merenungi dan menemukan sendiri daripada hanya sekedar memberi tahu.

Setidaknya, isi buku ini telah tercermin dari ucapan terimakasih penulis yang belum apa-apa sudah mampu membuat saya meneteskan air mata. Tariq Ramadan mengatakan, bahwa buku ini baginya adalah sebuah inisiasi, perjalananya sendiri, pengemembaraannya menembus ruang dan waktu, untuk menemukan dirinya sendiri. Dalam keheningan ketika membacanya, saya merasa dibawa ke alam kontemplasi. Tentang bahasa yang menggugah, menawarkan kelembutan, di sisi lain penuh ketajaman dan kecerdasan analisis, Tariq Ramadan memberikan itu semua. Maka pada berlembar-lembar halaman berikutnya, saya memilih membersamainya dalam kesendirian, untuk membuka perjalanan saya sendiri terhadap kehidupan nabi, untuk membiarkan air mata saya tertumpah merasakan beratnya kehidupan nabi . Dan barangkali pada Ramadhan saya yang kedua tujuh inilah, saya berjalan mencari diri saya sendiri.

Tentang Bagaimana Nabi Terdidik

Kehidupan Muhammad merupakan kisah hidup yang berat bahkan semenjak lahirnya. Beliau yatim sejak dalam rahim ibundanya, yang kemudian disusul dengan kematian orang-orang dekatnya ketika ia masih kecil. Pada empat tahun pertama kehidupannya, ia disusui dan diasuh oleh Halimah dan tinggal bersama Bani Sa’d, Suku Badui d padang pasir Arab.

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai sorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberi petunjuk. Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Oleh karena itu, janganlah kamu berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim. Dan janganlah kamu menghardik orang yang meminta-minta. Dan terhadap nikmat dari Tuhanmu hendaknya engkau menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). (QS 93:6-11)

Berdasarkan penjelasan Al Qur’an tersebut, Tariq Ramadan menyimpulkan bahwa Muhammad terlahir sebagai seorang yatim yang miskin adalah sebuah inisiasi untuk menjadi utusan Tuhan di masa depan. Dari identitas itulah setidaknya ada dua alasan yang dapat dikemukakan. Pertama keyatimannya, yang kemudian ditambah dengan kepergian ibunya, di usia dimana kerentanan adalah hal alamiah yang terjadi telah membuatnya benar-benar bergantung pada Tuhan. Sedangkan kemiskinan telah membuatnya dekat dengan orang fakir. Maka dari pendidikan inilah, sepanjang hidupnya, Rasulullah adalah orang yang tak pernah meninggalkan orang-orang yang terpinggirkan dan membutuhkan bantuannya, terlepas dari identitas yang mengikutinya. Beliau selalu ada di sisi orang miskin dan menyayangi anak yatim.

Muhammad menjalani kehidupan keras kaum nomad di alam yang tandus dan keras dimana sejauh mata memandang, cakrawala merasa tak berbatas. Ini yang kemudian memunculkan sebuah perenungan tentang betapa terbatasnya diri manusia, betapa manusia hidup dalam dunia yang amat fana. Itulah kenapa padang gurun adalah wilayah yang kerab kali dekat dengan kenabian. Orang nomad, kata Tariq Ramadan, belajar untuk selalu berpindah, menjadi terasing, dan memhami siklus waktu di pusat ketidakterbatasan ruang. Kondisi yang meerupakan pengalaman kaum beriman.

Tuhan mendidik Muhammad melalui alam, pada tahun-tahun pertama kehidupannya. Pelajaran ini telah membentuk konsepsi Muhammad tentang penciptaan, kedekatan dengan alam, menghargai keberadaannya, pengamatan dan perenungan. Disitulah manusia belajar membaca pertanda dan makna. Maka di awal hidupnya, seorang Rasul Allah ini, terdidik untuk memahami esesi melalui alam dan cakrawala tak berbatas. Alam, merupakan panduan utama dan kawan setia keimanan, kata Tariq Ramadan.

Pada tahun-tahun berikutnya, Muhammad muda menjadi penggembala untuk mencari penghidupannya. Pelajaran ini telah membuatnya amat memahami arti kemandirian dalam hidup dan kerjanya. Selain itu, kehidupan menjadi penggembala, juga mengasah kesendiriannya, kesabarannya dan kewaspadaannya. Kualitas yang amat diperlukan untuk menjadi pemimpin manusia. Muhammad, menggembala ternak, sebelum memimpin kaumnya.

Kehidupan Sebelum Kenabian
Setelah kematian kakeknya, Abdul Muthalib, paman Muhammad, Abu Thalib yang kemudian menjadi walinya, mengalami kesulitan ekonomi. Muhammad mulai mencari penghidupannya sejak masih muda dan berusaha membantu anggota keluarganya. Pada usianya yang kedua belas, ia mulai mengikuti kafilah dagang ke Syiria. Kehidupan sebagai pedagang inilah yang mengasah kepribadiannya hingga secara sosial ia dipandang sebagai pemuda yang jujur, terpercaya, adil dan efisien. Pengakuan akan kualitas moralnya jauh mendahului misi kenabiannya.

Secara politik, dalam kehidupan masyarakat Arab yang kala itu dipenuhi konflik, Muhammad mampu membangun reputasi mengangumkan atas kecerdasan dan ketajaman intuisinya mengatasi konflik. Ketika terjadi keributan atas peletakkan Hajar Aswad, Muhammad tampil sebagai penengah. Ia meredakan perselisihan dengan meletakkan Hajar Aswad di atas jubah yang kemudian dipegang oleh masing-masing perwakilan suku sehingga dengan begitu setiap suku merasa berperan atas peletakan batu hitam. Ketika usianya tiga puluh lima, Muhammad telah dipandang sebagai penerus kejayaan klan Bani Hasyim oleh karena kecerdasan, kebijaksanaan termasuk kehidupan pernikahannya dengan seorang wanita terhormat, Khadijah binti Kuwailid.

Pada masa dimana namanya mulai dikenal baik dalam masyarakat Arab, Muhammad justru banyak melakukan pengasingan diri. Ia tidak meminati hiruk pikuk ketenaran. Ini adalah bentuk kehidupan spiritualnya sebelum masa kenabian datang. Muhammad pergi ke Gua Hira, berhadapan dengan alam secara langsung, memandangi padang gurun, berdiam menyepi mencari makna dan kebenaran. Segala ritus penyembahan terhadap berhala yang dilakukan masyarakatnya tak pernah sekalipun ia lakukan. Ia terlindung dari segala bentuk tuhan palsu. Dan kesendiriannya adalah sebuah upaya mendapatkan jawaban atas segala kegelisahan hatinya dalam mencari kebenaran.

Ketika usianya menginjak empat puluh tahun, dimana siklus pertama kehidupannya berakhir, pada Ramadhan tahun 610 untuk pertama kalinya Jibril datang menyapanya dengan sebutan Rasul Allah, Utusan Tuhan.

Masa Kenabian
Barangkali, masa-masa di Makkah setelah turunnya wahyu pertama, adalah waktu terberat Nabi. Pada masa transisi, seseorang seringkali dihadapkan pada situasi yang membutuhkan ketahanan psikis lebih daripada sekadar tenaga dan pikiran. Aisyah meriwayatkan bahwa pernah terjadi kevakuman turunnya wahyu selama hampir dua setengah tahun. Selama itu Nabi diliputi rasa tertekan dan keraguan akan statusnya sebagai Rasul. Kesedihan yang mendalam pernah membuat Nabi hendak menjatuhkan diri dari bukit yang terjal. Tapi setiap kali beliau sampai puncak, Jibril menampakkan diri dan menyebutnya Rasul Allah.

Misi pertama kenabian, dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Dengan diam-diam nabi mengumpulkan pengikiut-pengikut awalnya. Mereka yang pertama-tama menjadi pengikut Nabi inilah generasi pertama Islam pertama yang keteguhannya dikenal melampaui zaman sekaligus pembela Islam paling teruji.

Perubahan adalah musuh abadi keterpakuan. Termasuk apa yang dibawa Nabi kepada kaumnya. Ajaran Islam akan dapat meruntuhkan sendi-sendi budaya dan kekuasaan yang selama berabad-abad berlaku di Makkah. Nabi pun telah memperkirakan hinaan dan cacian yang akan didapatnya dari masyarakat. Dan apa yang dilakukan terhadap Beliau, amat jauh dari kesan kemanusiaan.

Nabi dicerca, disebut gila, dilempari batu. Nabi dikucilkan, dan pada puncaknya juga mengalami embargo secara ekonomi dan ancaman pembunuhan. Abu Jahl pernah menghinanya secara bertubi-tubi hingga membuat yang mendengarnya merasa telah melanggar aturan kesopanan. Hamzah, paman Nabi kemudian turun tangan untuk melindungi Nabi. Setelah itu, sasaran kebencian beralih pada sahabat-sahabatnya.

Terhadap segala ujian yang amat berat ini, Nabi senantiasa meminta sahabat-sahabatnya untuk bersabar sembari Beliau mencari cara untuk meringankan derita sahabat-sahabatnya. Namun terhadap segala cobaan ini, Nabi menetapkan batasan kompromi yang Beliau katakan terhadap para penentangnya, bahwa dirinya tak akan berhenti menyampaikan misinya, bertawakal kepada Tuhan dan bersabar menerima resiko dari keputusan tersebut di dunia ini. Betapa keteguhan pemimpin adalah kekuatan bagi pengikutnya.

Nabi pergi meninggalkan kampung halamannya, Makkah, secara sembunyi-sembunyi, dengan kepala tegak dan gengsi yang tinggi. Delapan tahun setelahnya, Nabi kembali pulang, sebagai pemenang namun dengan merunduk penuh rasa syukur. Nabi memasukki Makkah, dengan kerendahan hati yang mendalam dan memperlihatkan kasih sayang paling luhur bagi bekas musuhnya.

Tariq Ramadan, menceritakan berbagai peristiwa dalam masa kenabian Nabi, yang kelak menjadi tuntunan manusia sepanjang masa, dengan narasi indah yang membuat kita seolah-olah sedang berada di dekat Nabi,menyaksikannya sendiri. Dengan begitu pula kita merasa bahwa Nabi juga adalah seorang manusia biasa seperti kita sekaligus menyadarkan betapa ada manusia seperti Beliau ini.

Dalam Sejarah, Dalam Keabadian
Nabi Muhammad, adalah hadiah dari Tuhan untuk sekalian manusia. Beliau hadir, mengajarkan manusia segala titik terkecil hingga terbesar untuk kebaikan umat manusia. Pada beratnya kehidupan yang dijalani tiap-tiap manusia, Nabi menanggung beban yang paling berat. Pada setiap kesenangan yang disenandungkan tiap-tiap manusia, Nabi adalah yang paling sederhana menunjukkannya. Tidak kurang dan tidak berlebih, maka sebaik-baiknya sikap adalah yang di pertengahan.

Spritualitasnya yang mendalam, telah mampu membuat sinar kepribadiannya berpendar menjadi teladan zaman. Nabi adalah pemimpin yang cerdas pun mendengarkan pendapat sahabat-sahabatnya. Nabi berada dalam peperangan, sekaligus menetapkan syarat yang paling mutlak tentang etika berperang. Nabi mengasihi dan memaafkan siapa saja yang datang kepadanya dengan dosa. Nabi mengasihi dan memaafkan, bahkan pada mereka yang di masa lalu menjadi penentangnya yang paling lantang. Nabi mengerti karakter setiap sahabatnya, sehingga dalam keadaan apapun, setiap sahabat merasa menjadi yang paling dekat dengannya. Nabi adalah teman bagi kaum-kaum terpinggirkan sementara dimasa sekarang kita menyebut mereka orang-orang malas. Nabi adalah pemimpin negara yang tak punya harta sekaligus tak meninggalkan hutang pada detik-detik kepergiannya. Nabi mengajarkan pengikutnya untuk mencintai alam dan menjaga ekosistem dengan tidak berlebih-lebihan memakainya sekalipun itu adalah air untuk berwudhu. Nabi adalah suami yang mampu mengungkapkan cinta, meminta pendapat sekaligus bersikap tegas ketika harta dan kecemburuan mulai diributkan oleh istri-istrinya. Nabi adalah figur sempurna seorang ayah yang mencintai anak-anak, mendengarkan anak-anak, dan rela memendekkan shalatnya ketika mendengar ada bayi menangis. Bayi, katanya juga shalat ketika memanggil-manggil ibunya. Nabi menciumi anak-anak, bermain bersama mereka, meletakkannya di pundaknya ketika para ayah bahkan tak pernah terpikir untuk melakukannya.

Nabi, dengan segala sifat kemanusiaannya, juga terkadang bersedih. Beliau bersedih ketika istrinya, Khadijah yang telah menjadi pendukungnya selama lebih dari 20 tahun pergi meninggalkannya. Beliau dirundung duka ketika pamannya yang seumur hidup telah menjadi pelindungnya harus pergi tanpa pernah menjadi pengikutnya. Beliau menangis ketika, Ibrahim putra semata wayangnya harus pergi di usianya yang masih kecil. Nabi terluka ketika sahabat meragukan keputusannya dan saling berselisih karena harta rampasan perang. Sungguh pun Nabi tetap bersabar, ketika orang-orang yang berjanji untuk berkoalisi dengannya melakukan pengkhianatan. Nabi, menjadikan setiap kesedihan, luka dan kegelisahan sarana pelembut hati untuk senantiasa menghadapkan wajah pada tuntunan Ilahi.

Beliau bangun untuk shalat saat penghuni dunia sedang terlelap. Beliau berdoa kepada Tuhan saat saudara-saudaranya kehilangan harapan. Dan beliau, tetap bersabar dan konsisten dalam meghadapi permusuhan dan hinaan saat banyak manusia berpaling darinya.

“Sesungguhnya telah datang padamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS 9:128)

Success_Ladder

Untuk Dinar, dalam bilangan yang keduatujuh
Pada hari dimana pertama kalinya kau menghirup udara dunia
yang fana
Beliaulah, hadiah Tuhan paling indah bagi sepanjang hidup
Bacalah, dekatilah, teladanilah
Maka dalam bilangan waktu semenjak hari ini
Akan semakin kau temui ihwal penciptaanmu di bumi
Barakallahu fi umriki

Depok, 9 Ramadhan 1437, 14 Juni 2016
Dalam keheningan substansi kehidupan