0

Selamat Tinggal Banda Neira

Beberapa orang belajar dari orang lain, beberapa orang belajar dari buku, beberapa orang belajar dari musik dan beberapa diantaranya belajar dari kesemuanya. Saya, salah satu diantaranya. Sekitar tiga-empat tahun yang lalu, bersama sahabat setengah kembaran saya yang seorang musisi otodidak, saya mulai menggemari kelompok-kelompok musik indie. Itu tepatnya ketika youtube dan streaming internet mulai menjamur di kalangan anak muda. Payung Teduh, Efek Rumah Kaca, Angsa dan Serigala dan Float, mereka awalnya. Kemudian Banda Neira, White Shoes and Couples Company sampai Silampukau, Barasuara dan masih banyak lagi. Mereka itu, apa ya, seperti ke-kerenan dalam bentuk maksimal. Musik iya, sastra iya, kritik sosial juga iya. One package lah.

Maka, ketika tadi pagi, melalui akun fanpagenya, Banda Neira mengumumkan akhir perjalanan karyanya, saya seperti dilanda perasaan semacam sedih, patah hati dan “yahhh,,,kok bubar sih.” Entahlah, mungkin ada pengaruhnya dari banyaknya kabar kurang menyenangkan yang saya terima akhir-akhir ini. Tapi terlepas dari itu, beberapa nada dan lirik yang dibawakan oleh suara syahdunya Mbak Rara Sekar dan Mas Ananda Badudu ini pernah membantu batin saya melewati episode-episode yang tidak mudah di awal perjalanan.

Sampai sekarang lagu Di Atas Kapal Kertas selalu mengingatkan saya pada Raisa, gadis kecil dengan Pervasive Development Disorder Not Otherwise Specified (PDD NOS) bagian dari gangguan autistik yang pernah mengaduk-ngaduk perasaan saya antara kasihan, marah, sedih dan nelangsa. Dulu, karena keterbatasan pengetahuan yang saya miliki, sering sekali saya bersikap tak adil pada Raisa. Lagu ini secara sederhana menceritakan seorang anak yang bersembunyi di balik tirai, ingin keluar namun tidak bisa karena di luar sedang hujan. Tiba-tiba segala ke’baper’an yang melanda saya sewaktu Raisa tidak mau mendengar saya, sewaktu Raisa tidak mengalami banyak kemajuan, seperti terjawab. Bukan Raisa yang salah, saya yang kurang mengerti. Anak-anak dengan spektrum autistik seperti manusia yang terperangkap dan mencari jalan untuk keluar. Saya tersadar, bahwa terlepas dari segala ekpetasi saya padanya, tugas saya hanyalah membantu Raisa membangun kapal kertas agar ia bisa keluar melewati tirai di hari yang hujan, sedangkan yang bisa melewatinya, hanyalah Raisa sendiri.

Lagu Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti ini ultimate banget menurut saya, penutup yang paripurna di akhir masa karya. Lirik lagu ini seperti mengingatkan kita, bahwa suatu saat, yang patah akan tumbuh kembali, yang telah hilang bisa saja berganti, yang pernah jatuh akan bangkit lagi dan yang sia-sia tetap saja bermakna. Selanjutnya, adalah pengulangannya. Patah-tumbuh, hilang-ada, jatuh-bangkit, sia-sia -bermakna. Ini semacam pengingat bahwa, segala kekecewaan, kehilangan dan perasaan jatuh dan terbuang, tidak akan selamanya bersemayam. Sederhananya, adalah masa yang tetap harus dilalui, seberat apapun. Dan hidup, harus tetap berjalan dan baik-baik saja bukan? What’s done is done, what’s gone is gone, one of life’s lessons is always moving on.

Cyclamen

Cyclamen

Jadi, apakah postingan ini semacam curhat tipis-tipis?
Bukan. Bukan begitu maksudnya :D. Saya merasa saya perlu menjadi lebih santai sejak dalam pikiran, kalau perilaku sih sudah dari dulu. Intinya, saya sedang merasa perlu bermelankolia denga rasa sedih. Sedih karena Banda Neira berhenti, dan rasa sedih lain yang datang di hari-hari ini.

Selamat tinggal Banda Neira
Yang sekarang patah, akan ada masanya akan tumbuh lagi

Iklan
0

Tentang Berbakti

Akan kuceritakan pada anak-anakku kelak, tentang kakeknya, bapakku, yang dalam naik turun kehidupannya, telah menunjukkan padaku bagaimana ia telah menjadi anak terbaik bagi kedua orang tuanya. Tuhan memilih bapak untuk membersamai kedua orang tuanya hingga mereka berpulang ke pangkuanNya, di atas pangkuan bapak.

Dulu, sewaktu aku kecil, mbah putri sering berkata kepadaku, ketika aku nakal dan sulit diberi tahu, kalau tiap malam bapak sering menangis karena merasa anak-anaknya sering membangkang. Entahlah itu benar atau tidak, namun sebagai anak-anak, aku tak percaya bahwa orang tua bisa menangis. Setelah dewasa, ketika Ramadhan kemarin bapak mentaujihi kami sekeluarga, baru aku sadar, barangkali yang dikatakan mbah putri ada benarnya. Bapak, menyimpan segala kekalutan batinnya dalam munajat panjang tanpa seorang pun manusia tahu. Mbah putri, sebagai ibunya, dulu mungkin merasakannya.

Bagiku, bapak bukanlah ayah yang sempurna. Terlalu banyak kekurangannya yang kutahu, dan tentu saja tak kusuka. Tapi bapak, adalah anak terbaik bagi kedua orang tuanya, setidaknya itulah yang kulihat. Ia adalah laki-laki biasa, yang dalam keterlalubiasaannya, mengharapkan orang tua dan keluarganya menjadi orang yang dekat dengan Tuhannya.

Hari ini, ketika akhirnya mbah kakung berpulang setelah dua bulan menjalani kesakitan fisik yang tak terkira, ingatanku dibawa pada masa meninggalnya mbah putri lima belas tahun yang lalu. Waktu itu aku baru beranjak remaja, dan tentu, tidak banyak orang dewasa yang membuatku mengerti keadaan. Yang kutahu, dalam kesakitan sakarotul mautnya, mbah putri tidak juga menghembuskan nafas terakhirnya. Sedangkan bapak berada dalam perjalanan pulang dari menjenguk orang tua ibuku yang juga sedang sakit. Bapak datang dan langsung menemani mbah putri. Detik itulah, mbah putri menghembuskan nafas terakhrinya, di atas pangkuan bapak.

Sekarang pun juga begitu. Dalam kelelahan fisik dan mental merawat mbah kakung, pilu duka memahami ketidakberdayaannya, membersihkan fesesnya, bapak masih berharap mbah kakung akan mengikuti tuntunannya. Pada jam-jam terakhirnya, bapak dan ibukku menemani mbah kakung dengan membaca Yasin di sampingnya. Beberapa saat setelahnya, kekakuan menjalari kaki hingga kepala mbah kakung yang diikuti dengan desahan nafas terakhirnya. Bapak tersedu setelahnya, menghubungi saudara-saudaranya. Aku merasakan, bukan kematian yang membuat bapak menangis, namun kenyataan bahwa ayahnya pergi tanpa menyebut nama Tuhan.

Aku belajar banyak hal tentang kisah bapak dan orang tuanya. Tentang bagaimana bakti seorang anak yang sesungguhnya pada orang tuanya. Bapak bukan anak yang paling berhasil secara materi dibanding saudara-saudaranya, namun ia adalah orang yang selalu ada bagi orang tuanya dan juga keluarganya. Diantara segala keterbatasannya sebagai anak, bapak berusaha mendorong orang tuanya dan keluarganya untuk mendekat pada Tuhan. Mencarikan guru mengaji, mengajak ikut berjamaah dan hal-hal di luar keduniawian yang membuatku semakin mencintainya, terlepas dari berapa banyak kenangan menyedihkan yang mungkin kudapat darinya. Atas tugasnya menanggung berbagai tanggung jawab itu, Tuhan memilihnya dan mengizinkannya melihat wajah terakhir kedua orang tuanya. Sesuatu yang tidak didapat saudara-saudaranya. Sesuatu yang menjadi pertanda, bahwa ia telah tuntas menunaikan amanah sebagai anak.

Kini aku terduduk sendiri dan lintasan pikiran berkelindan dalam semesta di kepalaku. Aku semakin meyakini, mengimani, bahwa keberkahan hidup terutama adalah dari bakti kita pada orang tua. Seberkekurangan apapun mereka. Kita selalu punya kesempatan untuk dunia dan seisinya, tapi orang tua, menjadi tua tanpa bisa mengingkarinya.

Pada diriku dan anak-anakku kelak akan kuceritakan, tentang bagaimana bapak berbakti pada orang tuanya.

Berbakti adalah, tentang mendekat pada Tuhan

caring-for-ill-or-aging-parents

13.12.16
Mbah Kung, teman masa kecilku
Berakhir sudah penderitaanmu di dunia
Sebab kesepian ternyata lebih menakutkan daripada kematian
Semoga Allah membuka jalanmu disana