0

Montessori

Jum’at, 18 Desember 2015 lalu, Kensington Palace, tempat kediaman Duke and Duchess of Cambridge Pangeran William dan Kate Middleton merilis sebuah pernyataan bahwa pangeran George yang kini berusia dua tahun akan mulai mengikuti program pra sekolah (nursery). Beberapa pertimbangan tentang bagaimana William dan Kate memberikan pendidikan pada anaknya sedini mungkin membuat mereka menjadi salah satu contoh orang tua cerdas pada masa kini.

Berbeda dengan kebiasaan keluarga kerajaan yang memberikan pendidikan pada seorang anak bangsawan di dalam istana atau setidaknya pendidikan umum di dekat istana, William dan Kate tidak mengikuti kebiasaan tersebut. George disekolahkan di dekat rumah mereka di desa Norfolk dekat rumah mereka di Anmer Hall daripada di London, dekat Kensington Palace. Tujuan Kate tentunya menghindarkan ekspos media terhadap George, namun pertimbangan orang tua ini telah memenuhi syarat pertama dalam memilih sekolah. Bahwa bagi anak-anak, sekolah seharusnya dekat dengan tempat tinggalnya, dekat dengan lingkungan tempat sehari-hari ia tumbuh. Agar tercipta harmonisasi dalam diri anak antara pendidikan dan interaksi sosial dalam lingkungan.

George disekolahkan dalam sebuah sekolah sederhana yang tergolong murah berbasis Montessori, Westcare Montessori School. Menyusul jejak ayahnya dan pamannya yang terdidik secara langsung menggunakan metode Montessori (Montessori Way) oleh almarhum neneknya, Putri Diana. Mereka yang menekuni dunia perkembangan anak setidaknya pasti pernah mendengar tentang metode Montessori ini. Metode Montessori populer di banyak negara maju di Eropa seperti Inggris, Belanda, Spanyol,USA, India dan sudah mulai dikenal di Indonesia terutama di Jakarta dan sekitarnya.

Montessori Way adalah sebuah metode yang dikembangkan oleh Dr.Maria Montessori, seorang dokter wanita pertama di Italia yang lahir pada tahun 1870. Di masa ia menjadi seorang asisten dokter (physician), Maria Montessori banyak melakukan kontak dengan anak-anak dengan keterbelakangan mental. Ketertarikannya mendalami dunia anak muncul setelah ia mengetahui bahwa permasalahan keterbelakangan mental pada anak sebenarnya bukanlah masalah medis. Gagasannya kemudian dipengaruhi Jean Marc Gaspad (1775-1838) seorang dokter (physician) di sebuah institut untuk pendengaran dan wicara yang menyatakan bahwa pikiran sebenarnya berkembang melalui aksi indera dan Edward Seguin (1812-1880) seorang educationist yang mengembangkan latihan dan alat untuk membantu anak-anak cacat mental. Jadi kelahiran awal metode Montessori sesungguhnya didedikasikan untuk melatih anak-anak dengan kecacatan atau keterbelakangan mental.

Casa dei Bambini 1907

Casa dei Bambini 1907

Metode Montessori dilahirkan dari banyak penelitian dan pengamatan yang dilakukan oleh Maria Montessori. Tahun 1907, Casa de Bambini, rumah Montessori pertama untuk anak-anak didirikan, diikuti oleh anak-anak normal dari keluarga buruh. Dari berbagai pengamatan itulah, Montessori menelurkan sebuah pernyataan bahwa anak-anak sesungguhnya mampu mengajari diri mereka sendiri. Dalam keadaan yang tepat, anak-anak akan mendidik diri mereka sendiri. Dr.Maria Montessori kemudian terus melakukan pengembangan metode dan menyebarkannya ke seluruh Eropa, India dan Amerika. Para pendukungnya termasuk Alexander Graham Bell, Helen Keller dan sangat berhubungan dengan pencetus Teori Perkembangan Kognitif, Jean Piaget. Tahun 1915, rumah kaca pertama dipamerkan di Panama Pasific International Exposition di San Fransisco. Yaitu berupa ruang kelas yang tertutup dinding kaca tembus pandang, memperlihatkan aktifitas anak-anak belajar di dalamnya. Ratusan orang dapat melihat, keduapuluh satu anak di dalamnya begitu fokus terhadap apa yang mereka kerjakan hingga tidak mempedulikan orang-orang di luar yang melihat mereka.

Saya mengenal Montessori Way pertama kali sekitar satu setengah tahun yang lalu. Bagi saya,walaupun belum mengikuti pendidikan Montessori secara resmi, metode ini adalah yang pertama menjawab berbagai masalah pendidikan, persoalan belajar secara teknis dan mendetail. Di Maryam&Isa Child Care Center, kami (saya dan tim) mencoba mengaplikasikan metode ini walaupun belum seutuhnya. Dan walaupun menghadapi proses trial and error, Montessori Way membuat kami tidak kehilangan track dalam melakukan perbaikan-perbaikan untuk kemajuan dan perkembangan anak-anak. Dari sekian hal, beberapa nilai yang seharusnya harus lebih dimiliki dan dipelajari anak-anak Indonesia antar lain :

1. Kemandirian
Never help a child with a task at which he feels he can succeed”
Kemandirian adalah poin pertama yang saya dapatkan dalam Montessori Way sebelum yang lain tentang bagaimana kita seharusnya memperlakukan seorang anak. Dianggap salah besar jika orang dewasa selalu menolong anak-anak dalam melakukan sesuatu. Makan, memakai baju, gosok gigi, merapikan barangnya sendiri, membawa barangnya sendiri,memakai sepatu dan berjalan sendiri jika sudah mampu adalah hal-hal pertama yang seharusnya tidak dibantu oleh orang dewasa jika anak-anak telah mampu melakukannya sendiri. Atau lebih tepatnya terlatih untuk melakukannya sendiri.

Kemandirian adalah jalan pertama yang diperlukan manusia untuk masuk ke alam pembelajaran. Maka mereka yang tak mandiri, sebenarnya dianggap belum sepenuhnya siap untuk menerima pembelajaran. Tangan untuk menulis, kaki untuk berjalan, dan punggung untuk duduk tegak, hanya dapat terbentuk dengan sempurna, jika seorang manusia berusaha melatih kekuatannya semenjak kecil (tentunya dengan mengesampingkan kondisi kekhususan tertentu pada seseorang). Itulah kenapa, yang pertama diajarkan dalam Montessori pada anak adalah ketrampilan hidup sehari-hari (Everyday Practice Life) terdiri dari aktivitas-aktivitas sederhana seperti menuang biji dari satu mangkok ke mangkok lain, menuang air dari satu teko ke teko yang lain, menyapu, mengelap meja, memasang dan melepas kancing,dll.

Kemandirian adalah kesuksesan pertama seorang anak manusia, untuk melakukan sesuatu dengan kemampuannya sendiri.

“The essence of independence is to be able to do something for one’s self”
Baca lebih lanjut

0

Pergi

Selamat pergi wahai mimpi
Aku baik-baik saja dengan apa yang ada
Terimakasih telah menemani
Kini masaku telah tiba
Untuk bangun dan berjalan sekuat yang kubisa


Beranjak pergi tak sesulit menyelesaikan persoalan-persoalan matematika. Kau hanya perlu meregulasi diri agar segala ketenangan datang ketika sebuah keputusan menuntutmu untuk akhirnya pergi. Sesungguhnya beranjak pergi tak sesulit ketika kau tertawan oleh perasaanmu sendiri selama beberapa lama. Ada yang perlu kau syukuri dalam bilangan tahun itu, bahwa Tuhan membiarkanmu pergi disaat kedewasaanmu kian bertumbuh.

Terbelenggu oleh perasaan-perasaan yang tak juga mampu membuatmu beranjak,dulu adalah sebuah pemakluman yang kau buat untuk menghindar. Setidaknya dulu kau tidak menganggapnya belenggu. Kau berdoa untuk sebuah perasaan, keinginan yang bahkan kau tak yakin apakah kau benar-benar menginginkannya. Kau terjebak dalam sebuah perasaan rumit yang bahkan jawabannya tak kau ketahui. Terhadap perasaan semacam itu, tidakkah memang yang terbaik adalah beranjak pergi?

Sekarang waktu telah berkata dalam sebuah pertanda. Tiba-tiba saja jantungmu berdebar tak seperti yang biasanya. Itu adalah yang kau rasakan saat kau bahagia luar biasa, atau begitu kesakitan oleh sebuah sebab. Kau menerima keputusan sebelum waktu yang ditentukan. Dan itu membuatmu bersiap. Pada akhirnya Tuhan mengirimkan kabar, bahwa kau tak bisa lagi tinggal, dalam perasaan semacam itu. Kau harus pergi, menemukan jalan yang lain yang membawamu menuju pada sebuah pencerahan.

Apa yang kau lakukan hingga mampu beranjak pergi setenang itu? Itu adalah ketika kau mengingat, benarkah dulu kau begitu menginginkannya, dan ketika jawabannya adalah, tidak begitu. Itu adalah ketika kau tahu, bahwa bahagia adalah sebuah karunia Tuhan yang juga kau ciptakan sendiri oleh semua usahamu. Itu adalah ketika kau menyadari bahwa Tuhanlah yang mengangkat perasaan tertawan semacam itu dengan mudahnya. Dan itu adalah saat kau memutuskan, hidup harus berjalan untuk terus mencari sebuah titik keseimbangan.

Vivian Maier Photograph

Vivian Maier Photograph

Hello, how are you?
It’s so typical of me to talk about myself, I’m sorry
I hope that you’re well
Did you ever make it out of that town where nothing ever happened?
(Hello_Adele)