0

Dunia yang Menyenangkan

Dulu, ketika banyak bergaul dengan anak-anak, mempelajari dan menyelami dunianya, saya menemukan satu alasan mengapa saya pada akhirnya begitu menyukai mereka. Bukan, bukan karena mereka lucu, sebab saya juga menjumpai hal-hal menyebalkan yang menguji perasaan darinya. Anak-anak membuat saya punya dunia lain untuk sejenak pergi dari dunia orang dewasa yang seringkali menjemukan. Iya, walaupun saya terlihat mudah bergaul, banyak bicara dan kadang (mungkin) lucu, sesungguhnya sangat kelelahan berkumpul dengan manusia.

Saya masih ingat masa-masa menuntut ilmu dari SMA sampai universitas barangkali adalah masa terbaik yang menyelamatkan saya dari kesepian gagasan. Bersama dengan circle pertemanan, saya bisa berlama-lama berbincang. Kami tidak berbicara tentang cuaca, mengolok-olok satu sama lain atau pembicaraan-pembicaraan remeh lainnya. Kami bicara tentang perasaan, tentang gagasan juga tentang dunia, tentu saja semua diiringi dengan tawa canda. Setiap pembicaraan adalah sebuah jalan menuju wawasan dan perspektif baru. 

Dunia nyata kemudian membenturkan saya pada sebuah realita tentang bagaimana saya harus bersikap secara sosial. Perkumpulan-perkumpulan yang nampak berfaedah tapi sesungguhnya tak lebih dari upaya membunuh waktu, cerita-cerita yang terlontar demi sebuah tawa dan sikap-sikap kaku yang tercipta demi tetap berada dalam permainan, membuat saya didera kelelahan terhadap manusia dan segala problematika di dalamnya. Untuk menampiknya, seringkali saya menggunakan persona (pernah saya tulis pada Living Life as INTJ). Dan konsekuensinya, saya perlu sendiri untuk mengumpulkan lagi energi yang telah pergi.

Bertemu anak-anak, pada waktu itu (dan sampai sekarangpun) adalah ujian kesabaran. Tapi dibalik itu saya menemukan dunia yang menyenangkan tersimpan di dalamnya. Sekali lagi ini bukan hanya tentang kepolosan mereka yang menjadikan mereka nampak lucu. Karena banyak juga anak-anak (yang barangkali karema faktor lingkungan) tidak nampak polos dan lucu. Dunia itu adalah dunia yang melihat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh, yang tak harus menjadikanmu orang lain karena kamu ingin bersama orang lain dan mengijikan setiap hal dipandang dari sudut pandang yang berbeda.

Sekarang, ketika Tuhan mengizinkan saya menjadi orang tua dari seorang bayi kecil, satu diantara banyak hal yang saya syukuri adalah saya selalu punya teman bercerita, teman tempat kembali, teman yang dunianya menyenangkan. Setiap saya pergi dan mengahadapi dunia, Bentang yang kini berusia enam bulan selalu berada di pelukan saya. Padanya dalam setiap langkah menyusuri udara saya bercerita tentang apa yang tengah kami lihat, dengar dan rasakan. Dia akan diam namun matanya berbicara. Seperti mendengar apa yang saya katakan dan mencernanya dalam-dalam. Suatu saat saya dan bapaknya melibatkannya dalam suatu pembicaraan, dia akan tersenyum, bergumam lalu menggerakkan tangan dan kakinya seolah tahu apa yang kami maksud. Sesederhana itu, sebahagia itu.

Bentang adalah energi. Indah memang, tapi tetap butuh kesabaran.

Kita selalu punya tempat untuk pulang, mengumpulkan kepingan-kepingan kebahagiaan menurut kita, hingga dari situlah kita mampu menghadapi dunia. Menciptkan definisi kita sendiri tentang dunia yang menyenangkan. Jika bukan manusia, tentulah itu Tuhan.

Embracing Inner Child

Embracing Inner Child

 
Malam setelah Bentang tertawa sepanjang hari

00.16

Iklan