0

Menatap Punggung Muhammad ; Sebuah Cerita Untuk Azalea

Sudah sejak lama aku tahu tentang buku ini sebagai salah satu karya Fahd Djibran, penulis yang kukagumi gaya penceritaannya dan sedikit banyak pula kutirukan dalam beberapa tulisan. Aku sudah lama menaruh buku ini dalam daftar buku yang harus dibaca dan baru mendapat kesempatan beberapa saat ini, saat aku benar-benar memiliki banyak waktu luang. Tepatnya saat aku mulai merasa bahwa pada beberapa waktuku yang panjang, aku mulai kehilangan hakekat mencari. Buku ini seakan menjadi jawaban, tentang bagaimana memaknai sebuah pencarian. Aku pun mendapat sedikit pencerahan. Pencarian, pada akhirnya adalah sebuah perjalanan. Untuk mengalaminya kembali, tentulah kau harus berjalan.

ppi

Semakin membaca buku ini, aku pun tahu, bahwa sebenarnya buku ini bukanlah tulisan Bang Fahd Djibran seutuhnya, melainkan sebuah surat yang dibukukan. Surat yang pada akhirnya dibukukan ini adalah surat tentang sebuah pencarian spiritual, sebuah cerita yang ditujukkan untuk Azalea, mantan kekasih si -aku,penulis- yang ia tinggalkan begitu saja dua tahun lamanya.

Setelah dua tahun menghilang tanpa kabar, tiba-tiba datang sebuah surat untuk Azalea. Dia adalah aku, tokoh dalam buku ini, yang menulis surat setebal seratus halaman yang berisi proses pencarian dan obsesinya selama dua tahun terhadap Muhammad, seseorang yang disebut Nabi dan Rasul Allah dalam agama Islam. Dia dan Azalea, bukanlah seorang Islam saat mereka dulunya bersama, namun pembicaraan yang ditulis dalam surat tersebut melebihi batas-batas pembicaraan tentang agama. Sungguhpun dalam surat si Aku inilah, akupun menjadi banyak tahu, bahwa banyak hal tentang Muhammad, Nabiku yang belum banyak kutahu. Membaca surat si Aku ini, kerinduan-kerinduan itu menemui jalannya kembali. Kutulis beberapa hal disini bukan hanya sekedar review tentang buku ini, namun hal-hal yang baru kutahu dan perlu kuingat, jika aku memang umat yang dicintai dan mencintai Nabi, InsyaAllah.

Akhir Maret 2008, si- aku- dalam surat tersebut, mengalami mimpi yang tidak biasa. Mimpi tersebut membuatnya bangun dengan dada yang berdebar-debar dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia ceritakan bahwa keningnya berkeringat, nafasnya turun naik namun bukan seperti setelah mendapati mimpi buruk. Saat ia bangun, ada perasaan tak rela ketika seseorang dalam mimpi itu mengucapkan perpisahan padanya.

Ia bermimpi bertemu seorang lelaki yang agung dan bercahaya. Bertanya kepadanya dalam mimpi “ Apakah yang lebih besar daripada iman?” “Aku tak tahu?” jawab si –Aku-. Laki-laki itu tersenyum dan kembali bertanya “Apakah yang lebih utama dan lebih penting daripada iman?” “Aku tak tahu” jawabnya sekali lagi. Laki-laki itu pun menjawab “Kebaikan,, melebihi apapun, adalah yang paling utama dari semuanya. Aku menyebutnya Ihsan.” Laki-laki itupun membalikkan badan, menjauh pergi menyisakan cahaya yang perlahan-lahan semakin terlihat menjauh.

Pada Azalea ia bercerita, bahwa ia merasa telah melihat Muhammad, sosok yang ia pernah dengar namun tak banyak ia tahu sebab ia memang bukanlah bukan seorang muslim. Antara keraguan dan perasaan yang tak terelakkan itulah, dalam surat untuk Azalea inilah, si-Aku- menceritakakan perjalanannya, sebuah pencarian terhadap Muhammad, laki-laki yang muncul di mimpinya. Surat itupun berisi banyak hal ilmiah dan puitis. Kutulis disini karena kutahu, si-Aku-, Azalea dan Fahd Djibran juga ingin orang lain mendapati dan merasakan apa yang ia rasakan, ketika proses pencarian Muhammad menjadikannya seseorang yang lebih baik dalam hidup ini.

Tentang Tidur dan Mimpi
Kita menghabiskan 25 tahun dalam hidup kita untuk tidur dan rata-rata orang bisa menjadi psikotis (semacam gangguan mental ringan yang bisa membuat kehilangan fokus dan berhalusinasi) bila tidak tidur selama tiga hari. Saat tidur, metabolisme dan suhu tubuh akan turun. Pengukuran dengan Electroecepahogram (EEG) yang merekam gelombang- gelombang listrik otak menunjukkan ada empat tahapan tidur. Tahap 1 menunjukkan gelombang-gelombang kecil yang tak beraturan, Tahap 2 menunjukkan kejutan-kejutan akibat aktivitas singkat seperti membalik badan atau menggaruk, tahap 3 menunjuukan gelombang delta yang lambat, sedangkan tahap 4 menunjukkan gelombang yang stabil dan konstan, saat tidur lelap terjadi.

Ada dua tahap tidur. Tidur dengan gerak mata cepat, Rapid Eye Movement (REM) dan tidur non REM. Orang biasanya bermimpi melihat sosok dalam tidur REM sedangkan dalam tidur non REM yang terlihat adalah gambar-gambar tidak rinci dalam kehidupan sehari-hari. Maka sebagian besar mimpi yang diingat seseorang ketika bangun adalah mimpi di saat tidur REM. Sedangkan orang dewasa mempunyai probabilitas untuk menghabiskan 20% tidur mereka dengan tidur REM.

Carl Gustav Jung (1875-1961) seorang psikoanalis terkenal di dunia psikologi dan merupakan murid Freud ini menekankan bahwa di setiap masa dan ras, sejak dulu mimpi dipandang sebagai wahyu yang menyampaikan kebenaran. Bahasa sederhananya mungkin adalah, bisa jadi mimpi adalah sebuah jawaban. Walaupun hal ini sangat misterius namun ada beberapa cerita yang bisa menjadi permisalan. Friedrich August Kekule von Stradonitz ( 1829-1896) seorang ahli kimia yang sejak lama berupaya menentukan struktur molekul senyawa benzene mendapat jawaban atas pertanyaannya melalui mimpi. Suatu saat ia terbangun dari mimpi melihat seekor ular yang menggigit ekornya. Dari situlah bisa ia simpulkan bahwa struktur molekul benzene adalah berupa gelang. Dari sebuah buku berjudul The Committe of Sleep karya Deirdre Barrett (2001) diceritakan, bahwa lagu Yesterday milik The Beatles yang sangat terkenal itu ditemukan oleh Paul McCartney dalam mimpinya saat ia bermimpi tentang nada-nada.
Tidur dan mimpi, bagaimanapun tetaplah misteri. Mimpi itu, perjumpaan dengan yang tak terbatas. Namun dalam sebuah hadist yang disepakati kesahihannya, Nabi saw, jelas mengatakan, “Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka dia benar-benar melihatku. Sesungguhnya Setan tak dapat menyerupaiku.

Tentang mimpi melihat Nabi, ternyata ada dua jenis mimpi, Satu hasil usaha (Tarakki), satu lagi hasil Tanazul (ditarik; dikehendaki oleh obyek mimpi). Bisa jadi bertemu Nabi dalam mimpi adalah hasil dari ibadah-ibadah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan bisa jadi yang kedua. Saat hukum spiritual berlaku, karena bisa jadi kita ditarik bukan karena ibdah kita semata namun kenyataan bahwa kita masih diingatkan untuk berada dalam jalur kebaikan. Pada akhirnya, bagaimanapun manusia berkehendak tentang mimpi, kehendak Allah melebihi segalanya. Aku dan teman-teman biasa menyebutnya sebagai kehendak langit.

Tentang Ihsan
Ihsan bisa berarti banyak hal dan pemaknaan. Namun dalam bahasa Indonesia, secara sederhana ia diartikan sebagai kebaikan. Dalam ajaran Islam, Ihsan perlu didekati dengan dua pemaknaan; 1. Seakan-akan melihat Tuhan atau seakan-akan dilihat Tuhan, ketika kita melakukan kebaikan sehingga kita melakukannya dengan sungguh-sungguh; 2. Melakukan kebaikan pada orang lain lebih dari seperti melakukan hal baik untuk diri sendiri. Makna pertama lebih banyak dijadikan rujukan oleh sejumlah kelompok tarekat, sedangkan orang biasa yang banyak keterbatasan dalam belajar agama sepertiku lebih banyak memilih untuk melakukan yang kedua, meskipun juga sulit untuk benar-benar diterapkan. Makna yang kedua lebih banyak dicontohkan oleh Sang Nabi. Saat ia mengganjal perutnya dengan batu untuk menghalau rasa lapar, saat beberapa biji kurma untuk berbuka dengan tulus ia berikan pada pengemis yang datang meminta makanan atau saat Fatimah memberikan kalung satu-satunya peninggalan ibundanya tercinta untuk keperluan makan pengemis dan keluarganya.

Tentang dosa
Tentang dosa, jika membicarakannya dari sudut tafsir secara mendalam, akan banyak hal yang bisa jadi pertanyaan tak terjawabkan. Maka penjelasan paman si penulis dalam sebuah suratnya bisa jadi penyemangat bagi kita untuk selalu disibukkan dengan kebaikan.
Tentang dosa, tak ada yang mesti ditakutkan. Tak ada seorang pun di dunia ini yang hidup tanpa kesalahan dan dosa. Bila suatu kaum tidak ada yang berbuat dosa, Tuhan akan menggantikannya dengan kaum yang mau berbuat dosa, kata sebuah hadist. Mengapa? Karena dalam dosa ada kreativitas dan tangis penyesalan. Lalu sebuah hadist Qudsi, perkataan Tuhan yang dititipkan lewat lisan menyatakan, Tuhan lebih senang mendengar tangis penyadaran dosa daripada pengagungan namanya.
Berbahagialah karena kau merasa gelisah dengan kesalahan, keburukan dan dosa. Artinya radar kebaikanmu masih berfungsi dengan baik. Kegelisahanmu menunjukkan bahwa sesungguhnya jauh di dalam dirimu sendiri, kau menolak keburukan-keburukan itu dan menginginkan kebaikan-kebaikan.
Kenanglah cahaya dari punggung Sang Nabi.”

Tentang Muhammad, manusia paling dicinta semesta.
Bila mataku mulai berkaca-kaca kala menuliskan tentangmu, tentang kisahmu, tentang cintamu, semoga itu memang bentuk kerinduanku padamu Ya Rasul… Ya, dialah Muhammad, sosok yang dicari oleh si-aku- dalam surat ini. Baginya, Muhammad bukan hanya sebagai Nabi umat muslim, namun terlebih dari itu, ia mencari, kenapakah Muhammad menjadi manusia paling dicintai di semesta ini.

Si-Aku-, dalam mimpinya itu, melihat sosok Muhammad yang wajahnya bercahaya. Hal ini seperti yang digambarkan oleh Al Husayn bin Mas’ud Al Bhagawi dalam kitab Al Anwar Fi Syama’il Al Nabiyy Al Mukhtar yaitu wajah yang bersinar bagai purnama. Sedangkan Michael Murpy, seorang periset yang selama 20 tahun melakukan penelitian terhadap hal-hal supranatural atau extraordinary life ini menyebut perception of extraordinary luminosities atau persepsi berkenaan dengan cahaya yang luar biasa sebagai kesimpulan tentang manusia yang memancarkan cahaya.

Henri Corbin, peneliti Prancis tentang tasawuf dan filsafat Islam di Iran menjelaskan bahwa tingkat cahaya yang memancar dari tubuh atau wajah seseorang bergantung pada level spiritual dari sumber cahayanya. Semakin tinggi tingkat spiritualotasnya, makin berkilau cahayanya. Muhammad adalah Nuril Anwar,yang oleh Goethe disebut mahapemimpin, manusia dengan tingkat spiritualitas tertinggi, yang paling bercahaya. Kata yang paling kusuka dari si-aku- ini adalah, baginya Muhammad bukanlah tentang kepastian, Muhammad adalah harapan.

Aku juga menyukai bagian dimana paman si penulis menjelaskan tentang perayaan kelahiran Muhammad (Maulid Nabi). Katanya, Muhammad lahir dari seorang ayah bernama Abdullah yang merupakan putra Abdul Muthalib. Maka secara sufistik, perayaan Maulid adalah menghadirkan sifat-sifat kemuhamaddan dalam diri kita yaitu dengan pertama-tama mengubah diri menjadi hamba yang terus menerus melakukan pencarian (dalam bahasa arab berarti ‘Abdul Muthalib’). Beragama adalah sebuah proses pencarian terus menerus, sebuah perjalanan, hingga kita menemukan diri kita terus belajar menjadi pelayan Tuhan (dalam bahasa arab berarti Abdullah). Menjalani perintah Tuhan dan menjauhi larangannya. Dengan itulah baru akan lahir sifat-sifat yang terpuji (dalam bahasa arab berarti Muhammad). Jadi inilah, sebenarnya makna kelahiran Muhammad itu.

“ Dia makan secara sederhana dan bebas dari minuman keras, serta sangat gemar berpuasa. Dia tidak menuruti hawa nafsu bermewah-mewah dalam berpakaian, tidak pula menuruti pikiran yang sempit; kesederhanaannya dalam berpakaian dilatarbelakangi oleh sikapnya yang tidak mempedulikan perbedaan dalam hal-hal yang sepele. Dalam urusan pribadinya, ia bersikap adil. Dia memperlakukan kawan dan orang asing, orang kaya dan orang miskin, orang kuat dan orang lemah, dengan cara yang adil. Dia dicintai rakyat jelata karena dia menerima mereka dengan kebaikan hati dan mendengarkan keluhan-keluhan mereka. Keberhasilan militernya bukanlah kemenangan yang sia-sia dan sekali-sekali tidak membuatnya merasa bangga, karena tujuan semuanya itu bukan untuk kepentingan pribadinya, Ketika dia memiliki kekuasaan yang amat besar, ia tetap sederhana dalam sikap dan penampilannya, sama seperti ketika dia dalam keadaan sengsara. Sangat berbeda dengan seorang raja, dia tidak suka jika, ketika memasuki ruangan, orang menunjukkan penghormatan yang berlebihan kepadanya.” (Washington Irving (1783-1859), Life of Mahomet, London 1889)

Itulah sedikit cerita tentang Muhammad. Cerita, kata Wilhem Dilthey seorang filsuf Jerman, adalah proses pengorganisasian hidup. Maka, mereka yang menghina Muhammad, bisa jadi mendengar cerita buruk tentang Muhammad walau aku tak tahu di bagian manakah itu. Karena seringkali pikiran manusia membatasi,maka seringkali seseorang tak cukup menghargai orang-orang suci di luar agama mereka. Aku termasuk yang beruntung, sebab melalui cerita Muhammad, aku semakin mengagumi Sidharta,Zoroaster, Konghucu ataupun Yesus. Salman Rusdhie mungkin adalah contoh ia yang menerima cerita buruk dan mengarangnya menjadi cerita yang lebih buruk. Pada yang seperti itu, kita hanya bisa berdoa, semoga kebencian mampu menjadi lompatan iman, sebagaimana yang dialami sayyidina Umar bin Khattab ra.

Pada akhirnya, ingin kukatakan pada Azalea, bahwa, kau mendapatkan salah satu cerita luar biasa yang pernah ada di dunia
Yang juga membuatku, tergerak kembali menuliskan namanya disini

Telah datang pada kalian Sang Utusan
Paling Mulia diantara kalian
Pedih hatinya melihat yang kalian derita
Sangat ingin ia melihat kalian bahagia

Iklan