0

Jika kau bertemu orang yang sangat cerdas,tanyakan buku-buku apa yang sudah dia baca (Ralph Waldon Emerson)
Selamat hari buku sedunia….
Mencintai buku, mencintai peradaban

View on Path

0

Raisa dan Terkadang

Terkadang seorang pasangan lelah terhadap pasangannya
Terkadang seorang anak lelah terhadap orang tuanya atau sebaliknya
Terkadang seorang sahabat lelah terhadap sahabatnya
Dan terkadang seorang guru juga lelah terhadap muridnya
Terkadang itu membuatmu menjadi lebih seperti manusia.

Aku bertemu “terkadang” itu dalam bentuk seorang gadis kecil. Raisa, keterlambatan berbahasa membuatnya berbeda dengan anak seusianya. Devoting the days untuk membantu perkembangan dan kesembuhannya bukanlah hal yang mudah sejak dari awal. Keterbatasannya menerima informasi dan berkomunikasi adalah intinya.

Sejak awal mulutnya selalu berbicara tanpa kosakata, tak menghirau saat dipanggil dan membuang tempat makannya saat habis. Terlepas dari itu, ia punya tingkat fokus dan konsentrasi yang tinggi dan merupakan seorang anak yang affectionate, penyayang.

Tiga hari ini, gadis kecil tersebut telah mampu membawaku pada “terkadang”. Seorang guru juga mampu lelah terhadap muridnya terlepas dari seberapa besar cinta yang ingin ia berikan. Dua bulan dan belum ada yang berubah dari perilakunya. Raisa adalah anak yang berbeda, aku dengan yakin sangat memahaminya.

Pada “terkadang” itu, ketidaksabaran membawaku pada sikap yang mungkin tak adil baginya. Aku menjadi lebih keras padanya saat ia membuang tempat makannya, saat ia dengan sengaja menumpahkan sesuatu dari wadahnya. Ia mengerti ekspresi marahku namun keterbatasannya membuatnya tidak mampu memahami maksudku. Yang kemudian kurasakan adalah, nelangsa tak terkira. Hanya Tuhan yang tahu apa yang ada di kepalanya sedangkan seseorang bersikap keras terhadapnya atas hal-hal yang menurutnya tidak salah sedikitpun. Akupun merasakan ketidakadilan yang diterima Raisa, itulah sebabnya aku nelangsa.

Raisa, akupun menunggu waktu sembuhmu dan sesekali membayangkan dirimu secerewet anak-anak lain, berbicara dengan kata.
Raisa, untuk anak-anak sepertimu lah aku ingin belajar lagi dengan segala keterbatasanku, agar semakin banyak orang mengerti tentangmu.
Dan oleh sebab itu, sekeras apapun aku berjuang, you have to do your best child.
Berjuang, berjuanglah, agar kau bisa berbahasa, agar dunia mengerti apa yang ada di kepalamu.

image

Bersembunyi di balik tirai, menantang jalan
Gadis kecil ingin keluar menantang alam
Tapi disana hujan, tiada berkesudahan
Tapi disana hujan m membasahi semua sudut kota
Hapus tiap jejak jalan pulang
Berangkat di atas kapal kertas
Menggantungkan haluan, menambal menyulam, menghindari karang
Berangkat di atas kapal kertas, bersandar ke layarnya
Diantara suka, diantara duka
-Di Atas Kapal Kertas by Banda Neira-

0

Hanya

Ya Rasulullah, malam ini aku merindukanmu begitu terlalu
Mungkin karena aku yang lalai, jarang mengunjungi ceritamu
Atau mungkin karena rasa berat di hatiku hingga begitu ingin aku menceritakannya kepadamu
Bagaimana engkau bisa begitu kuat ketika orang mencacimu, menyakitimu?
Bagaimana engkau menghadapi masa-masa beratmu diantara kemiskinan dan tanggung jawab mengemban misi peradaban?
Entahlah,,,
Malam ini aku hanya ingin merindukanmu

Kangen kaliyan kanjeng Nabi….

0

New Mini outdoor playground.
Morning activities’s got to be much more fun, way faster to make kids exhausted and easily focus for Montessori class

View on Path

0

Dapat ini kemarin sore.
Kata orang, Copacabana adlh salah satu yg tercantik di Amerika.Tapi kata Jamie,itu karena orang disana sangat mencintai pantai.
Suvenir dr Rio, tempat lahir Paulo Coelho. Kecil dan tak seberapa,tapi yg menarik adalah, seperti kembali ke era sahabat pena 🙂

View on Path

0

The Myth of “Happily Ever After”

Dulu saat kecil, saya dan teman-teman suka sekali membaca majalah anak-anak. Diantara kami, hampir semuanya berlangganan majalah anak-anak di rumah. Itulah awal kecintaan saya terhadap membaca terbentuk, saat majalah dan komik menjadi barang yang sering menarik. Apa yang sering saya dan teman-teman baca? Tentu yang paling menarik bagi kami adalah cerpen, kisah dongeng dan legenda.

Saya ingat, saat membaca kisah-kisah karya Hans Christian Andersen ataupun Disney, setiap cerita selalu berakhir bahagia, Happily Ever After. Saat putri salju bangun dari tidurnya, saat itik yang buruk rupa menjadi cantik ataupun saat lain ketika cinderella dan pangeran akhirnya bertemu, menikah dan bahagia selamanya. Terlihat begitu indah. Dan ideal.

Ketika saya besar, saya mulai bertanya-tanya tentang bagaimana rasanya akhir yang bahagia itu.Seperti apa rasanya, menjadi cantik setelah buruk rupa, seperti apa rasanya bertemu dengan kekasih dan bahagia selamanya. Saya mulai mengukur standar kebahagiaan saya sendiri. Saat SD, ukuran kebahagiaan saya adalah diterima di SMP terbagus di kota saya tinggal. Saya berhasil dan bahagia, namun kenyataanya saya tetap harus berjuang agar diterima dan bergul secara sosial dan belajar mati-matian. Saat SMP pun, kebahagiaan terbesar saya adalah diterima di SMA terfavorit di kota saya. Saya berhasil, namun kenyataanya saya tetap harus belajar siang malam untuk dapat diterima di Universitas. Di Universitaspun sama dan bahkan kerja keras lebih menjadi-jadi. Akhir bahagia yang disebut-sebut dalam dongeng tersebut semakin kabur untuk saya. Itu karena cerita-cerita tersebut memang hanyalah dongeng, sesuatu yang sulit kita temui dalam dunia nyata. Tapi setidaknya, dalam setiap fase perjuangan hidup yang ada, saya selalu punya kesempatan untuk mengharapkan akhir yang bahagia.

Di negeri ini, akhir bahagia hanyalah dongeng sejak awal hingga akhir. The Myth of “Happily Ever After”. Kebahagiaan terkadang adalah konsep absurd yang hanya dibicarakan oleh para filsuf, yang hanya ada di cerita negeri dongeng. Disini, orang tak peduli lagi apakah dia bahagia atau tidak selama ia mampu mencari uang untuk bertahan hidup.

Kemarin, seorang teman mengabarkan adanya ancaman pemberhentian tenanga kerja di beberapa perusahaan atau pabrik. Alasannya adalah tidak menentunya harga bahan bakar membuat kapasitas produksi pun kurang mampu diprediksi, semenatara daya beli masyarakat menurun drastis. Belum selesai dengan kabar seperti itu, setiap membeli makanan, penjual selalu mengeluhkan kenaikan harga, pengusaha mengeluhkan nilai tukar dan tentu saja, semua berharap mampu melewati seleksi ini dengan kekhawatiran akan kehilangan pencahariannya, setiap saat. Keadaan seperti ini memang jelas sering terjadi, namun yang sekarang, nampaknya lebih menjadi-jadi.

Sementara keadaan terus mencekik rakyat jelata, kaum menengah negara ini bisa jadi tak begitu merasakannya. Ada pula yang peduli namun penuh dengan keterbatasan. Hingga kemarin, ada sebuah pesan digital dari seorang sahabat yang menyadarkan dan menjadikan saya semangat kembali setelah merasa muak dengan segala keadaan yang dibuat pemerintah negeri ini.

“Semoga yang disini, walau gaji lebih dari cukup untuk bertahan di era pemerintahan saat ini tidak jadi apatis. Semoga tetap kritis, karena tidak semua orang seberuntung kita. Ibu-ibu yang membantu mencuci di rumah kita, ibu-ibu yang membantu mengasuh anak-anak kita, ibu yang menjual sayur untuk kita, bapak yang membersihkan taman kita, mereka membutuhkan kita untuk tidak apatis. Janganlah kita karena, “Ah, bahan bakar hanya naik sedikit, tarif listrik naik sedikit dan masih terjangkau” merasa “sudahlah” dan menerima begitu saja. Karena sungguh, jika bukan kita yang mampu mengakses media, merekalah yang susah dan tidak dapat mengakses media untuk menyuarakan.”

Diantara banyak keterbatasan hidup yang juga saya miliki saya semakin belajar sebuah hal. Kebahagiaan asalanya bukan hanya dari sebuah syukur karena kita tahu kita masih punya banyak nikmat disaat orang lain mungkin tak memilikinya. Saya berusaha selesai untuk satu hal tersebut. Kebahagiaan seutuhnya, happily ever after, sebagai manusia yang memiliki kemanusiaan adalah, saat kau melihat orang lain berjuang untuk bertahan hidup, dan kaupun membersamainya untuk berjuang menentang kedzaliman, sekuat apa yang kau bisa. That’s how we feel , The “Happily Ever After” is just not the myth.

empathy