0

Pragmatisme dalam Tubuh Dakwah Kampus…..

Gandhi pernah berkata bahwa ada tujuh dosa sosial yang Meluluh lantakan banyak sendi kehidupan yaitu

1.Kekayaan tanpa kerja
2.Kenikmatan tanpa nurani
3.Ilmu tanpa kemanusiaan
4.Pengetahuan tanpa karakter
5.Politik tanpa prinsip
6.Bisnis tanpa moralitas
7.Ibadah tanpa pengorbanan..

Kita melihat bahwa kehidupan sedikit banyak memang telah luluh lantak oleh ketujuh hal di ata seperti apa yang dikatakan salah satu jenis manusia mulia yang dimiliki bumi ini. Akan banyak kita temui jenis kekayaan yang diperoleh tanpa kerja keras. Jenis manusia yang hidup dari angka-angka yang tertera dalam Wall Street contohnya. Kita juga tahu bahwa sebagian besar kenikmatan dunia yang saat ini ada tak berpihak sedikitpun pada nurani. Dan jauh sebelum tahun ini datang, kita telah mendengar kisah-kisah ilmu yang tak mengandung unsur kemanusiaan, hingga karenanyalah dunia bukan menjadi lebih sejahtera namun menjadi lebih menderita.

Keempat dosa selanjutnya, hampir pasti dapat dengan mudah kita temui dalam sejarah perkembangan manusia di sekitar abad modernisasi. Tepatnya mungkin semenjak diberlakukannya revolusi industri di Inggris di abad 17. Pengetahuan berkembang tanpa diikuti pemahaman karakter yang jelas, hingga sulit dibedakan manakah pengetahuan yang baik dan manakah yang sebenarnya mengelabui. Politik diberlakukan tanpa prinsip yang tegas hingga berkembanglah orientasi kekuasaan di dalamnya. Bisnis yang diberlakukan tanpa moralitas, dan yang terakhir namun tak kalah penting ialah baanyak orang yang mengaku beragama, melakukan ibadah tanpa disertai pengorbanan.

Islam jelas telah mengatakan bahwa ibadah kita kepada Allah meliputi segala sendi dalam kehidupan kita. Ibadah yang dimaksud di dalamnya pun juga berbagai macam bentuknya, ibadah yang menghubungkan kita dengan tuhan (Habluminallah) dan ibadah yang menghubugkan kita dengan sesama manusia (Habluminannas). Semuanya terangkum dalam hal-hal yang kemudian banyak membuat kita berkorban.

Namun benar kata Gandhi, kita wajib bertanya pada masing-masing diri kita tentang pengorbanan kita terhadap agama, terutama dalam posisi kita yang saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di kampus. Dakwah kampus berkembang hingga saat ini, diawali dengan pengorbanan yang luar biasa dari para pendahulu kampus di negeri ini. Di tengah keterbatasan aturan di masa terdahulu, di saat kesulitan fasilitas di tahun-tahun yang dilewati, hampir seluruh pendahulu dakwah kampus ini mampu mempertahankan visi besar mereka  hingga kita menikmati apa yang saat ini ada. Karena barangkali, kita adalah bagian dari visi besar mereka.

Kita tak memungkiri bahwa segala kemudahan yang ada seringkali membuat kita menjadi seseorang yang berpikir pragmatis, berorientasi jangka pendek. Bahkan kata seorang pendahulu dakwah kampus yang kini sudah berada dalm pemerintahan, Mustafa Kamal berkata bahwa organisasi ataupun gerajkan mahasiswa yang ada kini cenderung pragmatis dan agenda yang dilakukan bersifat rutinitas.

Selain itu, yang lebih mengecewakan lagi adalah seringkali juga kita terlalu berkutat dengan hal-hal yang kurang substantif seperti pembahasan perbedaan pola pikir, ideologi dan mungkin hal-hal kecil lain. Dalam perjalanan yang sering saya lalui bertemu teman-teman dakwah kampus dari pelosok negeri, justru banyak perbedaan yang kemudian membuat pola pikir saya menjadi terbuka. Keragaman itu justru bisa dimanfaatkan dalam mencari formulasi baru untuk tujuan yang ingin kita capai. Dan tujuan itulah yang terlebih dahulu kita satukan.

Seseorang yang pernah mengatakan bahwa saat ia keluar dari lingkungan kampus, banyak sekali ia menemui jenis pragmatisme yang berbeda dengan kekayaan ideologi yang dulu pernah ia punya di kampus, dakwah kampus tepatnya. Jawaban saya saat itu adalah bahkan di kampus pun saya banyak menemui pragmatisme dakwah kampus. Bagaimana bentuknya? Bermacam-macam. Jika boleh sedikit saya urai adalah program yang kurang sesuai dengan target tahunan, pembahasan masalh-masalah kecil dalm forum, berkutat dengan perbedaan dan saling menyalahkan dalam hal kebijakan. Dan masih banyak lagi, sesuatu yang jika kita pikir lebih mendalam adalah sesuatu yang sia-sia kita kerjakan.

Dan bagaimana kemudian seharusnya kita berlaku??Pragmatisme itu, akn baik jika ditempatkan pada hal yang sesuai seperti saat kita meyakini bahwa yang kita lakukan adalah benar. Maka kita tak perlu berpikir panjang untuk melakukannya karena pasti akan berdampak baik. Yang jelas kita harus hindari adalah saat ide mulai kita telurkan dalam suatu konsep. Maka pragmatisme tak boleh bermain disini. Analisi kita harus berlaku. Semuanya harus mempunyai tujuan yang jelas sesuai dengan Grand Design yang telah kita buat. Bahkan seharusnya, konsep tersebut melanjutkan dan menyempurnakan konsep selanjutnya. Sudah saatnya, seperti kata Arya Sandi Yudha, dakwah kampus kembali ke asholah (orisinalitasnya) dengan berbagai macam inovasinya. Ini yang kemudian dia sebut energi hayawi, semangat perubahan.

Dan jika kita telah bearlih dari pragmatisme berpikir menjadi insan yang berorientasi visi (vision oriented) maka agaknya kita telah mampu memahami sepenuhnya makna perubahan dan berubah itu. Agar pengorbanan ibadah kita tak tergolong sia-sia dan termasuk dalam tujuh dosa sosial versi Gandhi. Wallahualam.

Dinar Ulfi

Catatan hasil perjalanan jaulah dakwah kampus (pada intinya menuis selain mengungkapkan ide adalh pembelajaran bagi penulis semdiri)

21.02.10

Sumber :

Kisah inspiratif Gandhi

Renovasi DK, Arya Sandiyudha

Ketua Umum PB HMI, Arip mustofa

Ketua Umum KAMMI Pusat, Rijalul Iman

Ketua Kemuslimahan KAMMI Pusat

Ketua FSLDK, Dani Setiawan

Dan hasil dialog dengan teman2 dari berbagai latar belakang