0

Arogansi

Dinar, sekarang ada pada masa-masa pencarian (lagi) tentang hakekat cinta, kasih dan syukur. Bukanlah hal yang mudah ternyata, untuk beratahan dengan kebekuan tekat. Yah,,hampir dua bulan ini Dinar hidup dengan tekat yang beku, tanpa ampun, tanpa permisi dan bahkan penuh ambisi. Beku yang ternyata justru membuat jurang di dalam hatinya terukir semakin dalam.
Sadar bahwa terlahir tanpa arogansi, maka Dinar seharusnya tak layak bersikap arogan sedikitpun. Tapi masa membuat semuanya saling tarik menarik, bagaikan kutub polar yang bersebrangan jenis, rendah hati ataukah arogansi?? Dan semakin sadar, bahwa peperangan ini bahaya adanya. Bukanlah disebabkan oleh adanya cerita musabab, tapi bagaimana kemudian dua kutub tersebut hidup di hati Dinar.
Tahukah ia, selama dua bulan ini, Dinar bahkan mencela setiap asa di dalam hatinya. Saat kemudian cita-cita itu bersemayam di benaknya, kemudian dendam itu juga datang, sebuah arogansi akan keputusan tuhan. Yah,,kita bicara Dinar dengan Tuhan sekarang, sesuatu yang akan menjawab, manakah yang menjadi pemenang diantara dua hal itu.
Tuhan tak berkehendak atas sedikitpun kesombongan manusia. Lantas bagaiamana arogansi pada akhirnya dapat menang,jika manusia memang menjadi pesuruh tuhan?? Jika memang tuhan menghendaki setiap manusia bersikap rendah hati, lantas mengapa kesombongan masih saja dihormati??
Dinar tak merasa kemampuannya ini jauh tertinggal,tapi dia terkadang lupa, cukuplah berserah maka kau akan tenang. Dia menuntut tuhan melakukan dan mengabulkan keinginannya, kehendaknya, tanpa mau tahu bagaimana kehendak tuhan itu sendiri berlaku. Adakah ini dzalim terhadap tuhan namanya?? Adakah ini mencederai tuhan namanya?? Adakah ini arogansi namanya?? Maka sebagaimana Dinar pada akhirnya, pertaubatan menjadi jalan terkahir.
Ya, pada akhirnya Dinar mengingat. Dua bulan tadi memanglah masa kontemplasi paling sulit. Masa kontemplasi bukan hanya pada saat dia sadar dia telah mencederai keputusan tuhan, namun juga kontemplasi ketika hidupnya seringkali tak menjadi berguna di mata manusia. Tapi seharusnya dia berhati-hati, bahwa yang terakhir tersebut, bisa saja juga menyakiti tuhan. Sebab tuhan pernha berkata, tak ada sesuatu yang sia-sia yang dicipyakanNya di dunia. Sehingga jikalau dia sadar, dia kan benar-benar dapat mengingat, seberapa jauh orang lain ternyata cukup bahagia atas keberadaannya.
Cukuplah dinar menyadari dan seharusnya tak membiarkan lagi, bahwa arogansi in pernah hidup selama dua bulan di tempat yang sunyi bernama hati. Cukuplah ia sadar bahwa seharusnya ini menjadi aibnya di mata tuhannya. Dan semoga saja dia menadi sadar, bahwa seringkali berprasah itu sungguh menenangkan, tanpa peduli lagi bahwa hidup itu sola-olah adalah kompetisi. Tapi dalam diskusi hatinya dengan tuhanNya, seharusnya segalanya bisa menjadi tampak bermakna, utnuk sebuah arogansi sekalipun.

Cukup Sudah!! Begitulah pada akhirnya Dinar mendesah. Mendesah penuh kekuatan tekat, dan bukannya kebekuan tekat.

aku dan kamu seperti teduh dan hujan. pernahkah kau mendengar kisah mereka?? teduh dan hujan ditakdirkan bertemu, tapi tidak bersama dalam perjalanan

22.08.11