0

The Call

Banyak hal yang dapat menjadi pengingat dalam hidup yang singkat ini. Agar sejauh apapun langkah kita berbelok dari tempat yang seharusnya, kita dapat kembali. Agar sedalam apapun kita jatuh dalam lubang kelalaian, akhirnya kita dapat menanjak naik lagi. Kitab suci, sahabat, buku, musik dan film adalah rupa-rupanya. Dan salah satu pengingat termanjur bagi saya adalah telepon dari ibu.

Agustus 2007, adalah pertama kalinya saya melangkahkan kaki keluar dari rumah, untuk melihat dunia yang lebih luas lagi dari sekedar tempat tinggal. Setelah itu sampai dengan sekarang, saya hidup terpisah dengan keluarga. Dan sejak itulah telepon dari ibu selalu mengisi hari-hari saya. Tidak setiap hari, tapi sering.

Ibu sering menelepon saya, namun saya sendiripun tidak sesering itu untuk menelepon rumah. Karena sejujurnya, salah satu kelemahan paling fatal saya adalah malas untuk mempermanis sebuah ikatan. Sehingga setiap hubungan yang saya jalin biasanya hanya berjalan natural, tidak terasa begitu manis atau mengharukan tapi seringkali menyenangkan.

Ibu senang bercerita, oleh karenanya punya banyak teman. Namun pada saya, semenjak kami tak lagi tinggal berdekatan, sering ibu menceritakan hal-hal yang berisi curahan hatinya. Tetangga ini yang meminta uang padanya, tetangga itu yang menolongnya, bapak begini, adik-adik begitu, dan lain sebagainya. Hingga suatu saat saya menyadari, dalam banyak pembicaraan kami, justru saya lah yang menjadi lebih dewasa. Saya lah yang lebih sering menenangkannya, memberinya nasehat, dan lebih sering menjadi pendengar setianya. Tapi mungkin seperti itulah takdir anak sulung perempuan, diciptakan untuk menjadi teman ibunya.

Hari inipun begitu. Sakit bapak sedikit kambuh, dan saya bilang, itu asalnya dari pikiran dan meminta agar bapak lebih rileks. Salma dibully teman-temannya dan guru membuat harga dirinya lebih terluka karena memanggil ibu tanpa menyelesaikan permasalahan antar murid terlebih dahulu. Saya bilang, guru juga perlu diberi masukan untuk memahami emosi anak. Ini dan itu, saya yang banyak mendengar, saya yang memberi masukan.

Lelah juga saya rasakan ketika dalam telepon ibu banyak mengeluh ataupun bertanya macam-macam. Ya, sesungguhnya saya memang tidak begitu suka ditanya-tanya. Hingga kadang dalam pembicaraan telepon kami, saya menjawab dengan malas. Ibu tidak pernah marah. Yang dilakukan lalu menyuruh saya istirahat.

Telepon ibu, memberi warna dalam pribadi saya. Saya belajar menjadi dewasa di hadapan orang tua. Menjadi pendengar yang baik walaupun bosan dengan topik. Memahami peran menjadi sulung bahwa, kadang dengan segala keterbatasan yang saya miliki sebagai anak, saya hanya perlu mendengar dan mengerti kelelahan mereka. Terlebih dari itu, selalu menjadi pengingat saat saya mulai lalai dan sibuk dengan diri sendiri, bahwa saya masih mempunyai tanggung jawab terhadap rumah. Bapak dan ibu, terlepas dari segala kelemahan dan kebaikannya, telah berusaha sekeras mungkin menunaikan tanggung jawab pada yang telah dititipkan Allah kepadanya.

Allah, dalam sedikitnya keikhlasan yang kuberikan, semoga Kau terima, amalku berbakti pada panggilan-panggilan itu.

image

You’re the meaning in my life
You’re the inspiration
You bring feeling to my life
You’re the inspiration
-You’re The Inspiration by Chicago-
( It supposed to be a romance ballad song. But who cares? )

Iklan
0

Ada “tempat aku pulang”
Bersyukur pernah tumbuh di tempat yg sehat
Yuk #visitMadiun

Source: detik travel,kak nobie&kak ajeng – with Nobie Sahid and syarifah

View on Path

0

Watching Finding Vivian Maier

Agen real estate, John Maloof berada di sebuah gudang yang dilelang utk mencari buku2 tua dan menemukan 100ribu negatif film tersimpan di dalamnya. Ia kemudian mencetak & mengunggah 100 diantaranya dan mendapat reaksi luar biasa dr netizennya. Beberapa fotografer mengatakan sebagai master piece dan disandingkan dgn karya fotografer ternama. Maloof mencari pemilik karya2 tersebut yg kemudian ia ketahui adalah seorang caregiver.

Merupakan sebuah photography documentary film yg menjadi nominasi banyak festival film internasional, karya Vivian Maier yg diambil dalam kurun waktu 1950-2000 ini sangat worth to be seen bagi mereka yg menggemari street photography

#review

Watching Finding Vivian Maier

View on Path

0

Jiwa Yang Tenang

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang ada Dia di dalamnya. Jika sudah tersambung dengannya, maka itu sudah. Namun tak berhenti disitu. Dalam ketenangan jiwanya, beliau tetap meminta kepada Allah, memohon kesejahteraan bagi manusia-manusia pengikutnya.

Sering dalam hidup ini, sulit kita menjadi sesosok jiwa yang tenang. Ketergesaan, kekhawatiran & ketakutan yang menutupinya. Banyak urusan dalam hidup, kita tak mampu tersambung dengan Tuhan, tak mampu menghadirkannya dalam jiwa kita yang rapuh dan hampa. Semua tersebab ketakutan kita sendiri terhadap apa yang akan terjadi. Seperti kata para alkemis, rasa takut terkadang lebih menyiksa daripada perjalanan itu sendiri.

Tersambung dengan Tuhan, itulah adalah inti dari segala ketenangan. Mencari dan menemukannya adalah sebuah perjalanan. Jika sambungan itu terkadang putus, tak diperkenankan kita untuk menjadi putus asa.

Dimana ada Tuhan, disitulah cinta dan ketenangan bermuara.

2.3.15
Perjalanan malam dengan senja utama
Firasatku by Piyu ft Rendi Pandugo