0

Bentang’s Birth Story : Kelahiran Normal Letak Sungsang

Saya menjalani kehamilan pertama ini dengan baik-baik saja. Tidak banyak memiliki keluhan berarti. Hanya morning sickness yang tertahankan dan pernah sekali mengalami infeksi saluran kencing, hipotensi, dan flu yang kesemuanya sembuh dengan perbaikan pola makan dan istirahat. Saya menjalani aktivitas seperti biasa, makan dengan biasa bahkan beberapa kali bepergian dengan pesawat. Hamil memang berat. Namun bisa jadi menyenangkan. 

Saya baik-baik saja dan cenderung lupa diri, sampai kemudian bidan menunjukkan kepada saya bahwa pada kehamilan trimester terakhir posisi janin saya masih belum optimal. Selama ini, denyut jantung dan kesehatan bayi dan saya terasa sempurna. Satu hal yang terjadi tidak sesuai dengan bayangan telah meruntuhkan segala kepercayaan diri saya. Tentu saja sebagai orang yang belum mempunyai pengalaman saya dilanda ketakutan, kekhawatiran, dan stress jika terjadi sesuatu pada janin saya. Sampai akhirnya saya bertemu dan belajar mandiri tentang filosofi Gentle Birth, yang atas izin Allah telah menjadikan saya lebih kuat, lebih ikhlas, dan lebih bahagia terlepas dari ketidaksempurnaan kondisi saya.

Begini kiranya cerita tentang proses kelahiran Bentang Cakrawala, anak pertama kami, yang memilih jalan kelahirannya sendiri.

Dua Bulan Sebelum Kelahiran

Usia tersebut adalah saat saya mengetahui bahwa posisi janin masih belum optimal. Seharusnya di usia tujuh bulan, janin mulai memosisikan dirinya mendekati jalan lahir yaitu kepala berada di panggul rahim. Namun janin saya masih dalam keadaan melintang dan cenderung menggerakkan kepalanya ke atas, dikatakan letak sungsang (letsu).

Sesungguhnya istilah sungsang amat menakutkan bagi saya karena terasa seperti sebuah keabnormalan. Padahal ketika saya mulai mencari tahu, sekitar 30-40% kehamilan mempunyai kemungkinan untuk sungsang. Sampai dengan usia 34 minggu, janin masih mempunyai kemungkinan memutar posisinya. Jadi letak sungsang hingga usia 36 minggu sebenarnya bukan sebuah keabnormalan. 

Saya melakukan treatment beberapa gerakan yoga yang fokus untuk menciptakan ruang agar janin bisa memutar seperti cat pose, table pose, breech tilt, dan gerakan menungging lainnya. Saya juga mulai memperbanyak jalan cepat di pagi hari, melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mengepel, menggosok kamar mandi dengan lebih intens, dan (yang ini percayalah) saya mengunduh video-video zumba untuk ditirukan di rumah. Namun hingga hari-hari menjelang berakhirnya trimester ketiga, posisi janin saya masih tetap sungsang. Di sini segala perasaan saya diuji. Hingga melalui Gentle Birth, sedikit demi sedikit saya belajar untuk menerima keadaan yang tidak sempurna dan mulai membangun optimisme untuk tetap bisa melahirkan secara normal alamiah. It triggered me a lot.

Senin, 12 Maret 2018

Saat memeriksakan kehamilan, bidan mengatakan bahwa posisi janin masih letsu. Saya diUSG dua kali untuk melihat posisi janin dan sempat dilakukan Vaginal Touch (VT) untuk melihat jalan lahir saya. Bidan mengatakan bahwa jalan lahir saya cukup bagus, panggul besar, dan vagina mulai mengalami penipisan seperti sewajarnya menjelang persalinan.

Hanya, ketika Bidan mengatakan sepertinya janin akan sulit berputar (waktu itu usianya 35 minggu), ingin sekali saya mengingkarinya. Namun kemudian Bidan mengatakan sebuah skenario yang baru kali itu saya dengar, kelahiran dengan pantat keluar lebih dulu.

Saya hanya bertanya “Ha, memangnya bisa bu? Saya kira kelahiran normal itu hanya bisa jika kepala lebih dulu keluar”

Bidan menjawab bisa dan sedikit menjelaskan tentang tekniknya yang sama sekali tidak saya pahami. Sepulang dari situ, saya merasa punya harapan lagi.

Selasa, 20 Maret 2018

Atas saran Bidan, saya berkonsultasi ke dokter tentang kondisi saya. Saya mendatangi dokter dimana saya biasa memeriksakan diri. Namun di luar dugaan, pertemuan hari itu tidak menghasilkan apa-apa selain bahwa perasaan saya terjatuh sekali lagi.

Sampai dengan hari ini, saya telah membangun optimisme yang kuat untuk dapat melahirkan secara normal. Kenapa? Sesederhana karena saya ingin mengikuti fitrah semampu saya. Bagaimana nanti Tuhan menentukan jalan kelahiran bayi saya, saya tak ambil pusing. Saya melakukan diet agar berat badan janin tidak terlalu besar untuk bisa memutar, menungging 30 menit selama 5 kali dan lebih dalam sehari, menjaga tekanan darah dan cairan ketuban, serta yakin tubuh saya mendukung untuk sebuah kelahiran normal. Namun, dokter–setelah meng-USG saya dan melihat janin saya letsu, serta air ketuban sedikit — justru menanyakan hal lain: “berencana lahiran dimana dan punya BPJS atau tidak?” Walaupun mungkin relevan, itu bukanlah jenis pertanyaan yang saya harapkan.

Suami saya dengan sangat lapang dada hanya berkata pada saya “dokternya baik, tidak langsung menyuruh kamu untuk SC”. Karena iya, sebagian besar janin letsu, terlahir melalui operasi sectio terlepas dari seberapa besar kemampuan dan kemauan ibunya untuk melahirkan normal.

Jum’at, 23 Maret 2018

Adalah hari terberat saya. Saya harus mendengar bagaimana teman-teman berkisah tentang hari-hari menjelang persalinan saat janinnya telah memposisikan dirinya dengan optimal. Berkali-kali saya meyakinkan diri bahwa kami akan baik-baik saja, sampai akhirnya, di depan suami saya menangis menumpahkan segala ketakutan dan kekhawatiran akan persalinan yang menurut perkiraan terjadi minggu depan.

Mulai hari itu pada janin saya berbicara, “Dek, adek tidak harus berputar jika memang itu sulit. Adek cari saja posisi yang optimal menurut adek. Selanjutnya kita berdoa pada Allah semoga dimudahkan untuk bisa menjalani persalinan alami.”

Sabtu, 24 Maret 2018

Hari ini saya memulai latihan fisik yang cukup intens. Pagi jam 6.30 saya keluar rumah, berjalan cepat naik turun bukit sebanyak lima kali, pergi ke tukang sayur yang jaraknya tidak terlalu dekat dengan rumah, dan pulangnya melakukan meditasi dan yoga. Terhitung saya melakukan aktivitas fisik dari jam 6.30 sampai 9.30 tanpa henti. Sesuatu yang bahkan tidak saya lakukan ketika tidak hamil.

Janin adalah makhluk hidup. Bayi saya mampu mendengar apa yang saya katakan dan merasakan segala perasaan saya. Saya melepaskan segala gelisah dan takut hari itu dan mulai menuliskannya dalam jurnal. Hari itu, bayi saya melakukan tugasnya.

22.30 Setelah makan malam di luar, saya merasakan sakit perut melilit seperti nyeri haid. Karena masih timbul tenggelam, saya mengira itu adalah kontraksi palsu.

Minggu, 25 Maret 2018

Hari Ketika Dia Dilahirkan Sebagai Manusia

3.18 Saya terbangun dari tidur, merasakan perut yang sangat melilit. Berpindah-pindah tempat dan menungging. Sakit perut seperti nyeri haid timbul tenggelam.

3.47 Setelah tertidur beberapa saat dan terbangun lagi, saya melakukan sholat malam, hanya mampu dua rakaat ditambah witir sekali. Berikutnya buang air besar merasa lebih baik.

7.30 Saya dan suami melakukan workout minggu pagi. Suami jogging dan saya hanya bisa berjalan mengelilingi taman sekali, beberapa kali terhenti karena sakit perut. Saat duduk pun sakit perut saya tidak juga membaik dan saya belum terpikir bahwa itu yang disebut dengan kontraksi.

Pulang workout saya berkeliling kota dengan suami, sarapan dan tetap bercanda tertawa-tawa walaupun merasakan sakit perut. Suami mengajak saya ke bidan tapi saya bilang “ntar aja”. Padahal rasanya sudah seperti ditusuk-tusuk dan diplintir.

9.30 Sampai rumah saya melihat lendir kecoklatan di celana dalam saya. Kemudian terpikir untuk mendownload aplikasi kontraksi nyaman. Benar saja, ketika dihitung, aplikasi menyarankan saya untuk segera ke dokter atau bidan terdekat. Suami juga mengajak tapi saya bilang nanti saja setelah yoga biar sekalian keluarnya karena masih bisa ditahan.

Melihat tanda-tanda di buku saya mulai yakin apa yang saya rasakan ini kontraksi palsu. Di rumah, hanya bisa tiduran, nungging, main gymball dan bercanda saja bersama suami. Pekerjaan rumah dan memasak yang sudah direncanakan tidak terpegang sama sekali.

15.00 Saya melakukan prenatal gentle yoga. Pada beberapa gerakan saya tidak bisa mengikuti karena his dan hanya bisa menunggging. Bidan instruktur memijat tulang ekor saya dan saya merasa lebih baik. Saya melanjutkan yoga hingga selesai tapi selanjutnya rasa sakit menjalar hingga tulang ekor saya.

Bodohnya saya bertanya pada bidan instruktur, kapan sakitnya selesai kalau ini kontraksi palsu. Dia tertawa dan berkata “justru kalo semakin sakit dan intens itu semakin baik. Berarti dedek bayi sudah kasih sinyal pengen keluar mbak.” Instruktur yoga kemudian menyarankan saya untuk segera memeriksakan diri ke bidan terdekat. Saya masih berjalan menuju mobil dengan menunduk dan tertatih-tatih.

17.30 Sepulang yoga, saya dan suami langsung menuju bidan tempat saya biasa memeriksakan diri. Sambil tetap menahan rasa sakit yang semakin hebat dan intens. Sesampainya di sana, saya yang meringis kesakitan tapi tertawa-tawa diminta berbaring dan langsung dilakukan VT pada saya. Asisten bidan mengatakan bahwa saya sudah mengalami pembukaan 5 dan mereka keheranan karena saya masih bisa berjalan sendiri dan bercanda. 

Benar saja ketika saya melihat celana dalam, lendir darah merah sudah semakin banyak. Sepertinya, yoga membuka panggul saya sehingga adek bayi semakin bisa memasuki jalan lahir.

Bidan mengatakan akan merujuk saya ke RSUD terdekat. Meminta saya langsung menuju kesana, jangan pulang karena ini tinggal menunggu pecah ketuban.

18.15 Saya dan suami sampai ke RSUD tanpa sempat pulang ke rumah mengambil perlengkapan melahirkan dan langsung menuju IGD. Masih tetap berjalan dengan menunduk dan tertatih-tatih kemudian menuju meja registrasi dan mendaftar seperti biasa.

Ketika perawat tahu saya hendak melahirkan dan berjalan menunduk, ia memeriksa tekanan darah saya dan meminta saya berbaring di kasur dorong. Saya menolak dan memilih berjalan ke ruang tindakan. Karena berbaring lebih terasa menyakitkan. Perawat keheranan dan membiarkan saya berjalan.

18.30 Di ruang tunggu tindakan, karena tidak membawa pakaian ganti satupun, saya berganti dengan sarung pasien pinjaman rumah sakit. Saat itu suami saya sedang mengurus admnistrasi dan perawat sedang mengambil sesuatu, ketika sepuluh menit kemudian perut saya melilit hebat seperti ingin diare. Perlahan-lahan saya mengubah posisi dari berbaring ke menungging untuk meredakan rasa sakit tapi sakit yang saya rasa semakin hebat. Saya terus menungging dan akan beranjak hendak ke kamar mandi ketika rasa sakit pada puncaknya dan tiba-tiba “pyokkkk”. Saya melihat cairan lendir kehijauan keluar dari vagina. 

18.45 Tadinya saya pikir itu feses sampai ketika perawat panik dan berteriak “ketubannya pecah”. Saya dibaringkan dan dibawa langsung ke ruang persalinan. Rasa sakit kian tak tertahankan membuat ingin berteriak. Tapi saya ingat, berteriak tidak menghilangkan rasa sakit, menarik nafas panjang adalah jawabannya.

Di ruangan bersalin, bidan hendak melakukan Episiotomi (perobekan jalan lahir) pada saya, namun tidak jadi karena ia melihat ada pantat yang mulai nampak di jalan lahir. Episiotomi tidak sempat dilakukan. Bidan hanya berpesan pada saya ” Ibu, karena ini pantat yang lebih dulu keluar, tidak seperti biasanya, ibu harus lebih semangat mengejan” 

Bidan yang sedikit lucu, membuat saya tidak merasakan ketegangan apapun. Saya berusaha berfokus pada nafas, mengejan sekuat tenaga -yang di tengah-tengah saya mulai kehabisan daya- dan memperhatikan afirmasi suami saya “ayo pik terus pik, kamu kuat. Anaknya udah mulai keluar.” Saya yang hampir kehabisan energi dan sempat terlintas rasanya ingin menyerah langsung mengingat pelajaran selama yoga, tarik nafas panjang dan keluarkan.

19.31 Setelah beberapa kali mengejan dengan sekuat tenaga, Bayi saya terlahir ke dunia, dengan mengeluarkan pantatnya lebih dulu, kaki baru kepala. Detik dimana ia diletakkan di perut saya pertama kalinya, memberikan pengalaman paling berharga bagi saya tentang kelahiran anak manusia. Dia, memilih jalan lahirnya sendiri.

Bidan berkata pada saya bahwa ia menyukai proses persalinan saya. Ia berterimakasih karena saya tidak meronta dan mengejan dengan tenang. Setelah kelahiran pun saya juga masih sempat tertawa.

19.32-20.45 Setelahnya saya mendapat intervensi paling menyakitkan yang pernah saya alami dalam hidup. Yaitu saat melahirkan plasenta dan saat vagina saya dijahit. Plasenta saya amat lengket di dalam perut. Bidan mengeluarkannya dengan cara manual, memasukkan tangannya ke dalam vagina dan menekan perut saya. Beberapa kali saya meronta karena tidak dapat menahan sakitnya. Padahal suami dan bidan sebelumnya mengatakan bahwa ambang batasa rasa sakit saya termasuk tinggi. Jika ada yang disebut dengan trauma melahirkan, maka bagi saya melahirkan plasenta yang tertinggal di rahim inilah yang menjadi traumanya. Ini adalah bagian dari ketidaksempurnaan kondisi yang secara ikhlas juga saya terima.

Setelah selesai jahitan dan semuanya, suami mendatangi saya. Dia bilang telahn menghubungi orang tua kami di Jawa dan tentu saja mereka terkejut sekaligus tak bisa berkata apa-apa. Kami saling menatap satu sama lain, tertawa bersama dan saling bertanya “jadi ini tadi kita melahirkan? berdua saja? tanpa persiapan apa-apa?” kemudian kami saling terdiam dan memandang, mengucap terimakasih pada kuasa Tuhan. Hari itu, kami menjadi manusia baru.

..

Bentang Cakrawala, Darinya Kami Belajar Percaya

Saya menulis ini disela-sela waktu menunggu bayi saya dirawat di ruang NICU. Ini adalah hari keenam, hari dimana kami mulai diuji dengan kelelahan dan frustasi. Dokter tidak mengatakan banyak selain sesuatu yang -sekali lagi- menjatuhkan perasaan kami. Namun setiap kami mulai merasa tak berdaya, kami akan memandang satu sama lain, saling membelai pipi dan tangan dan berikutnya tersenyum bersama. Romantisme semacam ini sungguh menguatkan kami, mengingatkan kami pada keberpasrahan dan tak terlupakan.

Bentang Cakrawala, begitu kami memanggilnya sejak dalam kandungan. Adalah sebuah doa terhadapnya agar menjadi seseorang yang mengerti, berpengetahuan dan bijaksana. Namun tak pernah terpikir bagi saya, bahwa dia akan mengajarkan sebanyak ini rasa pada kami, diantaranya yang terpenting adalah rasa percaya.

Dia memilih letak sungsang, saat ilmu pengetahuan mengatakan letak terbaik bagi janin bukanlah itu. Dia memilih terlahir normal, saat setiap orang meragukannya untuk bisa lahir seperti itu. Dia memilih mengeluarkan bagian tubuh bawahnya lebih dulu, bahkan ketika itu sangatlah penuh resiko. Dia tak membiarkan saya berlama-lama dengan rasa sakit dengan mempercepat proses kelahirannya. Dia adalah segala kepercayaan saya terhadap skenario Tuhan -apa yang telah kita usahakan, Tuhan tidak pernah tidur terhadapnya-

Bentang Cakrawala, saat tulisan ini saya tulis, ia sedang berjuang sendirian di ruang NICU. Tapi sesungguhnya ia tak sendiri, ibunya juga berjuang, bapaknya juga berjuang, orang-orang disekitarnya tak henti mendoakannya. Kami akan terus berjuang, berdoa, menguatkan hati lepas dari segala diagnosa medis. Sebab dengan beginilah kami makin tersambung dengan cinta Illahi.

Samarinda, 31 Maret 2018

Ibu Bentang

Iklan
0

Sajak Tujuh Hari

Tujuh hari dek, sejak kamu merasakan terang dunia dari rahim yang gelap nan tenang

Tujuh hari pula dek, bahkan tangan ibu belum mampu mendekap hangat badanmu yang lembut dan menenangkan

Tujuh hari ini dek, wangi baumu menyeruak diantara mimpi-mimpi malam ibu

mengantarkan kerinduan tak berkesudahan

yang pekat, kuat dan hangat

Beginilah dek, selama tujuh hari kita telah berjuang bersama

Setelah bulan-bulan yang berat namun menyenangkan kita belajar bersama

Kini pembelajaran menghampiri kita lagi

Kau kuat, ibu tau

Kau bersabar, ibu yakin

Hanya saja, rindu kadang melebihi kadarnya

Jika sudah begitu, tak ada lagi kuasa selain kuasa Tuhan

Jika doa ibu mampu mengantar kekuatanmu, maka pada Tuhan, dalam tangis-tangis kelemahan

ibu berdoa agar dikumpulkanNya kita segera, di rumah yang diiringi berkah

dan kesempatan untuk mengeja sajak-sajak ilmu tentang kehidupan

Samarinda, 1 April 2018

Untuk Bentang,

Di hari ketujuh dia di nicu

0

Maternity Journey

Saya dan Arief menikah setelah melalui hanya dua kali pertemuan. Sesaat setelah kami menikah, kami harus menjalani kehidupan awal pernikahan di sebuah kota -tempat Arief berdinas-yang kami berdua belum mengenalnya sama sekali, Atas kehendak Tuhan, saya diberi anugrah kehamilan sebulan setelah kami menikah, itu berarti, saya tidak melalui periode kosong. Membangun kehidupan baru dengan orang yang belum sepenuhnya dikenal (tentu saja walaupun dalam banyak sisi kami sangat mirip, kami tetap perlu beradaptasi), kota asing dan kehamilan yang datang lebih kepada begitu tiba-tiba, membuat saya kembali pada titik dimana saya perlu menemukan diri saya kembali.
Arief selalu berkata, menikah artinya kita siap menjadi orang tua, terlepas dari ia pun tidak menyangka akan secepat ini. Beberapa orang terdekat kami sedikit terkejut, beberapa terpana dan mengatakan betapa bahagianya kami diberi kehamilan cepat saat orang lain begitu lama menanti. Tapi berbagai lintasan pikiran di kepala saya kala itu membuat saya sulit merasakan rasa bahagia yang membuncah walaupun hari-hari tetap kami lalui dengan penuh tawa. Perubahan fisiologis nyatanya bukanlah sekedar sakit yang dilalui kemudian sembuh. Pada banyak sisi, it hitted me so hard.

Saya menjalani trimester pertama kelahiran di sebuah rumah kontrakan petak yang panas, bau selokan dan kamar mandi yang menggenang karena bertanah miring dan letak lubang pembuangannya di bagian atas. Itu adalah bagian ketidaknyamanan, tapi bukan itu yang membuat pikiran saya sering kalut. Senyaman apapun rumah, barangkali pada tiga bulan pertama setiap ibu hamil akan dilanda kekalutan. Perubahan fisiologis dari seseorang yang amat bugar menjadi orang dengan masuk angin yang tak sembuh-sembuh, pusing kepala yang mennjadi teman, muntah yang tiba-tiba menjadi kebiasaan adalah rangkaian perjuangan yang tidak mudah untuk dihadapi. Dan pada fase ini, ya, saya sering mengeluh. Saya sering berkata bahwa rasanya seperti sakit tapi tidak tahu kapan kamu akan sembuh.

Sesuatu kemudian mengalihkannya ketika disini saya mulai punya teman (untuk pertama kalinya saya bergaul dengan perkumpulan ibu-ibu) dan mulai tahu tempat-tempat menarik untuk didatangi. Walaupun masih diliputi morning sickness, saya beberapa kali mengikti Arief pergi ke luar kota. Hingga puncaknya di minggu kedelapan saya terbang ke rumah orang tua di Jawa (saya di Samarinda) melalui rute Samarinda-Balikpapan-Bandung-Depok-Madiun-Surabaya-Balikpapan-Samarinda dalam waktu sepekan. Sangat melelahkan, namun di luar dugaan, mual dan pusing saya mereda, Saya merasa sehat dan terlihat lebih sehat dari beberapa orang biasa yang kelelahan.

Lamat-lamat mulai saya sadari bagaimana tubuh ini dan janin saya merespon banyak hal. Perjalanan menjadi ibu sedang mendatangi saya. Hati saya mulai berdegup ketika melihat foto hasil USG menandakan ada kehidupan lain daam tubuh saya. Dan saya berterima kasih padanya, yang saat itu baru sebesar buah anggur karena telah sangat kooperatif dengan tubuh dan keadaan saya. Begitulah sedikit-sedikit saya menumbuhkan rasa syukur saya, tidak serta merta memang. Saya belajar mengikhlaskan apa yang terjadi pada tubuh saya dan begitulah rasa cinta terhadap janin saya bertumbuh menjadi doa-doa dan pengharapan.

Unable to perceive the shape of you
I find you all around me
Your Presence fills my eyes with your love
It humbles my heart
For you are everywhere

-The Shape of Water-

0

Menemukan Diri (Kembali)

Jika ada banyak hal yang tak bisa diperkirakan terjadi, bagi saya itu banyak terjadi di tahun ini. Puncaknya, barangkali adalah pada akhirnya saya menikah dengan seseorang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya, namun mengenalnya adalah seperti melihat kepada diri saya sendiri. Adalah ketentuan Tuhan jika waktu membawa kita menemui seseorang yang begitu serupa dengan diri kita sendiri dan sebaliknya. Keduanya bisa berarti berkah ataupun ujian. Orang yang menikahi saya itu, adalah definisi teman hidup terbaik yang diberikan Tuhan kepada saya, disaat saya berkali-kali gagal menemukan manusia seperti apa yang saya inginkan dan butuhkan.

Takdir tidak pernah berkhianat terhadap mereka yang bersungguh-sungguh terhadap dirinya sendiri. Setidaknya itulah yang coba saya simpulkan sendiri tentang bagaimana setiap fase membawa pembelajarannya terhadap diri. Kegagalan demi kegagalan membawa saya, dan mungkin manusia pada dasarnya, untuk pergi mencari “jalan pulang’, perjalanan untuk menemukan diri saya kembali. “Jalan pulang” itulah yang membawa saya pada tempat, manusia dan peristiwa yang tak pernah saya duga sebelumnya. Hidup menyediakan banyak kejutan bahkan ketika kita belum benar-benar merencanakannya. Itulah barangkali nilai dari sebuah keberpasrahan.

Sebelumnya, seperti orang kebanyakan, saya memilih menghindar dan membenci untuk menghadapi situasi dan pertanyaan yang menjemukan.

Saya tak pernah punya pekerjaan yang dianggap bagus dalam ukuran masyarakat, dan lebih memilih menghindar ketika ditanya “pekerjaanmu apa?”

Saya tak pernah terlibat hubungan dengan lawan jenis yang membuat saya tampak atraktif dalam kacamata sosial, sehingga lebih banyak menyembunyikan diri karena risih dengan pertanyaan, “kapan menikah?”

Tapi Tuhan membukakan jalan pembelajaran bagi saya. Buku, manusia dan waktu adalah yang telah banyal membantu saya, menemukan diri saya kembali, yang baru dan mudah-mudahan lebih baik. Untuk memilih berdamai daripada membenci, untuk memilih mengikuti daripada melawan. Pada contoh contoh itu misalnya, Saya akan jelaskan tentang pekerjaan yang telah membentuk saya menjadi manusia yang lebih berguna daripada hanya penyebutannya saja pada orang-orang yang bertanya, saya meminta doa dengan setulus-tulusnya pada orang-orang yang menanyakan tentang takdir pernikahan saya, dan banyak hal lain. Tentu saja, disertai dengan doa orang tua.

Sekarang, ketika waktu menghadapkan pada kejutan-kejutan lain, duduk dan tenanglah. Kau akan segera temukan dirimu yang baru dan baru. Dan Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu.

Trading Patience – Time

Samarinda, 121017
Diantara waktu

0

Di Tempat Baru

Di tempat yang baru, manusia mengurai rasa, antara kenangan, harapan dan sedikit banyak tentang ketakutan. Disela-selanya, selalu ada sudut padang baru yang tercipta.

Sudah lebih dari dua minggu ini saya tinggal di tempat baru, sebuah kota di timur Kalimantan, Samarinda dan menjalani peran sebagai ibu rumah tangga penuh waktu. Dua hal yang dulu pernah saya bayangkan tapi tentu saja menjalaninya adalah hal yang berbeda dari membayangkannya. Tempat dan kehidupan yang baru terkadang memberimu semacam kebingungan dan ketakutan, hal manusiawi yang sewajarnya dialami manusia sebagai bagian dari perjalanan rasa.

Di Samarinda setidaknya selama dua minggu ini telah menunjukkan betapa kota ini begtu damai pada kami para pendatang. Mungkin karena sebagian besar diantaranya adalah juga pendatang. Dsini, komoditas tidak berharga murah, namun orang-orang tak pernah marah oleh semua yang serba mahal itu.

Seorang supir angkot ( disini disebut taksi) pernah beberapa kali meminta maaf pada saya karena menunggu penumpang tambahan selama setengah jam agar bisa berangkat, tanpa dia tahu, bahwa saya pernah kenyang menunggu dua setengah jam hingga angkot penuh untuk bisa berangkat selama di Surabaya. Di pasar ketika saya tak tahu dan membeli barang secara eceran di toko grosir, pedagang memberi tahu pada saya dimana dan cara bagiamana saya harus membelinya, tanpa marah-marah, apa yang barangkali jarang sekali saya dapat selama di Jakarta. Satu saat ketika hendak ke masjid di subuh hari, suami bercerita pernah juga dtawari tumpangan motor ke masjid yang hanya berjarak sekitar dua ratus meter itu.

Kebaikan-kebaikan sederhana semacam itu, membuat saya melihat kedamaian di mata orang-orang dsini dan mengkilasbaliki hari-hari saya hidup di sekitaran Jakarta. Jakarta kota yang marah, mungkin tidak tapi itulah memori yang tergambar di kepala saya. Banyak hal. Jalanan, pekerjaan, makanan, tetangga, dan semuanya. Saya ingat bagaimana saya ditegur dengan begitu kerasnya karena tidak menutup portal komplek dan bagaimana tetangga bisa menjadi sangat emosional karena permasalahan sesederhana itu. Saya ingat bagaimana menjadi pejalan kaki yang diiringi klakson-klakson mobil dan teriakan anak-anak belum cukup umur yang mengendarai motor. Banyak hal disana yang membuat saya berkali-kali bersumpah untuk menjadikan diri saya dan anak-anak saya kelak tidak seperti beberapa perilaku mereka. Namun tetap saja, hal-hal itulah yang menidik kami untuk kuat, untuk bertahan dan untuk bersabar.

Samarinda bukanlah kota yang atraktif, tidak banyak yang menarik disini. Tapi saya belajar melihat tempat bukan lagi dari segala hal bersifat fisik di dalamnya. Sehingga pertanyaan betah atau tidak betah tidak lagi menjadi penting. Saya percaya setiap tempat yang kita singgahi selalu memberikan cerita, bagaimana membuatnya menjadi sebuah pembelajaran adalah pilihan kita. Disini, pelajaran pertama yang saya dapatkan adalah ketenangan dan keikhlasan.

The Absence of Strong Emotions (Cr.pic. Arief Kurniawan)

0

Menemui Doa

Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya – Goethe, yang disitasi oleh Jostein Gaarder dalam Dunia Sophie-

Begitu saja kiranya kau mengkilasbaliki waktu. Selalu ada bayangan tentang hari-hari di masa lalu ketika kau disesaki mimpi buruk berkepanjangan dan bangun menyesaki pagi, siang juga malam. Kau adalah manusia terlalu biasa yang perlu hilang dan tenggelam diantara riuhan takdir dan teriakan-teriakan tentang ambisi. Hidup, bagimu pada saat itu adalah tentang bertahan, agar tidak jatuh, agar tidak hilang dan agar tidak tenggelam.

Pagi ini, kau menghirup segarnya udara pagi dengan segenap masa lalu yang terhampar di garis waktu. Terhadapnya, apa lagi yang bisa kita lakukan selain mengenang? Itu adalah tentang bagaimana kau yang dulu tak berdaya, bersembunyi di balik amarah dan kesempitan hati kini mampu menjadi manusia yang mampu berdiri dengan segala anugrah tentang akalnya. Bahwa berkali-kali keinginan untuk menyerah pada berbagai hal, nyatanya kau tak benar-benar melakukannya. Itu adalah tentang bagaimana kau tak pernah meninggalkan doa.

Mimpimu boleh pergi entah kemana, dukamu boleh datang kapan saja, tapi doa, dalam waktu yang paling tak mampu kau menghaturkannya, tetap tersimpan di hatimu. Bahkan tentang bagaimana kau begitu marah, kau begitu lelah, dan tak berdaya, semuanya keluar pada doa-doamu.

Kau melupakan bagaimana doa-doamu terpanjatkan. Hingga pada satu titik, kau menyadari, apa yang kau temui kini, adalah apa yang pernah terucapkan dalam doamu, dalam tangis-tangis kesepianmu, dalam beratnya hati karena menunggu.
Dalam kenyataan yang tak berbeda sedikitpun dengan yang pernah kau bayangkan,

Kau menemui doa-doamu.

Beginilah Tuhan mengajarimu tentang hidup. Ia tahu segala yang kau minta dan yang tidak kau minta. Tapi keberpasarahan sekaligus kemauan untuk tidak berputus asa, kelembutan hati sekaligus kekuatan berpikir, ketakutan sekaligus keberanian menghadapi segala ujian, adalah apa yang barangkali diinginkanNya terhadapmu.

Dan berterimakasihlah. Dan berterimakasihlah. Untuk yang telah berlalu, untuk yang kini sedang berlangsung, dan yang akan menunggumu di depan.

Selamat menjalani peran
Sampai batas waktu yang telah ditentukan
Sebagai Hamba Tuhan, sebagai perempuan, dan apa-apa yang pernah kau impikan.

Depok, 19 Ramadhan 1438H
Pada Juni yang keduapuluhdelapan
Semoga umur diberkahi
Dan segala hajat diridhoi
Hiduplah bersamanya dalam ketaatan yang sebenar-benarnya

0

The Vegetarian : Manusia yang Gagal Selesai Dengan Dirinya Sendiri

Nama Han Kang, setidaknya baru saya kenal, dan sepertinya mulai melambung sebagai penulis dunia asal Korea Selatan, setelah memenangkan penghargaan Man Booker International Prize tahun 2016 lalu. Setelahnya The Vegetarian banyak dibicarakan sebagai buku terbaik oleh berbagai media internasional. Eka Kurniawan, penulis Indonesia yang juga menjadi nominator penghargaan tersebut bahkan menyebut The Vegetarian adalah satu dari lima novel terbaik yang pernah ia baca. Latar belakang semacam itulah yang kadang-kadang menumbuhkan antusiasme seseorang terhadap sebuah buku. Saat banyak yang mengatakan bagus, sebenarnya sebagus apakah buku tersebut?

Kim Yeong Hye adalah seorang perempuan biasa, yang dalam kacamata suaminya dikatakan sebagai istri yang sangat biasa, tidak mempunyai kelebihan ataupun kekurangan khusus. Suatu hari Yeong Hye merubah perilakunya menjadi seorang vegetarian setelah diganggu mimpi buruk berkepanjangan. Ia membuang semua makanan yang tidak berasal dari tumbuhan baik itu daging, ikan, telur bahkan makanan olahan protein hewan seperti mayonaise. Perilakunya sebagai seorang vegetarian berkembang menjadi obsesi dan menyeret keluarganya pada sebuah skandal yang menakutkan.

Cerita berkembang lebih mencekam hingga akhrinya Yeong Hye harus berada di rumah sakit untuk mengatasi permasalahan mentalnya. Yeong Hye bahkan menolak makan. Kakaknya, In Hye adalah sosok setia yang mendampinginya hingga akhir. Melalui narasi-narasi In Hye inilah tertuang bagaimana sebenarnya mereka adalah manusia-manusia yang mencari jiwanya diantara kungkungan waktu dan tersesatnya jati diri.

Daripada berbicara tentang makanan, buku ini memang lebih banyak bercerita tentang peristiwa-peristiwa mengerikan dan konflik personal-interpersonal yang dialami tokoh-tokoh di dalamnya akibat Yeong Hye memutuskan menjadi vegetarian. Di negara Asia, gaya hidup vegetarian memang belumlah diterima secara luas seperti di negara-negara Barat. Dan Korea Selatan, adalah negara yang memang secara kultural terlihat sulit menerima kehadiran seorang vegetarian karena komposisi makanan tradisionalnya selalu tidak jauh dari daging dan ikan. Maka ketika Yeong Hye memutuskan menjadi vegetarian, hampir seluruh anggota keluarganya menentang. Ayahnya yang temperamental bahkan menamparnya ketika ia menolak memakan daging yang disuapkan kepadanya.

Setidaknya dari sudut pandang In Hye saya jadi bisa sedikit menyimpulkan sesuatu yang sedikit disinggung Han Kang disini, bahwa apa yang terjadi pada kondisi kejiwaan dua bersaudara ini adalah buah yang ditanam di masa kecilnya. Besar dengan ayah yang temperamental dan suka sekali bermain tangan mejadikan In Hye dan Yeong Hye tumbuh tanpa benar-benar menjadi dirinya sendiri.

“Ia baru memahami Yong Hye lama setelahnya. Pukulan Ayah hanya ditunjukkan kepada Yeong Hye. Young Ho suka memukuli anak tetangga sebanyak ia dipukuli Ayah, sehingga ia merasa tidak terlalu terusik. Sementara, dirinya adalah putri sulung yang setia menyajikan sup untuk memulihkan tubuh setelah ayahnya mabuk sehingga Ayah tanpa sadar lebih berhati-hati untuk memukulnya. Yong Hye yang berhati lembut dan bersifat halus tidak pernah melawan ayah dan hanya menerima semua pukulan sampai ke dalam tulangnya. Sekarang ia paham. Paham bahwa sifat rajinnya sebagai putri sulung waktu itu bukan karena dia dewasa, melainkan karena ia pengecut. Namun, itu caranya untuk bertahan hidup.
Apakah ia mencegahnya? Semua hal tak terduga meresap ke tulang Yeong Hye. Akhirnya, mereka menuruni jalan di seberang gunung dan menumpang sebuah mesin penanam padi menuju desa kecil melalui jalanan yang asing. Ia merasa tenang, tapi Yeong Hye tidak senang. Yeong Hye hanya memandangi pepohonan yang terbakar cahaya senja tanpa mengatakan apa-apa.”

Pada akhirnya, walaupun Han Kang menarasikan cerita dengan sangat mengalir dan dalam, tetap saja bagi saya buku ini kurang mengesankan dan tragedinya terlalu memprihatinkan. Sebab The Vegetarian berbicara tentang luka yang tak disembuhkan, dibiarkan tersembunyi, tertumpuk dan menganga secara tiba-tiba. Ada perasaan semacam marah karena dalam hidup yang berharga ini seseorang menyianyiakan dirinya sendiri akibat persoalan jiwa yang tak terselesaikan. Dari balik rasionalitas, saya selalu percaya bahwa setiap orang pernah dan mempunyai luka dan terhadapnya selalu ada pilihan untuk sembuh ataupun berdamai untuk melangkah bersamanya. Untuk itulah bagi saya, sosok In Hye justru menjadi heroine dalam The Vegetarian ini mengalahkan tokoh utamanya. Sebab walaupun tersesat, In Hye tak mau menyerah pada dirinya sendiri dan melanjutkan hidup yang penuh anugrah bersama anaknya.

Lalu lama-lama pepatah yang mengatakan bahwa dibalik tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat nampak kurang relevan lagi kini. Dari jiwa yang kuatlah terpancar kesehatan tubuh dan semangat hidup yang tinggi.

Dan ya satu lagi, apa yang ditorehkan di masa kecil, apapun itu, melekat kuat ke dalam tulang dan menjadikan siapakah seseorang di masa depannya.