0

Cerita Bentang : Perjalanan Menaikkan Berat Badan (1)

Sejak usia lima bulan, Bentang mengalami perlambatan kenaikan berat badan. Dari -yang tadinya- hampir satu kilogram dalam sebulan di bulan-bulan awal kelahiran menjadi tidak lebih dari 500 gram saja dalam satu bulan. Sejak awal, saya memeriksakan segala kondisi Bentang pada Dokter Nanan, dokter spesialis anak terpopuler di Samarinda. Saya harus mendaftar paling lambat sehari atau dua hari sebelumnya untuk mendapat antrian di Dokter Nanan. Dokter Nanan adalah dokter yang sangat edukatif, menjelaskan kondisi anak secara holistik dan dalam beberapa hal juga banyak “berceramah” . Setiap pasien yang masuk bisa berada di dalam ruangannnya hingga satu jam. Bentang mendapat imunisasi dari beliau dan otomatis saya juga mengonsultasikan kondisi berat badan Bentang ke beliau. Waktu itu Dokter Nanan menyarankan pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) dini dengan memperbanyak lemak dari minyak dan daging. Praktis, saya memberikan makanan pertamanya di usia lima bulan.

Proses awal Bentang makan tentu saja seperti kebanyakan ibu lainnya mendebarkan bagi saya. Namun sebenarnya tidak terlalu menyusahkan. Kalaupun menantang itu adalah tentang komitmen dan mentalitas saya sendiri. Dari awal saya selalu bilang pada Bapaknya bahwa aktivitas makan adalah proses yang sangat vital bagi anak. Ada keterlibatan proses senso-motor yang sangat banyak di dalamnya. Otot-otot sekitar mulut, koordinasi tangan dan mata (hand-eye coordination), kognitif, independency semuanya bekerja. Maka ketika makan, Bentang sebisa mungkin harus menikmati prosesnya. Lalu sekarang, apakah Bentang menikmati aktivitas makannya? iya. Apakah selalu menyenangkan? tidak.

Tadinya saya hendak menggunakan metode Baby Lead Weaning (BLW) yang membiarkannya untuk memilih dan memakan sendiri makanan yang dia inginkan terlepas dari kontroversi metode ini sendiri. Tapi karena kondisi fisiknya tidak memungkinan, saya memberikannya responsive feeding yang di tengah-tengah berubah menjadi force feeding alias pemaksaan karena saya mulai gila memikirkan berat badannya.

Bentang bukan anak yang susah makan walau tak bisa dikatakan hobi makan. Dia makan karena dia tau dia butuh makan. Itu pula mungkin yang menghindarkan dia dari apa yang disebut Gerakan Tutup Mulut (GTM), istilah yang tidak ingin saya masukkan dalam kamus makan kami. Bentang jarang bila tak bisa dikatakan tak pernah GTM. Namun dia pernah malas makan sekali dua kali. Jika tidak makan banyak saat siang biasanya malam akan banyak makan. Saya (terus) berusaha menghargai keputusannya.

Beberapa hal yang saya lakukan dalam proses makan Bentang selama ini antara lain :
1. Dia makan di kursi makannya. Dulu saya bilang pada bapaknya kalau kursi makan paling penting dimiliki daripada stroller atau mainan. Sampai sekarang dia makan di kursinya sendiri. Sering pula sambil bermain tapi itu tidak membuatnya terbiasa.
2. Dia makan apa yang bapak-ibunya juga makan. Ini adalah cita-cita saya agar mudah-mudahan nanti Bentang tidak jadi orang yang terlalu pemilih soal makan. Dia makan sayur asam, ikan goreng, sayur lodeh, buah, kolak dan makanan apapun yang tidak pedas.
3. Saya terbiasa menghiburnya saat makan dengan bernyanyi atau mengajaknya bercerita. Kadang ini juga jadi distraksi kalau dia sedang malas makan untuk saya bisa memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Kadang dia juga bermain dengan makanannya, sendok, gelas dan memilih makanan mana yang ia makan dulu. Saya berusaha menghargai cara belajarnya walaupun makanannya seperti huru hara peperangan. Berantakan.

Hal-hal tersebut membuatnya jadi anak yang mudah makan. Tapi apakah berat badannya naik sesuai dengan yang seharusnya? Jauh dari itu. Selama tiga bulan sejak usianya delapan bulan beratnya stuck di satu angka. Tentu saja saya sangat khwatir terjadi sesuatu dengannya. Saya membawanya ke dokter lagi dan Dokter Nanan menyarankannya untuk melakukan tes darah dan tes urin. Sebab, katanya, salah satu yang menyebabkan perlambatan kenaikan berat badan adalah kekurangan zat besi dan adanya bakteri. Untuk membuktikannya perlu dilakukan tes laboratorium.

Maka saat usia Bentang sembilan bulan saya melakukan dua tes tersebut. Hasilnya diketahui bahwa kadar hemoglobin dalam darah Bentang tergolong rendah, yaitu 9. Sedangkan hasil tes urinnya dikatakan normal. Tadinya Dokter Nanan hanya memberikan terapi alami berupa kewajiban saya memberikan makanan tinggi zat besi seperti ati ayam dan daging pada Bentang tiga kali dalam seminggu. Namun saya merasa terapi alami masih kurang membantu. Saya meminta diresepkan suplemen zat besi dan tak disangka setelah dihitung, Bentang mendapatkan terapi pemberian Maltofer lima belas tetes dalam sehari selama tiga bulan.

Apakah kemudian berat badannya naik? Rupanya perjalanan kami masih panjang.

Bentang 9 Bulan, ketika beratnya tidak naik 3 bulan

Hasil Tes Urine

Hasil Tes Darah

Iklan
0

Sebab Nasib adalah Kesunyian Masing-Masing

Pagi tadi di teras rumah saya melihat Bentang terdiam melihat ayam-ayam yang sedang makan di halaman. Sesekali ia mendongak ke atas melihat burung yang bertengger di kabel listrik dan angin yang menggoyangkan daun-daun bambu. Sebenarnya itu adalah hal yang seringkali ia lakukan. Melihatnya melakukan itu hampir tiap hari, saya makin menyadari bahwa anak-anak dianugrahi sensitifitas yang sungguh istimewa. Mereka adalah filsuf alami, mengamati segala sesuatu dengan kesungguhan, menangkap makna diantara keterbatasan diri.

Hari ini tepat satu tahun Bentang menemani saya dan menjadi pusat dunia dalam semesta kehidupan saya. Dia berhasil membawa tawa di rumah keluarga kami yang bermil-mil jauhnya dari rumah kami, menjadikan segala benda termasuk sisa gulungan selotip di rumah menjadi punya arti dan membuat saya terkadang lupa bahwa ada dunia di luar sana yang perlu saya singgahi. Banyak orang berkata kehadiran seorang anak membawa kebahagian, berkah dan pembelajaran. Saya mengamini itu. Tapi ada hal-hal besar yang mampu kita temukan dari hal-hal kecil yang dilakukan seorang anak -entah itu anak kandung atau bukan- yang membuat kita selalu ingin menjadi manusia yang lebih baik. Pada Bentang saya belajar untuk semakin mencintai diri saya sendiri.

Suatu hari ketika melihat Bentang baru saja mengesot untuk berpindah tempat -dan bukannya merangkak- saya berbicara pada Bapaknya. “Bayi itu emang beda-beda ya, nggak ada yang sama. Ya samalah kayak kita orang dewasa kan juga beda-beda.” Bapaknya kemudian menjawab “Tapi bayi tidak punya ketakutan untuk terasing. Tidak seperti kita orang dewasa yang mau menjadi orang lain karena takut terasing.” Saya terdiam memikirkan apa yang dikatakan Bapaknya Bentang tersebut. Dia mendidik saya dengan cara sebagaimana yang paling mampu saya terima.

Walaupun dulu saya bergelut dengan dunia anak namun perjalanan menjadi ibu tetap tidak membebaskan saya dari apa yang disebut Excessive Milestone Anxiety atau kekhawatiran berlebihan pada perkembangan seorang anak. Saya khawatir hanya karena melihat di media sosial anak-anak seumuran Bentang sudah melalui satu fase perkembangan tertentu sedangkan dia belum. Saya merasa tertekan (kadang hingga sekarang) karena penilian fisiknya berada dibawah rata-rata anak seusianya. Saya khawatir dan tertekan hingga ada satu masa saya tidak menikmati waktu saya dengan Bentang, tidak dapat menilai kebaikan-kebaikan yang ada pada dirinya dan perlahan-lahan mengikis rasa syukur saya. Saya lupa setiap anak adalah unik, berbeda sebagaimana kita pun berbeda dengan saudara terdekat kita, lepas dari standar-standar penilaian yang ada.

Jika ada banyak hal yang perlu kita ulang terus menerus dalam hidup ini, satu diantaranya adalah mengembalikan kekhawatiran pada Pemilik Hidup. Jika dulu saat ujian kelulusan usaha kita mempunyai peran yang besar dalam menjawab kekhawatiran, maka tidak dengan membersamai manusia termasuk anak. Saya selalu percaya bahwa hati setiap manusia ada dalam genggaman PenciptaNya. Untuk itu dalam setiap ujian kekhawatiran atas diri manusia, doa kita harus selalu menjadi pengiringnya. Maka menjadi orang tua terutama ibu adalah perkara menjaga spiritualitas, bukan hanya soal kewarasan diri.

Bentang memilih jalannya sendiri bahkan sejak dalam kandungan. Ia terlahir sungsang, bergerak tidak dengan merangkak dan mempunyai tubuh yang lebih mungil dari anak-anak seusianya. Berkali-kali ketika hampir lupa dan terus menerus menyalahkan diri, saya berusaha mengingat bahwa segala yang terjadi padanya adalah kehendak Tuhan. Kenapa dia sungsang, tidak merangkak dan mungil adalah karena kehendak Tuhan. Namun begitu, dia tetap ceria, tulus dan selalu mencari-cari saya. Bentanglah -dan bapaknya- yang membuat saya merasa diterima betapapun tidak becusnya saya sebagai manusia. Dia -dan bapaknya- jugalah yang membuat saya berhenti membandingkan diri dengan manusia lain.

Sebab seperti kata Chairil Anwar, nasib adalah kesunyian masing-masing.

25.0319
Untuk Bentang
Pada tahun pertama kehidupannya
Ibu berdoa
Semoga kehidupannya diliputi kebaikan
dan kebahagiaan

0

Dunia yang Menyenangkan

Dulu, ketika banyak bergaul dengan anak-anak, mempelajari dan menyelami dunianya, saya menemukan satu alasan mengapa saya pada akhirnya begitu menyukai mereka. Bukan, bukan karena mereka lucu, sebab saya juga menjumpai hal-hal menyebalkan yang menguji perasaan darinya. Anak-anak membuat saya punya dunia lain untuk sejenak pergi dari dunia orang dewasa yang seringkali menjemukan. Iya, walaupun saya terlihat mudah bergaul, banyak bicara dan kadang (mungkin) lucu, sesungguhnya sangat kelelahan berkumpul dengan manusia.

Saya masih ingat masa-masa menuntut ilmu dari SMA sampai universitas barangkali adalah masa terbaik yang menyelamatkan saya dari kesepian gagasan. Bersama dengan circle pertemanan, saya bisa berlama-lama berbincang. Kami tidak berbicara tentang cuaca, mengolok-olok satu sama lain atau pembicaraan-pembicaraan remeh lainnya. Kami bicara tentang perasaan, tentang gagasan juga tentang dunia, tentu saja semua diiringi dengan tawa canda. Setiap pembicaraan adalah sebuah jalan menuju wawasan dan perspektif baru. 

Dunia nyata kemudian membenturkan saya pada sebuah realita tentang bagaimana saya harus bersikap secara sosial. Perkumpulan-perkumpulan yang nampak berfaedah tapi sesungguhnya tak lebih dari upaya membunuh waktu, cerita-cerita yang terlontar demi sebuah tawa dan sikap-sikap kaku yang tercipta demi tetap berada dalam permainan, membuat saya didera kelelahan terhadap manusia dan segala problematika di dalamnya. Untuk menampiknya, seringkali saya menggunakan persona (pernah saya tulis pada Living Life as INTJ). Dan konsekuensinya, saya perlu sendiri untuk mengumpulkan lagi energi yang telah pergi.

Bertemu anak-anak, pada waktu itu (dan sampai sekarangpun) adalah ujian kesabaran. Tapi dibalik itu saya menemukan dunia yang menyenangkan tersimpan di dalamnya. Sekali lagi ini bukan hanya tentang kepolosan mereka yang menjadikan mereka nampak lucu. Karena banyak juga anak-anak (yang barangkali karema faktor lingkungan) tidak nampak polos dan lucu. Dunia itu adalah dunia yang melihat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh, yang tak harus menjadikanmu orang lain karena kamu ingin bersama orang lain dan mengijikan setiap hal dipandang dari sudut pandang yang berbeda.

Sekarang, ketika Tuhan mengizinkan saya menjadi orang tua dari seorang bayi kecil, satu diantara banyak hal yang saya syukuri adalah saya selalu punya teman bercerita, teman tempat kembali, teman yang dunianya menyenangkan. Setiap saya pergi dan mengahadapi dunia, Bentang yang kini berusia enam bulan selalu berada di pelukan saya. Padanya dalam setiap langkah menyusuri udara saya bercerita tentang apa yang tengah kami lihat, dengar dan rasakan. Dia akan diam namun matanya berbicara. Seperti mendengar apa yang saya katakan dan mencernanya dalam-dalam. Suatu saat saya dan bapaknya melibatkannya dalam suatu pembicaraan, dia akan tersenyum, bergumam lalu menggerakkan tangan dan kakinya seolah tahu apa yang kami maksud. Sesederhana itu, sebahagia itu.

Bentang adalah energi. Indah memang, tapi tetap butuh kesabaran.

Kita selalu punya tempat untuk pulang, mengumpulkan kepingan-kepingan kebahagiaan menurut kita, hingga dari situlah kita mampu menghadapi dunia. Menciptkan definisi kita sendiri tentang dunia yang menyenangkan. Jika bukan manusia, tentulah itu Tuhan.

Embracing Inner Child

Embracing Inner Child

 
Malam setelah Bentang tertawa sepanjang hari

00.16

5

Bentang’s Birth Story : Kelahiran Normal Letak Sungsang

Saya menjalani kehamilan pertama ini dengan baik-baik saja. Tidak banyak memiliki keluhan berarti. Hanya morning sickness yang tertahankan dan pernah sekali mengalami infeksi saluran kencing, hipotensi, dan flu yang kesemuanya sembuh dengan perbaikan pola makan dan istirahat. Saya menjalani aktivitas seperti biasa, makan dengan biasa bahkan beberapa kali bepergian dengan pesawat. Hamil memang berat. Namun bisa jadi menyenangkan. 

Saya baik-baik saja dan cenderung lupa diri, sampai kemudian bidan menunjukkan kepada saya bahwa pada kehamilan trimester terakhir posisi janin saya masih belum optimal. Selama ini, denyut jantung dan kesehatan bayi dan saya terasa sempurna. Satu hal yang terjadi tidak sesuai dengan bayangan telah meruntuhkan segala kepercayaan diri saya. Tentu saja sebagai orang yang belum mempunyai pengalaman saya dilanda ketakutan, kekhawatiran, dan stress jika terjadi sesuatu pada janin saya. Sampai akhirnya saya bertemu dan belajar mandiri tentang filosofi Gentle Birth, yang atas izin Allah telah menjadikan saya lebih kuat, lebih ikhlas, dan lebih bahagia terlepas dari ketidaksempurnaan kondisi saya.

Begini kiranya cerita tentang proses kelahiran Bentang Cakrawala, anak pertama kami, yang memilih jalan kelahirannya sendiri.

Dua Bulan Sebelum Kelahiran

Usia tersebut adalah saat saya mengetahui bahwa posisi janin masih belum optimal. Seharusnya di usia tujuh bulan, janin mulai memosisikan dirinya mendekati jalan lahir yaitu kepala berada di panggul rahim. Namun janin saya masih dalam keadaan melintang dan cenderung menggerakkan kepalanya ke atas, dikatakan letak sungsang (letsu).

Sesungguhnya istilah sungsang amat menakutkan bagi saya karena terasa seperti sebuah keabnormalan. Padahal ketika saya mulai mencari tahu, sekitar 30-40% kehamilan mempunyai kemungkinan untuk sungsang. Sampai dengan usia 34 minggu, janin masih mempunyai kemungkinan memutar posisinya. Jadi letak sungsang hingga usia 36 minggu sebenarnya bukan sebuah keabnormalan. 

Saya melakukan treatment beberapa gerakan yoga yang fokus untuk menciptakan ruang agar janin bisa memutar seperti cat pose, table pose, breech tilt, dan gerakan menungging lainnya. Saya juga mulai memperbanyak jalan cepat di pagi hari, melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mengepel, menggosok kamar mandi dengan lebih intens, dan (yang ini percayalah) saya mengunduh video-video zumba untuk ditirukan di rumah. Namun hingga hari-hari menjelang berakhirnya trimester ketiga, posisi janin saya masih tetap sungsang. Di sini segala perasaan saya diuji. Hingga melalui Gentle Birth, sedikit demi sedikit saya belajar untuk menerima keadaan yang tidak sempurna dan mulai membangun optimisme untuk tetap bisa melahirkan secara normal alamiah. It triggered me a lot.

Senin, 12 Maret 2018

Saat memeriksakan kehamilan, bidan mengatakan bahwa posisi janin masih letsu. Saya diUSG dua kali untuk melihat posisi janin dan sempat dilakukan Vaginal Touch (VT) untuk melihat jalan lahir saya. Bidan mengatakan bahwa jalan lahir saya cukup bagus, panggul besar, dan vagina mulai mengalami penipisan seperti sewajarnya menjelang persalinan.

Hanya, ketika Bidan mengatakan sepertinya janin akan sulit berputar (waktu itu usianya 35 minggu), ingin sekali saya mengingkarinya. Namun kemudian Bidan mengatakan sebuah skenario yang baru kali itu saya dengar, kelahiran dengan pantat keluar lebih dulu.

Saya hanya bertanya “Ha, memangnya bisa bu? Saya kira kelahiran normal itu hanya bisa jika kepala lebih dulu keluar”

Bidan menjawab bisa dan sedikit menjelaskan tentang tekniknya yang sama sekali tidak saya pahami. Sepulang dari situ, saya merasa punya harapan lagi.

Selasa, 20 Maret 2018

Atas saran Bidan, saya berkonsultasi ke dokter tentang kondisi saya. Saya mendatangi dokter dimana saya biasa memeriksakan diri. Namun di luar dugaan, pertemuan hari itu tidak menghasilkan apa-apa selain bahwa perasaan saya terjatuh sekali lagi.

Sampai dengan hari ini, saya telah membangun optimisme yang kuat untuk dapat melahirkan secara normal. Kenapa? Sesederhana karena saya ingin mengikuti fitrah semampu saya. Bagaimana nanti Tuhan menentukan jalan kelahiran bayi saya, saya tak ambil pusing. Saya melakukan diet agar berat badan janin tidak terlalu besar untuk bisa memutar, menungging 30 menit selama 5 kali dan lebih dalam sehari, menjaga tekanan darah dan cairan ketuban, serta yakin tubuh saya mendukung untuk sebuah kelahiran normal. Namun, dokter–setelah meng-USG saya dan melihat janin saya letsu, serta air ketuban sedikit — justru menanyakan hal lain: “berencana lahiran dimana dan punya BPJS atau tidak?” Walaupun mungkin relevan, itu bukanlah jenis pertanyaan yang saya harapkan.

Suami saya dengan sangat lapang dada hanya berkata pada saya “dokternya baik, tidak langsung menyuruh kamu untuk SC”. Karena iya, sebagian besar janin letsu, terlahir melalui operasi sectio terlepas dari seberapa besar kemampuan dan kemauan ibunya untuk melahirkan normal.

Jum’at, 23 Maret 2018

Adalah hari terberat saya. Saya harus mendengar bagaimana teman-teman berkisah tentang hari-hari menjelang persalinan saat janinnya telah memposisikan dirinya dengan optimal. Berkali-kali saya meyakinkan diri bahwa kami akan baik-baik saja, sampai akhirnya, di depan suami saya menangis menumpahkan segala ketakutan dan kekhawatiran akan persalinan yang menurut perkiraan terjadi minggu depan.

Mulai hari itu pada janin saya berbicara, “Dek, adek tidak harus berputar jika memang itu sulit. Adek cari saja posisi yang optimal menurut adek. Selanjutnya kita berdoa pada Allah semoga dimudahkan untuk bisa menjalani persalinan alami.”

Sabtu, 24 Maret 2018

Hari ini saya memulai latihan fisik yang cukup intens. Pagi jam 6.30 saya keluar rumah, berjalan cepat naik turun bukit sebanyak lima kali, pergi ke tukang sayur yang jaraknya tidak terlalu dekat dengan rumah, dan pulangnya melakukan meditasi dan yoga. Terhitung saya melakukan aktivitas fisik dari jam 6.30 sampai 9.30 tanpa henti. Sesuatu yang bahkan tidak saya lakukan ketika tidak hamil.

Janin adalah makhluk hidup. Bayi saya mampu mendengar apa yang saya katakan dan merasakan segala perasaan saya. Saya melepaskan segala gelisah dan takut hari itu dan mulai menuliskannya dalam jurnal. Hari itu, bayi saya melakukan tugasnya.

22.30 Setelah makan malam di luar, saya merasakan sakit perut melilit seperti nyeri haid. Karena masih timbul tenggelam, saya mengira itu adalah kontraksi palsu.

Minggu, 25 Maret 2018

Hari Ketika Dia Dilahirkan Sebagai Manusia

3.18 Saya terbangun dari tidur, merasakan perut yang sangat melilit. Berpindah-pindah tempat dan menungging. Sakit perut seperti nyeri haid timbul tenggelam.

3.47 Setelah tertidur beberapa saat dan terbangun lagi, saya melakukan sholat malam, hanya mampu dua rakaat ditambah witir sekali. Berikutnya buang air besar merasa lebih baik.

7.30 Saya dan suami melakukan workout minggu pagi. Suami jogging dan saya hanya bisa berjalan mengelilingi taman sekali, beberapa kali terhenti karena sakit perut. Saat duduk pun sakit perut saya tidak juga membaik dan saya belum terpikir bahwa itu yang disebut dengan kontraksi.

Pulang workout saya berkeliling kota dengan suami, sarapan dan tetap bercanda tertawa-tawa walaupun merasakan sakit perut. Suami mengajak saya ke bidan tapi saya bilang “ntar aja”. Padahal rasanya sudah seperti ditusuk-tusuk dan diplintir.

9.30 Sampai rumah saya melihat lendir kecoklatan di celana dalam saya. Kemudian terpikir untuk mendownload aplikasi kontraksi nyaman. Benar saja, ketika dihitung, aplikasi menyarankan saya untuk segera ke dokter atau bidan terdekat. Suami juga mengajak tapi saya bilang nanti saja setelah yoga biar sekalian keluarnya karena masih bisa ditahan.

Melihat tanda-tanda di buku saya mulai yakin apa yang saya rasakan ini kontraksi palsu. Di rumah, hanya bisa tiduran, nungging, main gymball dan bercanda saja bersama suami. Pekerjaan rumah dan memasak yang sudah direncanakan tidak terpegang sama sekali.

15.00 Saya melakukan prenatal gentle yoga. Pada beberapa gerakan saya tidak bisa mengikuti karena his dan hanya bisa menunggging. Bidan instruktur memijat tulang ekor saya dan saya merasa lebih baik. Saya melanjutkan yoga hingga selesai tapi selanjutnya rasa sakit menjalar hingga tulang ekor saya.

Bodohnya saya bertanya pada bidan instruktur, kapan sakitnya selesai kalau ini kontraksi palsu. Dia tertawa dan berkata “justru kalo semakin sakit dan intens itu semakin baik. Berarti dedek bayi sudah kasih sinyal pengen keluar mbak.” Instruktur yoga kemudian menyarankan saya untuk segera memeriksakan diri ke bidan terdekat. Saya masih berjalan menuju mobil dengan menunduk dan tertatih-tatih.

17.30 Sepulang yoga, saya dan suami langsung menuju bidan tempat saya biasa memeriksakan diri. Sambil tetap menahan rasa sakit yang semakin hebat dan intens. Sesampainya di sana, saya yang meringis kesakitan tapi tertawa-tawa diminta berbaring dan langsung dilakukan VT pada saya. Asisten bidan mengatakan bahwa saya sudah mengalami pembukaan 5 dan mereka keheranan karena saya masih bisa berjalan sendiri dan bercanda. 

Benar saja ketika saya melihat celana dalam, lendir darah merah sudah semakin banyak. Sepertinya, yoga membuka panggul saya sehingga adek bayi semakin bisa memasuki jalan lahir.

Bidan mengatakan akan merujuk saya ke RSUD terdekat. Meminta saya langsung menuju kesana, jangan pulang karena ini tinggal menunggu pecah ketuban.

18.15 Saya dan suami sampai ke RSUD tanpa sempat pulang ke rumah mengambil perlengkapan melahirkan dan langsung menuju IGD. Masih tetap berjalan dengan menunduk dan tertatih-tatih kemudian menuju meja registrasi dan mendaftar seperti biasa.

Ketika perawat tahu saya hendak melahirkan dan berjalan menunduk, ia memeriksa tekanan darah saya dan meminta saya berbaring di kasur dorong. Saya menolak dan memilih berjalan ke ruang tindakan. Karena berbaring lebih terasa menyakitkan. Perawat keheranan dan membiarkan saya berjalan.

18.30 Di ruang tunggu tindakan, karena tidak membawa pakaian ganti satupun, saya berganti dengan sarung pasien pinjaman rumah sakit. Saat itu suami saya sedang mengurus admnistrasi dan perawat sedang mengambil sesuatu, ketika sepuluh menit kemudian perut saya melilit hebat seperti ingin diare. Perlahan-lahan saya mengubah posisi dari berbaring ke menungging untuk meredakan rasa sakit tapi sakit yang saya rasa semakin hebat. Saya terus menungging dan akan beranjak hendak ke kamar mandi ketika rasa sakit pada puncaknya dan tiba-tiba “pyokkkk”. Saya melihat cairan lendir kehijauan keluar dari vagina. 

18.45 Tadinya saya pikir itu feses sampai ketika perawat panik dan berteriak “ketubannya pecah”. Saya dibaringkan dan dibawa langsung ke ruang persalinan. Rasa sakit kian tak tertahankan membuat ingin berteriak. Tapi saya ingat, berteriak tidak menghilangkan rasa sakit, menarik nafas panjang adalah jawabannya.

Di ruangan bersalin, bidan hendak melakukan Episiotomi (perobekan jalan lahir) pada saya, namun tidak jadi karena ia melihat ada pantat yang mulai nampak di jalan lahir. Episiotomi tidak sempat dilakukan. Bidan hanya berpesan pada saya ” Ibu, karena ini pantat yang lebih dulu keluar, tidak seperti biasanya, ibu harus lebih semangat mengejan” 

Bidan yang sedikit lucu, membuat saya tidak merasakan ketegangan apapun. Saya berusaha berfokus pada nafas, mengejan sekuat tenaga -yang di tengah-tengah saya mulai kehabisan daya- dan memperhatikan afirmasi suami saya “ayo pik terus pik, kamu kuat. Anaknya udah mulai keluar.” Saya yang hampir kehabisan energi dan sempat terlintas rasanya ingin menyerah langsung mengingat pelajaran selama yoga, tarik nafas panjang dan keluarkan.

19.31 Setelah beberapa kali mengejan dengan sekuat tenaga, Bayi saya terlahir ke dunia, dengan mengeluarkan pantatnya lebih dulu, kaki baru kepala. Detik dimana ia diletakkan di perut saya pertama kalinya, memberikan pengalaman paling berharga bagi saya tentang kelahiran anak manusia. Dia, memilih jalan lahirnya sendiri.

Bidan berkata pada saya bahwa ia menyukai proses persalinan saya. Ia berterimakasih karena saya tidak meronta dan mengejan dengan tenang. Setelah kelahiran pun saya juga masih sempat tertawa.

19.32-20.45 Setelahnya saya mendapat intervensi paling menyakitkan yang pernah saya alami dalam hidup. Yaitu saat melahirkan plasenta dan saat vagina saya dijahit. Plasenta saya amat lengket di dalam perut. Bidan mengeluarkannya dengan cara manual, memasukkan tangannya ke dalam vagina dan menekan perut saya. Beberapa kali saya meronta karena tidak dapat menahan sakitnya. Padahal suami dan bidan sebelumnya mengatakan bahwa ambang batasa rasa sakit saya termasuk tinggi. Jika ada yang disebut dengan trauma melahirkan, maka bagi saya melahirkan plasenta yang tertinggal di rahim inilah yang menjadi traumanya. Ini adalah bagian dari ketidaksempurnaan kondisi yang secara ikhlas juga saya terima.

Setelah selesai jahitan dan semuanya, suami mendatangi saya. Dia bilang telahn menghubungi orang tua kami di Jawa dan tentu saja mereka terkejut sekaligus tak bisa berkata apa-apa. Kami saling menatap satu sama lain, tertawa bersama dan saling bertanya “jadi ini tadi kita melahirkan? berdua saja? tanpa persiapan apa-apa?” kemudian kami saling terdiam dan memandang, mengucap terimakasih pada kuasa Tuhan. Hari itu, kami menjadi manusia baru.

..

Bentang Cakrawala, Darinya Kami Belajar Percaya

Saya menulis ini disela-sela waktu menunggu bayi saya dirawat di ruang NICU. Ini adalah hari keenam, hari dimana kami mulai diuji dengan kelelahan dan frustasi. Dokter tidak mengatakan banyak selain sesuatu yang -sekali lagi- menjatuhkan perasaan kami. Namun setiap kami mulai merasa tak berdaya, kami akan memandang satu sama lain, saling membelai pipi dan tangan dan berikutnya tersenyum bersama. Romantisme semacam ini sungguh menguatkan kami, mengingatkan kami pada keberpasrahan dan tak terlupakan.

Bentang Cakrawala, begitu kami memanggilnya sejak dalam kandungan. Adalah sebuah doa terhadapnya agar menjadi seseorang yang mengerti, berpengetahuan dan bijaksana. Namun tak pernah terpikir bagi saya, bahwa dia akan mengajarkan sebanyak ini rasa pada kami, diantaranya yang terpenting adalah rasa percaya.

Dia memilih letak sungsang, saat ilmu pengetahuan mengatakan letak terbaik bagi janin bukanlah itu. Dia memilih terlahir normal, saat setiap orang meragukannya untuk bisa lahir seperti itu. Dia memilih mengeluarkan bagian tubuh bawahnya lebih dulu, bahkan ketika itu sangatlah penuh resiko. Dia tak membiarkan saya berlama-lama dengan rasa sakit dengan mempercepat proses kelahirannya. Dia adalah segala kepercayaan saya terhadap skenario Tuhan -apa yang telah kita usahakan, Tuhan tidak pernah tidur terhadapnya-

Bentang Cakrawala, saat tulisan ini saya tulis, ia sedang berjuang sendirian di ruang NICU. Tapi sesungguhnya ia tak sendiri, ibunya juga berjuang, bapaknya juga berjuang, orang-orang disekitarnya tak henti mendoakannya. Kami akan terus berjuang, berdoa, menguatkan hati lepas dari segala diagnosa medis. Sebab dengan beginilah kami makin tersambung dengan cinta Illahi.

Samarinda, 31 Maret 2018

Ibu Bentang

0

Sajak Tujuh Hari

Tujuh hari dek, sejak kamu merasakan terang dunia dari rahim yang gelap nan tenang

Tujuh hari pula dek, bahkan tangan ibu belum mampu mendekap hangat badanmu yang lembut dan menenangkan

Tujuh hari ini dek, wangi baumu menyeruak diantara mimpi-mimpi malam ibu

mengantarkan kerinduan tak berkesudahan

yang pekat, kuat dan hangat

Beginilah dek, selama tujuh hari kita telah berjuang bersama

Setelah bulan-bulan yang berat namun menyenangkan kita belajar bersama

Kini pembelajaran menghampiri kita lagi

Kau kuat, ibu tau

Kau bersabar, ibu yakin

Hanya saja, rindu kadang melebihi kadarnya

Jika sudah begitu, tak ada lagi kuasa selain kuasa Tuhan

Jika doa ibu mampu mengantar kekuatanmu, maka pada Tuhan, dalam tangis-tangis kelemahan

ibu berdoa agar dikumpulkanNya kita segera, di rumah yang diiringi berkah

dan kesempatan untuk mengeja sajak-sajak ilmu tentang kehidupan

Samarinda, 1 April 2018

Untuk Bentang,

Di hari ketujuh dia di nicu

0

Maternity Journey

Saya dan Arief menikah setelah melalui hanya dua kali pertemuan. Sesaat setelah kami menikah, kami harus menjalani kehidupan awal pernikahan di sebuah kota -tempat Arief berdinas-yang kami berdua belum mengenalnya sama sekali, Atas kehendak Tuhan, saya diberi anugrah kehamilan sebulan setelah kami menikah, itu berarti, saya tidak melalui periode kosong. Membangun kehidupan baru dengan orang yang belum sepenuhnya dikenal (tentu saja walaupun dalam banyak sisi kami sangat mirip, kami tetap perlu beradaptasi), kota asing dan kehamilan yang datang lebih kepada begitu tiba-tiba, membuat saya kembali pada titik dimana saya perlu menemukan diri saya kembali.
Arief selalu berkata, menikah artinya kita siap menjadi orang tua, terlepas dari ia pun tidak menyangka akan secepat ini. Beberapa orang terdekat kami sedikit terkejut, beberapa terpana dan mengatakan betapa bahagianya kami diberi kehamilan cepat saat orang lain begitu lama menanti. Tapi berbagai lintasan pikiran di kepala saya kala itu membuat saya sulit merasakan rasa bahagia yang membuncah walaupun hari-hari tetap kami lalui dengan penuh tawa. Perubahan fisiologis nyatanya bukanlah sekedar sakit yang dilalui kemudian sembuh. Pada banyak sisi, it hitted me so hard.

Saya menjalani trimester pertama kelahiran di sebuah rumah kontrakan petak yang panas, bau selokan dan kamar mandi yang menggenang karena bertanah miring dan letak lubang pembuangannya di bagian atas. Itu adalah bagian ketidaknyamanan, tapi bukan itu yang membuat pikiran saya sering kalut. Senyaman apapun rumah, barangkali pada tiga bulan pertama setiap ibu hamil akan dilanda kekalutan. Perubahan fisiologis dari seseorang yang amat bugar menjadi orang dengan masuk angin yang tak sembuh-sembuh, pusing kepala yang mennjadi teman, muntah yang tiba-tiba menjadi kebiasaan adalah rangkaian perjuangan yang tidak mudah untuk dihadapi. Dan pada fase ini, ya, saya sering mengeluh. Saya sering berkata bahwa rasanya seperti sakit tapi tidak tahu kapan kamu akan sembuh.

Sesuatu kemudian mengalihkannya ketika disini saya mulai punya teman (untuk pertama kalinya saya bergaul dengan perkumpulan ibu-ibu) dan mulai tahu tempat-tempat menarik untuk didatangi. Walaupun masih diliputi morning sickness, saya beberapa kali mengikti Arief pergi ke luar kota. Hingga puncaknya di minggu kedelapan saya terbang ke rumah orang tua di Jawa (saya di Samarinda) melalui rute Samarinda-Balikpapan-Bandung-Depok-Madiun-Surabaya-Balikpapan-Samarinda dalam waktu sepekan. Sangat melelahkan, namun di luar dugaan, mual dan pusing saya mereda, Saya merasa sehat dan terlihat lebih sehat dari beberapa orang biasa yang kelelahan.

Lamat-lamat mulai saya sadari bagaimana tubuh ini dan janin saya merespon banyak hal. Perjalanan menjadi ibu sedang mendatangi saya. Hati saya mulai berdegup ketika melihat foto hasil USG menandakan ada kehidupan lain daam tubuh saya. Dan saya berterima kasih padanya, yang saat itu baru sebesar buah anggur karena telah sangat kooperatif dengan tubuh dan keadaan saya. Begitulah sedikit-sedikit saya menumbuhkan rasa syukur saya, tidak serta merta memang. Saya belajar mengikhlaskan apa yang terjadi pada tubuh saya dan begitulah rasa cinta terhadap janin saya bertumbuh menjadi doa-doa dan pengharapan.

Unable to perceive the shape of you
I find you all around me
Your Presence fills my eyes with your love
It humbles my heart
For you are everywhere

-The Shape of Water-

0

Menemukan Diri (Kembali)

Jika ada banyak hal yang tak bisa diperkirakan terjadi, bagi saya itu banyak terjadi di tahun ini. Puncaknya, barangkali adalah pada akhirnya saya menikah dengan seseorang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya, namun mengenalnya adalah seperti melihat kepada diri saya sendiri. Adalah ketentuan Tuhan jika waktu membawa kita menemui seseorang yang begitu serupa dengan diri kita sendiri dan sebaliknya. Keduanya bisa berarti berkah ataupun ujian. Orang yang menikahi saya itu, adalah definisi teman hidup terbaik yang diberikan Tuhan kepada saya, disaat saya berkali-kali gagal menemukan manusia seperti apa yang saya inginkan dan butuhkan.

Takdir tidak pernah berkhianat terhadap mereka yang bersungguh-sungguh terhadap dirinya sendiri. Setidaknya itulah yang coba saya simpulkan sendiri tentang bagaimana setiap fase membawa pembelajarannya terhadap diri. Kegagalan demi kegagalan membawa saya, dan mungkin manusia pada dasarnya, untuk pergi mencari “jalan pulang’, perjalanan untuk menemukan diri saya kembali. “Jalan pulang” itulah yang membawa saya pada tempat, manusia dan peristiwa yang tak pernah saya duga sebelumnya. Hidup menyediakan banyak kejutan bahkan ketika kita belum benar-benar merencanakannya. Itulah barangkali nilai dari sebuah keberpasrahan.

Sebelumnya, seperti orang kebanyakan, saya memilih menghindar dan membenci untuk menghadapi situasi dan pertanyaan yang menjemukan.

Saya tak pernah punya pekerjaan yang dianggap bagus dalam ukuran masyarakat, dan lebih memilih menghindar ketika ditanya “pekerjaanmu apa?”

Saya tak pernah terlibat hubungan dengan lawan jenis yang membuat saya tampak atraktif dalam kacamata sosial, sehingga lebih banyak menyembunyikan diri karena risih dengan pertanyaan, “kapan menikah?”

Tapi Tuhan membukakan jalan pembelajaran bagi saya. Buku, manusia dan waktu adalah yang telah banyal membantu saya, menemukan diri saya kembali, yang baru dan mudah-mudahan lebih baik. Untuk memilih berdamai daripada membenci, untuk memilih mengikuti daripada melawan. Pada contoh contoh itu misalnya, Saya akan jelaskan tentang pekerjaan yang telah membentuk saya menjadi manusia yang lebih berguna daripada hanya penyebutannya saja pada orang-orang yang bertanya, saya meminta doa dengan setulus-tulusnya pada orang-orang yang menanyakan tentang takdir pernikahan saya, dan banyak hal lain. Tentu saja, disertai dengan doa orang tua.

Sekarang, ketika waktu menghadapkan pada kejutan-kejutan lain, duduk dan tenanglah. Kau akan segera temukan dirimu yang baru dan baru. Dan Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu.

Trading Patience – Time

Samarinda, 121017
Diantara waktu