0

Energi Besar untuk Menyayangi

Adalah Sinichi Suzuki, seorang maestro violin Jepang, yang mengajarkan musik lebih dari sekedar kumpulan tangga nada pada seluruh muridnya yang masih anak-anak. Ia mengajarkan lebih dari itu pada murid-muridnya tentang filosofi, rasa cinta dan kebahagiaan. Maka menurut cerita, karena itulah orang tua dari berbagai penjuru dunia mengirim anak-anaknya belajar pada Suzuki bukan hanya untuk membuat mereka mampu bermain musik, namun juga menjadikannya anak-anak yang bahagia.

Satu hari Sinichi Suzuki tengah duduk menunggu kereta datang. Seorang anak yang tak dikenalnya (menurut cerita adalah seorang anak pekerja) datang mendekatinya. Anak itu memberi hormat lalu memeluknya. Suzuki diam hingga anak itu melepaskan pelukannya dan pamit pergi, tanpa perkenalan, tanpa mengatakan apa-apa, tanpa tahu apakah anak itu tahu dia adalah Sinichi Suzuki atau bukan. Guru saya mengatakan, Suzuki inilah, yang disebut sebagai seseorang dengan energi yang besar untuk menyayangi. Sehingga daripada menganggapnya hanya sebagai pengajar, anak-anak tanpa sadar merasa bahagia berada di dekatnya.

Sepintas cerita tentang Suzuki ini memberikan saya satu pandangan besar yang barangkali selama ini sedikit terlupakan, tentang betapa sesungguhnya kita tak dapat melakukan sesuatu dengan baik tanpa rasa cinta di dalamnya. Dan daripada terjebak pada sebuah ritme keterpaksaan, kita sebaiknya mengumpulkan segenap eneri untuk menyayangi.

Dunia yang tengah saya hadapi kini membuktikannya. Dunia yang juga dihadapi Sinichi Suzuki. Bagi saya, anak-anak adalah paranormal, seringkali tak dapat ditebak pikirannya. Dalam satu hari ketika saya merasa sedikit saja tidak suka terhadap seorang anak (yang biasanya bukan disebabkan oleh anak tersebut) maka di sepanjang hari itulah ia akan terus memberikan ketidakbahagiaan pada saya, tanpa ada kata yang keluar. Di lain waktu, ketika banyak hal membuat saya bersemangat dalam menjalani hari, anak-anak mendekati saya hanya untuk tersenyum atau bergelayutan pada pundak saya, tanpa saya harus bercanda dengannya. Betapa makhluk yang begitu kecil telah Tuhan beri perasaan-perasaan yang sungguh, tak dapat disederhanakan.

Anak-anak,makhluk yang begitu dekat dengan Tuhan itu, sedikit banyak telah mengubah hidup saya, karakter dan segala di dalamnya yang walaupun belum sepenuhnya baik tetap saja berubah. Dari mereka saya belajar mengumpulkan energi untuk menyayangi segala hal yang di depan mata, segala hal yang diberikan Tuhan kepada saya, apapun itu. Dan bahwa segala kebaikan, bersemayam oleh segala usaha kita mendekat pada Tuhan. Sesuatu yang belum terpikirkan dalam diri saya di sekitar tiga tahun yang lalu.

Maka pada berbagai hal yang terkadang membuat saya ingin menyerah, ingin marah, dan menjadikan lelah, saya hanya harus menyayanginya sebab itu semua datang atas rencana Tuhan. Pada berbagai interaksi yang membuat saya jengah, saya hanya harus berintrospeksi, bahwa hubungan manusia terkat erat dengan hubungan dengan Tuhan. Energi yang tidak dapat hilang itu, sesungguhnya mampu dialihbentukkan. Jadilah penyayang, sebab Tuhan Maha Penyayang.

Kebahagiaan, memang dari hati adanya. Namun satu prinsip yang harus kau ingat, ia datang, sebab Tuhan menurunkannya kepadamu.

He told me he was happy that day because of that Iron Man's outfit

He told me he was happy that day because of that Iron Man’s outfit

I’m a phoenix in the water
A fish that’s learned to fly
And I’ve always been a daughter
But feathers are meant for the sky
And so I’m wishing, wishing further,
For the excitement to arrive

-Home, Gabrielle Aplin-

0

The Last Princess, Deok Hye of Korea

Lee Deok Hye adalah putri terakhir dalam sejarah kerajaan Korea. Ia dikenal dengan sebutan Deok Hye Ongju dan bukan Deok Hye Gongju sebab merupakan keturunan Raja yang lahir dari selirnya sedangkan Gongju (tuan puteri) diberikan hanya kepada anak raja dari permaisuri. Lahir di tahun 1912 dimana Korea berada dalam kekuasaan pendudukan Jepang membuat nasib Deok Hye Ongju berada pada transisi kedua zaman, berakhirnya masa kekaisaran Daehanjeguk dan dimulainya modernitas yang ditandai dengan imperialisme bangsa-bangsa berkuasa.

Ia lahir ketika usia raja menginjak enam puluh tahun, dan menjadi putri kerajaan yang mendapat limpahan kasih sayang. Sebagai keturunan dari seorang selir, Deok Hye sebelumnya tidak masuk dalam silsilah resmi keluarga kerajaan dan keberadaanya dianggap seperti tak ada. Namun atas desakan ayahnya, pemerintah pendudukan Jepang kemudian memasukkannya dalam keluarga resmi kerajaan Korea.

Saat kecil, Deok Hye hendak dijodohkan dengan keluarga bangsawan, Kim Jang Han untuk melindungi sang putri dari bahaya, namun gagal karena intervensi dari pemerintah imperialis Jepang. Ayahnya meninggal oleh sebab yang tak diketahui di tahun 1919 dan beberapa tahun setelahnya Deok Hye dibawa secara paksa untuk pergi ke Jepang dengan alasan melanjutkan pendidikan. Disitulah berbagai tekanan mulai ia hadapi sebagai seorang putri yang dikenal diam, lemah dan tertutup. Ia menderita penyakit mental hingga kepulangannya ke Korea pada tahun 1962, tiga puluh tujuh tahun semenjak pertama kali ia meninggalkannya. Terlepas dari usia dan penyakit mental yang dihadapinnya, Deok Hye Ongju secara akurat dapat mengingat berbagai aturan di istana.

Sebagai film biografi, film ini digarap dan dimainkan dengan sangat baik dan sangat “Asia” oleh nama-nama yang tak asing lagi di Korea sana. Tokoh Deok Hye Ongju diperankan oleh Son Ye Jin dengan sangat apik. Bagi saya, yang sudah sejak lama melihat film-film Son Ye Jin, karakter Deok Hye yang ia mainkan ini adalah yang terbaik karena benar-benar dapat menggambarkan bagaiamana sosok tersebut menjalani hari-harinya sehingga layak dijadikan cerita. Son Ye Jin mampu memberi gambaran betapa tertekannya hidup yang sejak awal ditentukan oleh bangsa lain, kesendiriannya terpisah dari ibunya, kerinduannya akan tanah air dan ketidaksanggupan menjalani kenyataan yang membuatnya menderita penyakit mental.

Jika berbicara tentang produk hiburan Korea, tentu saja tidak akan terlepas dari melodrama dan kisah cinta. Begitu juga dengan film ini. Tokoh Kim Jang Han dihadirkan sebagai sosok lelaki pelindung putri yang sampai akhirnya mampu membuat pemerintah pasca kemerdekaan menerima kembalinya keluarga kerjaan termasuk Deok Hye Ongju. Kim Jang Han dalam kenyataanya sendiri tidak banyak deketahui kisahnya.

The Last Princess

Dalam sejarah, selalu ada nama-nama yang terlupakan di masa depan. Deok Hye Ongju adalah salah satunya. Film ini pun dibuat salah satunya untuk mengingatkan publik Korea pada sosok putri terakhir yang oleh berbagai hal dalam hidupnya memang tak sungguh-sungguh dapat diingat. Seorang putri,raja ataupun ratu, adalah sebuah dongeng yang bayangan tentang kepahlawanan, keberanian dan sumbangsih yang besar selalu ada di dalamnya. Tentu saja, dalam kenyataan tak sepenuhnya seperti itu. Deok Hye Ongju adalah putri yang tak memberikan sumbangsih apa-apa, terlupakan dan gagal membangkitkan harapan bangsanya. Namun terlepas dari itu, ia adalah orang yang juga menjalani hari-hari berat seumur hidupnya. Pergi dalam tekanan di usia muda, diliputi ketidakbahagiaan dan kelemahan jauh dari tanah leluhurnya dan kembali pada dua puluh tahun terakhir masa hidupnya. Sebenarnya, di luar segala harapan tentang kemanusiaan, manusia memanglah berjuang untuk dirinya sendiri.

Seperti yang dikatakan Grace Kelly,aktris sekaligus Putri Kerajaan Monaco, the idea of my life as a fairy tale is itself a fairytale.