0

Benar adalah benar, salah adalah salah
Tak peduli seberapa banyak yg menentang, tak peduli berapa banyak yg mendukung
Kadang hidup sesimpel itu

View on Path

0

The Twenty Sixth June

Life has been tough these days
It may tougher, harder day after day
Every steps you went through all the hardships
Sometimes joyful come over painful

The twenty sixth June,
you today, are differ from what you could imagined before
Swaying the dreams you always set up
Living out of your expectations
Is not really big deal now

The twenty sixth June,
You are wondering what you will be
Who knows that you are way smarter today, in your own field
Maybe you are nobody,not shinning brightly
But, the fact that you know what you want, what you dreaming for, and what you do for
are something that everybody doesn’t have

The twenty sixth June,
I’m glad that finally you get your character
You have an area by your own mind
It’s splendid, that you are not totally follower
You stand on your own principals

The twenty sixth June,
You are all grown up now
That you can take the fact somebody starting to lean on you
No matter how hard it was, you are holding on

The twenty sixth June,
We are coexist by the dreams we always set up
Whenever it sways, you set the new one up
And today, you already know what you gonna do
You take the path you had never wondered before
Now, you seems like understand, that you don’t have to be like others
You are with your own journey
You don’t know if you would be happy with it
But you do have a faith about the path you want to travel
And you know, you just have to walk along the road

For the twenty sixth June you finally found out
Promise,
That you gonna do better!!!!

– A Two Ways Monologue-

0

Norwegian Wood

Haruki Murakami mungkin bukan yang terbaik, namun jelas, ia adalah penulis berkarakter kuat. Buku pertamanya yang saya baca adalah What I Talk About When I Talk About Running, sebuah memoar tentang menulis dan berlari yang menjadi dunianya selama tiga puluh tahun terakhir. Membacanya, saya mengalami stunned contemplations terutama saat tahu bahwa ia memulai segalanya saat usianya 33 tahun. Dan saat tahu ia kini telah menjadi penulis yang mempunyai jutaan penggemar di seluruh dunia, saya memutuskan untuk menjelajahi dunia di balik buku-bukunya.

Norwegian Wood adalah buku kedua Murakami yang saya baca. Buku ini terbit di tahun 1987 dan sejak saat itu melambungkan nama Haruki Murakami sebagai penulis kelas dunia. Hingga kini, Norwegian Wood masih tetap dibacarakan dalam diskusi-diskusi sastra. Saya bertekat membacanya dan kebetulan saja versi terjemahan dalam Bahasa Indonesianya juga terbit.

Toru Watanabe adalah seorang pemuda berusia 18 tahun di tahun 1969, masa dimana dunia tengah menghadapi transisinya. Ia adalah seorang mahasiswa biasa yang sangat suka membaca, tidak berteman dengan banyak orang walau ia sebenarnya bukan orang yang sulit bersosialisasi dan menjalani kehidupannya sebagai pria secara “bebas”. Ia tinggal di asrama mahasiswa namun apatis terhadap urusan politis di dalamnya. Di Asrama, ia dekat dengan Nagasawa, seorang mahasiswa Universitas Tokyo yang menarik, tampan, cerdas sekaligus mengerikan. Nagasawa adalah pembaca sastra klasik dan oleh karenanyalah Watanabe dipertemukan dengannya. Beberapa dialog dan saat Watanabe mendeskripsikan tentang Nagasawa adalah salah satu bagian yang menarik dari buku ini.

Misalnya saat Watanabe menanyakan kenapa ia hanya membaca sastra klasik yang pengarangnya telah meninggal selama 30 tahun, dan ia hanya mengatakan bahwa ia tak membaca buku karya orang yang belum dibaptis oleh waktu. Karena kalau kita membaca buku yang sama dengan yang dibaca orang lain, kita hanya bisa berpikir seperti orang lain. Atau saat Watanabe menyimpulkan bahwa alasan Nagasawa menyukainya adalah karena Watanabe tak menaruh kekaguman sedikitpun pada Nagasawa saat orang lain menghormati dan menginginkan menjadi temannya. Bersama Nagasawa inilah Watanabe menjalani kehidupannya sebagai pemuda yang bebas tanpa batas, yang membawanya pada sebuah perasaan hampa.

Sebenarnya cinta pertama Watanabe adalah seorang gadis bernama Naoko yang juga adalah kekasih sahabatnya, Kizuki yang bunuh diri saat usianya 17 tahun. Mereka dekat karena seakan-akan saling mengenang bayangan Kizuki. Saat cintanya mulai bertumbuh Naoko menghilang dan baru beberapa minggu setelahnya ia tahu bahwa Naoko sedang melakukan pemulihan jiwa di sebuah tempat rehabilitasi daerah pegunungan Kyoto. Lagu Norwegian Wood milik The Beatles adalah favorit Naoko. Seiring perginya Naoko, Midori hadir dalam kehidupan Watanabe. Seorang gadis badung yang sangat jujur. Disaat Watanabe mempersiapkan hatinya membantu kesembuhan Naoko, Midori hadr dengan keterbukaannya yang terdengar menarik.

Jika kita mengharapkan alur cerita berliku nan menarik mungkin Norwegian Wood tidak menjawabnya. Kekuatan dari novel ini terletak pada kuatnya karakter dan kaejadian yang digambarkan oleh Murakami. Watanabe yang sepertinya aneh tersebut ternyata tak lebih aneh daripada orang-orang di sekitarnya. Saat berbagai hal terjadi pada Naoko, ia dibawa pada sebuah pemikiran, bahwa yang membuat ia berbeda dari Kizuki dan Naoko adalah keberaniannya memutuskan untuk hidup sehingga tidak berakhir seperti keduanya. Midori, walaupun adalah seorang gadis yang tidak bisa dikatakan berperilaku baik juga adalah seorang anak yang berbakti, bertanggung jawab dan pandai memasak. Kebiasaan yang terlihat kontradiktif.

Bersama Naoko, Watanabe menyadari ketidaksendiriannya. Bersama Midori lah, dunianya terisi.

IMG_20150606_224252