0

Piknik, Hadiah dan Bahagia

Apa saja yang menjadi resolusimu di tahun ini? Pertanyaan itu sering saya temui setiap menjelang akhir tahun dan permulaan tahun yang baru. Seperti telah menjadi kebiasaan bersama untuk mencanangkan sebuah target hidup dan hal-hal yang ingin dicapai di awal tahun sambil berharap kebaikan di tahun yang akan berlangsung. Tentu saja ini adalah sebuah kebiasaan baik terlepas dari seberapa konsistennya kita untuk mewujudkannya.

Bagi saya hal-hal berbau perayaan seperti ulang tahun ataupun pergantian tahun sejujurnya tidak lebih penting dari mengerjakan pekerjaan rumah hingga selesai ataupun membaca buku di atas tempat tidur. Saya termasuk yang malas melakukan hal-hal tersebut termasuk salah satunya menandainya dengan semacam resolusi. Barangkali alasan saya seperti yang lainnya, perubahan di dalam hidup, resolusi sesederhana apapun bisa dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu pergantian tahun. Tapi alasan utamanya mungkin lebih kepada ketakutan-ketakutan saya sendiri terhadap takdir. Saya takut bahwa resolusi dalam bentuk capaian justru mengerdilkan keyakinan saya terhadap kuasa Tuhan. Semacam mendahului ketetapan Tuhan, yang jika pada akhirnya berbeda dengan apa yang saya mau, saya akan dipenuhi rasa kecewa, dan tentu tidak rela akan keputusanNya. Saya pernah melaluinya bertahun-tahun silam, dan setelahnya hidup terasa semakin berat.

Belajar dari pengalaman itulah, saya tak lagi menandai pergantian tahun dengan sebuah produk bernama target. Sebab yang saya percayai, saya bukanlah orang yang mampu seperti itu. Biarkan Tuhan yang memberikan apa-apa yang sudah pantas bagi saya, sementara apa yang menjadi tugas saya hanyalah melakukan yang baik, lebih baik dan terbaik.

Awal tahun ini menjadi sebuah pertanda bagi saya untuk mengkilasbaliki satu tahun kebelakang. Bahwa Serangkaian peristiwa tak terduga seringkali menjadi tanjakan pendewasaan bersamaan dengan perasaan tak percaya, semuanya telah dapat dilalui. Series of tragedy berupa kekhawatiran dan kehilangan mengiringi permulaan langkah kaki saya berjuang di dunia yang baru. Berat, tapi juga manis. Berangkat dari situlah saya merasa di tahun ini saya perlu melakukan hal-hal yang selama ini jarang sekali saya lakukan. Bila ini tak bisa disebut resolusi (karena saya juga tak hendak menyebutnya begitu), biarlah ini menjadi “hal-hal yang ingin saya lakukan” di sepanjang tahun ini.

1. Piknik
Manusia modern manakah kini yang tak mengenal kata “piknik”? Piknik, travelling, backpacker atau apapun itu, mengandung satu unsur yang sama, perjalanan. Dulu, saya masih ingat, saya senang sekali dengan semua aktivitas berbau pergi dan berperjalanan. Bepergian kemanapun, walaupun melelahkan tak sampai membuat saya stress, tertekan atau sakit. Mungkin karena melakukan perjalanan, seringkali terasa menarik. Maka benarlah mereka yang mengatakan orang yang suka marah-marah adalah orang yang kurang piknik karena melakukan perjalanan melepas gumpalan-gumpalan dalam saraf limbik. Though the road’s been rocky, it sure feels good to me, kata Bob Marley.

Tapi piknik yang lebih berarti, bukan hanya soal itu. Bukan hanya tentang pergi kemana, bersama siapa dan membagikan apa dalam akun media sosial. Percayalah, yang seperti itu sudah terlalu banyak, dan menjemukan. Piknik bahkan walaupun hanya berangkat ke kantor namun menemukan banyak sekali kebijaksanaan hidup adalah perjalanan yang sesungguhnya. Jika setahun ini, saya lebih banyak membaca buku di rumah, semoga tahun ini Tuhan merahmati niat saya. Untuk melakukan perjalanan demi perjalanan mendekat pada alam, berinteraksi dengan manusia dan menuliskannya menjadi kenangan pembangun jiwa. Tahun ini, saya akan berusaha untuk lebih banyak “piknik”.

2. Hadiah
Tahaadduu wa tahaabbu, saling memberi hadiah maka kamu saling menyayangi. Adalah perintah Nabi yang sederhana namun selama ini saya abaikan. Terhadap hal ini saya belajar dari drama dan variety Korea yang sering saya lihat. Orang Korea mempunyai kultur yang jelas dan tegas soal hierarki dan kecenderungan untuk selalu memberikan hadiah. Ulang tahun, tahun baru, bertamu bahkan meminta maaf selalu disimbolkan dengan hadiah. Sahwa (Apel) mempunyai pengucapan yang mirip dengan sahwa (minta maaf). Maka saat meminta maaf, orang yang bersalah biasanya akan membawakan Apel terhadap rang yang dimintai maaf.

Memberi hadiah adalah kebiasaan yang ingin saya lakukan untuk meruntuhkan ego saya sendiri. Untuk melawan segala ketidaksenangan saya dalam berinteraksi. Untuk selalu menyadarkan saya, bahwa hubungan antar manusia bukan hanya persoalan memberi dan menerima, tapi juga tentang perasaan dihargai, diingat dan diperhatikan. Semoga dengan ini Tuhan membukakan kembali pada saya pintu-pintu kedamaian berupa kedekatan dengan manusia dan dijauhkan dari segala sifat rendah diri ataupun tinggi hati.

3. Bahagia
Tidak satupun keinginan ada untuk membuat kita menjadi tidak bahagia. Termasuk dua hal di atas dan banyak hal lain. Dilakukan untuk menjadikan saya lebih bahagia. Bahagia yang sesungguhnya. Bahagia yang tertuang dalam empat jenis kesabaran. Kesabaran dalam menjalankan perintah Tuhan, kesabaran dalam melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, kesabaran menghadapi ujian, dan kesabaran terhadap manusia yang tak menyenangi kita. Bersabarlah dan berbahagialah.

bianglala

Wherever you go,go with all your heart (Confusius)

0

Memayu Hayuning Bumi

Dalam membuat sebuah lembaga pendidikan atau sederhananya disebut sekolah, menentukan filosofi pendidikan yang dianut menjadi dasar pembentukan visi, misi, tujuan dan segala proses pembelajaran yang berlangsung di dalamnya. Bagi saya filosofi seharusnya mencakup hal-hal besar dan bernilai perbaikan. Mengandaikan diri dapat membangun sekolah (yang juga saya amini dalam hati) saya ingin menerapkan filsafat yang terkenal dalam bahasa Jawa, Memayu Hayuning Bumi.

Memayu Hayuning Bumi diperkenalkan pertama kali oleh pujangga besar Ronggowarsito dan telah sekian lama menjadi falsafah hidup orang Jawa yang kemudian saya ambil karena mengandung unsur kearifan lokal dan nilainya yang universal. Memayu berarti mempercantik/memperindah, Hayuning adalah keadaan yang indah dan Bumi berarti tempat hidup dan seluruh isi di dalamnya. Memayu Hayuning Bumi, bisa diartikan dengan memperindah dunia yang sebenarnya sudah diciptakan indah. Sekolah bagi saya, adalah salah satu upaya yang paling nyata dalam menciptakan keadaan dunia yang lebih baik. Sekolah, mendidik manusia-manusia yang di masa depannya akan menjadikan seperti apa dunia ini kelak.

Dalam menciptakan keadaan dunia atau lingkungan yang lebih baik, falsafah ini terbagi menjadi dua bagian besar yaitu Memayu Hayuning Pribadi (memperbaiki kualitas pribadi) dan Memayu Hayuning Bebrayan (memperbaiki kualitas sosial). Memayu Hayuning Pribadi berarti sekolah mengajarkan sesuatu yang memunculkan perbaikan pribadi pada diri seseorang. Nilai ini kemudian saya turunkan menjadi beberapa prinsip seperti kemandirian, pemahaman beragama, perbaikan sikap, keberanian dalam berpendapat dan penanaman jiwa kepemimpinan. Melalui prinsip-prinsip tersebut, saya berharap sekolah memunculkan pribadi-pribadi yang walaupun mungkin bukan yang paling cemerlang dalam keilmuan, namun terdidik secara keseluruhan.

Memayu Hayuning Bebrayan berarti sekolah menyediakan lingkungan sosial tempat manusia berinteraksi dengan manusia lain pada fase-fase pertama masa hidupnya. Pembelajaran terkait pergaulan atau interaksi sesama manusia menjadi penting untuk mempersiapkan seorang manusia nantinya menghadapi pergaulan dunia yang sesungguhnya di luar sekolah. Falsafah ini melahirkan prinsip-prinsip seperti menghormati/menghargai orang lain, toleransi atau dapat menerima perbedaan, kepedulian, cinta alam dan kasih sayang. Falsafah Memayu Hayuning Bebrayan memungkinkan setiap manusia di dalam sekolah bergaul dengan seseorang yang sangat berbeda dengannya secara fisik, kondisi dan latar belakang.

Walaupun pemahaman pribadi saya tentang asal mula Ronggowarsito menelurkan filsafat diatas belum sempurna, namun melalui tiga filosofi di atas, saya berharap, sekolah dapat membentuk manusia-manusia yang berkualitas dan bersinergi dalam pergaulan untuk membuat keadaan lingkungan dan alam menjadi lebih indah.

pinwheel-three

*dalam suatu tugas membuat filosofi pendidikan*