0

MaLu TaK TeRKiRa….

Ini benar2 peringatan Allah yang benar2 harus aku ingat sampai nanti..

Betapa aku telah menjadi hamba yg lalim, kikir, dan sombong pada saat aku beramal tanpa niat ikhlas. Sungguh, semuaanya memang tampak nyata melalui pandangan orang lain. Namun apakah Allah benar2 melihat amal yg telah aku kerjakan tanpa niat yang ikhlas hanya mengharap ridhoNya??? Aku selalu mengingat amal2 yg aku kerjakan….tapi apakah itu suatu tanda keikhlasan….

Aku malu ketika dengan keluh kesah aku menginfakkan harta di jalan Allah padahal semua harta ini milikNya dan perjuangan ini untukNya… Aku malu ketika Allah benar2 memenuhi janjiNya yaitu saat Ia memberikan rezeki yg tidak dapat diduga2 datangnya padahal aku masih merasa belum melakukan apa2….Aku malu saat Allah memudahkan jalanku padahal tak setiap orang diberkahi itu….Sungguh,aku malu ketika begitu banyak nikmatNya yang tidak aku syukuri…….

Aku malu ketika As-Suusiy berkata bahwa “ikhlas adalah tidak merasa telah merasa berbuat ikhlas. Barang siapa masih menyaksikan keikhlasannya, maka keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi..”

Hanya sedikit ucap lirih yg bisa kuungkapkan…semoga aku bisa mejadi hambaMu yg ikhlas dan sabar…

Bukankah itu adalah islam……

R.Baca 28.05.08

Sesaat setelah aku sadar bahwa selama ini aku tak pernah ikhlas

Iklan
1

Kutulis sebuah cerita,untuk mereka,pemegang amanah masa

Aku tak mengira akan berada di sini…..Di tempat orang2 berpikiran besar berkumpul. Kenapa aku bisa beradadi sini????Ini sudah kehendak tuhan mungkin….Ia menghendaki agar aku mampu meniru jejak pemikir2 besar itu…

Namun di sini…sedikit saja aku ingin bercerita, tentang orang2 hebat di sekitarku, pejuang2 tangguh.

Agar ketika kubaca lagi tulisan ini, maka bergemuruhlah hatiku dan meluaplah tekatku memenuhi seruanMu…

Aku tahu tak banyak pemuda seperti mereke.Pemegang amanah sejati.Di usianya yang masih belia,ketika pemuda lain masih terlelap dalam tidur yang diatasnamakan “menuntut ilmu”,mereka bangun dengan pikiran2 besarnya.

Mereka juga menuntut ilmu,namun pikiran mereka melebihi apa yang didapat dari balik sebuah bangku. Mereka orang yang luar biasa sibuk, namun tak sedikitpun kognitif terganggu.Mereka orang yang tetap menjaga amanah orang tua, tapi tak sekalipun mereka mengeluh atas beratnya medan yang ditempuh.

Merekalah orang-orang hebat.Tak sembarang orag mampu enggapai risalah ini. Sekali lagi hanya orang-orang yg terpilih

Ada sebait lagi tentang kehidupan mereka. Merka pemuda yang perasaannya bergemuruh antara cinta dan nafsu tapi kekuatan iman dapat melepas belenggu-belenggu itu. Mereka juga pemuda yang sangat suka bercanda, namun tetap menyurutkan langkah mereka untuk terus berkarya. Mereka seperti yang lainnya, tetap menyukai hal-hal yang bersifat semu, namun kelihaian untuk mengelola mampu membuat semua itu menjadi bermutu.

Entahlah, cerita apalagi yang bisa diuraikan atas keunikan-keunikan mereka. Bahlkan satu pena dan lembaran kertas di buku pun tak akan cukup memuatnya. Diperlukan tinta hati agar mereka sendiri yang menuliskannya dalam cerita2 sendu nan lucu.

Tetaop ada saat ketika mereka digoncang badai tanpa ampun,namun mereka berstu membentuk barisab kokoh nan syahdu. Tetap ada masa mereka mulai kelekahan dengan semua dilema yang ada, namun mereka bahu membahu untuk kemudian membentuk kembali bangunan yang utuh……..

Siapakah mereka itu????????

Merekalah pemegang amanah masa

Merekalah pengemban misi peradaban

Semoga disitu jugalah aku termasuk………

Asrama, 170308

Masa2 pemira perdana yg melelahkan sekaligus mengesnkan

0

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS AIRLANGGA

Dua puluh lima tahun telah berlalu keberadaan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Airlangga (FMIPA UNAIR), telah memberikan kontribusi pada negara untuk ikut mewujudkan dan mencerdaskan pendidikan generasi anak bangsa menuju sebuah era pengembangan ilmu-ilmu dasar. Disadari atau tidak peran ilmu-ilmu dasar saat ini khususnya di negara-negara berkembang sangatlah diperlukan, karena kemajuan sebuah Negara salah satu faktornya adalah kemajuan-kemajuan di bidang sains dan teknologi. Tidak sedikit hasil dan prestasi yang telah diraih oleh FMIPA UNAIR selama ini. Kepercayaan sebagian besar masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di FMIPA selama ini cukup meningkat. Hal ini ditandai tidak sedikitnya animo siswa-siswi SMA di negeri ini, yang ingin menjadi mahasiswa di FMIPA UNAIR. Menyikapi kondisi itulah sudah barang tentu membuat seluruh civitas akademika FMIPA UNAIR berkeinginan untuk terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikannya secara integratif, yag arah desainnya berstandar pada aspek moralitas yang karimah. Hal ini penting, karena keberhasilan orang kelak, tidak cukup hanya dipandang secara parsial dari aspek kemampuan akdemis saja melainkan dipengaruhi oleh aspek yang lain (morlaitas). Oleh karena itu, FMIPA UNAIR selalu menanamkan pada seluruh civitas akademikanya sebuah slogan ilmiah yang harus mereka junjung, yakni JADILAH ILMUWAN YANG BERJIWA AMANAH DAN BERMORALITAS KARIMAH. Saat ini bertepatan dengan semangat 100 tahun era kebangkitan Nasional Fakultas MIPA Universitas Airlangga telah menancapkan komitmennya untuk menjadi sebuah lembaga pendidikan yang akan mempersiapkan anak bangsa selain terampil di bidang ilmu-ilmu dasar juga mampu untuk mengembangkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh menjadi temuan yang bermanfaat. Dengan dasar itulah mulai tahun ajaran 2008/2009 FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (FMIPA), telah berubah nama menjadi FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI (FST). Keberadaan FST ini merupakan sebuah amanah yang telah digariskan dalam visi, misi Unair BHMN. Diharapkan dengan hadirnya FST di Unair ini, dapat merubah image sebagian besar dari masyarakat yang selama ini memandang bahwa pada umumnya lulusan FMIPA paling-paling hanya menjadi guru. Pandangan ini tidak semua salah, karena dari hasil survey juga tidak sedikit lulusan FMIPA yang bekerja di luar profesi tersebut. Ini menunjukkan bahwa lulusan FMIPA selama ini juga dapat berkiprah secara maksimal di segala bidang. Di samping itu, banyak temuan atau penelitian dari para dosen-dosen muda yang tidak bisa ditindaklanjuti. Dengan kondisi itulah semua pimpinan berkomitmen untuk mewujudkan keinginan tersebut, sehingga dengan semangat perubahan kami bertekad untuk mewujudkan keberadaan sebuah Fakultas yang mampu mensinergikan antara basic science (ilmu dasar) dan applied science (teknologi). Semua ini akan terwadahi dalam sebuah FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI (FST) UNAIR. (Drs.Sediono, M.Si _ Wakil Dekan III : Giving the best for your life)

Aris Rahman

0

Kisah perjuangan

Pelajaran Motivasi dari Tragedi Petualangan Antartika

April 16, 2008

Pagi itu semburat sinar matahari berwarna keperakan baru saja berpendar…… Dan di pagi itu, tepat pada tanggal 14 Agustus 1914, sebuah kapal bernama Endurance melepas sauh dari galangan kapal di London, bergerak perlahan menuju benua tak terjamah bernama Benua Antartika. Inilah sebuah episode tentang perjalanan pertama manusia untuk menaklukkan benua di kutub paling utara Bumi ini. Sebuah perjalanan ambisius yang dipimpin oleh anak muda legendaris bernama Ernest Shackleton bersama 27 anak manusia yang amat sadar resiko yang akan dihadapinya.

Setelah menempuh perjalanan selama lima bulan menembus samudera dan membelah lautan luas, kapal itu mulai bergerak memasuki perairan benua Antartika. Dan persis di titik itulah, di tengah badai es dan suhu dibawah 15 derajat celcius, episode tragis dimulai : lautan bongkahan es yang terjal dan berton-ton beratnya menghantam lambung kapal, dan pelan-pelan merobohkannya. Jerit kepiluan membahana ditengah guyuran badai es yang tak mengenal ampun dan deburan ombak yang terus menggedor.

Ke-28 anak manusia itu akhirnya bisa bersandar di pantai es dengan hanya tiga sekoci dan bekal secukupnya. Mereka terdampar di tengah pantai es, ribuan km jaraknya dari kehidupan, tanpa peralatan komunikasi apapun (ingat, tahun itu belum ada satelit, juga belum ada helikopter dan pesawat terbang). Mereka terkapar ditengah lautan es yang tak berujung, ditemani gemuruh badai tanpa henti, dan segores senyum kecut untuk segera menyongsong………kematian.

Toh, lonceng kematian itu ternyata tak segera berdentang. Setelah melakukan analisa cuaca, Ernest Shackleton, sang leader, memutuskan agar mereka mesti menggelar kamp di pantai es itu untuk menunggu lautan es mencair – dan itu artinya mereka harus menunggu selama sekitar delapan bulan (duh!). Demikianlah, mereka lalu membuat kamp dari tiga sekoci yang diselamatkan dengan bekal makanan yang tersisa – plus berburu ikan disekeliling pantai untuk mengisi perut sehari-hari.

Selama delapan bulan itulah mereka hidup ditengah lautan es, terputus total dari peradaban, ditengah badai es yang selalu mengintai, dan empat bulan diantaranya tak secuilpun melihat sinar matahari. Ditengah suhu yang membeku itu, mereka harus terus menyalakan api semangat untuk bertahan hidup, meski pelan-pelan sinar api itu kian redup disapu deburan es yang tak pernah berhenti menerjang.

Namun, harapan semangat itu terus membara di dada sang leader, Ernest Shackleton. Setelah lautan es mulai mencair, ia memutuskan untuk mengajak lima orang anak buahnya berlayar menuju pulau terdekat guna mencari pertolongan. Jaraknya? 1200 km. Dengan apa mereka menuju pulau itu? Dengan salah satu sekoci yang berhasil diselamatkan. What?!! Bergerak 1200 kilometer menembus ganasnya laut kutub utara hanya dengan sekoci kecil sepanjang tujuh meter? Tak ada pilihan lain, ucap Ernest dengan penuh determinasi dan ketegasan.

Begitulah, di pagi yang terang itu, enam orang anak muda perlahan-lahan menaiki sekoci, bergerak menuju pulau terdekat di South Georgia. Selama 17 hari mereka kemudian bergerak membelah samudera, menembus kebekuan air es, dan ratusan kali dihempas gulungan ombak setinggi 7 meter. Hanya dengan sekoci kecil. Juga dengan nyala api kegigihan, semangat pantang menyerah, dan dengan sebongkah harapan untuk terus hidup…..

Mereka akhinya berhasil menaklukkan lautan itu, dan berhasil mencapai pemukiman terdekat untuk mencari pertolongan. Mereka segera mencari kapal untuk segera menjemput rekan-rekannya yang masih terdampar di pulau es ratusan kilometer jauhnya.

Dan benar, 22 rekannya juga menunggu dengan harap cemas : apakah mereka akan berhasil dijemput Ernest dkk atau dijemput ajal? Mereka sungguh berharap pada akhirnya bisa keluar dari pantai es yang pelan-pelan pasti akan membunuh mereka itu. Harapan mereka akhirnya terpenuhi, ketika di suatu petang, lamat-lamat mereka melihat sosok kapal di kejauhan. Mereka saling berpelukan, tanpa kata-kata…….hanya sesenggukan tangisan kecil yang terdengar, disela desiran angin yang membeku……

28 anak muda yang gagah berani itu akhirnya berhasil pulang kerumahnya masing-masing dengan selamat.

Lalu, pelajaran motivasi apa yang bisa dipetik dari drama krisis nan mendebarkan itu? Setidaknya terdapat dua aspek yang dengan jenius diperagakan oleh Ernest Shackleton selama mengelola anak buahnya dalam mengarungi drama itu.

Yang pertama adalah emotional stability yang kokoh. Dari kesaksikan para anak buahnya, selama dalam krisis yang mencekam itu, tak sekalipun Ernest pernah kehilangan emosi dan menunjukkan kepanikan. Atau marah dan menyalahkan keadaan atau anak buahnya. Ia tetap tenang, fokus pada solusi, dan memutuskan segalanya dengan kepala dingin.

Aspek yang kedua adalah ini : kemahiran untuk selalu memelihara harapan (hope) dan optimisme. Ditengah padang es yang membeku nan mematikan, apa lagi yang bisa dijejakkan selain keyakinan bahwa hidup masih layak untuk diteruskan? Dan itulah yang ada di kepala Ernest bahkan ketika himpitan badai dan gulungan ombak terus menggerus nyali keberaniannya. Keyakinan yang menghujam kuat bahwa kita pada akhirnya akan berhasil………barangkali inilah energi maha dahsyat yang telah membawa Ernest dkk berhasil menaklukkan ganasnya lautan es.

Itulah dua aspek yang mungkin bisa kita petik. Kelak, ketika Anda menghadapi krisis dalam roda kehidupan Anda – apapun jenis krisis itu – maka ingatlah kisah dramatis ini, dan juga pelajaran yang terkandung didalamnya. Hadapi krisis itu dengan kepala dingin, dan jangan pernah biarkan harapan akan keberhasilan hilang terempas dari benak Anda. Hadapi tantangan hidup Anda dengan api kegigihan, semangat pantang menyerah, dan dengan sebongkah harapan untuk merebut kesuksesan. Sebab hanya dengan itu, perjalanan hidup Anda akan larut dalam buih keberhasilan dan tenggelam dalam samudera kemenangan.

Diposting oleh Akhmad Guntar

Trainer Trusco anggota Asosiasi Trainer Muslim

http://www.asosiasitrainermuslim.com

0

VIY 2008

Depbudpar Pasang Billboard VIY 2008 di 4 Kota Besar Mancanegara Sebagai Pasar Utama Pariwisata PDF E-mail
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) memasang empat billboard Visit Indonesia Year (VIY) 2008 di empat kota besar di empat negara sebagai pasar utama pariwisata Indonesia yakni; Kuala Lumpur (Malaysia), Singapura, Jeddah (Saudi Arabia), dan Melbourne (Australia) dalam upaya mensukseskan program VIY 2008.

Sarana promosi ini juga dipasang di kota-kota besar di dalam negeri antara lain Medan, Batam, Pelembang, dan Jakarta. Menbudpar Jero Wacik seusai meresmikan billboard VIY 2008 di Bandara Ngurah Rai Bali, Sabtu (27/4) mengatakan, pemasangan billboard VIY 2008  ini menunjukkan kesungguhan pemerintah untuk mensukseskan VIY 2008 dan memajukan pembangunan pariwisata Indonesia baik secara nasional dan internasional “Pemerintah mengharapkan dukungan semua pihak baik pemerintah (pusat dan daerah) maupun swasta dan masyarakat untuk lebih mendukung program VIY 2008 agar target yang dicanangkan dapat tercapai yang pada akhirnya dapat memberikan manfaat terhadap kesejahtaraan masyarakat,” kata Menbudpar Jero Wacik.


Program VIY 2008 yang dicanangkan pemerintah mentargetkan 7 juta kunjungan wisman dengan perolehan devisa sebesar US$ 6,7 miliar, sedangkan  target wisatawan nusantara (Wisnus) domestik sebanyak 223 juta perjalanan di dalam negeri.
(Humas)
0

JanjiNya

Demi matahari dan sinarnya di pagi hari

Demi Bulan apabila ia mengiringi

Demi siang hari bila menampakkan diri

Demi malam apabila ia menyelimuti

Demi langit dan seluruh binaanya

Demi bumi dan seluruh hamparannya

Demi jiwa dan seluruh penyempurnaannya

Allah…………………………Subhanallah

Raihan,post 090408

0

Beatiful Mind is about Beautiful Math

Film ini dibuat tahun 2001 dan meraih pengahargaan Best Picture di Academy Award 2001. Film ini becerita tentang kehidupan seorang ahli matematika dari Amerika bernama John Nash (Russel Crow) yang menderita shizoprenia selama hidupnya. Film ini cukup memberikan pelajaran menarik bagi mereka yang terkadang menganggap dirinya bodoh. Bahwa orang jenius sekalipun tetap harus berjuang untuk dirinya sendiri.
Cerita diawali di tahun 1941 ketika Nash menempuh studi pasca sarjana di Princetton University sebagai salh satu dari para calon ilmuwan yang mendapat beasiswa di perguruan tinggi bergengsi itu. Nash adalah seorang yang kaku dan tidak pandai bergaul. Ia terbiasa mengalirkan segala pikirannya secara jujur tak peduli apakah itu menyakiti orang lain atau tidak. Jadilah ia tak punya seorang pun teman di universitas itu.
Teman satu-satunya yang setia menemaninya adalah teman sekamarnya di asrama yaitu Charles. Charles terus setia menemani nash hingga Nash lulus dan menikah kemudian menjadi penemu Teori Keseimbangan Nash (Nash Equilibrium) dan bekerja di sebuah laboratorium pertahanan negara. Di laboratorium itulah Nash bertemu dengan seorang agen pertahanan negara yang memberinya sebuah pekerjaan untuk memecahkan sebuah kode.
Konflik diawali oleh kelakuan-kelakuan aneh Nash yang dicurigai oleh Alice,istrinya. Nash selalu bercerita tentang Charles, sosok yang tak pernah ditemui Alice dan selalu berkelit jika ditanya tentang pekerjaan memecahkan kode yang sengaja disembunyikan Nash. Alice yang curiga akhirnya tahu bahwa selama pendidikan pasca sarjana, setiap mahasiswa diberi sebuah kamar sendiri. Alice sadar bahwa Charles yang selama ini diceritakan Nash tak lain hanyalah bayangan Nash belaka. Kemudian terungkaplah aktivitas Nash memcahkan kode itu juga sia-sia karena agen pertahanan juga hanya bayangan Nash. John Nash, sang ilmuwan menderita Schizoprenia di mana si penderita tak mampu membedakan antara khayalan dan kenyataan.
Drama kemudian diwarnai dengan kejadian-kejadian mengharukan di mana sang istri mencoba untuk membantu John Nash untuk sembuh dari penyakit ini. Nash pernah hampir membunuh bayinya, merobek kulit tangannya, dimasukkan dalam rumah sakit jiwa dan peristiwa lain yang mampu menguras air mata. Dari semua keteguhan istri Nash memberikan pelajaran dan semangat yang luar biasa untuk terus menemani orang yang dicintainya apapun keadaannya.
Film ini terlalu menonjolkan bagian Nash seorang ilmuwan dan penderita Scizoprenia saja karena mungkin di situlah letak komersilnya. Kehidupan Nash sebagai seorang suami terutama ayah jarang sekali ditampilkan. Pada saat masa tuanya pun teman-teman bayangan Nash itu masih tetep mengahntui sang ilmuwan. Namun istrinyalah yang membuat Nash mampu bertahan hingga masa tuanya.

dinar ulfi mufarikha
FE Unair