0

Menemui Doa

Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya – Goethe, yang disitasi oleh Jostein Gaarder dalam Dunia Sophie-

Begitu saja kiranya kau mengkilasbaliki waktu. Selalu ada bayangan tentang hari-hari di masa lalu ketika kau disesaki mimpi buruk berkepanjangan dan bangun menyesaki pagi, siang juga malam. Kau adalah manusia terlalu biasa yang perlu hilang dan tenggelam diantara riuhan takdir dan teriakan-teriakan tentang ambisi. Hidup, bagimu pada saat itu adalah tentang bertahan, agar tidak jatuh, agar tidak hilang dan agar tidak tenggelam.

Pagi ini, kau menghirup segarnya udara pagi dengan segenap masa lalu yang terhampar di garis waktu. Terhadapnya, apa lagi yang bisa kita lakukan selain mengenang? Itu adalah tentang bagaimana kau yang dulu tak berdaya, bersembunyi di balik amarah dan kesempitan hati kini mampu menjadi manusia yang mampu berdiri dengan segala anugrah tentang akalnya. Bahwa berkali-kali keinginan untuk menyerah pada berbagai hal, nyatanya kau tak benar-benar melakukannya. Itu adalah tentang bagaimana kau tak pernah meninggalkan doa.

Mimpimu boleh pergi entah kemana, dukamu boleh datang kapan saja, tapi doa, dalam waktu yang paling tak mampu kau menghaturkannya, tetap tersimpan di hatimu. Bahkan tentang bagaimana kau begitu marah, kau begitu lelah, dan tak berdaya, semuanya keluar pada doa-doamu.

Kau melupakan bagaimana doa-doamu terpanjatkan. Hingga pada satu titik, kau menyadari, apa yang kau temui kini, adalah apa yang pernah terucapkan dalam doamu, dalam tangis-tangis kesepianmu, dalam beratnya hati karena menunggu.
Dalam kenyataan yang tak berbeda sedikitpun dengan yang pernah kau bayangkan,

Kau menemui doa-doamu.

Beginilah Tuhan mengajarimu tentang hidup. Ia tahu segala yang kau minta dan yang tidak kau minta. Tapi keberpasarahan sekaligus kemauan untuk tidak berputus asa, kelembutan hati sekaligus kekuatan berpikir, ketakutan sekaligus keberanian menghadapi segala ujian, adalah apa yang barangkali diinginkanNya terhadapmu.

Dan berterimakasihlah. Dan berterimakasihlah. Untuk yang telah berlalu, untuk yang kini sedang berlangsung, dan yang akan menunggumu di depan.

Selamat menjalani peran
Sampai batas waktu yang telah ditentukan
Sebagai Hamba Tuhan, sebagai perempuan, dan apa-apa yang pernah kau impikan.

Depok, 19 Ramadhan 1438H
Pada Juni yang keduapuluhdelapan
Semoga umur diberkahi
Dan segala hajat diridhoi
Hiduplah bersamanya dalam ketaatan yang sebenar-benarnya

Iklan