0

Cintaku di Langit Ambon…..

Episode pertama

Di awal perjumpaan,tertulis kata untuk bumi timur Indonesia, birunya menapaki kalbu. Pertama kali, kuinjakkan kaki, selimut biru menghiasi Ambon. Langitnya membiru, lautnya membiru, sebiru suasana saat itu, yang diiringi senyum kelegaan dan kesyukuran, sampailah kami di Tanah Maluku.Di sini, di tanah pattimura, di Bumi Para raja, aku, kami hadir untuk sebuah deklarasi suci, dimana dimana semangat pemuda bergumul untuk sebuah amanah Illahi.

Tuhan sungguh baik…Di tengah-tengah masa penuh kontemplasi, ternyata Ia izinkan saya merasai nikmat menjelajahi bumi, menyaksikan puncak amanah akan berakhir dengan sebuah pertanggungjawaban pada umat dan mencium wewangi keindahan timur tanah air. Walaupun berangkat dirintangi permasalahn yang sungguh pelik, namun atas seiizinNya ternyata semua bisa terlewati. Hari itu pun menjadi saksi, Selasa 30 Juli 2010, Kuinjakkan kakiku pada manisnya tanah perjuangan, Ambon Manise!!!!I’m Coming!!!!

Sore itu, sekitar pukul 15.30 Waktu Indonesia Timur, Bandara Internasional Pattimura menyambut. Sebelum mendarat, di jendela kabin pesawat, terlihat indahnya mutiara Maluku dari atas. Keindahan Cipratan surga. Laut biru, langit biru, daratan yang hijau,..indah nian. Mendarat di bandara, kami terkesima. Apa sebab??? Terkejut juga, Inikah bandara internasional^_^??? Di Surabaya, nampak seperti Stasiun Gubeng (hanya bercanda^^v).

Ada yang terlupa. Dengan apakah kami berperjalanan. Terima kasih untuk maskapai yang kejam. Yang sungguh tega seenaknya sendiri menaikkan harga di setiap perpacuan waktu hingga kami semua pusing dibuatnya. Batavia Air, dengannya kami berangkat. Terbang dengan sangat nyaman (perbandingannya dengan saat kami pulang). Pramugari yang cantik juga sopan. Layanan coffe break yang seungguh membuat kami tertolong karena semenjak berangkat dan menunggu delay selama 2 jam kami belum sarapan. Tapi saking nyamannya, AC membuat kami semua menggigil kedingingan. Pertama kali naek pesawat dalam hidupku, satu kata saja batin saya, “semoga perjalanan ini cepat usai”….Sesampainya, satu rombongan, kami semua sama-sama kampungan^^v, foto-foto lah di depan kapal terbang…..

Selanjutnya, menuggu jemputan. Tak dinyana, layanan sungguh memuaskan. Kami serombongan dijemput oleh mobil kampus Universitas Pattimura. Bisnya berAC lo, tapi waktu itu ACnya mati, jadilag merasai nikmtanya angin cendela Ambon.Ada yg terlupa lagi, siapakah kami serombongan itu. karena keberangkatan hari berbeda2, maka kami dibagi ke dalam beberapa kloter. Kloter saya pada waktu itu terdiri dari tiga akhwat antara lain, saya sendiri, dek ika dan dek dinda (tua saia:(). Selain itu adalah beberpa ikhwan yg saya lupa berapa pastinya, tapi kalo tidak salah terdiri dari Amir Syafar kita Mr.Indra Kusuma mas’ul UKMKI, ada Syeikh kampus Dani Setiawan, Ketua SKI FISIp (Yanuar), Ketua SKI FF (Asset), Ketua SKI FKH (Arif), Ubai dan ikhwan2 lain yg tak saya kenal. Semua sama2 katrok^^v…

Dalam bis menuju kampus Unpatti Poka, banyak celetukan2 lucu. Ika said: Ya Allah mbak…kayak Wonogiri (dengan polosnya). Tertawalah saya, danyg paling ngekel ketawanya adalah bos Dani yg sama2 putra daerah Wonogiri. Tak kalah dengan Ika, Yanuar Said : gak jauh2 dari Magetan juga. Ganti akulah yg ketawa karena kami dari satu daerah jg….Ambon, menyisakan kenangan akan kampung halaman kami…

Sampai di kampus Universitas Pattimura…..Kesan pertama…..keren juga kok…gak kalah sama unair^^v..Ada satu hal yang kemudian membuat kami takjub untuk yang kesekian kalinya, atmosfer FSLDKN XV, terasa ada dimana-mana. Datang kami disambut bentangan papan besar, spanduk besar, bendera di sepanjang jalan, semuanya menyambut lawatan besar bagi da’wah kampus Indonesia ini. Lelah berperjalanan, sesampainya disitu, menjadi tak terasa sekali. Selanjutnya aku mencoba berkeliling sendiri (padahal cultur disana, saya tak tahu sama sekali). Pada akhirnya, penasaran saya terjawab sudah, tentang bagaimana fenomena kehidupan mahasiswa di timur Indonesia, memang tidak bisa disamakan dengan kita yang di kota besar seperti ini.

Melihat persiapan panitia untuk acara keesokan harinya. Kesibukan disana-sini. Pun teman2 yang telah berangkat pada rombongan pertama. Dimana mereka? ternyata mereka telah tenggelam dalam aktivitas syuronya. Miss Rini, Yusifa dan mbak Asih persiapan acara, dan mbak diana bersama teman2 ITB untuk persiapan Sekolah LDK. Tak berlangsung lama, yang kutemui pertama kali adala rombongan Miss Rini, Yusifa dan Mbak Asih dan Aul yang datang setelah saya tiba. Maka ikutlah saya pada perjalanan mereka, yang ternyata, menutup hari dengan sebuah kengerian yang luar biasa.

Selanjtnya bersama mereka, saya ikut dibawa ke daerah poka, tempat mereka bermalam setelah tiba duluan disini. Ternyata disana telah menyambut sosok-sosok yang tak asing lagi bagi saya, mereka yang emapt bulan lalu menorehkan kenangan di kampus Universitas Pancasila Jakarta, teman2 BP Nasional. Teman2 cute saya, Winda UI, Kak Mia UI, Teh Ifa UPI, Teh Halimah UIN SGD BDG, Teh Nopi UIN SGD BDG, etc. Jadilah moment itu kami saling sayang2an…

Berikutnya adalah saat “bersantai”, tapi sebenarnya tidak juga, karena yang kita bicarakan adalah permasalahn terkait kepanitiaan, acara, pembicara, anggaran dana, dan laporan pertanggungjawaban. Semuanya membuat kita terlena dengan waktu (baca;disorintasi waktu), sampai tak terasa, sudah jam 20.00 waktu setempat, kita tak kunjung dijemput panitia untuk diantar ke penginapan. Setelah lumayan lama berunding ala perempuan (baca:eyel2an), akhirnya kita putuskan untuk bernagkat sendiri ke kampus unpatti poka, berjalan kaki!!

Ternyata, semuanya lebih buruk dari yang kami bayangkan. Tidak ada lampu jalan sama sekali. Gelap!! Dengan bawaan backpack yang cukup banyak (apalagi teh syifa^^) bersama dengan printer milik mosaic yang mengenaskan karena tinta tumpah semua di bagasi pesawat, kami memakai penerangan dari handphone untuk penunjuk jalan. Sesekali ada motor lewat membantu menerangi. Semuanya seraba kerepotan. Tangan satu membawa backpacking, satunya membawa handphone. Ada juga yang gantian menyunggi printer. Pada saat paling buruk adalah berhadapan dengan tali tambang yang dibentangkan sebagai polisi tidur. Masih teringat, hampir terjunngkal saya karena tak bisa melihatnya. Allah…sungguh tak terlupakan saat itu, karena beberapa setelahnya kami baru tahu, bahwa kondisi semacam itu, sungguh berbahaya untuk kami, para perempuan.

Ya, perjalanan terus berlanjut, dengan segala ke-riweuh-an kami. Sampai akhirnya kita samapai di masjid kampus Unpatti. God, becek, kaki kami terndam lumpur. Saya yang paling histeris. Kaos kaki putih, menjadi coklat seketika. walaupun sudah tiba di kampus Unpatti, ternyata semuanya tak selesai begitu saja. Jalan sepanjang kampus juga tak difasilitasi dengan penerangan dan jarak antara masjid dan sekre panitia lumayan juga kalau dengan berjalan. Kami terus berjalan. Sampai akhirnya ada seorang panitia ikhwan yang mengendarai motor menjumpai kami. Miris juga beliau melihat kami. Untuk budaya timur, saya sanagt menghormati yang ini. Mereka punya semangat menolong samapi kadang yang ditolong pun dipaksa. Akhirnya si ikhwan tersebut saya minta untk membewakan saja printer kami. Selanjutnya, dengan bawaan yang sedikit berkurang, terasa lebihg mudahlah perjalanan kami.

Sampai disana, panitia khawatir melihat kondisi kami. Kami diantar ke penginapan dengan mobil seorang ikhwah, mantan ketua LDK Al Ikhwan Unpatti pada periode dimana FSNAS XV diputuskan disini. Kira2 3 tahun yang lalu, sepantaran dengan syeikh Dani lah. Sekarang beliau seorang anggota dewan.

Di penginapan, takjub juga kami. Penginapannya bagus (dari luar), dan ternyata di dalam bagus juga. Di Lembaga Pelatihan Mutu Pendidikan (LPMP) Proivinsi Maluku, rekomendasi langsung dari rektor unpatti. Kami dapat dua kamar yang tersambung dengan satu kamar mandi. Naas, bau kamar mandi sungguh tak enak. begitulah yang terjadi samapi kami meninggalkan penginapan ini (kok betah ya kami). Tapi ya sudah lah, badan sudah terlalu lelah rupanya untuk sekedar mengeluh soal ini. Samapi kamar, cuci kaki dan tangan, ternyata ada nasi kotak sudah menunggu. kami makan dengan lahapnya, dua orang habis dua porsi (termasuk saya kayaknya>_<), karena kami tau, makanan ini mahal!!!!

Hari ditutup hampir dini hari waktu setempat. Lelah itu berganti dengan kata Lillah, hanya demi Allah. Semuanya menyisakan cerita yang luar biasa. Tidur kami, walau sebentar, ternyata sangat berkualitas. Menutup hari dengan rasa syukur. Hari pertamaku di Ambon, Cintaku di Langit Ambon baru saja dimulai.

Iklan