5

#Naturally Beauty Skin Remedial : Facial Wash dengan Quaker Oats

Beberapa hari kemaren saya banyak berinteraksi dengan teman yang saya bilang orangnya asyik banget”. Kita nggak sering bersama, tapi sekalinya bersama, pembicaraannya pasti baru dan bermutu. Dari hal-hal kecil aja, bukan sesuatu yang berat-berat. Misal cara bikin rumah, cara bersihin mobil, tren korea (karena kebetulan dia haliuers sejati) sampek ke perihal kecantikan yang dipadu sengan kesehatan (kayak iklan aja yaaa:)).

Salah satu yang saya ingat waktu itu adalah cara dia membersihkan wajah, ato kita pake bahasa kerennya disini facial wash aja ya. Jadi dia mencuci mukanya dengan snack gandum (pertama kali tau,bilangnya ada-ada juga ni anak). Tau kan jenis meal snack yang namanya Quaker Oats??Beli di supermaket ada banyak katanya. Nah, ternyata oatmeal ini memang efektif dipake sebagai facial wash.

Letak efektifitasnya dimana, saya sempet browsing sana-sini, akhirnya ketemu dah videonya, cekidot di bawah aja ya nanti :
1. Yang pertama ternyata Oatmeal itu jenis skin cleanser alami yang efektif mengurangi kemerah-mearahan pada wajah,kekeringan serta iritasi.
2. Yang kedua dia termasuk Anti inflamasi. Bahasa sederhananya, anti rasa sakit ato anti pembengakakan. (mudah2an bener,hehe)
3. Selanjutnya,oats ternyata bisa menenangkan bagi yang merasa gatal di bagian kulit wajah.
4. Menyerap dan menghilangkan kotoran dan ketidakmurnian pada kulit.
5. Mengelupas kulit sehingga kulit tampak lebih cerah.
6. Memiliki antioksidan yang tinggi dan melindungi kulit dari radikal bebas (yang ini assslliii kayak dialog ngiklan ^^v).

Trus cara pakenya juga sederhana, mudah tapi agak ribet juga sih. pertama ambil segenggam oats,lalu basahi dengan air hangat. Peras sari2nya, usapkan di wajah. Lalu oatsnya juga diusap-usap ke wajah. Setelah itu bilas deh dengan air biasa.

Teman saya bilang, kalo bisa pake Quaker oats, karena oatsnya produk ini asli.

Sila yang ingin ngerti tutorialnya buka link ini http://www.youtube.com/watch?v=7e5_RVBwNjE

632012
sesekali ngomongin perawatan tubuh yaaa^^

Iklan
0

Diet Berita

Berita itu makanan bagi jiwa. Dan sebagaimana tubuh yang telah penuh oleh makanan, sesekali kita pun perlu berpuasa utntuk menyehatkannya. Maka salah satu cara menyehatkan jiwa adalah dengan melakukan diet berita.

Kata pertama saya temukan dari tweet Bang Erbe Sentanu berhastag #dietberita yang akhirnya saya retweet di timeline saya. Sekali lagi, ini tiba-tiba mengisnpirasi dan menambah khasanah pemikiran saya terkait persoalan “informasi”. Kenapa kemudian saya beri tanda petik?sebab,selama ini ternyata keberadaannya menjadi satu hal paling penting dalam menghadapi berbagai macam peristiwa dalam hidup kita/ Dan seperti racun yang kita tuang dalam susu, keberadaannya bisa dengan cepat mengkontaminasi pikiran-pikiran kita.

Dan begitulah yang saya alami akhir-akhir ini. Keberadaan social media yang beberapanya aktif saya ikuti, dulunya begitu saya sangat berguna terlepas dari adanya pro dan kontra atas dampak negatifnya. As always, saya cuek akan dampak negatif itu. Saya sering kali berpikir, bahwa saya telah dewasa dan mampu membatasi diri sampai sejauh mana hal ini bermanfaat dan batasan ketidakbaikan macam apa yang harus saya hindari.

Selama lebih dari tiga tahunan, facebook telah menjadi bentuk social media yang paling fenomenal untuk saya pribadi. Jika dulu saat musim Friendster saya menganggapnya biasa saja, tapi saat facebook ada, saya merasa produk ini telas “mengadiktif” saya akan informasi. Well,informasinya bukanlah informasi yang muluk-muluk bahkan tak terlalu penting, seperti informasi kondisi dan keberadaan teman-teman saya. Di luar dampak negatifnya, saya ingat bahwa hal tersebut dulu turut memberikan manfaat dalam menunaikan tugas-tugas saya mengelola “manusia” di kampus.

Semoga masih dalam sikap dewasa, ada hal lain yang pada setahun ini saya temukan sesuatu yang kurang berkenan di hati saya tentang facebook ini. Entah perasaan saya, seringkali dengan adanya pertanyaan “apa yang sedang anda pikirkan?”, saya dan teman-teman facebook saya lebih mudah menjadi orang yang mengalirkan apa yang terlintas di otak, apa yang sedang terjadi saat itu, apa yang kita inginkan, di ruang publik. Hingga sampailah saya pada kesimpulan bahwa kini, facebook berisi dua hal, pertama keluh kesah, kedua adalah kebersyukuran yang berlebihan yang mungkin mendekati riya’. Untuk yang terakhir ini, semoga saya salah.

Pada twitter pun saya banyak temukan, para akun-akun terkenal yang seolah-olah membahasa kejadian, peristiwa, informasi berkaitan dengan negara yang sedang terjadi kenyataannya justru membuat fitnah-fitnah baru yang minim solusi. Untuk twitter, saya rasa saya akan mengunfollow saja akun-akun tersebut.

Begitulah kenyataannya, selama ini kita (terutama saya pribadi) baru menyadari betapa banyak hal tidak baik memenuhi ruang-ruang pikiran kita yang bersembunyi di balik tubuh “informasi”. Itulah mungkin yang membuat kita menjadi jiwa-jiwa yang kerdil, karena bukannya terbangun di tiap-tiap menitnya melainkan dipenuhi oleh gelebmbung-gelembung informasi yang jauh dari kata solusi.

Itulah kenapa, saya merasa perlu ada ikhtiar yang harus kita lakukan untuk membangun jiwa-jiwa kita kembali. Seperti yang dihastag oleh bang Erbe Sentanu, saya menamakannya diet berita atau diet informasi. Tak semua informasi kemudian saya ikuti dan tak semua berita akan juga saya simak. Begitu pula dengan aktivitas social media, akan juga saya niatkan dan ikhtiarkan untuk tak turut pula menambah jajaran orang yang berkelu kesah atas kehidupan atau riya’ atas capaian. Seperti makan, maka “memakan” berita juga agaknya perlu dibatasi suapaya tidak kegemukan. Supaya tidak menjadi jiwa yang semakin kerdil menghadapi dunia.

Optimisme itu kadang dibangun dengan ketidaktahuan
04.03.12
rumah baik

0

Akan Kutulis Cerita Tentang Muhammad

Saya barusan beli buku. Buku sederhana, ditulis dengan sederhana, dan dicetak dengan sederhana. Karangan dari seorang teman yang , judulnya Jadi Ikhwan Jangan Cengeng. Tapi bukan masalah judulnya yang kemudian terpatri di otak saya, tapi tentang salah satu artikel di dalamnya. Hanya mengutip saja tentang apa yang kemudian membuat saya berpikir, merenung dan tiba-tiba memaki diri sendiri. Hfuuhhh…

Di salah satu artikel berjudul Cintai Makhluk Kecil di Luar Sana, Maula (pengarang.red) menulis salah satu kutipan pernyataan Gandhi :

Pernah saya bertanya-tanya, siapakah tokoh yang paling mempengaruhi manusia? Saya lebih dari yakin bahwa bukan pedanglah yang memberikan kebesaran pada Islam pada masanya. Tapi ia datang dari kesederhanaan, kebersahajaan, kehati-hatian Muhammad; serta pengabdian luar biasa kepada dan pengikutnya, tekadnya , keberaniannya, serta keyakinannya pada Tuhan dan tiugasnya. Semua ini (dan bukan pedang) menyingkirkan segala halangan. Ketika saya menutup halaman terakhir volume 2 (biografi Muhammad), saya sedih karena tiada lagi cerita yang tersisa dari hidupnya yang agung.

Dan saya pun juga sedih wahai Gandhi, sebab banyak cerita tentangnya yang belum saya tafakuri, kami tafakuri, umatnya sendiri. Maka pernyataan Gandhi, benar-benar menjadi cambuk hati untuk saya pribadi.

Kenapa kemudian kita bilang mencintainya, jika cerita tentangnya saja kita tak pernah tuntas? Kenapa kita bilang meneladaninya, padahal seperti apa bentuk keteladanannya kita tak pernah benar-benar mendalami? kenapa kita bilang mengidolakannya, jika segala sisi kehidupannya saja kita tak pernah benar-benar menekuni.

Setelah mengingat bagaimana Gandhi telah menamatkan biografi Muhammad, saya jadi tertantang kembali untuk mempelajari lagi riwayat manusia suci yang di masa depan -mudah2an- beliau menolong perhitungan amal saya. Maka,aku bersyukur menyukai sastra, karena novel tentang Muhammad karya Tasaro membuka banyak wawasan saya tentang kisah zaman itu.

Dan karena ingatan saya terbatas, saya bertekat seperti judul tulisan ini, Akan kutulis disini cerita tentang Muhammad

02.03
Jum’at Mubarak^^