0

Mendung di Langit Hatiku

Pada satu titik kejumuhan semuanya terjadi, mendung mulai menyelimuti..

mendung itu kian mendekati hati….

bukan,,,mendung itu ada di hati…

di langit hati…

Mengapa manusia berusaha, kalau pada akhirnya tak tahu tujuannya..

Mengapa manusia bertahan, padahal semuanya sia-sia

pada firman tuhan kutemukan “bersusah lagi kepayahan”…

Tapi bagiku….tuhan tak sedikitpun dzalim

TAK PERNAH!!!

Pada janjinya kutemukan…

“Usahamu adalah UntukKu….”

“Dan dirimu adalah UntukKu..”

Tuhan…mendung itu mulai datang, di langit hatiku…

Maka secercah awan….kubutuhkan dariMu

agar kuterus bertahan…

dengan tujuan, prinsip dan perniagaan kepadaMu…

16.06.10

17.45

Sekali lagi, tuhan tau tapi menunggu

Perpustakaan

1

Ya Allah…ajari kami kembali ajaran tentang cinta, agar kami mampu mengumpulkan kembali lidi-lidi yang berserakan menjadi satu,,,,

Pada titik ini, kembali lagi merenungi, 21 tahun Tuhan memberikan warna, apakah aku telah benar-benar memaknainya…

Menjadi tua itu pasti, namun tak setiap orang menjadi dewasa. Banyak yang berkata seperti itu, namun tak sedikit yang mampu mengaplikasikannya. Dari awal aku menyadari betul, bahwa titik balik dari semua perjalanan usia adalah menjadi dewasa.

Maha, hai Dinar, betapa sebagian besar di antara 21 tahun itu begitu banyak yang terbuang. Gigantik ruhmu melayang. Wal tandhur nafsun ma qaddamat lighad, perhatikan masa lalumu untuk hari esokmu. Maka lihatlah dinar, dekat, lebih dekat, 21 tahun pencapaian, adakah semuanya bermakna???

  1. Dewasakah engkau terhadap perbedaan?
  2. Mampu bertahankah engkau dalam tekanan?
  3. Adakah waktumu kau gunakan dengan sebaik-baiknya?
  4. Adakah muwashofat telah ada padamu?
  5. Dan seberapa besar engkau mampu bertahan dengan niat, sabar dan ikhlas.

Mungin kau tak tahu, bahwa Tuhan selalu menerima syukurmu sekalipun jarang sekali engkau bersyukur. Bahwa tuhan selalu mendengarkan keluhanmu, walapun tanpa kau sadari kau seringkali mengeluh. Dan tuhan selalu melihat usahamu, walaupun seringkali engkau tak melakukannnya dengan sungguh-sungguh. Sebab tuhan tau, tapi menunggu.

Maka pada 21 tahun waktuku ini, Ya Allah…pada syukurku yang mungkin tak terwakili hanya dengan seribu sujudku, pada setiap keharuan yang bahkan tak ternilai hanya dengan tetesa air mata, kukuatkan azzamku, wala’ku, untuk tetap berada di jalanMu. Meloncati rasa suka tak suka, sebab mungkin rasa tak sukaku, adalah bagian dari ketidaktahuanku.

Allah….pada satu titik kembali ini…..pintaku sangat hanya satu… AJARKAN KAMI TENTANG AJARAN CINTA…..kembali……

Semalam setelah milad, 21

Selasa, 15.06.10, 21.19

My room..

0

Akhwat Juga Manusia…..

Kita ini, sekumpulan manusia, bukan malaikat, begitu pepatah yang sering kudengar. Terutama dari orang yang biasanya baru saja membuat kesalahan. But anyway, aku sepapakat sekali dengan pernyataan itu. La memang kita bukan malaikat kok. Jadi salah itu wajar.

Karena kita bukan malaikat, maka wajar lah kalau kita tidak sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah semata. Itu yang kadang kita lupa saat dilanda sindrome figuritas. Iya kan?! Begitu juga saat perpempuan-permpuan muslim bermetamorfosis sebagai “muslimah” atau kalo di kampus biasa kita sebut akhwat aja dah.

Disini kita dididik untuk menjadi baik jelas. Tapi ternyata masih banyak sebenarnya, apa yang ada pada diri kami , yang bisa sih kalo dikatakan, nggak penting beut. Ya, kebiasaan-kebiasaan yang dulu terlihat wajar tapi jadi gak wajar sekarang. But in the other side, hal-hal itulah yang seringkali bikin hari-hari kita jadi lebih berwarna. Tapi apa sih sebenernya yang hal-hal “nggilani” yang ada pada diri si akhwat-akhwat ini, akhwat-akhwat kampus B unair, hehe…

–        Dinar     : suka banget sama mandarin, seneng ngomentarin penampilan orang juga

–        Pipit       ; ni orang jurusan psikologi tapi paling gak sabaran ngadepin anak kecil (trus kalo punya anak gimana buwk…), sukanya nonton film ajja, suka banget sama tidur

–        Elin         :Anyway, dia bisa disebut yang anehnya di tingkat akut. Suka dangdut beserta raja dan ratunya, Bang Haji Roma, hahaha. Tipe anak daerah yang amat bangga terhadap budayanya, sampek logat sunda ama nyanyian khas cengkok dangdut suka dibawa kemana-mana, hoho.

–        Safira     : Ni anak juga cukup aneh lo…Kenalannya banyak, tapiu sering sok-sokan pede kenal gitu padahal pelupa berat. Suka banget sama India

–        Hayu      : Jarang-jarang juga ada akhwat yang seleranya metal abis kayak dia. Sukanya artis macam Jonny Deep, Huck Jackman, Rambo, sama mas2 seniman FIB yang sering maen gamelan, hehehe

–        Ari          ; Ini akhwat bingung juga aku njelasinnnya. Sekilas nampak yang paling serius gitu. Tapi asli, jongkok dah kalo udah cekakaan. Ari kalo diskusi yang paling keliatan idealis, tapi keliatan juga kalo beliaunya itu lola,hehehe.

–        Aulia      :Gayanya emang tangguh…tapi siapa sangka bacaannya novel-novel yang melankolis berat.

–        Dida       : Bener deh keliatan paling lurussss….kaget juga kita waktu tau kalo dia suka banget tu sama Cinta Fitri, heheh,

Mereka (kita semua; Solanya akua juga termasuk di dalamnya) memang masih jauh dari sempurna. Kita terbina, tapi menghilangkan fitrah juga bukan ajaran tuhan. Yang jelas saling mengingtakan saja jika kesenangan duniawi mulai susah untuk dihindari. Karena sekali lagi, akhwat juga manusia.

Madiun, 06.06.10,1114.25

Masih banyak yang belum kusebut, karena aku sudah ngantuk :8

0

Antara Kesulitan dan Berkah, Di Situlah Kudapati Tantangan

Bulan-bulan yang berat harus kuhadapi menjelang fsnas ini. Tidak banyak yang tahu memang, karena di depan yang lain, kita seharusnya memang tidak menunjukkan kegelisahan kita. Agar orang lainjuga tidak ikut gelisah karenanya.  Berat karena kondisi yang ada saat ini dan yang ada di depan mata, seakan-akan belum menunjukkan cahaya yang terang.

Persiapanku seakan nihil menjelang momentum penting yang memantiku di awal Juli, di ujung Timur negeri ini, sebuah tempat bernama Ambon. Aku tak hendak membiocarakan dulu perihal Ambon dan kenapa pentingnya kesana. Aku hanya ingin menuliskan bahwa, sebuah pembelajaran berharga ternyata kudapat pada bulan-bulan yang berat itu.

Menghitung hari menjelang momentum penting, masih sekitar empat bulan memang,  Namun sudah mulai tampak guratan-guratan kesulitan yang akan dihadapi. Diawali dengan ujian tengah semester, hal yang biasa dilalui seorang mahasiswa. Namun rasanya lain, benar-benar harus total berjuang. Karena dengan ini aku bisa sedikit lega menghadapi ujian akhir semester.

Segalanya, mulai perkara-perkara teknis, kondisi finansial sampai beberapa masalah internal kampus dan keluarga serasa ingin turut campur pula dalam menambah kesulitan yang ada. Yang mungkin terasa ironis adalah, hatiku mulai hampa. Aneh. Ini momentum bukanlah pertaruhan dunia saja tapi juga akhirat. Lalu bagaimana bisa hati ini hampa???

Namun benarkah semua kesulita itu memang menggelayuti dalam setiap langkah emapt bulan menuju kemenangan? Aku mengingat kembali ayat terfavorit. Bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Tuhan tau tapi menunggu. Dia menunggu usahaku, namun Ia terus memberi berkah atas keringat dan air mata yang tercurah karenanya. Aku yakin itu

Lantas aku mulai sadar, di pertengahan hari, menjelang satu bulan kemenangan, bahwa antara kesulitan dan berkah , itulah yang namanya tantangan. Tantangan ini, yang sesungguhnya membuat hidup terasa lebih berwarna. Warna-warni keberkahan.

Tantangan ini, sungguh, cara Allah mendidik kita. Insan pejuangkah kita, atau pecundang saja yang tersemat dalam jiwa kita. Tuhan tau tapi menunggu. Menunggu kita untuk tidak mengeluh dulu, dan tau kapan saatnya memberi pertolongan. Aku hanya ingin berkata, bahwa dilema waktu antar momentum, kesulitan-kesulitan fisik seperti materi, komunikasi, adalah jalan Allah membina kita. Sekarang tinggal kita yang memilih, mau terbina atau tidak kah kita. Dan Allah bersedia membina kita. Karena sekali lagi, hidup adalah pilihan.

Madiun,05.06.10

11.47

karena kita tak pernah tau..bagaimana Allah mendatangkan pertolongannya

^_^