1

Bentang’s Birth Story : Kelahiran Normal Letak Sungsang

Saya menjalani kehamilan pertama ini dengan baik-baik saja. Tidak banyak memiliki keluhan berarti. Hanya morning sickness yang tertahankan dan pernah sekali mengalami infeksi saluran kencing, hipotensi, dan flu yang kesemuanya sembuh dengan perbaikan pola makan dan istirahat. Saya menjalani aktivitas seperti biasa, makan dengan biasa bahkan beberapa kali bepergian dengan pesawat. Hamil memang berat. Namun bisa jadi menyenangkan. 

Saya baik-baik saja dan cenderung lupa diri, sampai kemudian bidan menunjukkan kepada saya bahwa pada kehamilan trimester terakhir posisi janin saya masih belum optimal. Selama ini, denyut jantung dan kesehatan bayi dan saya terasa sempurna. Satu hal yang terjadi tidak sesuai dengan bayangan telah meruntuhkan segala kepercayaan diri saya. Tentu saja sebagai orang yang belum mempunyai pengalaman saya dilanda ketakutan, kekhawatiran, dan stress jika terjadi sesuatu pada janin saya. Sampai akhirnya saya bertemu dan belajar mandiri tentang filosofi Gentle Birth, yang atas izin Allah telah menjadikan saya lebih kuat, lebih ikhlas, dan lebih bahagia terlepas dari ketidaksempurnaan kondisi saya.

Begini kiranya cerita tentang proses kelahiran Bentang Cakrawala, anak pertama kami, yang memilih jalan kelahirannya sendiri.

Dua Bulan Sebelum Kelahiran

Usia tersebut adalah saat saya mengetahui bahwa posisi janin masih belum optimal. Seharusnya di usia tujuh bulan, janin mulai memosisikan dirinya mendekati jalan lahir yaitu kepala berada di panggul rahim. Namun janin saya masih dalam keadaan melintang dan cenderung menggerakkan kepalanya ke atas, dikatakan letak sungsang (letsu).

Sesungguhnya istilah sungsang amat menakutkan bagi saya karena terasa seperti sebuah keabnormalan. Padahal ketika saya mulai mencari tahu, sekitar 30-40% kehamilan mempunyai kemungkinan untuk sungsang. Sampai dengan usia 34 minggu, janin masih mempunyai kemungkinan memutar posisinya. Jadi letak sungsang hingga usia 36 minggu sebenarnya bukan sebuah keabnormalan. 

Saya melakukan treatment beberapa gerakan yoga yang fokus untuk menciptakan ruang agar janin bisa memutar seperti cat pose, table pose, breech tilt, dan gerakan menungging lainnya. Saya juga mulai memperbanyak jalan cepat di pagi hari, melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mengepel, menggosok kamar mandi dengan lebih intens, dan (yang ini percayalah) saya mengunduh video-video zumba untuk ditirukan di rumah. Namun hingga hari-hari menjelang berakhirnya trimester ketiga, posisi janin saya masih tetap sungsang. Di sini segala perasaan saya diuji. Hingga melalui Gentle Birth, sedikit demi sedikit saya belajar untuk menerima keadaan yang tidak sempurna dan mulai membangun optimisme untuk tetap bisa melahirkan secara normal alamiah. It triggered me a lot.

Senin, 12 Maret 2018

Saat memeriksakan kehamilan, bidan mengatakan bahwa posisi janin masih letsu. Saya diUSG dua kali untuk melihat posisi janin dan sempat dilakukan Vaginal Touch (VT) untuk melihat jalan lahir saya. Bidan mengatakan bahwa jalan lahir saya cukup bagus, panggul besar, dan vagina mulai mengalami penipisan seperti sewajarnya menjelang persalinan.

Hanya, ketika Bidan mengatakan sepertinya janin akan sulit berputar (waktu itu usianya 35 minggu), ingin sekali saya mengingkarinya. Namun kemudian Bidan mengatakan sebuah skenario yang baru kali itu saya dengar, kelahiran dengan pantat keluar lebih dulu.

Saya hanya bertanya “Ha, memangnya bisa bu? Saya kira kelahiran normal itu hanya bisa jika kepala lebih dulu keluar”

Bidan menjawab bisa dan sedikit menjelaskan tentang tekniknya yang sama sekali tidak saya pahami. Sepulang dari situ, saya merasa punya harapan lagi.

Selasa, 20 Maret 2018

Atas saran Bidan, saya berkonsultasi ke dokter tentang kondisi saya. Saya mendatangi dokter dimana saya biasa memeriksakan diri. Namun di luar dugaan, pertemuan hari itu tidak menghasilkan apa-apa selain bahwa perasaan saya terjatuh sekali lagi.

Sampai dengan hari ini, saya telah membangun optimisme yang kuat untuk dapat melahirkan secara normal. Kenapa? Sesederhana karena saya ingin mengikuti fitrah semampu saya. Bagaimana nanti Tuhan menentukan jalan kelahiran bayi saya, saya tak ambil pusing. Saya melakukan diet agar berat badan janin tidak terlalu besar untuk bisa memutar, menungging 30 menit selama 5 kali dan lebih dalam sehari, menjaga tekanan darah dan cairan ketuban, serta yakin tubuh saya mendukung untuk sebuah kelahiran normal. Namun, dokter–setelah meng-USG saya dan melihat janin saya letsu, serta air ketuban sedikit — justru menanyakan hal lain: “berencana lahiran dimana dan punya BPJS atau tidak?” Walaupun mungkin relevan, itu bukanlah jenis pertanyaan yang saya harapkan.

Suami saya dengan sangat lapang dada hanya berkata pada saya “dokternya baik, tidak langsung menyuruh kamu untuk SC”. Karena iya, sebagian besar janin letsu, terlahir melalui operasi sectio terlepas dari seberapa besar kemampuan dan kemauan ibunya untuk melahirkan normal.

Jum’at, 23 Maret 2018

Adalah hari terberat saya. Saya harus mendengar bagaimana teman-teman berkisah tentang hari-hari menjelang persalinan saat janinnya telah memposisikan dirinya dengan optimal. Berkali-kali saya meyakinkan diri bahwa kami akan baik-baik saja, sampai akhirnya, di depan suami saya menangis menumpahkan segala ketakutan dan kekhawatiran akan persalinan yang menurut perkiraan terjadi minggu depan.

Mulai hari itu pada janin saya berbicara, “Dek, adek tidak harus berputar jika memang itu sulit. Adek cari saja posisi yang optimal menurut adek. Selanjutnya kita berdoa pada Allah semoga dimudahkan untuk bisa menjalani persalinan alami.”

Sabtu, 24 Maret 2018

Hari ini saya memulai latihan fisik yang cukup intens. Pagi jam 6.30 saya keluar rumah, berjalan cepat naik turun bukit sebanyak lima kali, pergi ke tukang sayur yang jaraknya tidak terlalu dekat dengan rumah, dan pulangnya melakukan meditasi dan yoga. Terhitung saya melakukan aktivitas fisik dari jam 6.30 sampai 9.30 tanpa henti. Sesuatu yang bahkan tidak saya lakukan ketika tidak hamil.

Janin adalah makhluk hidup. Bayi saya mampu mendengar apa yang saya katakan dan merasakan segala perasaan saya. Saya melepaskan segala gelisah dan takut hari itu dan mulai menuliskannya dalam jurnal. Hari itu, bayi saya melakukan tugasnya.

22.30 Setelah makan malam di luar, saya merasakan sakit perut melilit seperti nyeri haid. Karena masih timbul tenggelam, saya mengira itu adalah kontraksi palsu.

Minggu, 25 Maret 2018

Hari Ketika Dia Dilahirkan Sebagai Manusia

3.18 Saya terbangun dari tidur, merasakan perut yang sangat melilit. Berpindah-pindah tempat dan menungging. Sakit perut seperti nyeri haid timbul tenggelam.

3.47 Setelah tertidur beberapa saat dan terbangun lagi, saya melakukan sholat malam, hanya mampu dua rakaat ditambah witir sekali. Berikutnya buang air besar merasa lebih baik.

7.30 Saya dan suami melakukan workout minggu pagi. Suami jogging dan saya hanya bisa berjalan mengelilingi taman sekali, beberapa kali terhenti karena sakit perut. Saat duduk pun sakit perut saya tidak juga membaik dan saya belum terpikir bahwa itu yang disebut dengan kontraksi.

Pulang workout saya berkeliling kota dengan suami, sarapan dan tetap bercanda tertawa-tawa walaupun merasakan sakit perut. Suami mengajak saya ke bidan tapi saya bilang “ntar aja”. Padahal rasanya sudah seperti ditusuk-tusuk dan diplintir.

9.30 Sampai rumah saya melihat lendir kecoklatan di celana dalam saya. Kemudian terpikir untuk mendownload aplikasi kontraksi nyaman. Benar saja, ketika dihitung, aplikasi menyarankan saya untuk segera ke dokter atau bidan terdekat. Suami juga mengajak tapi saya bilang nanti saja setelah yoga biar sekalian keluarnya karena masih bisa ditahan.

Melihat tanda-tanda di buku saya mulai yakin apa yang saya rasakan ini kontraksi palsu. Di rumah, hanya bisa tiduran, nungging, main gymball dan bercanda saja bersama suami. Pekerjaan rumah dan memasak yang sudah direncanakan tidak terpegang sama sekali.

15.00 Saya melakukan prenatal gentle yoga. Pada beberapa gerakan saya tidak bisa mengikuti karena his dan hanya bisa menunggging. Bidan instruktur memijat tulang ekor saya dan saya merasa lebih baik. Saya melanjutkan yoga hingga selesai tapi selanjutnya rasa sakit menjalar hingga tulang ekor saya.

Bodohnya saya bertanya pada bidan instruktur, kapan sakitnya selesai kalau ini kontraksi palsu. Dia tertawa dan berkata “justru kalo semakin sakit dan intens itu semakin baik. Berarti dedek bayi sudah kasih sinyal pengen keluar mbak.” Instruktur yoga kemudian menyarankan saya untuk segera memeriksakan diri ke bidan terdekat. Saya masih berjalan menuju mobil dengan menunduk dan tertatih-tatih.

17.30 Sepulang yoga, saya dan suami langsung menuju bidan tempat saya biasa memeriksakan diri. Sambil tetap menahan rasa sakit yang semakin hebat dan intens. Sesampainya di sana, saya yang meringis kesakitan tapi tertawa-tawa diminta berbaring dan langsung dilakukan VT pada saya. Asisten bidan mengatakan bahwa saya sudah mengalami pembukaan 5 dan mereka keheranan karena saya masih bisa berjalan sendiri dan bercanda. 

Benar saja ketika saya melihat celana dalam, lendir darah merah sudah semakin banyak. Sepertinya, yoga membuka panggul saya sehingga adek bayi semakin bisa memasuki jalan lahir.

Bidan mengatakan akan merujuk saya ke RSUD terdekat. Meminta saya langsung menuju kesana, jangan pulang karena ini tinggal menunggu pecah ketuban.

18.15 Saya dan suami sampai ke RSUD tanpa sempat pulang ke rumah mengambil perlengkapan melahirkan dan langsung menuju IGD. Masih tetap berjalan dengan menunduk dan tertatih-tatih kemudian menuju meja registrasi dan mendaftar seperti biasa.

Ketika perawat tahu saya hendak melahirkan dan berjalan menunduk, ia memeriksa tekanan darah saya dan meminta saya berbaring di kasur dorong. Saya menolak dan memilih berjalan ke ruang tindakan. Karena berbaring lebih terasa menyakitkan. Perawat keheranan dan membiarkan saya berjalan.

18.30 Di ruang tunggu tindakan, karena tidak membawa pakaian ganti satupun, saya berganti dengan sarung pasien pinjaman rumah sakit. Saat itu suami saya sedang mengurus admnistrasi dan perawat sedang mengambil sesuatu, ketika sepuluh menit kemudian perut saya melilit hebat seperti ingin diare. Perlahan-lahan saya mengubah posisi dari berbaring ke menungging untuk meredakan rasa sakit tapi sakit yang saya rasa semakin hebat. Saya terus menungging dan akan beranjak hendak ke kamar mandi ketika rasa sakit pada puncaknya dan tiba-tiba “pyokkkk”. Saya melihat cairan lendir kehijauan keluar dari vagina. 

18.45 Tadinya saya pikir itu feses sampai ketika perawat panik dan berteriak “ketubannya pecah”. Saya dibaringkan dan dibawa langsung ke ruang persalinan. Rasa sakit kian tak tertahankan membuat ingin berteriak. Tapi saya ingat, berteriak tidak menghilangkan rasa sakit, menarik nafas panjang adalah jawabannya.

Di ruangan bersalin, bidan hendak melakukan Episiotomi (perobekan jalan lahir) pada saya, namun tidak jadi karena ia melihat ada pantat yang mulai nampak di jalan lahir. Episiotomi tidak sempat dilakukan. Bidan hanya berpesan pada saya ” Ibu, karena ini pantat yang lebih dulu keluar, tidak seperti biasanya, ibu harus lebih semangat mengejan” 

Bidan yang sedikit lucu, membuat saya tidak merasakan ketegangan apapun. Saya berusaha berfokus pada nafas, mengejan sekuat tenaga -yang di tengah-tengah saya mulai kehabisan daya- dan memperhatikan afirmasi suami saya “ayo pik terus pik, kamu kuat. Anaknya udah mulai keluar.” Saya yang hampir kehabisan energi dan sempat terlintas rasanya ingin menyerah langsung mengingat pelajaran selama yoga, tarik nafas panjang dan keluarkan.

19.31 Setelah beberapa kali mengejan dengan sekuat tenaga, Bayi saya terlahir ke dunia, dengan mengeluarkan pantatnya lebih dulu, kaki baru kepala. Detik dimana ia diletakkan di perut saya pertama kalinya, memberikan pengalaman paling berharga bagi saya tentang kelahiran anak manusia. Dia, memilih jalan lahirnya sendiri.

Bidan berkata pada saya bahwa ia menyukai proses persalinan saya. Ia berterimakasih karena saya tidak meronta dan mengejan dengan tenang. Setelah kelahiran pun saya juga masih sempat tertawa.

19.32-20.45 Setelahnya saya mendapat intervensi paling menyakitkan yang pernah saya alami dalam hidup. Yaitu saat melahirkan plasenta dan saat vagina saya dijahit. Plasenta saya amat lengket di dalam perut. Bidan mengeluarkannya dengan cara manual, memasukkan tangannya ke dalam vagina dan menekan perut saya. Beberapa kali saya meronta karena tidak dapat menahan sakitnya. Padahal suami dan bidan sebelumnya mengatakan bahwa ambang batasa rasa sakit saya termasuk tinggi. Jika ada yang disebut dengan trauma melahirkan, maka bagi saya melahirkan plasenta yang tertinggal di rahim inilah yang menjadi traumanya. Ini adalah bagian dari ketidaksempurnaan kondisi yang secara ikhlas juga saya terima.

Setelah selesai jahitan dan semuanya, suami mendatangi saya. Dia bilang telahn menghubungi orang tua kami di Jawa dan tentu saja mereka terkejut sekaligus tak bisa berkata apa-apa. Kami saling menatap satu sama lain, tertawa bersama dan saling bertanya “jadi ini tadi kita melahirkan? berdua saja? tanpa persiapan apa-apa?” kemudian kami saling terdiam dan memandang, mengucap terimakasih pada kuasa Tuhan. Hari itu, kami menjadi manusia baru.

..

Bentang Cakrawala, Darinya Kami Belajar Percaya

Saya menulis ini disela-sela waktu menunggu bayi saya dirawat di ruang NICU. Ini adalah hari keenam, hari dimana kami mulai diuji dengan kelelahan dan frustasi. Dokter tidak mengatakan banyak selain sesuatu yang -sekali lagi- menjatuhkan perasaan kami. Namun setiap kami mulai merasa tak berdaya, kami akan memandang satu sama lain, saling membelai pipi dan tangan dan berikutnya tersenyum bersama. Romantisme semacam ini sungguh menguatkan kami, mengingatkan kami pada keberpasrahan dan tak terlupakan.

Bentang Cakrawala, begitu kami memanggilnya sejak dalam kandungan. Adalah sebuah doa terhadapnya agar menjadi seseorang yang mengerti, berpengetahuan dan bijaksana. Namun tak pernah terpikir bagi saya, bahwa dia akan mengajarkan sebanyak ini rasa pada kami, diantaranya yang terpenting adalah rasa percaya.

Dia memilih letak sungsang, saat ilmu pengetahuan mengatakan letak terbaik bagi janin bukanlah itu. Dia memilih terlahir normal, saat setiap orang meragukannya untuk bisa lahir seperti itu. Dia memilih mengeluarkan bagian tubuh bawahnya lebih dulu, bahkan ketika itu sangatlah penuh resiko. Dia tak membiarkan saya berlama-lama dengan rasa sakit dengan mempercepat proses kelahirannya. Dia adalah segala kepercayaan saya terhadap skenario Tuhan -apa yang telah kita usahakan, Tuhan tidak pernah tidur terhadapnya-

Bentang Cakrawala, saat tulisan ini saya tulis, ia sedang berjuang sendirian di ruang NICU. Tapi sesungguhnya ia tak sendiri, ibunya juga berjuang, bapaknya juga berjuang, orang-orang disekitarnya tak henti mendoakannya. Kami akan terus berjuang, berdoa, menguatkan hati lepas dari segala diagnosa medis. Sebab dengan beginilah kami makin tersambung dengan cinta Illahi.

Samarinda, 31 Maret 2018

Ibu Bentang

Iklan
0

Sajak Tujuh Hari

Tujuh hari dek, sejak kamu merasakan terang dunia dari rahim yang gelap nan tenang

Tujuh hari pula dek, bahkan tangan ibu belum mampu mendekap hangat badanmu yang lembut dan menenangkan

Tujuh hari ini dek, wangi baumu menyeruak diantara mimpi-mimpi malam ibu

mengantarkan kerinduan tak berkesudahan

yang pekat, kuat dan hangat

Beginilah dek, selama tujuh hari kita telah berjuang bersama

Setelah bulan-bulan yang berat namun menyenangkan kita belajar bersama

Kini pembelajaran menghampiri kita lagi

Kau kuat, ibu tau

Kau bersabar, ibu yakin

Hanya saja, rindu kadang melebihi kadarnya

Jika sudah begitu, tak ada lagi kuasa selain kuasa Tuhan

Jika doa ibu mampu mengantar kekuatanmu, maka pada Tuhan, dalam tangis-tangis kelemahan

ibu berdoa agar dikumpulkanNya kita segera, di rumah yang diiringi berkah

dan kesempatan untuk mengeja sajak-sajak ilmu tentang kehidupan

Samarinda, 1 April 2018

Untuk Bentang,

Di hari ketujuh dia di nicu