0

The Vegetarian : Manusia yang Gagal Selesai Dengan Dirinya Sendiri

Nama Han Kang, setidaknya baru saya kenal, dan sepertinya mulai melambung sebagai penulis dunia asal Korea Selatan, setelah memenangkan penghargaan Man Booker International Prize tahun 2016 lalu. Setelahnya The Vegetarian banyak dibicarakan sebagai buku terbaik oleh berbagai media internasional. Eka Kurniawan, penulis Indonesia yang juga menjadi nominator penghargaan tersebut bahkan menyebut The Vegetarian adalah satu dari lima novel terbaik yang pernah ia baca. Latar belakang semacam itulah yang kadang-kadang menumbuhkan antusiasme seseorang terhadap sebuah buku. Saat banyak yang mengatakan bagus, sebenarnya sebagus apakah buku tersebut?

Kim Yeong Hye adalah seorang perempuan biasa, yang dalam kacamata suaminya dikatakan sebagai istri yang sangat biasa, tidak mempunyai kelebihan ataupun kekurangan khusus. Suatu hari Yeong Hye merubah perilakunya menjadi seorang vegetarian setelah diganggu mimpi buruk berkepanjangan. Ia membuang semua makanan yang tidak berasal dari tumbuhan baik itu daging, ikan, telur bahkan makanan olahan protein hewan seperti mayonaise. Perilakunya sebagai seorang vegetarian berkembang menjadi obsesi dan menyeret keluarganya pada sebuah skandal yang menakutkan.

Cerita berkembang lebih mencekam hingga akhrinya Yeong Hye harus berada di rumah sakit untuk mengatasi permasalahan mentalnya. Yeong Hye bahkan menolak makan. Kakaknya, In Hye adalah sosok setia yang mendampinginya hingga akhir. Melalui narasi-narasi In Hye inilah tertuang bagaimana sebenarnya mereka adalah manusia-manusia yang mencari jiwanya diantara kungkungan waktu dan tersesatnya jati diri.

Daripada berbicara tentang makanan, buku ini memang lebih banyak bercerita tentang peristiwa-peristiwa mengerikan dan konflik personal-interpersonal yang dialami tokoh-tokoh di dalamnya akibat Yeong Hye memutuskan menjadi vegetarian. Di negara Asia, gaya hidup vegetarian memang belumlah diterima secara luas seperti di negara-negara Barat. Dan Korea Selatan, adalah negara yang memang secara kultural terlihat sulit menerima kehadiran seorang vegetarian karena komposisi makanan tradisionalnya selalu tidak jauh dari daging dan ikan. Maka ketika Yeong Hye memutuskan menjadi vegetarian, hampir seluruh anggota keluarganya menentang. Ayahnya yang temperamental bahkan menamparnya ketika ia menolak memakan daging yang disuapkan kepadanya.

Setidaknya dari sudut pandang In Hye saya jadi bisa sedikit menyimpulkan sesuatu yang sedikit disinggung Han Kang disini, bahwa apa yang terjadi pada kondisi kejiwaan dua bersaudara ini adalah buah yang ditanam di masa kecilnya. Besar dengan ayah yang temperamental dan suka sekali bermain tangan mejadikan In Hye dan Yeong Hye tumbuh tanpa benar-benar menjadi dirinya sendiri.

“Ia baru memahami Yong Hye lama setelahnya. Pukulan Ayah hanya ditunjukkan kepada Yeong Hye. Young Ho suka memukuli anak tetangga sebanyak ia dipukuli Ayah, sehingga ia merasa tidak terlalu terusik. Sementara, dirinya adalah putri sulung yang setia menyajikan sup untuk memulihkan tubuh setelah ayahnya mabuk sehingga Ayah tanpa sadar lebih berhati-hati untuk memukulnya. Yong Hye yang berhati lembut dan bersifat halus tidak pernah melawan ayah dan hanya menerima semua pukulan sampai ke dalam tulangnya. Sekarang ia paham. Paham bahwa sifat rajinnya sebagai putri sulung waktu itu bukan karena dia dewasa, melainkan karena ia pengecut. Namun, itu caranya untuk bertahan hidup.
Apakah ia mencegahnya? Semua hal tak terduga meresap ke tulang Yeong Hye. Akhirnya, mereka menuruni jalan di seberang gunung dan menumpang sebuah mesin penanam padi menuju desa kecil melalui jalanan yang asing. Ia merasa tenang, tapi Yeong Hye tidak senang. Yeong Hye hanya memandangi pepohonan yang terbakar cahaya senja tanpa mengatakan apa-apa.”

Pada akhirnya, walaupun Han Kang menarasikan cerita dengan sangat mengalir dan dalam, tetap saja bagi saya buku ini kurang mengesankan dan tragedinya terlalu memprihatinkan. Sebab The Vegetarian berbicara tentang luka yang tak disembuhkan, dibiarkan tersembunyi, tertumpuk dan menganga secara tiba-tiba. Ada perasaan semacam marah karena dalam hidup yang berharga ini seseorang menyianyiakan dirinya sendiri akibat persoalan jiwa yang tak terselesaikan. Dari balik rasionalitas, saya selalu percaya bahwa setiap orang pernah dan mempunyai luka dan terhadapnya selalu ada pilihan untuk sembuh ataupun berdamai untuk melangkah bersamanya. Untuk itulah bagi saya, sosok In Hye justru menjadi heroine dalam The Vegetarian ini mengalahkan tokoh utamanya. Sebab walaupun tersesat, In Hye tak mau menyerah pada dirinya sendiri dan melanjutkan hidup yang penuh anugrah bersama anaknya.

Lalu lama-lama pepatah yang mengatakan bahwa dibalik tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat nampak kurang relevan lagi kini. Dari jiwa yang kuatlah terpancar kesehatan tubuh dan semangat hidup yang tinggi.

Dan ya satu lagi, apa yang ditorehkan di masa kecil, apapun itu, melekat kuat ke dalam tulang dan menjadikan siapakah seseorang di masa depannya.

Iklan
0

Menemukanmu

Tuhan menjadikanmu jalan untukku mengenal diri
Jalan yang kerap kali kususuri dari pagi ke pagi

Kau menemukanku di batas hari
Saat kesepian sekian lama tersimpan rapat di dasar hati

*Judul dan sajak pertama diambil dari karya Tiara Rizkina*
*Moonlight-Yiruma*