0

Terserah Apa Kata Langit

Aku pernah, sedikit sekali belajar tentang siasat. Sedikit sekali, namun kekaguman sekaligus kengerian dapat bergabung menjadi satu. Membuat perasaan lapar dan mual bisa saja terjadi bersamaan, ingin menangis sekaligus tertawa keras-keras, saat itu juga.

Sembilan April Dua Ribu Empat Belas, adalah hari yang disambut oleh rangkaian siasat besar. Saat mereka bilang inilah pesta yang memanifestasikan nafas demokrasi, saat mereka bilang inilah saatnya kepemimpinan beranjak pada sesosok pembaharu, kubilang terserahlah. Bagiku, ini adalah hal paling menggelikan yang pernah kutemui,terjadi di tanah lahirku, dan aku menerimanya, ikut ambil bagian di dalamnya, walaupun dengan kontribusi yang paling sederhana. Maka disitulah kutemui, diriku sendiri dan banyak orang yang memikirkannya, hidup dalam sebuah perasaan nelangsa yang tak pernah bertemu jawabannya.

Pemilihan umum, yang katanya adalah sebuah perayaan dari lahirnya peristiwa reformasi, aku mengakui dan berpendapat memang masih begitulah yang hingga saat ini dapat kita lakukan. Tapi kenyataan kita harus memilih seorang wakil dari sekian ratus orang yang ingin terpilih, adalah bagian paling menggelikan dari pesta ini. Bagaimana seseorang kemudian dapat mengenali mereka, yang nama-namanya tertempel dan terpasang di pohon-pohon, tiang listrik, jalanan bahkan tempat ibadah hanya dengan melihat gambar yang telah diperbaiki berkali-kali.

Cerita berkembang lebih menyakitkan saat mengetahui bagaimana seorang wakil yang ingin dipilih mencoba berbagai cara untuk dikenal dan kemudian dipilih oleh banyak orang. Yang paling sakit adalah mereka yang menggunakan dunia gaib untuk meminta pertolongan. Pada tuhan aku berdoa, semoga kursi-kursi di gedung dewan itu benar-benar dijauhkan dari orang sakit semacam itu. Di bawah itu masih banyak yang memilukan. Mereka yang dengan bodohnya membagi-bagi uang,sama sekali tidak berpikir tentang bagaimana mendidik masyarakat di bawah. Ah,,ya, itu mungkin saja terjadi karena mental seperti itu pulalah yang membangun mental calon-calon wakil itu. Begitu juga mereka yang menampilkan acara hura-hura sambil menampilkan hiburan-hiburan tak bernilai dan bermoral.

Bagaimanapun membingungkannya keadaan ini semua, pada akhirnya tetap kita harus kembali pada sebuah logika. Bahwa cara satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah untuk ikut memilih. Memilih yang baik diantara yang buruk, atau memilih yang paling sedikit keburukannya untuk mencegah mereka yang kurang sehat mentalnya itu menjadi wakil. Sebab, jika kita kembalikan pada perasaan, Tuhan tetap karuniakan banyak orang baik di dunia ini. Walaupun alasan ini terlihat begitu rapuh, namun beginilah kita seharusnya menyedikitkan terjadinya suatu keburukan. Dan begitulah aku memutuskan untuk ikut andil dalam pusaran kejadian ini.

Sembilan April Dua Ribu Empat Belas, kuputuskan untuk memilih. Aku memilih ia yang tahu tentang hukum Tuhan, yang santun dalam bertutur, yang sederhana dalam perilaku, yang tahu tentang sebuah bidang ilmu, yang tidak hanya berpikir tentang uang, yang sehat pemikirannya, dan yang menggunakan cara yang baik dalam mengajak. Jika kau katakan tidak ada yang seperti itu, kubilang masih ada. Kau hanya perlu lebih mengenalnya.

Selanjutnya, tentang pemimpin negeri,tentang asing, tentang para pemilik modal, biarlah itu nanti saja. Kita berusaha ssemampu yang kita bisa untuk sesuatu yang kita yakini sebagai kebaikan berdasarkan aturan Tuhan.

Aku hanya ingin Indonesiaku tersenyum baik. Berikutnya, terserah apa yang dikatakan langit…

image

You say you wander your own land
But when I think about it
I don’t see how you can
You’re aching, you’re breaking
And I can see the pain in your eyes
Says everybody’s changing
And I don’t know why
So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

23.19-070414