1

Inspirasi dari cerita Para Pengajar Muda, yang mengabdi untuk ana-anak di pelosok Negri

”Izinkan anak-anak SD di pelosok itu mencintai, meraih inspirasi, dan berbinar menyaksikan kehadiranmu. Dan yang terpenting, Anda sebagai anak terbaik telah ikut—sekecil apa pun—mendorong kemajuan, mengubah masa depan mereka menjadi lebih cerah….”

Adalah sepenggal kata2 penyemangat yg diberikan Pak Anies Baswedan, penggagas program Gerakan Indonesia Mengajar, yang disampaikan via email kepada para pengajar muda yang dikirim ke seluruh pelosok negeri.

Rasanya sungguh terharu melihat para pengajar muda itu. Mereka, adalah para lulusan perguruan tinggi yang tak hanya cerdas, tapi hampir pasti adalah jenis mahasiswa yang seimbang. Tapi memberanikan diri untuk menerima tantangan mulia ini, memberikan harapan dan mimpi pada anak-anak di pelosok negeri, yang hampir tak tersentuh peradaban masa kini.Dan betapa, bagi saya, cerita mereka sungguh mengisnpirasi.

Hari ini saya bca kompas, banyak artikel tentang mereka. Cerita tentang bagaimana mereka harus menjalani penggemblengan pengajar muda selama dua bulan. Dan setelah ditempatkan, medan alam menjadi tantangan utama yang harus dilakukan. Belum lagi kondisi yang cukup primitif sehingga mempengaruhi kemampuan anak dalam menegrti dan semuanya.

Tiba-tiba saja, saat dulu teman-teman banyak membicarakan ini sayatidak tertarik, saya jadi bermimpi. Bermimpi menjadi para pengajar muda itu, bermimpi bahwa ada satu masa dalam hidup saya memberikan kontribusi kecil untuk mereka yang sangat membutuhkan sehingga kontribusi itu menjadi berarti. Walaupun mungkin, orang tua atau orang lain, akan menentang, tapi saya tetap ingin menambah mimpi saya. Mimpi bahwa suatu saat nanti, saya ingin merasakan Indonesia dari ujung keindahan negeri, bersama anak-anak mentari.

GIM memang belum banyak membuahkan hasil. Namun, setidaknya, kini, di sebuah dusun di tengah hutan Battutala, Aliman (32) bermimpi bisa menyekolahkan anak laki-lakinya hingga sarjana. ”Dia tidak boleh bodoh seperti saya,” katanya.

Sebuah mimpi yang indah….

Bismillahirrohmanirrohim
rumah, di samping ibu aku bermimpi
30.01.11

Iklan
0

Orange Jasmine

Tiba-tiba saya kembali pada kegemaran saya sewaktu SMP dulu, koleksi lagu-lagu mandarin^^v. Bedanya kalo dulu buat seneng-senengan aja, sekarang, masih tetep sih, tapi saya lebih menghargai ada makna di dalamnya. Entahlah, dulu teman2 bilang bahasa mandarin itu bahasa paling jelek pronounciationya. Makanya dulu saya malu belajar. Lah ternyata, saya baru menyadari, bahwa telinga dan mulut saya, punya kemampuan khusus terhadap mandarin. Akhirnya, saya tak malu lagi untuk sedikit2 mendengar musik-musik mandarin, dan jujur, sekarang lebih cepat menghafalkannya. (oh tidak, padahal bahasa arablah yang seharusnya saya pelajari).

Cerita selanjutnya adalah, sewaktu jalan2 ke wtc beli modem, ditayangkan coutsey Youtube di tv flash, sebuah lagu bagus. Mandarin!!saya langsung tau. Ternyata Jay Chou yang menyayikannya. Di rumah, saya coba searching. Ketemu, Orange Jasmine judulnya, di mandarinkan jadi Qi Liang Xi. Instrumennya lembut, ada nuansa etnik kecapinya. Tapi suara Jay Chou gak terlalu bagus menurut saya disini. Biasa ngerapp sih. Makna lagunya juga lucu, sederhana sekali. Daripada saya berpanjang lagi, lets cekidot.

#Qi Liang Xi#

窗外的麻雀 在電線桿上多嘴
chuang wai de ma que / zai dian xian gan shang duo zui
The sparrow outside the window is being noisy on the electrical wire

妳說這一句 很有夏天的感覺
ni shuo zhe yi ju / hen you xia tian de gan jue
You say that this sentence has a lot of that summer feeling

手中的鉛筆 在紙上來來回回
shou zhong de qian bi / zai zhi shang lai lai hui hui
The pencil in [my] hand, goes back and forth on the paper

我用幾行字形容妳是我的誰
wo yong ji hang zi xing rong ni shi wo de shui
I use a few lines to describe who you are to me

秋刀魚 的滋味 貓跟妳都想了解
qiu dao yu / de zi wei / mao gen ni dou xiang liao jie
The taste of sanma fish, the cat and you both want to understand

初戀的香味就這樣被我們尋回
chu lian de xiang wei jiu zhe yang bei wo men xun hui
The fragrance of first love was rediscovered by us just like that

那溫暖 的陽光 像剛摘的鮮豔草莓
na wen nuan / de yang guang / xiang gang zhai de xian yan cao mei
That warm sunlight, is like the brillant freshly-picked strawberries

你說妳捨不得吃掉這一種感覺
ni shuo ni she bu de chi diao zhe yi zhong gan jue
You say you can’t bear to eat up this feeling

雨下整夜 我的愛溢出就像雨水
yu xia zheng ye / wo de ai yi chu jiu xiang yu shui
Rain falls the whole night, my love overflows just like rainwater

院子落葉 跟我的思念厚厚一疊
yuan zi luo ye / gen wo de si nian hou hou yi die
The fallen leaves in the yard, thickly overlaps with my lingering thoughts

幾句是非 也無法將我的熱情冷卻
ji ju shi fei / ye wu fa jiang wo de re qing leng que
A few words of dispute, cannot cool my warmth

妳出現在我詩的每一頁
ni chu xian zai wo shi de mei yi ye
You appear in my poem’s every page

雨下整夜 我的愛溢出就像雨水
yu xia zheng ye / wo de ai yi chu jiu xiang yu shui
Rain falls the whole night, my love overflows just like rainwater

窗台蝴蝶 像詩裡紛飛的美麗章節
chuang tai hu die / xiang shi li fen fei de mei li zhang jie
Butterfly on the window sill, is like the beautiful chapter that flutters about in the poem

我接著寫 把永遠愛妳寫進詩的結尾
wo jie zhe xie / ba yong yuan ai ni xie jin shi de jie wei
I continue to write, to write my eternal love for you into the poem’s ending

妳是我唯一想要的了解
ni shi wo wei yi xiang yao de liao jie
You are the only understanding I want

那飽滿 的稻穗 幸福了這個季節
na bao man / de dao sui / xing fu le zhe ge ji jie
That fulfilling ear of rice, made this season happy

而妳的臉頰像田裡熟透的蕃茄
er ni de lian jia xiang tian li shou tou de fan qie
Yet your cheek is like the rippened tomato in the fields

妳突然 對我說 七里香的名字很美
ni tu ran / dui wo shuo / qi li xiang de ming zi hen mei
You suddenly say to me, “Qi Li Xiang” this name is very beautiful

我此刻卻只想親吻妳倔強的嘴
wo ci ke que zhi xiang qin wen ni jue qiang de zui
Yet at this moment I can only think of kissing your stubborn lips

0

KKesempurnaan Seorang Wanita (Bagian ke-1)

Artikel ini saya dapat dari situs dakwatuna.com. Bagi saya, membacanya ada rasa ketentraman sendiri. Sederhana, tapi punya makna yang dalam. Tentang bagaimana seorang istri mendapati suaminya tanpa sadar masih mengingat perempuan di masa lalunya. Ada ruang yang menenangkan saat tau, bagaimana wanita itu bersikap. Saya tak berharap seperti itu, tapi belajar mengenai bagaimana sikap istri seharusnya pada kondisi tersebut juga perlu. Belajarsatu hal tentang, kesempurnaan seorang wanita.

Sebuah suara samar mengusik tidur wanita itu. Menerobos halus celah gendang telinga, dan perlahan membawanya dari alam mimpi menuju keterjagaan raga. Namun matanya masih terpejam dalam kantuk yang masih menggelayut dalam. Tak ingin ia hirau akan suara yang masih samar terdengar. Tapi sekian detik kemudian suara itu semakin terang dalam keterjagaan telinganya sekarang.

“Tsabita.. Tsabita..”

Tiba-tiba saja matanya mengerjap terjaga dengan begitu cepatnya. Kantuk yang mengikatnya dalam lelapnya mimpi, bertolak kilat meninggalkannya. Salah dengarkah ia? Mimpikah? Sambil mencubit tangannya, dia amati wajah teduh pemilik suara. Perempuan itu tidak bermimpi. Dia dalam keterjagaan yang sempurna.

“Tsabita…” Nama itu kembali terucap dari lelaki di sampingnya. Begitu lirih. Begitu dalam. Begitu.., ah tak mampu ia menggambarkannya.

Wanita itu tercekat. Airmata begitu saja menderas dari kedua matanya. Dadanya teramat sesak. Bumi seakan ditindihkan di atasnya. Rasa sakit yang begitu dalam menjajah hatinya. Sakit. Sakit sekali. Sakit yang takkan bisa dilukis dengan sempurna oleh kata. Dia mencoba menguasai dirinya. Tapi ia gagal. Isaknya semakin menjadi. Tubuhnya berguncang menahan keterguguan. Kemudian dengan bersegera ia meninggalkan tempat tidurnya. Khawatir jika lelaki pemilik sumber suara itu terbangun karenanya.

Kran ia nyalakan. Suara air bergemericik mengalahkan isaknya. Dia terduduk lunglai di sana. Di dalam kamar mandi yang berada di luar kamar tidurnya. Maka menjadilah tangisnya. Yang dengannya, ia ingin mengeluarkan segala bongkah-bongkah pengganjal perasaannya. Ia ingin menjadikan air matanya itu sebagai hujan yang mengurai habis gumpalan mendung kelam yang ada di hatinya.

Setelah seperempat putaran jam, barulah ia mulai bisa mengendalikan dirinya. Kejernihan hati mulai mengikis masuk dalam kebuntuan akal yang tadi rapat tertutup jerat emosi kewanitaannya. Perlahan ia beranjak mendekati kran. Menangkupkan kedua telapak tangannya dalam dingin dan sejuknya air wudhu di pertengahan malam itu. Khusyu’ ia basuhkan air itu di wajahnya. Ia biarkan dinginnya meresap hingga ke dalam hatinya. Ia ingin membuang segala perasaan marah, sedih, kecewa dalam tetesan air suci yang mengurai dari setiap pori anggota wudhunya.

Dan kini wanita itu tersungkur dalam sujud panjangnya. Isakan itu menjadi lagi.

“Subhaana Rabbiyal a’laa.. Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.. Maha Suci Engkau Ya Rabb.. Sungguh wanita penuh dosa ini kembali lagi mencari kesempurnaan dalam mata air Kesucian-Mu.. Dan dalam kekerdilan dan kerapuhan diri ini, izinkan hamba berlindung dalam Ketinggian dan Kesempurnaan cinta yang utuh menjadi milik-Mu..”

Setelah salam dilafadzkan. Tertengadah kedua tangannya mengharap kucur Cinta-Nya. Tangan itu bergetar hebat seakan tak mampu menangkup doa yang diucap oleh lisannya dalam keterbataan isak kata.

“Ya Rabbiy, Wahai Dzat Pemilik hati dan jiwa ini.. Hamba berserah pasrah kepadamu. Terhadap urusannya. Terhadap hatinya. Karena hanya Engkau yang berhak mengaruniakan cinta. Walaupun seluruh manusia mengeluarkan perbendaharaan hartanya untuk membantuku menebus cinta lelaki itu,, maka hamba tahu hal itu mustahil tanpa kehendak-Mu..”

“Ya Rahman, sungguh hamba telah menjadikan Engkau sebagai wali dari setiap urusan hamba.. Hamba bermohon dengan segala Kemahabesaran-Mu agar Engkau berkenan melapangkan hati hamba.. Menyamuderakan cinta hamba.. Meluaskan kemaafan dan kesyukuran hamba.. Hingga hamba sanggup menerima segala beban penggelayut jiwa ini dengan segala sikap dan amalan yang Engkau Ridhoi saja.. Tanpa dengan kecemburuan yang membuta..Tanpa dengan kemarahan yang membara.. Tanpa dengan kekecewaan yang mematikan rasa.. Dan dengan tanpa mengurangi bakti dan kecintaan hamba pada suami hamba..

Ridhokan hamba atas apa yang mampu ia berikan pada hamba. Jangan jadikan hamba wanita yang tidak bisa mensyukuri pemberiannya. Berikan hamba kecintaan terhadap apa yang menjadi kecintaannya.. Berikan hamba kecintaan terhadap apa yang menjadi kecintaannya.. Berikan hamba kecintaan terhadap apa yang menjadi kecintaannya..” Tercekat suara wanita itu. Ia biarkan air matanya meneruskan setiap doa yang masih ingin ia panjatkan setelahnya.. Dan tanpa sadar ia pun tertidur dalam kelelahan jiwa raga.

Suara alarm dari kamar tidurnya membangunkan wanita itu untuk kali kedua. Dia pun beranjak dari mushalla kecilnya dan bersegera menuju kamarnya. Lelaki yang telah menjadi suaminya selama hampir empat tahun itu masih pulas tertidur di sana. Terlalu lelah sepertinya, hingga suara alarm tak berhasil membangunkannya seperti sepertiga malam lainnya.

Wanita itu menatap dalam-dalam ke wajah itu. Air mata yang ingin menyeruak, ia tahan sekuatnya. Ia takkan menangis di depan imamnya. Lelaki luar biasa. Lelaki terbaik yang pernah ia kenal dalam hidupnya. Yang dalam tiga tahun masa panjang pernikahannya tak pernah sedikit pun kata-kata kasar meluncur dari bibirnya. Yang selalu menjaganya dengan penjagaan sempurna. Yang selalu menerima segala kekurangannya tanpa menghakimi dan mencari pembandingnya. Yang menumbuhkannya dengan ilmu dan menuntunnya untuk selalu menjadi muslimah yang semakin dewasa keimanannya dan semakin indah akhlaqnya dari waktu ke waktu.

Wanita itu ingin selalu mensyukuri setiap hal yang suaminya telah beri. Ia tahu bahwa suaminya senantiasa mengusahakan yang terbaik untuknya. Apapun segala kebaikan yang bisa diberikan oleh lelaki itu, selama ini telah ia terima dengan sempurna. Namun malam ini wanita itu terantuk pada kenyataan, bahwa hati lelaki itu bukanlah untuknya. Kecintaan lelaki itu bukanlah miliknya. Walaupun sesaat lalu dia masih dalam keyakinan bahwa dialah ratu hati lelaki itu. Yang kemudian baru saja ia tersadar bahwa itu hanyalah fatamorgana semu.

Tsabita..

Perempuan masa lalu itu ternyata masih menempati ruang tertinggi di hati lelaki berwajah teduh ini. Perempuan yang namanya tidak pernah tersebut dalam lisan suaminya di waktu sadarnya selama masa panjang bilangan tahun pernikahannya. Perempuan yang ia yakini bahwa suaminya telah mengusahakan segala hal yang bisa ia lakukan untuk mengeluarkannya dari hati, agar hanya ia satu-satunya wanita yang menempati singgasana dalam jiwa si lelaki. Dan wanita itu sadar, bukan salah suaminya jika pada akhirnya ia tidak mampu. Bukan salah lelaki itu jika cinta untuk perempuan itu masih melekat dengan erat di palung sukmanya. Sungguh bukan salahnya. Karena hak Dia seutuhnya untuk mengaruniakan cinta kepada apa dan sesiapa yang menjadi Kehendak-Nya.

Yah, rasa sakit itu ada. Kecemburuan yang begitu dalam pun telah sangat menyiksanya. Namun wanita ini segera tersadar, bahwa dulu sebelum ia menerima pinangan si lelaki, ia telah mengetahui resiko ini. Lelaki ini berkata jujur padanya akan semua masa lalunya sejak awal kedatangannya. Dan waktu itu, wanita ini telah menyalakan azzam untuk menerima segala konsekuensi atas pilihannya. Dan kini saatnya ia harus membuktikan semuanya.

Perlahan ia dekati sosok itu. Ia cium keningnya. Takzim. Sebagaimana suaminya selalu melakukannya saat membangunkannya. Lelaki itu membuka matanya. Tersenyum padanya. Perlahan bangkit dari posisi tidur dan berdiri menjajari istrinya.

“Yah, keduluan Ummi deh bangunnya. Afwan ya Sayang..” canda lelaki itu sambil meraih kepala istrinya. Membalas mencium kening wanita itu.

“Ga papa juga dong sekali-kali Ummi yang dapat pahala membangunkan. Masa Abi terus yang memborong pahala..” wanita itu tersenyum manja, menggelayut tangan suaminya.

“Yee, ga mau kalah ni ceritanya? Baiklah, besok-besok Ummi terus aja deh yang bangunin. Abi sih rela-rela aja setiap pagi dibangunkan oleh kecupan seorang bidadari..” sambil mengelus kepala istrinya.

“Ogah ah. Ntar Abi ngrasa jadi sleeping beauty lagi. Eh sleeping handsome ding.. hehe.. ”

“And the beast.. hehehe..” Mereka tertawa bersama

“Eh Mi, Ummi habis nangis? Matanya kok sembab gitu?” Lelaki itu tiba-tiba menghentikan tawanya.

Wanita itu diam sejenak. Berpikir bagaimana harus menjawabnya. Tapi senyumnya masih ia kembangkan, untuk menutupi segala kebingungan.

“Yah ketahuan ya? Iya Bi, Ummi tadi udah mencuri start shalat malam duluan. Tapi baru 2 rakaat kok. Ummi menangis karena Ummi tiba-tiba tersadar, betapa baiknya Allah sama Ummi. Mengaruniakan seorang lelaki luar biasa.. Lelaki surga.. Ah udah Bi, buruan ambil wudhu gih..”

“Hffh.. Abi yang harus jauh lebih banyak bersyukur kepada Allah Mi.. Karena Allah telah mengizinkan Abi untuk didampingi seorang wanita yang sebaik dan seindah Ummi..” Menatap dalam-dalam ke mata wanita itu. Kemudian sekali lagi mencium keningnya dan segera beranjak mengambil air wudhu.

Di sepertiga malam terakhir itu, wanita tersebut meminta imamnya agar membaca surat Ar-Rahman. Fabiayyi aalaa-I rabbikumaa tukadzdzibaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Seiring berulangnya kalimat itu dilafadzkan, semakin tergugu mereka berdua tenggelam dalam kedalaman maknanya. Semakin mereka merasa begitu kecil di hadapan Rabb-Nya. Hingga sebelum selesai surat itu dibaca pada rakaat pertama, lelaki itu sudah kehilangan suaranya. Tertelan oleh airmata yang mengalir tanpa bisa ditahannya. Membanjir memenuhi tenggorokannya. Dan akhirnya mereka berdiri dalam diam. Hanya isak mereka berdua yang terdengar semakin keras mengguncang.

Ya Rabb, ampuni kesyukuran kami yang hanya setetes saja, padahal Engkau telah memberikan kami nikmat yang luas menyamudera… Maafkan Ya Rahman.. Maafkan..

Oleh: Qana-atul Qanithah

Rumah,28.01.11

0

Perempuan Berdaya: Manifestasi Eksistensi Perempuan Bagi Peradaban

Peradaban menjadi lebih berarti jika berempu pada perempuan. Sebab perempuan, seperti kata Buya Hamka, adalah per-empua-an Adalah perempuan, makhluk ciptaan tuhan yang telah mengalami dinamisasi eksistensi dari awal diciptakannya hingga masa sekarang ini. Fase-fase eksistensi perempuan ini terlihat jelas di zaman mitos Yunani yang berkembang di Eropa, Renaisance, munculnya Islam yang kala itu menguasai dua pertiga wilayah dunia, dan masa modern yang ditandai dengan munculnya berbagai macam paham feminisme. Jika pada zaman mitos, perempuan menjadi makhluk yang terpinggirkan, pada zaman perkembangan Islam, perempuan dimuliakan, maka pada zaman modern, isu gender inequality atau kesamaan gender menjadi satu gerakan yang marak diperjuangkan oleh perempuan pada zaman ini. Kita perlu melihat sisi tengah perubahan perempuan dari sisi budaya dan sosial di masa kemunculan Islam. Sebelum kemunculannya, kondisi perempuan Arab kala itu sama seperti di Eropa bahkan lebih parahnya adalah pembunuhan terhadap bayi perempuan karena dinilai tak memberikan kemanfaatan apa-apa. Namun setelah kehadiran Muhammad, peradaban bodoh diubah menjadi peradaban yang mulia. Dimana perempuan tidak hanya di tempatkan sesuai dengan posisinya sebagai istri dan ibu, tapi juga berperan dalam masyarakat sesuai potensinya sendiri-sendiri. Misalnya As Syifa sebagai dokter perempuan arab, Asma binti Abu Bakar yang menjalankan tugas spionase atau Khadijah yang menjadi bussiness woman paling sukses kala itu. Muhammad telah meletakkan dasar-dasar pijakan perempuan yang berdaya kala itu. Perempuan yang secara kodrati memanglah berperan sebagai istri yang melayani kebutuhan suami, sebagai ibu yang mendidik anak-anaknya namun juga mempunyai peranan besar bagi perkembangan peradaban. Dan justru, peran terberat berada pada posisi ibu, sesuatu yang pada akhirnya membuat perempuan disebut sebagai tiang negara. Sebab tegaknya sebuah bangsa kata Muhammad saw, baiknya sebuah bangsa, berasal dari para ibu yang berhasil menggunakan segenap dayanya untuk mendidik anak-anak generasi masa depan. Dan seperti istilah yang telah diungkapkan HAMKA di atas, bahwa peradaban menjadi lebih berarti jika berempu atau bersandar pada perempuan karena secara bahasa pun perempuan bisa diartikan sebagai pe-empu-an. Jika saat ini gerakan perempuan feminis yang terwujud dalam berbagai organisasi tadinya menuntut kesamaan hak pada akhirnya menuntut persamaan peran dengan laki-laki, maka kita perlu menginstrospeksi kembali pemikiran semacam ini. Sebab definisi keadilan yang paling indah, adalah penempatan sesuatu yang proporsional atau sesuai dengan kemampuannya. Sehingga menjadi hal yang tidak mungkin jika permpuan harus benar-benar disamakan dengan lelaki, padahal dari fungsi alamiahnya pun jelas bahwa laki-laki menjadi ayah sedangakan perempuan menjadi ibu. Maka menjadikan perempuan sebagai sosok yang berdaya, haruslah menjadi titik tekan proses pemberdayaan perempuan. Perempuan yang berdaya, adalah perempuan yang menjalankan fungsi utamanya sebagai istri, ibu dan memberdayakan potensi dirinya yang lain seperti berdagang, berorganisasi, akademisi dan kemampuan lainnya. Menjadi perempuan, istri, ibu yang berdaya adalah satu bentuk manifestasi eksistensi perempuan yang paling menyejukkan bagi peradaban. Bukan dengan meninggalkan kodrat untuk meraih pekerjaan, popularitas, intelektual yang bertujuan untuk menyamai laki-laki, melainkan dengan melaksanakan kodrat sebagai istri yang melayani suami, ibu yang mendidik anak-anaknya dan perempuan yang mampu berdaya secara kualitas dan intelektual untuk mennciptakan peradaban yang lebih baik. Sehingga kita dapat sadari, bahwa menjadi ibu rumah tangga pun, membutuhkan intelektualitas yang bukan ala kadarnya.