0

Mengenal Tiga Tokoh Pendidikan dari Eropa

Semenjak keberangkatan sahabat sekaligus partner kerja saya, Zahra, ke Australia lima bulan lalu, selama lima bulan inilah kami intens berkoordinasi via aplikasi chat dan membicarakan banyak hal, yang menurut saya, begitu produktif dan serius dalam sebuah proses membangun apa yang kami cita-citakan bersama. Kami banyak berbicara tentang early childhood education dan hal-hal terkait apa yang dibutuhkan untuk menjadi preschool yang mampu menyatukan segala entitas pendidikan bagi perkembangan anak. Dari setiap pembicaraan inilah, dan apa-apa yang diceritakan olehnya kepada saya (karena kebetulan Zahra banyak mengambil workshop tentang early childhood education di Melbourne) saat kami bertukar pikiran, saya semakin mengenal tentang tiga tokoh besar dalam dunia pembelajaran dan metodenya yang hingga kini masih dianggap sangat relevan memunculkan manusia-manusia dengan kebermanfaatannya yang mendunia. Mereka adalah Maria Montessori, Rudolf Stenner (Waldorf Education) dan Loris Malaguzzi (Reggio Emilia Approach).

Tulisan ini terlepas dari kemampuan dan penguasaan saya terhadap metode yang ditelurkan tokoh-tokoh tersebut. Selain Montessori, saya belum pernah belajar secara resmi mengenai Waldorf dan Reggio Emilia dan hanya mengikutinya dari selancaran di dunia maya serta apa yang diceritakan Zahra kepada saya. Namun betapapun saya tak pernah berguru secara langsung tentang Waldorf dan Reggio Emilia, ketiga tokoh pendidikan tersebut telah banyak membuka perspektif saya dalam melihat segala sesuatu, bukan hanya tentang anak-anak. Barangkali ini seperti lintasan pikiran, bahwa niat saya belajar mengenai early childhod education tidak hanya membuat saya mempunyai kemampuan teknis baru. Lebih dari itu ternyata juga memperluas cakrawala saya dalam melihat segala aspek dalam kehidupan. Maka yang saya tuliskan disini mungkin lebih seperti hal-hal mengesankan apa yang saya temukan dari Montessori, Waldorf dan Reggio Emilia, bahkan ketika saya belum benar-benar mendalami kesemuanya.

1. Montessori
Maria Montessori, seorang dokter perempuan Italia yang juga reformer pendidikan itu, memiliki gagasan yang sangat ilmiah mengenai anak. Penelitiannya mengemukakan bahwa proses belajar dimulai dengan mendayagunakan seluruh kemampuan indra dan gerakan tubuh yang ada dalam diri seorang anak dan itu telah dimulai pada detik anak terlahir ke dunia. Dalam kondisi lingkungan yang mendukung, filosofi ini menekankan bahwa anak-anak secara alami mempunyai keinginan untuk belajar dan mengajari diri mereka sendiri. Dikenal dengan istilah The Absorbent Mind. Montessori inilah yang dikenal sebagai pioner dalam metode pendidikan yang berfokus pada anak (child centered).

Selama lebih dari seratus tahun, metode ini telah menyebar ke seluruh dunia dan banyak digunakan oleh para orang tua serta institusi pendidikan dalam memberikan pembelajaran pada anak. Filosofi “Biarkan Anak Menolong Dirinya Sendiri” ini menjadi dasar dari semua aktivitas dalam kelas Montessori. Tugas orang dewasa, adalah menyiapkan lingkungan pembelajaran dan menunjukkan tata caranya . Sementara anak akan memilih sendiri berdasarkan ketertarikannya tentang apa yang akan dipelajarinya. Mengoreksi kesalahan yang dilakukan anak sangat dilarang dalam metode ini. Selain merupakan bagian dari cara menghargai usaha anak, tidak mengoreksi kesalahan adalah juga untuk membiarkan anak mengembangkan cara berpikiranya sendiri dan pada poin lain adalah tentang kesabaran, usaha keras, self correcting serta kepuasan yang dapat dirasakan anak. Detik dimana anak dapat melakukan sesuatu dengan benar oleh usahanya sendiri, itulah yang disebut Montessori dengan kesuksesan.

Di dalam kurikulum Montessori terdapat lima area aktivitas pembelajaran, yaitu ketrampilan hidup yang dikenal dengan istilah EPL (Experience of Practical Life), Sensori, Matematika, Bahasa dan Culture (budaya, geografi, botani dan zologi, sains). Untuk kesemua subjek tersebut terdapat standar operasional yang sangat jelas dan mendetail dalam pelaksanaannya, termasuk dengan menggunakan material khusus yang dibuat oleh Montessori. Misalnya saja adalah area ketrampilan hidup. Dalam area tersebut, anak diberikan contoh mulai dari cara bersikap (berbicara santun, mengangkat kursi, membuka menutup pintu,membuka buku, dll); merawat diri (memakai melepas baju, makan, minum, dll); sampai dengan melakukan aktivitas-aktivitas keseharian yang ternyata mengembangkan proses belajar anak-anak seperti menuang air, memindahkan benda dengan alat, dan lain sebagainya. Peran guru -yang oleh Montessori disebut dengan Directress ini- adalah sebagai penyedia lingkungan belajar, pengarah dan yang paling penting, observer. Anak, menjadi pusat aktivitas di kelas dan mempunyai kebebasan untuk memilih apa yang ingin mereka kerjakan. Dan walaupun orbit berpusat pada anak, kemampuan directress dalam melaksanakan tugasnya menentukan keberhasilan sebuah pembelajaran dalam kelas Montessori.

Google founders, Sergey Brin dan Larry Page mengungkapkan betapa pendidikan Montessori yang mereka dapatkan memberikan pengaruh yang besar bagi keduanya dalam mendesain sistem di Google. Montessori selalu menekankan bahwa kebebasan adalah yang paling penting bagi seorang anak. Tanpa kebebasan, anak tak akan mampu mengembangkan kepribadiannya yang di masa depan kelak akan digunakan untuk menjadi bagian masyarakat sebagai orang dewasa. Montessori mendorong anak-anak berkembang sesuai dengan pada tingkat mana mereka berada. Filosofi ini harus selalu dipahami oleh setiap pengguna metode ini. Karena itulah, hingga kini, Google masih dianggap sebagai salah satu perusahan terunik di dunia karena memberikan kebebasan karyawannya untuk menggunakan 20% waktu kerja bagi ketertarikan personal.

2. Waldorf Education
Sekitar dua tahun yang lalu, dunia dikejutkan oleh fakta bahwa seorang technology guru seperti Steve Jobs ternyata amat membatasi penggunaan gadget dan teknologi di rumahnya dan bagi anak-anaknya. Orang membayangkan bahwa pendiri Apple ini akan memasang Ipad dalam ukuran besar di rumahnya dan memenuhi sudut rumah dengan segala yang bernama teknologi terbaru. Walter Isacson, penulis biografi Steve Jobs mengungkapkan bahwa setiap malam, Jobs dan keluarganya duduk di meja makan dan mendiskusikan buku, sejarah dan banyak hal lain tanpa ditemani teknologi apapun. Steve Jobs bahkan mengirim anak-anaknya untuk belajar di sekolah Waldorf, sekolah yang hingga kini dikenal sebagai sekolah non teknologi. Belakangan muncul tren di kalangan orang tua Silicon Valley -yang dikenal sebagai distrik teknologi itu- untuk mengirim anak-anaknya ke sekolah dengan teknologi terbatas.

Waldorf Education, diperkenalkan oleh Rudolf Steiner seorang filusuf, arsitek,seniman dan social reformer dari Austria di awal abad ke 20. Metode pengajaran Waldorf menekankan pada penggunaan dan pengembangan imajinasi dan seni dalam setiap aspek akademik yang dipelajari. Musik, tari, teater, sastra bukan hanya subjek yang dibaca dan diujikan namun juga dialami. Pengalaman itu, menurut Steiner dapat mengembangkan kapasitas intelektual, emosi, fisik dan spiritual yang menjadi bekal seseorang sebagai bagian dari masyarakat.

Di dalam kelas Waldorf, teknologi digital hampir tak ditemukan pada tingkat usia dini dan dasar. Setiap subjek diajarkan melalui musik, gerakan, tarian, lukisan, ritme dan aktivitas tangan (hands on activity) menggunakan material yang sepenuhnya berasal dari alam. Di kelas yang terlihat sangat artistik, semua material terbuat dari kayu, anak-anak melakukan semua aktivitas kehidupan seperti memasak, menanam, melukis,menjahit, menyulam, mengamati binatang, membaca sejarah dan lain sebagainya. Pada level menengah dan menengah atas, teknologi mulai diperkenalkan seperti komputer bukan hanya tentang bagaimana cara menggunakannya, namun juga berlatih bagaimana membuatnya.

3. Reggio Emilia Approach
Pasca Perang Dunia II, dunia dihadapkan pada berbagai macam pemikiran untuk mencari sistem yang mampu mengatasi dampak yang muncul pasca perang. Salah satunya dalam bidang pedidikan. Loris Malaguzzi menciptakan sebuah pendekatan yang kini dikenal sebagai Regio Emillia Approach. Metode yang dinamakan dengan nama kota tempat diciptakannya di utara Italia ini, tidak sepenuhnya berdiri sebagai metode yang rigid dimana orang harus menempuh pendidikan khusus untuk dapat menguasainya. Reggio Emillia dapat diterapkan oleh siapa saja dan dimana saja. Karena itulah pengadaptasinya biasa menyebut dengan Reggio Inspired.

Prinsip yang mendasari Malaguzzi membuat pendekatan ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan dua pendahulunya, Montessori dan Steiner. Malaguzzi berpendapat bahwa anak-anak mempunyai kemampuan untuk membangun cara belajarnya sendiri, menggunakan bahasa untuk bermain, belajar dengan lingkungan dan peran orang dewasa sebagai guide.

Hal yang membuat Reggio Emillia menjadi sebentuk inovasi dalam dunia pendidikan anak adalah kedekatannya dengan alam. Hampir semua material yang digunakan dalam Reggio Emilia adalah benda-benda alam di sekitar kita seperti batu, ranting, bunga dan dedaunan. Dalam sebuah kunjungannya di Sekolah Regio Emillia di dekat University of Melbourne, Zahra bercerita tentang bagaimana kepedulian mereka terhadap sustainibility begitu terasa walaupun mereka merupakan institusi yang nampak jauh dari tanggung jawab atas lingkungan. Dalam workshop yang ia ikuti, selain pembahasan tentang filosofi, yang dilakukan adalah membuat material dari lingkaran bekas isolasi, lakban, kardus bekas, dan barang-barang lain yang dengan mudahnya kita temui dan buang di rumah. Jika selama ini kita berpikir suatu material adalah tepat bagi anak, maka di Reggio Emilia kita diajak berpikir bagaimana membuat material tak terpakai tersebut layak dijadikan alat pembelajaran bagi anak. Ide yang sebenarnya sederhana dan banyak kita tahu namun sepenuhnya terasa baru.

Interlude

Setelah sedikit mempelajari apa yang dibawa ketiga tokoh tersebut, saya banyak menjumpai persamaan dalam nilai-nilai yang diajarkan oleh ketiganya. Nilai-nilai itulah barangkali yang membentuk kultur kecerdasan sebagian orang barat hingga saat ini. Ketiganya adalah metode non maintream yang membebaskan para pembelajarnya belajar sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Tidak ada grading system yang membuat anak-anak terdidik berkompetisi sejak dini. Montessori tidak memuji anak secara berlebihan akan keberhasilannya, tidak menyalahkan atas kesalahannya dalam belajar dan tidak mengenal sesuatu bernama menang kalah. Tidak ada reward dan punishment dalam bentuk apapun di kelas Montessori. Yang ada hanyalah sebuah kalimat ” You did a good job” atau “you can try next day“. Di kelas Waldorf, anak-anak juga tak pernah mengenal apa yang disebut dengan pekerjaan rumah atau homework, namun mereka dilatih untuk melakukan dan menyelesaikan project. Begitupun di sekolah Regio Emillia.

Dengan kebebasan semacam itu, anak-anak menumbuhkan dirinya, karakternya secara bebas pula. Mereka tak terbiasa menanggung beban atas ekspektasi orang lain. Sebaliknya, kebiasaan itu membuat anak-anak secara alamiah mempunyai ketertarikan untuk belajar bersama lingkungan di sekitarnya. Dari metode-metode inilah saya semakin meyakini, bahwa sebaik-baik pendidikan bagi seorang anak adalah kemandirian dan kedekatan dengan alam.

Melalui dua perang dunia bagi Montessori dan Steiner serta satu perang dunia hebat bagi Malaguzzi membuat mereka menyadari bahwa nilai-nilai perdamaian haruslah ditanamkan pada anak manusia sejak mereka lahir. Pada metode ketiganya ketertarikan pribadi dihargai dengan sungguh-sungguh, mereka menciptakan pola berpikiranya sendiri daripada menerima dan melakukan sesuatu yang sama. Tidak adanya reward and punishment membuat anak-anak tidak terbiasa berkompetisi, sebaliknya mereka hidup dalam lingkungan yang penuh kolaborasi.

Di kelas Montessori, mixed age class dimana anak-anak dengan usia berbeda disatukan membuat proses interaksi menjadi lebih dinamis. Anak berusia lebih tua akan belajar membimbing anak yang lebih muda, sebaliknya yang lebih muda juga akan belajar menghormati yang lebih tua. Di sekolah Waldorf, penekanan terhadap seni dalam proses akademik membuat anak-anak menunjukkan kreatifitasnya tanpa harus seseorang mengasah bakatnya. Sebab imajinasi dan kreatifitas yang bermanfaat memang muncul dari rahim kebahagiaan.

Epilog

Hingga saat ini, saya mungkin adalah Montessorian, sebutan bagi mereka yang mendalami dan menggunakan metode Montessori. Namun dari mempelajari metode ini saya menyadari satu hal, semakin sebuah metode itu didalami, semakin memberikan pemahaman bahwa ada banyak metode yang sama baiknya berkembang di luar sana. Waldorf, Reggio, Froebel, High Scope dan masih banyak lagi. Dan daripada berpikir bahwa satu metode lebih baik dari yang lain, mengambil mana yang baik diantaranya untuk dikolaborasikan terlihat lebih bernilai. Sebab metode, seperti apapun yang dibuat oleh manusia, tak terlepas dari kekurangan.

Saya, seperti juga banyak orang di negeri ini, lahir dan tumbuh dalam sebuah sistem yang menafikkan ketertarikan individu di dalamnya. Yang harus berlaku sesuai dengan aturan yang ada, yang terbiasa menggambar pemandangan yang sama, yang ketakutan jika mendapat peringkat tidak bagus, yang tidak percaya diri saat karyanya tidak sebaik milik temannya dan yang pada akhirnya menganggap bahwa belajar adalah soal bertahan agar tidak jatuh, bukan tentang menemukan pengetahuan baru. Mungkin saat dewasa banyak yang bisa berubah, tapi percayalah, apa yang ditorehkan di masa kecil membekas di sepanjang usia.

Itulah kenapa belajar tentang ini memberikan pada saya banyak sekali perspektif baru tentang hidup. Saya mengurangi diri melihat anak-anak dan manusia secara keseluruhan sebagai entitas perbandingan. Tidak satu pun manusia yang dapat dibandingkan dengan manusia lain dalam hal apapun. Mereka berdiri dengan garis takdirnya masing-masing. Dan karena itu pula, saya juga belajar menghargai seseorang bukan hanya seperti apa yang tampak dari luar namun juga kemungkinan-kemungkinan penyebab yang terkandung di baliknya.

Semoga saja, apa yang berubah dari kita, orang dewasa, menjadikan anak-anak mampu tumbuh sesuai fitrahnya sebagai manusia. Dan kelak memunculkan generasi-genarasi yang menjadikan tantangan bukanlah hal yang layak untuk ditakuti. Generasi-generasi yang memelihara impian bukan sebagai beban, melainkan harapan yang diwujudkan. Generasi yang bagaimanapun perpecahan muncul di bumi ini, tetap selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kedamaian dan saling menghargai bagi umat manusia.

Selamat mendidik generasi
Selamat Hari Guru 🙂

0

When Breath Becomes Air

Seorang filusuf Yunani pernah berkata, nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua. (Catatan Seorang Demonstran- Sok Hok Gie)

Filusuf Yunani yang disebutkan Gie tersebut mungkin ada benarnya. Tanpa membuat urutan semacam itu, dilahirkan tapi mati muda, bukanlah apa yang disebut dengan kesialan. Tentu tak layak menyebut kehidupan dengan kata kesialan, namun pilu duka karena nasib membawa seseorang pada kematian di masa mudanya bukanlah sesuatu yang layak untuk lama-lama diratapi. Sebab seperti yang dikatakan Gie, mati muda barangkali adalah nasib terbaik. Gie pun menjemput ujung akhirnya ketika usianya juga masih muda.

When Breath Becomes Air adalah kisah tentang hidup yang dijalani dengan bayang-bayang kematian di saat segala mimpi tentang kehidupan dan masa depan berada di depan mata. Paul Kalanithi adalah seorang dokter bedah syaraf yang telah menjalani pelatihan panjang menjadi ahli bedah syaraf dari sebuah universitas ternama. Kurang dari satu setengah tahun, pelatihannya akan berakhir dan ia akan menjadi seorang ahli sekaligus ilmuawan bedah syaraf. Masa depan tampak begitu menjanjikan, sampai dengan kanker datang mengubah segala rencana hidunya. Memoar ini ditulis pada hari-hari Kalanithi berjuang melawan kankernya. Perubahan dari seorang dokter yang membantu pasien menjadi pasien itu sendiri, memberikan sebuah kontemplasi mendalam baginya tentang makna kehidupan. Jika sudah begini, apa sesungguhnya yang membuat hidup layak untuk dijalani?

1163565_f3df296e-1a15-4681-b2df-8542b98b04f9
Pada awal kisahnya, Kalanithi banyak bercerita tentang bagaimana kehidupan masa kecilnya di Kingsman, sebuah kota yang berhadapan dengan gurun di Arizona telah membentuk dirinya. Tinggal dikelilingi bentangan gurun dan binatang yang menghuninya tidak membuat Kalanithi menjadi anak yang miskin pemikiran. Sastra telah membentuk pemikirannya, dan terlebih dari itu, ibunyalah yang menjadikannya seperti itu.

Seperti saat usia sepuluh tahun, ibunya telah menyuruhnya membaca 1984, menyediakan buku-buku milik sastrawan dunia seperti Gogol,Dickens,Twain atau Austeen dan mengantarnya berkendara berkilo-kilometer jauhnya untuk mengikuti ujian SAT. Pada satu bagian, Kalanithi menceritakan bagaimana ibunya menjadi fenomena karena berhasil mengubah sistem pendidikan di Kingsman yang kemudian memunculkan sebuah perasaan bahwa yang menjadi definisi cakrawala bukan lagi rangkaian pegunungan yang membatasi kota, melainkan apa yang membentang di baliknya. Paul Kalanithi, tumbuh menjadi seorang laki-laki pemikir hingga akhirnya ia diterima di Stanford.

Di Stanford, Paul Kalanithi mengambil jurusan Sastra Inggris dan Biologi Manusia. Kedua bidang tersebutlah yang berperan besar dalam proses pencariannya tentang makna hidup, ketersambungan antara biologi, moralitas dan filosofi sekaligus rasa penasaranya terhadap mortalitas. Ia mempelajari sastra dan organ manusia secara bersamaan. Yang kemudian memunculkan sebuah kesimpulan sederhana, kesusastraan memberikan berbagai penuturan mengenai makna menjadi manusia, maka otak adalah mesin yang entah bagaimana memungkinkan hal itu. Kegelisahan-kegelisahan itu, membawanya mendalami ilmu bedah syaraf.

Di bagian perjalannya mempelajari ilmu dan menjadi dokter, Kalanithi banyak memberikan cerita dan narasi-narasi mendalam tentang bagaimana menjadi dokter itu sendiri. Terlalu banyak mengahadapi darah, kegagalan dan kelelahan beban kerja, secara perlahan dapat menyebabkan memudarnya kesakralan menyentuh organ manusia dan pentingnya hubungan antar-manusia, dalam hal ini adalah dokter dan pasien. Pasien, apalagi yang telah menjalani bedah syaraf, akan menjalani hari yang tidak sama seperti sebelumnya. Mereka dihadapkan pada sebuah identitas baru yang barangkali jauh berbeda dari yang sebelumnya. Kelumpuhan setelah dulunya adalah seorang olahragawan, kecacatan bahasa setelah dulunya adalah pengajar, dan lain sebagainya. Di persimpangan-persimpangan kritis di antaranya, pertanyannya bukan hanya apakah pasien hidup atau mati, melainkan jenis kehidupan seperti apakah yang patut dijalani setelahnya.

Melalui kedalaman penuturannya mengenai dunia profesi yang dijalaninya setidaknya Kalanithi mengajak kita untuk berpikir, bahwa apa yang disebut panggilan hati memungkinkan seseroang melihat ruang-ruang tersembunyi dalam hubungan antar manusia yang tak hanya sekedar memberi dan menerima. Lebih dari itu adalah, memberi arti pada kehidupan orang lain. Ini disampaikannya tentang cita-cita tertingginya dalam menjadi seorang dookter. Keunggulan teknik tidaklah cukup. Sebagai dokter residen, cita-cita tertinggiku bukanlah menyelamatkan nyawa orang-orang -toh semua pada akhrinya akan meninggal- melainkan membimbing pasien dan keluarganya agar bisa memahami kematian atau penyakit yang diderita.

Bagian terakhir ketika Kalanithi menceritakan perubahan statusnya dari dokter menjadi seorang pasien kanker seperti menunjukkan betapa semakin melemahnya kondisi fisiknya. Tulisannya kadang meloncat-loncat, tanda bahwa ia amat bekerja keras untuk menyelesaikannya. Yang menarik bukan hanya penderitaan yang dialaminya melainkan perasaan-perasaannya dalam menerima hadirnya penyakit dan bayang-bayang kematian di depan mata. Ia mengalami krisis identitas, penyangkalan, depresi hingga kembali pada kehidupan relijius yang telah sekian lama ia tinggalkan. Hingga kemudian memutuskan menjalani kehidupannya di sisa waktu dengan penuh arti, sebab walaupun sekarat, ia masih hidup sampai benar-benar mati. Apa yang dulu banyak dirasakan oleh para pasiennya.

Epilog

Bagi saya, buku ini banyak memberikan jalan perenungan pada hari-hari dimana saya dilanda duka yang mendalam atas kepergian sahabat-sahabat saya. Kami yang masih sama-sama muda, sama-sama berjuang, namun segala akhir berbeda waktunya. Kematian adalah sebuah kepastian. Dan sebelum ia benar-benar datang, kita selalu punya kesempatan untuk mencari kehidupan macam apakah yang seharusnya kita jalani.

Bagian terakhir dan epilog dari Lucy Kalanithi membuat rasa sesak dalam dada saya pada akhirnya tertumpahkan dalam sedu sedan air mata. Itu adalah ketika Paul membersamai putrinya Cady di hari-hari terakhirnya. Cady yang saat Paul meninggal berusia delapan bulan. Kalimat yang paling mengharukan adalah bagaimana Paul yang fisiknya melemah membersamai Lucy saat melahirkan, sebab dimasa yang akan datang akan ada begitu banyak ketidakhadirannya dalam hidup Lucy dan putrinya.

Paul, Lucy & Cady Kalanithi

Paul, Lucy & Cady Kalanithi


Saya membayangkan Cady menjadi besar tanpa menyimpan memori sedikitpun tentang ayahnya. Membayangkannya menyanyikan Dance With My Father di depan potret ayahnya tanpa pernah mengingat ia pernah bercengkrama bersama ayahnya. Inilah momen yang membawa saya pada sebuah refleksi sederhana, apa jadinya saya jika tanpa Bapak, dan juga Ibu.

Lucy banyak bercerita bagaimana sesungguhnya keluarga dari pasien pun seringkali sama berjuangnya, sama menyangkalnya dan sama bingungnya dengan pasien itu sendiri. Terutama adalah bagi pasangan pasien. Namun kejujuran pasien dalam menghadapi penyakitnya, terkadang mengalihbentukkan segala keputusasaan menjadi cinta dan kehangatan diantara keluarganya. Hal yang menjadikan mortalitas sebagai sesuatu yang lebih mudah dipahami.

Paul Kalanithi wafat pada 2015 ketika usianya tiga puluh enam tahun. Setelah seumur hidupnya belajar mengungkap misteri dibalik kematian. Meninggalkan istri, bayi putrinya dan keluarga yang amat mencitainya.

Ketika nafas menjadi udara, dan jiwa terangkat dari persemayamannya, yang tersisa hanyalah kenangan dalam pusara keabadian