0

Menemui Doa

Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya – Goethe, yang disitasi oleh Jostein Gaarder dalam Dunia Sophie-

Begitu saja kiranya kau mengkilasbaliki waktu. Selalu ada bayangan tentang hari-hari di masa lalu ketika kau disesaki mimpi buruk berkepanjangan dan bangun menyesaki pagi, siang juga malam. Kau adalah manusia terlalu biasa yang perlu hilang dan tenggelam diantara riuhan takdir dan teriakan-teriakan tentang ambisi. Hidup, bagimu pada saat itu adalah tentang bertahan, agar tidak jatuh, agar tidak hilang dan agar tidak tenggelam.

Pagi ini, kau menghirup segarnya udara pagi dengan segenap masa lalu yang terhampar di garis waktu. Terhadapnya, apa lagi yang bisa kita lakukan selain mengenang? Itu adalah tentang bagaimana kau yang dulu tak berdaya, bersembunyi di balik amarah dan kesempitan hati kini mampu menjadi manusia yang mampu berdiri dengan segala anugrah tentang akalnya. Bahwa berkali-kali keinginan untuk menyerah pada berbagai hal, nyatanya kau tak benar-benar melakukannya. Itu adalah tentang bagaimana kau tak pernah meninggalkan doa.

Mimpimu boleh pergi entah kemana, dukamu boleh datang kapan saja, tapi doa, dalam waktu yang paling tak mampu kau menghaturkannya, tetap tersimpan di hatimu. Bahkan tentang bagaimana kau begitu marah, kau begitu lelah, dan tak berdaya, semuanya keluar pada doa-doamu.

Kau melupakan bagaimana doa-doamu terpanjatkan. Hingga pada satu titik, kau menyadari, apa yang kau temui kini, adalah apa yang pernah terucapkan dalam doamu, dalam tangis-tangis kesepianmu, dalam beratnya hati karena menunggu.
Dalam kenyataan yang tak berbeda sedikitpun dengan yang pernah kau bayangkan,

Kau menemui doa-doamu.

Beginilah Tuhan mengajarimu tentang hidup. Ia tahu segala yang kau minta dan yang tidak kau minta. Tapi keberpasarahan sekaligus kemauan untuk tidak berputus asa, kelembutan hati sekaligus kekuatan berpikir, ketakutan sekaligus keberanian menghadapi segala ujian, adalah apa yang barangkali diinginkanNya terhadapmu.

Dan berterimakasihlah. Dan berterimakasihlah. Untuk yang telah berlalu, untuk yang kini sedang berlangsung, dan yang akan menunggumu di depan.

Selamat menjalani peran
Sampai batas waktu yang telah ditentukan
Sebagai Hamba Tuhan, sebagai perempuan, dan apa-apa yang pernah kau impikan.

Depok, 19 Ramadhan 1438H
Pada Juni yang keduapuluhdelapan
Semoga umur diberkahi
Dan segala hajat diridhoi
Hiduplah bersamanya dalam ketaatan yang sebenar-benarnya

0

Mengenal Tiga Tokoh Pendidikan dari Eropa

Semenjak keberangkatan sahabat sekaligus partner kerja saya, Zahra, ke Australia lima bulan lalu, selama lima bulan inilah kami intens berkoordinasi via aplikasi chat dan membicarakan banyak hal, yang menurut saya, begitu produktif dan serius dalam sebuah proses membangun apa yang kami cita-citakan bersama. Kami banyak berbicara tentang early childhood education dan hal-hal terkait apa yang dibutuhkan untuk menjadi preschool yang mampu menyatukan segala entitas pendidikan bagi perkembangan anak. Dari setiap pembicaraan inilah, dan apa-apa yang diceritakan olehnya kepada saya (karena kebetulan Zahra banyak mengambil workshop tentang early childhood education di Melbourne) saat kami bertukar pikiran, saya semakin mengenal tentang tiga tokoh besar dalam dunia pembelajaran dan metodenya yang hingga kini masih dianggap sangat relevan memunculkan manusia-manusia dengan kebermanfaatannya yang mendunia. Mereka adalah Maria Montessori, Rudolf Stenner (Waldorf Education) dan Loris Malaguzzi (Reggio Emilia Approach).

Tulisan ini terlepas dari kemampuan dan penguasaan saya terhadap metode yang ditelurkan tokoh-tokoh tersebut. Selain Montessori, saya belum pernah belajar secara resmi mengenai Waldorf dan Reggio Emilia dan hanya mengikutinya dari selancaran di dunia maya serta apa yang diceritakan Zahra kepada saya. Namun betapapun saya tak pernah berguru secara langsung tentang Waldorf dan Reggio Emilia, ketiga tokoh pendidikan tersebut telah banyak membuka perspektif saya dalam melihat segala sesuatu, bukan hanya tentang anak-anak. Barangkali ini seperti lintasan pikiran, bahwa niat saya belajar mengenai early childhod education tidak hanya membuat saya mempunyai kemampuan teknis baru. Lebih dari itu ternyata juga memperluas cakrawala saya dalam melihat segala aspek dalam kehidupan. Maka yang saya tuliskan disini mungkin lebih seperti hal-hal mengesankan apa yang saya temukan dari Montessori, Waldorf dan Reggio Emilia, bahkan ketika saya belum benar-benar mendalami kesemuanya.

1. Montessori
Maria Montessori, seorang dokter perempuan Italia yang juga reformer pendidikan itu, memiliki gagasan yang sangat ilmiah mengenai anak. Penelitiannya mengemukakan bahwa proses belajar dimulai dengan mendayagunakan seluruh kemampuan indra dan gerakan tubuh yang ada dalam diri seorang anak dan itu telah dimulai pada detik anak terlahir ke dunia. Dalam kondisi lingkungan yang mendukung, filosofi ini menekankan bahwa anak-anak secara alami mempunyai keinginan untuk belajar dan mengajari diri mereka sendiri. Dikenal dengan istilah The Absorbent Mind. Montessori inilah yang dikenal sebagai pioner dalam metode pendidikan yang berfokus pada anak (child centered).

Selama lebih dari seratus tahun, metode ini telah menyebar ke seluruh dunia dan banyak digunakan oleh para orang tua serta institusi pendidikan dalam memberikan pembelajaran pada anak. Filosofi “Biarkan Anak Menolong Dirinya Sendiri” ini menjadi dasar dari semua aktivitas dalam kelas Montessori. Tugas orang dewasa, adalah menyiapkan lingkungan pembelajaran dan menunjukkan tata caranya . Sementara anak akan memilih sendiri berdasarkan ketertarikannya tentang apa yang akan dipelajarinya. Mengoreksi kesalahan yang dilakukan anak sangat dilarang dalam metode ini. Selain merupakan bagian dari cara menghargai usaha anak, tidak mengoreksi kesalahan adalah juga untuk membiarkan anak mengembangkan cara berpikiranya sendiri dan pada poin lain adalah tentang kesabaran, usaha keras, self correcting serta kepuasan yang dapat dirasakan anak. Detik dimana anak dapat melakukan sesuatu dengan benar oleh usahanya sendiri, itulah yang disebut Montessori dengan kesuksesan.

Di dalam kurikulum Montessori terdapat lima area aktivitas pembelajaran, yaitu ketrampilan hidup yang dikenal dengan istilah EPL (Experience of Practical Life), Sensori, Matematika, Bahasa dan Culture (budaya, geografi, botani dan zologi, sains). Untuk kesemua subjek tersebut terdapat standar operasional yang sangat jelas dan mendetail dalam pelaksanaannya, termasuk dengan menggunakan material khusus yang dibuat oleh Montessori. Misalnya saja adalah area ketrampilan hidup. Dalam area tersebut, anak diberikan contoh mulai dari cara bersikap (berbicara santun, mengangkat kursi, membuka menutup pintu,membuka buku, dll); merawat diri (memakai melepas baju, makan, minum, dll); sampai dengan melakukan aktivitas-aktivitas keseharian yang ternyata mengembangkan proses belajar anak-anak seperti menuang air, memindahkan benda dengan alat, dan lain sebagainya. Peran guru -yang oleh Montessori disebut dengan Directress ini- adalah sebagai penyedia lingkungan belajar, pengarah dan yang paling penting, observer. Anak, menjadi pusat aktivitas di kelas dan mempunyai kebebasan untuk memilih apa yang ingin mereka kerjakan. Dan walaupun orbit berpusat pada anak, kemampuan directress dalam melaksanakan tugasnya menentukan keberhasilan sebuah pembelajaran dalam kelas Montessori.

Google founders, Sergey Brin dan Larry Page mengungkapkan betapa pendidikan Montessori yang mereka dapatkan memberikan pengaruh yang besar bagi keduanya dalam mendesain sistem di Google. Montessori selalu menekankan bahwa kebebasan adalah yang paling penting bagi seorang anak. Tanpa kebebasan, anak tak akan mampu mengembangkan kepribadiannya yang di masa depan kelak akan digunakan untuk menjadi bagian masyarakat sebagai orang dewasa. Montessori mendorong anak-anak berkembang sesuai dengan pada tingkat mana mereka berada. Filosofi ini harus selalu dipahami oleh setiap pengguna metode ini. Karena itulah, hingga kini, Google masih dianggap sebagai salah satu perusahan terunik di dunia karena memberikan kebebasan karyawannya untuk menggunakan 20% waktu kerja bagi ketertarikan personal.

2. Waldorf Education
Sekitar dua tahun yang lalu, dunia dikejutkan oleh fakta bahwa seorang technology guru seperti Steve Jobs ternyata amat membatasi penggunaan gadget dan teknologi di rumahnya dan bagi anak-anaknya. Orang membayangkan bahwa pendiri Apple ini akan memasang Ipad dalam ukuran besar di rumahnya dan memenuhi sudut rumah dengan segala yang bernama teknologi terbaru. Walter Isacson, penulis biografi Steve Jobs mengungkapkan bahwa setiap malam, Jobs dan keluarganya duduk di meja makan dan mendiskusikan buku, sejarah dan banyak hal lain tanpa ditemani teknologi apapun. Steve Jobs bahkan mengirim anak-anaknya untuk belajar di sekolah Waldorf, sekolah yang hingga kini dikenal sebagai sekolah non teknologi. Belakangan muncul tren di kalangan orang tua Silicon Valley -yang dikenal sebagai distrik teknologi itu- untuk mengirim anak-anaknya ke sekolah dengan teknologi terbatas.

Waldorf Education, diperkenalkan oleh Rudolf Steiner seorang filusuf, arsitek,seniman dan social reformer dari Austria di awal abad ke 20. Metode pengajaran Waldorf menekankan pada penggunaan dan pengembangan imajinasi dan seni dalam setiap aspek akademik yang dipelajari. Musik, tari, teater, sastra bukan hanya subjek yang dibaca dan diujikan namun juga dialami. Pengalaman itu, menurut Steiner dapat mengembangkan kapasitas intelektual, emosi, fisik dan spiritual yang menjadi bekal seseorang sebagai bagian dari masyarakat.

Di dalam kelas Waldorf, teknologi digital hampir tak ditemukan pada tingkat usia dini dan dasar. Setiap subjek diajarkan melalui musik, gerakan, tarian, lukisan, ritme dan aktivitas tangan (hands on activity) menggunakan material yang sepenuhnya berasal dari alam. Di kelas yang terlihat sangat artistik, semua material terbuat dari kayu, anak-anak melakukan semua aktivitas kehidupan seperti memasak, menanam, melukis,menjahit, menyulam, mengamati binatang, membaca sejarah dan lain sebagainya. Pada level menengah dan menengah atas, teknologi mulai diperkenalkan seperti komputer bukan hanya tentang bagaimana cara menggunakannya, namun juga berlatih bagaimana membuatnya.

3. Reggio Emilia Approach
Pasca Perang Dunia II, dunia dihadapkan pada berbagai macam pemikiran untuk mencari sistem yang mampu mengatasi dampak yang muncul pasca perang. Salah satunya dalam bidang pedidikan. Loris Malaguzzi menciptakan sebuah pendekatan yang kini dikenal sebagai Regio Emillia Approach. Metode yang dinamakan dengan nama kota tempat diciptakannya di utara Italia ini, tidak sepenuhnya berdiri sebagai metode yang rigid dimana orang harus menempuh pendidikan khusus untuk dapat menguasainya. Reggio Emillia dapat diterapkan oleh siapa saja dan dimana saja. Karena itulah pengadaptasinya biasa menyebut dengan Reggio Inspired.

Prinsip yang mendasari Malaguzzi membuat pendekatan ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan dua pendahulunya, Montessori dan Steiner. Malaguzzi berpendapat bahwa anak-anak mempunyai kemampuan untuk membangun cara belajarnya sendiri, menggunakan bahasa untuk bermain, belajar dengan lingkungan dan peran orang dewasa sebagai guide.

Hal yang membuat Reggio Emillia menjadi sebentuk inovasi dalam dunia pendidikan anak adalah kedekatannya dengan alam. Hampir semua material yang digunakan dalam Reggio Emilia adalah benda-benda alam di sekitar kita seperti batu, ranting, bunga dan dedaunan. Dalam sebuah kunjungannya di Sekolah Regio Emillia di dekat University of Melbourne, Zahra bercerita tentang bagaimana kepedulian mereka terhadap sustainibility begitu terasa walaupun mereka merupakan institusi yang nampak jauh dari tanggung jawab atas lingkungan. Dalam workshop yang ia ikuti, selain pembahasan tentang filosofi, yang dilakukan adalah membuat material dari lingkaran bekas isolasi, lakban, kardus bekas, dan barang-barang lain yang dengan mudahnya kita temui dan buang di rumah. Jika selama ini kita berpikir suatu material adalah tepat bagi anak, maka di Reggio Emilia kita diajak berpikir bagaimana membuat material tak terpakai tersebut layak dijadikan alat pembelajaran bagi anak. Ide yang sebenarnya sederhana dan banyak kita tahu namun sepenuhnya terasa baru.

Interlude

Setelah sedikit mempelajari apa yang dibawa ketiga tokoh tersebut, saya banyak menjumpai persamaan dalam nilai-nilai yang diajarkan oleh ketiganya. Nilai-nilai itulah barangkali yang membentuk kultur kecerdasan sebagian orang barat hingga saat ini. Ketiganya adalah metode non maintream yang membebaskan para pembelajarnya belajar sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Tidak ada grading system yang membuat anak-anak terdidik berkompetisi sejak dini. Montessori tidak memuji anak secara berlebihan akan keberhasilannya, tidak menyalahkan atas kesalahannya dalam belajar dan tidak mengenal sesuatu bernama menang kalah. Tidak ada reward dan punishment dalam bentuk apapun di kelas Montessori. Yang ada hanyalah sebuah kalimat ” You did a good job” atau “you can try next day“. Di kelas Waldorf, anak-anak juga tak pernah mengenal apa yang disebut dengan pekerjaan rumah atau homework, namun mereka dilatih untuk melakukan dan menyelesaikan project. Begitupun di sekolah Regio Emillia.

Dengan kebebasan semacam itu, anak-anak menumbuhkan dirinya, karakternya secara bebas pula. Mereka tak terbiasa menanggung beban atas ekspektasi orang lain. Sebaliknya, kebiasaan itu membuat anak-anak secara alamiah mempunyai ketertarikan untuk belajar bersama lingkungan di sekitarnya. Dari metode-metode inilah saya semakin meyakini, bahwa sebaik-baik pendidikan bagi seorang anak adalah kemandirian dan kedekatan dengan alam.

Melalui dua perang dunia bagi Montessori dan Steiner serta satu perang dunia hebat bagi Malaguzzi membuat mereka menyadari bahwa nilai-nilai perdamaian haruslah ditanamkan pada anak manusia sejak mereka lahir. Pada metode ketiganya ketertarikan pribadi dihargai dengan sungguh-sungguh, mereka menciptakan pola berpikiranya sendiri daripada menerima dan melakukan sesuatu yang sama. Tidak adanya reward and punishment membuat anak-anak tidak terbiasa berkompetisi, sebaliknya mereka hidup dalam lingkungan yang penuh kolaborasi.

Di kelas Montessori, mixed age class dimana anak-anak dengan usia berbeda disatukan membuat proses interaksi menjadi lebih dinamis. Anak berusia lebih tua akan belajar membimbing anak yang lebih muda, sebaliknya yang lebih muda juga akan belajar menghormati yang lebih tua. Di sekolah Waldorf, penekanan terhadap seni dalam proses akademik membuat anak-anak menunjukkan kreatifitasnya tanpa harus seseorang mengasah bakatnya. Sebab imajinasi dan kreatifitas yang bermanfaat memang muncul dari rahim kebahagiaan.

Epilog

Hingga saat ini, saya mungkin adalah Montessorian, sebutan bagi mereka yang mendalami dan menggunakan metode Montessori. Namun dari mempelajari metode ini saya menyadari satu hal, semakin sebuah metode itu didalami, semakin memberikan pemahaman bahwa ada banyak metode yang sama baiknya berkembang di luar sana. Waldorf, Reggio, Froebel, High Scope dan masih banyak lagi. Dan daripada berpikir bahwa satu metode lebih baik dari yang lain, mengambil mana yang baik diantaranya untuk dikolaborasikan terlihat lebih bernilai. Sebab metode, seperti apapun yang dibuat oleh manusia, tak terlepas dari kekurangan.

Saya, seperti juga banyak orang di negeri ini, lahir dan tumbuh dalam sebuah sistem yang menafikkan ketertarikan individu di dalamnya. Yang harus berlaku sesuai dengan aturan yang ada, yang terbiasa menggambar pemandangan yang sama, yang ketakutan jika mendapat peringkat tidak bagus, yang tidak percaya diri saat karyanya tidak sebaik milik temannya dan yang pada akhirnya menganggap bahwa belajar adalah soal bertahan agar tidak jatuh, bukan tentang menemukan pengetahuan baru. Mungkin saat dewasa banyak yang bisa berubah, tapi percayalah, apa yang ditorehkan di masa kecil membekas di sepanjang usia.

Itulah kenapa belajar tentang ini memberikan pada saya banyak sekali perspektif baru tentang hidup. Saya mengurangi diri melihat anak-anak dan manusia secara keseluruhan sebagai entitas perbandingan. Tidak satu pun manusia yang dapat dibandingkan dengan manusia lain dalam hal apapun. Mereka berdiri dengan garis takdirnya masing-masing. Dan karena itu pula, saya juga belajar menghargai seseorang bukan hanya seperti apa yang tampak dari luar namun juga kemungkinan-kemungkinan penyebab yang terkandung di baliknya.

Semoga saja, apa yang berubah dari kita, orang dewasa, menjadikan anak-anak mampu tumbuh sesuai fitrahnya sebagai manusia. Dan kelak memunculkan generasi-genarasi yang menjadikan tantangan bukanlah hal yang layak untuk ditakuti. Generasi-generasi yang memelihara impian bukan sebagai beban, melainkan harapan yang diwujudkan. Generasi yang bagaimanapun perpecahan muncul di bumi ini, tetap selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kedamaian dan saling menghargai bagi umat manusia.

Selamat mendidik generasi
Selamat Hari Guru 🙂

0

Energi Besar untuk Menyayangi

Adalah Sinichi Suzuki, seorang maestro violin Jepang, yang mengajarkan musik lebih dari sekedar kumpulan tangga nada pada seluruh muridnya yang masih anak-anak. Ia mengajarkan lebih dari itu pada murid-muridnya tentang filosofi, rasa cinta dan kebahagiaan. Maka menurut cerita, karena itulah orang tua dari berbagai penjuru dunia mengirim anak-anaknya belajar pada Suzuki bukan hanya untuk membuat mereka mampu bermain musik, namun juga menjadikannya anak-anak yang bahagia.

Satu hari Sinichi Suzuki tengah duduk menunggu kereta datang. Seorang anak yang tak dikenalnya (menurut cerita adalah seorang anak pekerja) datang mendekatinya. Anak itu memberi hormat lalu memeluknya. Suzuki diam hingga anak itu melepaskan pelukannya dan pamit pergi, tanpa perkenalan, tanpa mengatakan apa-apa, tanpa tahu apakah anak itu tahu dia adalah Sinichi Suzuki atau bukan. Guru saya mengatakan, Suzuki inilah, yang disebut sebagai seseorang dengan energi yang besar untuk menyayangi. Sehingga daripada menganggapnya hanya sebagai pengajar, anak-anak tanpa sadar merasa bahagia berada di dekatnya.

Sepintas cerita tentang Suzuki ini memberikan saya satu pandangan besar yang barangkali selama ini sedikit terlupakan, tentang betapa sesungguhnya kita tak dapat melakukan sesuatu dengan baik tanpa rasa cinta di dalamnya. Dan daripada terjebak pada sebuah ritme keterpaksaan, kita sebaiknya mengumpulkan segenap eneri untuk menyayangi.

Dunia yang tengah saya hadapi kini membuktikannya. Dunia yang juga dihadapi Sinichi Suzuki. Bagi saya, anak-anak adalah paranormal, seringkali tak dapat ditebak pikirannya. Dalam satu hari ketika saya merasa sedikit saja tidak suka terhadap seorang anak (yang biasanya bukan disebabkan oleh anak tersebut) maka di sepanjang hari itulah ia akan terus memberikan ketidakbahagiaan pada saya, tanpa ada kata yang keluar. Di lain waktu, ketika banyak hal membuat saya bersemangat dalam menjalani hari, anak-anak mendekati saya hanya untuk tersenyum atau bergelayutan pada pundak saya, tanpa saya harus bercanda dengannya. Betapa makhluk yang begitu kecil telah Tuhan beri perasaan-perasaan yang sungguh, tak dapat disederhanakan.

Anak-anak,makhluk yang begitu dekat dengan Tuhan itu, sedikit banyak telah mengubah hidup saya, karakter dan segala di dalamnya yang walaupun belum sepenuhnya baik tetap saja berubah. Dari mereka saya belajar mengumpulkan energi untuk menyayangi segala hal yang di depan mata, segala hal yang diberikan Tuhan kepada saya, apapun itu. Dan bahwa segala kebaikan, bersemayam oleh segala usaha kita mendekat pada Tuhan. Sesuatu yang belum terpikirkan dalam diri saya di sekitar tiga tahun yang lalu.

Maka pada berbagai hal yang terkadang membuat saya ingin menyerah, ingin marah, dan menjadikan lelah, saya hanya harus menyayanginya sebab itu semua datang atas rencana Tuhan. Pada berbagai interaksi yang membuat saya jengah, saya hanya harus berintrospeksi, bahwa hubungan manusia terkat erat dengan hubungan dengan Tuhan. Energi yang tidak dapat hilang itu, sesungguhnya mampu dialihbentukkan. Jadilah penyayang, sebab Tuhan Maha Penyayang.

Kebahagiaan, memang dari hati adanya. Namun satu prinsip yang harus kau ingat, ia datang, sebab Tuhan menurunkannya kepadamu.

He told me he was happy that day because of that Iron Man's outfit

He told me he was happy that day because of that Iron Man’s outfit

I’m a phoenix in the water
A fish that’s learned to fly
And I’ve always been a daughter
But feathers are meant for the sky
And so I’m wishing, wishing further,
For the excitement to arrive

-Home, Gabrielle Aplin-

0

Unintended

I supposed to write a lot of things on my mind lately or any unusual circumtances i went through during Ramadhan, but it happens i trapped by unexpected feeling, unintended mood. Have you ever felt this experience? Like you are lacking of excitament towards environment, like you don’t have bright energy to spread to others or you feel your self esteem is at rock bottom. Worse is, you don’t even know why you feel this way.

I try to keep my self occupying outside work by reading some best seller novels, watching movies or laughing a lot with some fellows. But in the end, i was surrounded by questions about why do i feel this way. The time i feel secure the most is the dawn when i wake up for praying. But after all, nothing seems interesting.

I’m not a person who need motivation from outsider. The biggest motivation comes from my own self. From ability to looking for meaning God gives to me. From lessons gave by the time, by the road, by people. But to gain it all, i have to do something worth. That’s why, i keep questioning, i keep trying right now.

When was the last time you did something for the first time?
Should i do now?

falling leaves

#RandomPost
In this kind of life, sometimes we need randomness
To keep our life interesting
We need to go ups and downs
And maybe, this is the one of my downs

0

Tertatih

Sudah kuniatkan saja
Nantinya kesunyian akan menjadi teman
Pada malam-malam yang temaram
dan tengadah lemah di haribaan

Tak perlu lagi aku riuh rendah suara penyambutan
yang digaungkan dengan gelak tawa kehilangan makna
dan sumpah-sumpah fana tanpa nyawa
yang merajai hati manusia

Nyatanya kini aku tertatih
Dalam kelemahan jasad yang membuatku hanya bisa berkata lirih
Di atas seonggok dipan ringkih

Sungguhlah tak sekalipun manusia boleh tinggi hati
Pada niat lurus sekalipun
Pada laku baik sekalipun
Sebab kehendak nurani, sebenar-benarnya bermuara pada Yang Maha Suci
Maka yang dirasakan seharusnya adalah kelemahan diri

Kini aku benar-benar tak berdaya
Mengharap untuk tetap mendapat sinaran
Pada bulan yang bercahaya
Semoga

Depok, 5 Ramadhan 1437
Dalam kelemahan fisik masa-masa detoksifikasi