0

Menemukanmu

Tuhan menjadikanmu jalan untukku mengenal diri
Jalan yang kerap kali kususuri dari pagi ke pagi

Kau menemukanku di batas hari
Saat kesepian sekian lama tersimpan rapat di dasar hati

*Judul dan sajak pertama diambil dari karya Tiara Rizkina*
*Moonlight-Yiruma*

Iklan
0

Membiarkan Anak Marah

Cerita ini terjadi kemarin lusa, di sebuah forum kecil berisi saya, Kak Y dan Kak Z. Kak Y yang kami hormati dalam forum itu mempunyai dua orang anak perempuan, tujuh dan tiga tahun sedangkan Kak Z memiliki seorang anak laki-laki juga berusia tujuh tahun dan anak perempuannya berusia empat belas bulan. Kami berkumpul bersama disitu. Di tengah berjalannya agenda, suami Kak Y mengajak dua orang anaknya untuk pergi namun hanya si bungsu yang mau ikut. Sedangkan kakaknya asyik bermain dengan putra Kak Z. Tidak lama kemudian, si bungsu dan ayahnya kembali dengan membawa sebuah es krim. Mengetahui adiknya datang membawa es krim yang dibuka di dekatnya sedangkan ia tidak, si kakak langsung menangis setengah tantrum, sambil menghentak-hentakkan kakinya. Kak Y kemudian memangku si sulung dan dengan lembut memintanya untuk bersabar juga menghentikan tangisnya sambil mengelus-elus pipinya. Tangis itu mengeras hingga akhirnya perlahan-lahan mereda walaupun tidak sepenuhnya berhenti setelah si sulung dijanjikan akan dibelikan es krim juga setelah acara selesai.
Tanpa bermaksud membuat perbandingan, tapi Kak Z adalah orang lain yang juga saya hormati karena kapasitasnya menjadi seorang ibu yang mampu menjalin hubungan sangat mengasyikkan dengan anak laki-lakinya yang berusia tujuh tahun. Sepulangnya, Kak Z berbicara pada saya tentang bagaimana seharusnya si Kakak tidak perlu ditenangkan untuk disuruh bersabar sebab dia, memang sedang marah. Dialog ini kemudian membawa kami pada cara-cara parenting yang dipakainya dan teori-teori perkembangana anak yang secara akademik juga saya pelajari.

Apakah memperlakukan anak dengan kelembutan semacam itu terlihat wajar? Tentu saja, atas nama kasih sayang, meminta anak untuk berhenti menangis dan menuruti permintaannya adalah hal yang sepenuhnya wajar. Namun segala sesuatu yang nampak wajar tidak sepenuhnya benar.

Siapapun barangkali tak bisa membenarkan sikap ayah yang hanya membelikan adik es krim tanpa membelikan kakaknya juga. Apalagi es krim tersebut dimakan di rumah, bukan di tempat lain yang pada akhirnya kakak juga bisa melihatnya. Demi apapun, saya tidak bisa menerima sikap seperti itu sekaligus tidak mau diperlakukan seperti itu pula. Hal ini mungkin sepele, tapi tentu saja, apa yang diterima anak-anak dengan sungguh-sungguh, selalu tidak pernah jadi sepele lagi. Ada hal-hal yang akan membekas dalam memori dan perilaku mereka.

Marah, sebenarnya tidak salah. Marah adalah bagian dari ekspresi yang dimiliki manusia yang oleh karena konotasinya yang begitu buruk maka harus segera dihindari. Orang dewasa mungkin mampu berpikir seperti itu -walaupun implementasinya jelas juga sulit-. Tapi anak-anak tidak. Mereka merespon segala sesuatu secara alamiah berdasarkan informasi yang diterimanya. Maka ketika seorang anak merasa diperlakukan tidak adil, dipaksa melakukan yang bukan kehendaknya, dan hal-hal lain yang tidak sesuai dengan keinginannya, yang terjadi adalah marah lalu menangis.

Berapa dari kita berfokus pada apa yang menyebabkan anak marah dan menangis daripada bagaimana cara menghentikan tangisnya? Tidak banyak. Berapa dari kita yang saat anak menangis menanyakan apa yang menyebabkan mereka seperti itu daripada menduga-duga sendiri? Tidak banyak. Berapa pula dari kita yang mengajak anak berpikir bagaimana cara agar ia tak marah dan menangis daripada sekedar memberi solusi? Tidak banyak. Bertemu dengan berbagai macam tipe orang tua membuat saya berani menyimpulkan, entah atas nama kesabaran atau ketidaksabaran itu sendiri, orang tua Indonesia masih terjebak dalam stereotip bahwa menghentikan anak marah dan menangis itu baik dan penting.

Di Child Care, saya dan teman-teman menegaskan agar tidak melarang anak meluapkan amarahnya. Marah adalah hak anak yang harus kami hargai sebagai bagian dari prinsip “Respect The Child“. Kami bahkan mengajarkan seperti apa ekspresi marah dan tentu saja menanyakan kepada mereka alasan-alasan dibalik kemarahannya. Biasanya mereka akan bercerita apa yang membuatnya marah. Dan kami akan menanyakan apa yang bisa membuatnya untuk tidak marah lagi, juga menawarkan solusi lain jika hal tersebut tak mungkin dilakukan. Kita hanya harus menegaskan bahwa ada batasan-batasan yang tidak boleh mereka langgar sekalipun sedang marah yaitu membuang-buang barang, menyakiti teman dan menyakiti diri sendiri.

Ini adalah dialog yang kami lakukan dengan D, seorang anak laki-laki yang akhir-akhir ini datang dengan mood kurang bagus akibat ketidaktuntasannya akan sesuatu yang terjadi di rumah.

D : “Aku mau pulang” sambil menangis
G : “Kenapa?”
D : “Mau sama ayah” merengek
G : “Kenapa mau sama ayah?”
D : ” Mau sama ayah. Ayah kemarin jalan-jalan ke hotel naik Nissan sama Ayah.” (Rupanya masih ingin liburan).
G : “Ayah dimana sekarang?”
D : “Ayah kerja” sesenggukan
G : “D tau tempat kerjanya ayah?”
D : Menggeleng
G : “Kalau ayah kerja bolehkah D kesana?”
D : Berpikir lalu Menggeleng
G : “Kalau ayah sedang kerja, D seharusnya sedang apa?”
D : “D sekolah”
G : ” Good, you are in school now’
D : Mulai diam
G : “Masih marah?”
D : Diam
G : “Kalau masih marah boleh duduk dsini dulu ya atau mau menangis disini juga tidak apa-apa”
D : ” Nggak mau”
G : ” Lalu maunya bagaimana”
D : ” Mau main sama R”
G : “Boleh, tapi marahnya diselesaikan dulu ya.”
D : “Sudah”
G : “Are you happy now?”
D : Mengangguk dan beranjak mengejar temannya sambil tertawa-tawa

Seorang anak lain, sebutlah B, mengajari kami tentang bagaimana itu kesabaran dalam pandangan anak. B mempunyai kecenderungan Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD) yang membuatnya menjadi anak yang paling tidak bisa sabar dan menahan amarahnya di kelas. Sebagaimana simptom yang biasanya nampak dalam ADHD, B tidak bisa mengantri, tidak bisa berkonsentrasi terhadap aktivitas lebih dari dua menit, sulit untuk duduk diam, membuang barang dan memukul teman. Dia bukannya mau melakukan itu semua, namun secara sederhana dia tidak bisa untuk menghindarinya. Dan apakah cukup bagi kami untuk mengahadapinya dengan kesabaran sekaligus memintanya untuk lebih bersabar? Tidak, kami justru bersikap sangat tegas terhadapnya.

Setiap melakukan aktivitas yang dilakukan bergiliran, seperti cuci tangan misalnya, B yang tidak bisa mengantri biasanya akan didahulukan. Namun perlahan-lahan kebiasaan itu dihilangkan dengan membuatnya mendapat giliran kedua, ketiga hingga terakhir. Tentu saja, B akan tantrum, berteriak-teriak, menangis. Kami akan biarkan ia meluapkan kemarahannya selama itu tidak membahayakan hingga ia mendapat giliran dan diam seketika setelahnya. Suatu ketika, B tak bisa menahan diri untuk memukul teman dan melempar segala sesuatu di dekatnya, kami tak pernah mentolerir perbuatan seperti itu. B perlu duduk dan menenangkan diri, memahami kesalahannya, mengambil sendiri semua yang dibuangnya dan meminta maaf pada teman yang sempat disakitinya. Tentu saja, dia melakukannya dengan menangis, tidak fokus dan seringkali karena setengah kami paksa, tapi kami terus konsisten melakukannya.

Itu adalah apa yang terjadi ketika awal B datang ke tempat kami. Sekarang, setelah serangkaian ketegasan yang berbulan-bulan diterapkan padanya, tanpa kami sadari, B menumbuhkan kebiasaan yang sangat berbeda dari sebelumnya. B sudah terbiasa menunggu giliran dan antri. B merapikan semua mainannya sendiri, ia bahkan menyapu dan mengelap saat menumpahkan sesuatu, membersihkan halaman dan sedikit terobsesi dengan pekerjaan rumah. Hal yang tak terduga lainnya adalah B menjadi anak yang sangat penyayang dengan temannya. Ia masih sering bertengkar dengan temannya, tapi B selalu baik terhadap adik kecil dan teman perempuan. Walaupun pada beberapa subjek yang membutuhkan konsentrasi lebih ia masih belum sepenuhnya bisa mengikuti, tapi B mampu memperpanjang rentang fokusnya. Kini ia bisa melakukan satu aktivitas selama lebih dari lima belas menit.

Bagaimana kami mengajarkan kesabaran pada anak yang paling tidak sabar seperti itu? Gunakan ukuran, sebab anak-anak sebenarnya hanya mampu menerima sesuatu yang disampaikan secara konkret. Apakah kesabaran itu? “Sabar adalah ketika kamu ada di urutan ketiga, kamu mau menunggu urutan ke satu dan kedua selesai.” “Sabar adalah saat kamu marah kamu memilih untuk duduk sendiri, tidak merusak barang dan menyakiti teman.” “Sabar adalah saat kamu ingin apa yang dibawa temanmu, kamu tidak merebutnya dan mau menunggunya selama sepuluh detik.” “Sabar adalah saat kamu sudah lapar tapi kamu mau duduk,berdoa dan cuci tangan dulu.” Dan hal-hal lain yang disampaikan dengan sangat konkrit, singkat, jelas dan terukur.

Apa yang kami dapat dari kebiasaan semacam itu? Kami mampu membangun lingkungan yang justru terhindar dari kemarahan-kemarahan. Setiap anak datang membawa moodnya masing-masing dari rumah yang tidak selalu bagus. Anak-anak punya pilihan untuk mengeluarkan segala perasaannya. Mereka yang sedang senang biasanya akan banyak bercerita. Mereka yang sedih biasanya akan menangis dan rewel, dan kami menghargainya. “It’s ok if you wanna cry.” Hasilnya, anak-anak jadi lebih suka bercerita dan kami jarang menemukan anak-anak tantrum.

Tidak, tulisan ini tidak sedang mengkritisi gaya parenting apapun, itu di luar kemampuan dan pengalaman saya. Tulisan ini hanya membandingkan apa yang banyak saya lihat dan apa yang saya pelajari. Tentang betapa banyaknya konsep terlalu abstrak yang kita berikan pada anak-anak tanpa benar-benar tahu apakah mereka mampu menterjemahkannya atau tidak.

Membiarkan anak marah -dan bukan marah-marah- bukanlah hal yang salah. Yang salah adalah ketika orang dewasa tak memahami apa yang membuatnya marah dan menutup peluangnya untuk meredakan kemarahannya sendiri.

temper-tantrums-in-aspergers-children-during-the-holidays

0

Apa Kabar Maryam?

Halo, Maryam apa kabar? Happy kah di sekolah baru?

Kak Dinar baper (terbawa perasaan) ketika tadi Umma tiba-tiba whatsapp minta foto-foto Maryam waktu di Maryam&Isa. Kak Dinar bilang ke Umma kalau ternyata rasanya ada yang hilang saat Maryam tidak datang lagi kesini.

Umma bilang, Maryam masih sering ngobrolin kakak-kakak di rumah. Umma bilang, Maryam masih suka excited dan bilang “itu sekolahku” kalau lewat sini. Maryam bilang, ‘Afiyah nggak boleh ke Maryam&Isa karena Maryam cuma mau kakak-kakak ngajarin Maryam.

Maryam pasti aslinya juga rindu, seperti kami disini. Tepatnya Kak Dinar sih. Rindu, rindu sekali.

Maryam cantik, lincah dan cerdas. Semua orang pasti akan senang saat lihat Maryam, lalu akan bertanya “itu siapa? usianya berapa?” Beberapa yang tidak bertanya akan bilang “Ih cantiknyaa,,” atau “ih,,,lucunya pakai hijab.”

Tapi bukan itu yang bikin kami rindu, Kak Dinar rindu. Lebih dari segala kelucuan sebagai anak-anak, Maryam adalah teman bagi kami. Teman mendewasa. Tepat saat Maryam tumbuh menjadi anak yang sangat manis dan cerdas, kami tumbuh menjadi orang yang lebih sabar, lebih mengerti dan lebih penyayang.

Kami punya banyak kenangan yang tak terlupakan dengan Maryam. Kenangan itu menempel di memori kami karena itu adalah pertama kalinya pula bagi kami. Mungkin Maryam akan melupakannya, tapi Kak Dinar yakin, jejak pembelajarannya akan tersimpan dalam jati diri Maryam sampai nanti.

Tiap datang Maryam selalu menangis, katanya mau sama Abah. Padahal sepuluh detik setelah Abah pergi, Maryam juga diam sendiri dengan ritual merenung sebentar. Dulu waktu Maryam kecil, kami harus bawa Maryam ke kebun dekat komplek untuk lihat ayam. “Ayam dimana dicari Maryam?” begitu kata kuncinya. Kami jadi tahu, anak-anak pun perlu waktu untuk meregulasi dirinya sendiri. Maka tiap mood Maryam tidak bagus, kami akan biarkan Maryam untuk duduk berdiam diri dulu

Saat Maryam berumur 2,5 tahun, Maryam bilang kata Umma nyanyi lagu ulang tahun itu nggak boleh. Dan sebenarnya, kakak-kakak juga tidak pernah mengajarkan lagu itu di sekolah, tapi teman-teman menyanyikannya. Mungkin tahu dari rumah. Waktu Sunda ulang tahun dan teman-teman bernyanyi lagu selamat ulang tahun, Maryam cuma diam. Sambil agak cemberut. Percayakah Maryam, kalau kami belajar dari sikap Maryam waktu itu? Sekecil itu Maryam sudah teguh prinsip, kami jadi malu. Kami, yang makin tua makin permisif ini.

Di sekolah, Maryam datang selalu dengan berhijab. Kalau pakai rok, Maryam selalu pakai celana panjang di dalamnya. Sebenarnya kebiasaan teman-teman juga begitu. Tapi pernah suatu kali Athaya pakai dress yang terlalu pendek dan tidak bawa celana panjang. Kami tidak minta Maryam, tapi Maryam langsung berikan celana panjang cadangan ke Athaya. “Pakai punya aku aja” kata Maryam. Begitu pula saat Rafa ngompol dan tidak bawa celana lagi. Maryam ambilkan celana merah polkadotnya untuk Rafa. Dan kami jadi tertawa terbahak-bahak, karena lihat Rafa jadi imut banget pakai celana polkadot. Anak kecil memang peka, tapi kami tak pernah menyangka akan sepenyayang itu. Kami jadi tertohok. Kami yang makin besar makin cuek ini.

Sejak bisa bicara, Maryam jadi ceriwis. Dan memang seharusnya begitu. Tapi Maryam juga mendengarkan teman saat mereka bicara, juga mengingatnya. Sejak itu pula kami tak pernah membicarakan teman-teman dan Maryam di dekat Maryam atau teman-teman. Kami juga tak pernah memaksa Maryam melakukan sesuatu, karena Maryam tidak suka dipaksa. Maryam hanya bisa diberi pilihan dan negoisasi. Dan dari situlah kami belajar, terhadap anak-anak pun, kami tidak boleh bicara main-main. Segala hal yang diterima dengan sungguh-sungguh, seharusnya juga diberikan dengan sungguh-sungguh. Termasuk kata-kata.

Begitu Maryam, Kakak kadang lupa, Maryam anak kecil dan bukan teman sebaya. Itu karena Maryam dewasa sejak dari dalam hatinya. Waktu itu Kakak bahkan pernah minta didoakan sama Maryam. Maryam cuma mengangguk-angguk dan tersenyum, entah tahu entah tidak.

Sudah itu dulu ya ceritanya. Setidaknya menulis sekian paragraf ini sudah menjawab kerinduan pada Maryam. Sebab yang terpenting nyatanya bukan hanya kenangan, namun pembelajaran yang diperoleh darinya. Maryam bagian dari titik balik yang Kak Dinar lalui.

Umma tidak pernah upload foto Maryam di social media. Dan karenanyalah Kak Dinar bangga sekali padanya. Tapi sekali ini, eh tidak, untuk kedua kalinya, biar foto Maryam ada disini ya, di blog pribadinya Kak Dinar.

A Brief Moment : Selfie with her

A Brief Moment : Selfie with her

0

Tentang Kekalahan

Tahun 2009 lalu, ketika masih menjadi mahasiswa,saya pernah terlibat dalam latihan politik ala-ala, apa yang sering terdengar sebagai pemilu raya mahasiswa (pemira). Sebenarnya setiap tahun sejak masuk hingga lulus kuliah saya selalu terlibat di dalamnya. Namun tahun 2009, menjadi tahun yang tak pernah terlupakan bukan hanya karena di tingkat tiga seperti itu saya dan teman-teman seangkatan sedang mengalami titik puncak soliditas tim dalam beraktivitas, tapi juga karena apa yang kami dapat adalah sesuatu yang jauh dari apa yang kami perkirakan, kekalahan.

Untuk sekedar tahu, bahwa pada masa itu, faksi kami selalu berada di atas awan. Bertahun-tahun kemenangan, bertahun-tahun dalam masa “aman” menjadikan kepercayaan diri adalah hal pertama yang kami tegakkan sebelum maju ke pertarungan. Sekalipun belum ada yang tahu, siapa yang harus diajukan dalam pemilihan. Beruntung, setelah berbagai macam pendekatan yang dilakukan beberapa orang diantara kami, seorang sahabat yang sangat bersahaja, banyak dihormati teman-teman lintas aktivitas dan generasi, seseorang yang rendah hati ditambah lagi cukup rupawan, bersedia dimajukan dalam pemilihan. Maka selanjutnya, dan sejujurnya kami merasa mampu -jika tak boleh dibilang tinggi hati- untuk memenangkan pemilihan.

Sampai dengan perhitungan selesai dilakukan pada tengah malam. Kami sungguh mendengar kabar yang jauh dari dugaan.

KEKALAHAN

Faksi kami kalah tipis, hanya sebanyak 37 suara. Setengah tidak percaya atau sebenarnya memang tidak percaya, kami mempertanyakan dan mencurigai adanya kecurangan dalam angka yang tidak besar tersebut.

Tapi begitulah, di depan statistik dan angka, perasaan manusia memang tak ada harganya.

Saya ingat malam itu, teman-teman menangis di ruang tamu kontrakan. Semuanya menyesali kejadian ini, semua seperti tidak terima hasil yang didapat setelah hari-hari melelahkan yang dijalani untuk sebuah pembelajaran tentang kemenangan, semuanya tidak siap menerima kekalahan. Saya, satu-satunya orang yang tak mengeluarkan air mata di ruangan itu. Logika saya tak menerima kekalahan secepat itu setelah sekian analisis tentang kemenangan ada di pihak kami. Lebih dari itu, saya sempat menyimpan pikiran berbahaya untuk membongkar adanya kecurangan-kecurangan yang menurut prasangka kami mungkin saja terjadi, untuk menolak aklamasi hasil pemilihan.

Kekalahan, sesungguhnya tak semenyedihkan itu. Saya sadari hingga lama setelahnya, bahwa yang menyedihkan adalah, kegagapan logika yang muncul sebagai dampaknya, ketidakmampuan saya sendiri menyusun kejernihan-kejernihan di kepala saya dan lebih dari itu penolakan saya untuk membawa perasaan dalam urusan ini. Padahal, sebenarnya, sedih lalu menangis itu sama sekali tak menyedihkan.

Esok harinya, pembicaraan diantara kami masih seputar isu-isu yang berkembang setelah pemilihan. Saya banyak berkoordinasi dengan koordinator kami tentang apa yang sebenarnya terjadi, kadang hingga berdebat. Dua hari setelahnya, setelah serangkaian pembicaraan-pembicaraan emosional yang pada waktu itu terasa begitu berat, membuat segala pertahanan perasaan saya ambruk pada akhirnya. Di balik layar gawai, saya tersedu sedan saat berbicara dengan seorang senior.

Kekalahan, ternyata memang menyakitkan. Iya, dan perasaan seperti itu, tak perlu selalu disembunyikan.

Seminggu setelahnya, ketika saya pikir sayalah yang paling kuat diantara keterkejutan teman-teman atas peristiwa ini, saya baru menyadari nyatanya sayalah yang paling tidak mau menerima kenyataan ini. Perlahan-lahan saya berusahan menurunkan ego logika, memahami persoalan dari sudut pandang yang lebih besar dan tentu saja melunakkan hati saya sendiri. Apa sesungguhnya yang paling buruk dari sebuah kekalahan selain ketidakmampuan untuk bangkit meninggalkannya? Begitu banyak orang hidup dalam rasa kalah yang selalu disimpan rapi di hatinya namun tak mampu menahan laju kedengkian yang menyeruak dari dirinya. Hari ketika saya telah mampu berdamai dengan diri saya sendiri itulah, saya mengirim ucapan terimakasih pada teman-teman yang drafnya ditulis dengan linangan air mata.

Tidak, saya tidak sedang berbicara urusan politik yang akhir-akhir ini banyak kita dengar. Saya hanya ingin berbicara tentang bagaimana hari-hari ini kita disibukkan dengan urusan kemenangan dan kekalahan yang entah karena apa membuat banyak orang terlihat lemah -jika tak mau dikatakan kalah-. Lama saya berpikir, sejak kapan urusan ‘saya lebih baik dari kamu’ menjadi hal yang penting sekali untuk dibicarakan? Sejak kapan narasi-narasi kebencian membuat kita tampak lebih pintar dari yang lainnya? Dan tetap saja, segala yang memassa seringkali sulit dicari jawabnya.

Setidaknya satu pembelajaran sederhana dari peristiwa yang -jika dilihat sekarang- nampak tidak penting itu, telah turut andil membangun jiwa saya. Tidak ada luapan kebencian dari jiwa-jiwa yang menang, sekalipun kemarahan mungkin menggelayuti dan keadaan begitu sulit untuk dilogika.

Tentang kekalahan, seberapapun ia pernah hadir dan menyakiti, Tuhan selalu menyediakan waktu.

Waktu barangkali tak melupakan, tapi ia menyembuhkan.

cr pic. Reuters

cr pic. Reuters

But when i’m cold, cold
When i’m cold, cold
There’s a light that you give me
When i’m in shadow
There’s a feeling within me, an everglow

(Everglow, Coldplay)

0

Pada Sebuah Tanya

Pada sebuah tanya, pernah kusandarkan rasa,
Apakah kita, memang terlahir untuk mencipta kata yang menggoreskan luka bagi sesama?
Hingga dunia, tampak seperti udara gelap yang keluar dari kantong nafas penuh murka

Pada sebuah tanya, air mata tak dapat lagi menahan dirinya
Apakah kita, memang ada untuk menciptakan kerusakan, permusuhan dan tangisan di wajah semesta?
Hingga pohon, daun dan nyamuk, tak mengerti lagi, untuk apa manusia diberi hati yang suci di alam rahim

Pada sebuah tanya, kuletakkan diriku dalam ruang penghayatan
yang berkali-kali gagal kutemukan kedalamannya
Apakah kesombongan telah menempel di sekujur lapisan epidermis yang terkoyak satu per satu oleh panasnya matahari?
Hingga tak sadar lagi, di hadapan takdir, manusia hanyalah sebutir debu yang terbang, hilang dan terlupakan

Pada sebuah tanya, yang belum kutemukan jawabnya
Ruhku berbisik memberi kehangatan pada malam hujan yang tak berkesudahan
Inilah kita yang demi masa depan seperti ini dulu Nabi pernah bersedu sedan pada detik menjelang kepergiannya
Inilah kita yang kini begitu sibuk berteriak-teriak pada urusan yang tak memberikan faedah apa-apa
Inilah kita yang terlena oleh kemajuan peradaban namun tersesat diantara substansi kehidupan
Pun begitu, tangan Tuhan tak pernah berhenti meraih segala keputusasaan
DibiarkanNya segala gaduh bergulung-gulung, bersahut-sahutan hingga sampai ke langit yang tujuh
Dan kita tahu, yang tersisa hanyalah kekosongan
Dan kesunyian yang dalam

lonely-012

0

Living Life As An INTJ

To Know Your Self is To Know Your God (Hadith Al Qudsi)-

Back then, when i was in college, my close friend who’d majoring in psycology told me that dividing billions of people into four hippocrates temperaments is just simply impossible. How can it be? We meet someone and judging his or her personality by telling that he or she is sanguins, plegmatic, melancolic or choleric. Life, sometimes, is just complicated, so do the people. Since then, either toward people or me,my own self, i’ve never clasifying human’s type of personalities by that theory. People are just simply they are.

I remembered the times i got easily annoyed when some peers i was not really close with, tried to read my personality. “Who are you judging me?” i said in my heart. And i was always kept away. My friends used to loved some know-your-personality things in magazines, social medias or other columns. I said big no for that kind of thing. “I know who really i am so why do i have to ask the machine about my self.’

Time flies, people change. Once, a friend of mine ever said one thing “maybe the furthest journey human ever supasses is journey of discovering them selves‘. I agree with that. In the time of reaching maturity, i feel like i lost my self oftentimes. I thought i was an extrovert type because i surrounded by the people who loved me dearly. My parents, my closest friends and (seemingly) good environment are the main part who design the way i am today. I used to be a cheerful girl when i was teenage, i am quite talkactive or maybe too talkactive till now and i have a good sense of humour and love to laugh with people. But something has missing. What looks on me is really not the essence. I’m keeping tons of questions in my head.

I love being with people but at the same time i draw a boundary among us. I’ve never been hated people but at the same time no once around me i can really adore. I like a deep inspiring conversation and new knowledges so i can build my own ideas without being follower. I declaring my self as open minded but at the same time i’m less compromise on basic thing i couldn’t resist. Long short story, those feeling gave me a sharp quetion. Why do i live in paradox? Who the real am i? How do i have to live my life? Until I think i need a tool to see my own self.

Not long ago, a journal of psychology gave me a glimpse of Myers Briggs Type Indicator (MBTI). The MBTI was constructed by Katharine Cook Briggs and her daughter Isabel Briggs Myers. It is based on the typological theory proposed by Carl Jung who had speculated that there are four principal psychological functions by which humans experience the world – sensation, intuition, feeling, and thinking – and that one of these four functions is dominant for a person most of the time. The underlying assumption of the MBTI is that we all have specific preferences in the way we construe our experiences, and these preferences underlie our interests, needs, values, and motivation (wikipedia).

Though i didn’t really have formal test of MBTI, thanks to this tool, i could describing my self in scientific way. And rather than got ah-this-is-me feeling, i was quite shock with the result. I’m not really what i thougt in the past. Among those sixteen personality types, i found my self being an Introversion Intuition Thinking Judging (INTJ).

They say, INTJ is innovative, independent, strategic, logical and represents The Mastermind. No, i’m not so smart, but, yes, i’m logic, i love books, i enjoy knowledge and i have mastered my mind. Seems fascinating? No, i’m struggling a lot.

For the past two years, i lived in solitariness after being apart with all my pals. This moment brought me into the journey of self talking and self contemplation. I might be unperfect or too much flaws, but sometimes i feel like i live in the world of radical ignorance. There are a lot of highly educated people around me, but most of them are thinking the same, between white and black, if i’m right-you’re wrong. In the era of social media, i just easily got sicked and tired of those mindsets. Why don’t people try to understand some other things who can extremely non mainstream? Many people seemingly loosing or forgeting the substance. I am a human who is looking for the substance for all the realities i have to face. That’s why i’m struggling. I think i just simply unfitted with all the trends.

Is it bad for the woman for not to fear on bugs or dark, for like any kinds of foods, for being a bookworm rather than make up junkies or foodist, for being less emotional and for not being so feminine? I thank to God because i can make my life independently, but sometimes, i feel like i’m lacking of gender stereotype. As far as i know, women are love to talk about themselves, post anything related to their life, their grudge or their excitament until they’re like emotionally helpless. I may be including that but i don’t like it. I hate my self for being so fussy and dramatic. And i always appreciate the moment i could talk with people something worth, something which can build my perspectives up. Not just about wounds, romance and gossip. I found it in a class, in a conference and seminar. I hope i can find it in daily life where i can talk about spirituality, phylosophy, history, humanity, culture or another particular subjects.

People may be unaware about how struggle i am and i hope they don’t. But being so different in society is not easy. Many said INTJ is the rarest population among those personality types and INTJ women are struggle of being utterly uncommmon. Just forget about strategist, thinker, independent, strong willed or intelectually driven because we live in society which do not care about it all. I often got stress for being tough, less emotional, not girly and very private. So, i must admit it, i’ve ever tried being someone else and wore persona(s).

Now, in the time where informations are uncontrollaby scattered, people tend to easily judge for what everything they heard or read. Trust me, i don’t even care about what people do, what people post or what happens to them, either happiness, achievement or confusion. I don’t have times for that. But i do really care, and i think hardly, deeply about the level of human development. We seem to keep high hopes while maintaining outrageously ridicolous people. What’s the point of debating about full time versus working mom, while parents having so much homework educating future generations? What’s the point of debating Assad’s real religion while thousands Syirian children are burning in the middle of guns and drones? What’s the point of debating people’s preference while many people live in proverty and ignorant? What’s the point of debating this and those while we’ve never been really read many books or think out loud? Why do we have to live in those trivialities?

Despite the anger to my self and my society, i consider not to surrender with all these circumtances. I can be my self for what everything i have. People should be growing up and so do i. INTJ is just a tool and it is not constant. Now i think i can make a peace with any kinds of dilemmas. Maybe i have no choice beside accept what happens on society. But it is my choose, for not being like society it self. This is just the way i am.

I swear to be more affectionate, caring and patient. Whenever i walk in the road, i see the face of fighting folks and it makes me cry. I swear i will be more grateful for the life full of grace God gives to me. Whenever i heard about so many unfairnesses happen in this world. I swear i will do something and praying more. Whenever i read a book and i found a new wisdom so that i stunned. I swear i try to be a better person.

rumi

First post in 2017, after series of broken heart, confusion and helpless feeling
Forget resolution
All you need to do is keep learning, keep walking and do you best
Allah will grant you what you deserve

0

Tentang Berbakti

Akan kuceritakan pada anak-anakku kelak, tentang kakeknya, bapakku, yang dalam naik turun kehidupannya, telah menunjukkan padaku bagaimana ia telah menjadi anak terbaik bagi kedua orang tuanya. Tuhan memilih bapak untuk membersamai kedua orang tuanya hingga mereka berpulang ke pangkuanNya, di atas pangkuan bapak.

Dulu, sewaktu aku kecil, mbah putri sering berkata kepadaku, ketika aku nakal dan sulit diberi tahu, kalau tiap malam bapak sering menangis karena merasa anak-anaknya sering membangkang. Entahlah itu benar atau tidak, namun sebagai anak-anak, aku tak percaya bahwa orang tua bisa menangis. Setelah dewasa, ketika Ramadhan kemarin bapak mentaujihi kami sekeluarga, baru aku sadar, barangkali yang dikatakan mbah putri ada benarnya. Bapak, menyimpan segala kekalutan batinnya dalam munajat panjang tanpa seorang pun manusia tahu. Mbah putri, sebagai ibunya, dulu mungkin merasakannya.

Bagiku, bapak bukanlah ayah yang sempurna. Terlalu banyak kekurangannya yang kutahu, dan tentu saja tak kusuka. Tapi bapak, adalah anak terbaik bagi kedua orang tuanya, setidaknya itulah yang kulihat. Ia adalah laki-laki biasa, yang dalam keterlalubiasaannya, mengharapkan orang tua dan keluarganya menjadi orang yang dekat dengan Tuhannya.

Hari ini, ketika akhirnya mbah kakung berpulang setelah dua bulan menjalani kesakitan fisik yang tak terkira, ingatanku dibawa pada masa meninggalnya mbah putri lima belas tahun yang lalu. Waktu itu aku baru beranjak remaja, dan tentu, tidak banyak orang dewasa yang membuatku mengerti keadaan. Yang kutahu, dalam kesakitan sakarotul mautnya, mbah putri tidak juga menghembuskan nafas terakhirnya. Sedangkan bapak berada dalam perjalanan pulang dari menjenguk orang tua ibuku yang juga sedang sakit. Bapak datang dan langsung menemani mbah putri. Detik itulah, mbah putri menghembuskan nafas terakhrinya, di atas pangkuan bapak.

Sekarang pun juga begitu. Dalam kelelahan fisik dan mental merawat mbah kakung, pilu duka memahami ketidakberdayaannya, membersihkan fesesnya, bapak masih berharap mbah kakung akan mengikuti tuntunannya. Pada jam-jam terakhirnya, bapak dan ibukku menemani mbah kakung dengan membaca Yasin di sampingnya. Beberapa saat setelahnya, kekakuan menjalari kaki hingga kepala mbah kakung yang diikuti dengan desahan nafas terakhirnya. Bapak tersedu setelahnya, menghubungi saudara-saudaranya. Aku merasakan, bukan kematian yang membuat bapak menangis, namun kenyataan bahwa ayahnya pergi tanpa menyebut nama Tuhan.

Aku belajar banyak hal tentang kisah bapak dan orang tuanya. Tentang bagaimana bakti seorang anak yang sesungguhnya pada orang tuanya. Bapak bukan anak yang paling berhasil secara materi dibanding saudara-saudaranya, namun ia adalah orang yang selalu ada bagi orang tuanya dan juga keluarganya. Diantara segala keterbatasannya sebagai anak, bapak berusaha mendorong orang tuanya dan keluarganya untuk mendekat pada Tuhan. Mencarikan guru mengaji, mengajak ikut berjamaah dan hal-hal di luar keduniawian yang membuatku semakin mencintainya, terlepas dari berapa banyak kenangan menyedihkan yang mungkin kudapat darinya. Atas tugasnya menanggung berbagai tanggung jawab itu, Tuhan memilihnya dan mengizinkannya melihat wajah terakhir kedua orang tuanya. Sesuatu yang tidak didapat saudara-saudaranya. Sesuatu yang menjadi pertanda, bahwa ia telah tuntas menunaikan amanah sebagai anak.

Kini aku terduduk sendiri dan lintasan pikiran berkelindan dalam semesta di kepalaku. Aku semakin meyakini, mengimani, bahwa keberkahan hidup terutama adalah dari bakti kita pada orang tua. Seberkekurangan apapun mereka. Kita selalu punya kesempatan untuk dunia dan seisinya, tapi orang tua, menjadi tua tanpa bisa mengingkarinya.

Pada diriku dan anak-anakku kelak akan kuceritakan, tentang bagaimana bapak berbakti pada orang tuanya.

Berbakti adalah, tentang mendekat pada Tuhan

caring-for-ill-or-aging-parents

13.12.16
Mbah Kung, teman masa kecilku
Berakhir sudah penderitaanmu di dunia
Sebab kesepian ternyata lebih menakutkan daripada kematian
Semoga Allah membuka jalanmu disana