0

Menemui Doa

Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya – Goethe, yang disitasi oleh Jostein Gaarder dalam Dunia Sophie-

Begitu saja kiranya kau mengkilasbaliki waktu. Selalu ada bayangan tentang hari-hari di masa lalu ketika kau disesaki mimpi buruk berkepanjangan dan bangun menyesaki pagi, siang juga malam. Kau adalah manusia terlalu biasa yang perlu hilang dan tenggelam diantara riuhan takdir dan teriakan-teriakan tentang ambisi. Hidup, bagimu pada saat itu adalah tentang bertahan, agar tidak jatuh, agar tidak hilang dan agar tidak tenggelam.

Pagi ini, kau menghirup segarnya udara pagi dengan segenap masa lalu yang terhampar di garis waktu. Terhadapnya, apa lagi yang bisa kita lakukan selain mengenang? Itu adalah tentang bagaimana kau yang dulu tak berdaya, bersembunyi di balik amarah dan kesempitan hati kini mampu menjadi manusia yang mampu berdiri dengan segala anugrah tentang akalnya. Bahwa berkali-kali keinginan untuk menyerah pada berbagai hal, nyatanya kau tak benar-benar melakukannya. Itu adalah tentang bagaimana kau tak pernah meninggalkan doa.

Mimpimu boleh pergi entah kemana, dukamu boleh datang kapan saja, tapi doa, dalam waktu yang paling tak mampu kau menghaturkannya, tetap tersimpan di hatimu. Bahkan tentang bagaimana kau begitu marah, kau begitu lelah, dan tak berdaya, semuanya keluar pada doa-doamu.

Kau melupakan bagaimana doa-doamu terpanjatkan. Hingga pada satu titik, kau menyadari, apa yang kau temui kini, adalah apa yang pernah terucapkan dalam doamu, dalam tangis-tangis kesepianmu, dalam beratnya hati karena menunggu.
Dalam kenyataan yang tak berbeda sedikitpun dengan yang pernah kau bayangkan,

Kau menemui doa-doamu.

Beginilah Tuhan mengajarimu tentang hidup. Ia tahu segala yang kau minta dan yang tidak kau minta. Tapi keberpasarahan sekaligus kemauan untuk tidak berputus asa, kelembutan hati sekaligus kekuatan berpikir, ketakutan sekaligus keberanian menghadapi segala ujian, adalah apa yang barangkali diinginkanNya terhadapmu.

Dan berterimakasihlah. Dan berterimakasihlah. Untuk yang telah berlalu, untuk yang kini sedang berlangsung, dan yang akan menunggumu di depan.

Selamat menjalani peran
Sampai batas waktu yang telah ditentukan
Sebagai Hamba Tuhan, sebagai perempuan, dan apa-apa yang pernah kau impikan.

Depok, 19 Ramadhan 1438H
Pada Juni yang keduapuluhdelapan
Semoga umur diberkahi
Dan segala hajat diridhoi
Hiduplah bersamanya dalam ketaatan yang sebenar-benarnya

0

The Vegetarian : Manusia yang Gagal Selesai Dengan Dirinya Sendiri

Nama Han Kang, setidaknya baru saya kenal, dan sepertinya mulai melambung sebagai penulis dunia asal Korea Selatan, setelah memenangkan penghargaan Man Booker International Prize tahun 2016 lalu. Setelahnya The Vegetarian banyak dibicarakan sebagai buku terbaik oleh berbagai media internasional. Eka Kurniawan, penulis Indonesia yang juga menjadi nominator penghargaan tersebut bahkan menyebut The Vegetarian adalah satu dari lima novel terbaik yang pernah ia baca. Latar belakang semacam itulah yang kadang-kadang menumbuhkan antusiasme seseorang terhadap sebuah buku. Saat banyak yang mengatakan bagus, sebenarnya sebagus apakah buku tersebut?

Kim Yeong Hye adalah seorang perempuan biasa, yang dalam kacamata suaminya dikatakan sebagai istri yang sangat biasa, tidak mempunyai kelebihan ataupun kekurangan khusus. Suatu hari Yeong Hye merubah perilakunya menjadi seorang vegetarian setelah diganggu mimpi buruk berkepanjangan. Ia membuang semua makanan yang tidak berasal dari tumbuhan baik itu daging, ikan, telur bahkan makanan olahan protein hewan seperti mayonaise. Perilakunya sebagai seorang vegetarian berkembang menjadi obsesi dan menyeret keluarganya pada sebuah skandal yang menakutkan.

Cerita berkembang lebih mencekam hingga akhrinya Yeong Hye harus berada di rumah sakit untuk mengatasi permasalahan mentalnya. Yeong Hye bahkan menolak makan. Kakaknya, In Hye adalah sosok setia yang mendampinginya hingga akhir. Melalui narasi-narasi In Hye inilah tertuang bagaimana sebenarnya mereka adalah manusia-manusia yang mencari jiwanya diantara kungkungan waktu dan tersesatnya jati diri.

Daripada berbicara tentang makanan, buku ini memang lebih banyak bercerita tentang peristiwa-peristiwa mengerikan dan konflik personal-interpersonal yang dialami tokoh-tokoh di dalamnya akibat Yeong Hye memutuskan menjadi vegetarian. Di negara Asia, gaya hidup vegetarian memang belumlah diterima secara luas seperti di negara-negara Barat. Dan Korea Selatan, adalah negara yang memang secara kultural terlihat sulit menerima kehadiran seorang vegetarian karena komposisi makanan tradisionalnya selalu tidak jauh dari daging dan ikan. Maka ketika Yeong Hye memutuskan menjadi vegetarian, hampir seluruh anggota keluarganya menentang. Ayahnya yang temperamental bahkan menamparnya ketika ia menolak memakan daging yang disuapkan kepadanya.

Setidaknya dari sudut pandang In Hye saya jadi bisa sedikit menyimpulkan sesuatu yang sedikit disinggung Han Kang disini, bahwa apa yang terjadi pada kondisi kejiwaan dua bersaudara ini adalah buah yang ditanam di masa kecilnya. Besar dengan ayah yang temperamental dan suka sekali bermain tangan mejadikan In Hye dan Yeong Hye tumbuh tanpa benar-benar menjadi dirinya sendiri.

“Ia baru memahami Yong Hye lama setelahnya. Pukulan Ayah hanya ditunjukkan kepada Yeong Hye. Young Ho suka memukuli anak tetangga sebanyak ia dipukuli Ayah, sehingga ia merasa tidak terlalu terusik. Sementara, dirinya adalah putri sulung yang setia menyajikan sup untuk memulihkan tubuh setelah ayahnya mabuk sehingga Ayah tanpa sadar lebih berhati-hati untuk memukulnya. Yong Hye yang berhati lembut dan bersifat halus tidak pernah melawan ayah dan hanya menerima semua pukulan sampai ke dalam tulangnya. Sekarang ia paham. Paham bahwa sifat rajinnya sebagai putri sulung waktu itu bukan karena dia dewasa, melainkan karena ia pengecut. Namun, itu caranya untuk bertahan hidup.
Apakah ia mencegahnya? Semua hal tak terduga meresap ke tulang Yeong Hye. Akhirnya, mereka menuruni jalan di seberang gunung dan menumpang sebuah mesin penanam padi menuju desa kecil melalui jalanan yang asing. Ia merasa tenang, tapi Yeong Hye tidak senang. Yeong Hye hanya memandangi pepohonan yang terbakar cahaya senja tanpa mengatakan apa-apa.”

Pada akhirnya, walaupun Han Kang menarasikan cerita dengan sangat mengalir dan dalam, tetap saja bagi saya buku ini kurang mengesankan dan tragedinya terlalu memprihatinkan. Sebab The Vegetarian berbicara tentang luka yang tak disembuhkan, dibiarkan tersembunyi, tertumpuk dan menganga secara tiba-tiba. Ada perasaan semacam marah karena dalam hidup yang berharga ini seseorang menyianyiakan dirinya sendiri akibat persoalan jiwa yang tak terselesaikan. Dari balik rasionalitas, saya selalu percaya bahwa setiap orang pernah dan mempunyai luka dan terhadapnya selalu ada pilihan untuk sembuh ataupun berdamai untuk melangkah bersamanya. Untuk itulah bagi saya, sosok In Hye justru menjadi heroine dalam The Vegetarian ini mengalahkan tokoh utamanya. Sebab walaupun tersesat, In Hye tak mau menyerah pada dirinya sendiri dan melanjutkan hidup yang penuh anugrah bersama anaknya.

Lalu lama-lama pepatah yang mengatakan bahwa dibalik tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat nampak kurang relevan lagi kini. Dari jiwa yang kuatlah terpancar kesehatan tubuh dan semangat hidup yang tinggi.

Dan ya satu lagi, apa yang ditorehkan di masa kecil, apapun itu, melekat kuat ke dalam tulang dan menjadikan siapakah seseorang di masa depannya.

0

Menemukanmu

Tuhan menjadikanmu jalan untukku mengenal diri
Jalan yang kerap kali kususuri dari pagi ke pagi

Kau menemukanku di batas hari
Saat kesepian sekian lama tersimpan rapat di dasar hati

*Judul dan sajak pertama diambil dari karya Tiara Rizkina*
*Moonlight-Yiruma*

0

Membiarkan Anak Marah

Cerita ini terjadi kemarin lusa, di sebuah forum kecil berisi saya, Kak Y dan Kak Z. Kak Y yang kami hormati dalam forum itu mempunyai dua orang anak perempuan, tujuh dan tiga tahun sedangkan Kak Z memiliki seorang anak laki-laki juga berusia tujuh tahun dan anak perempuannya berusia empat belas bulan. Kami berkumpul bersama disitu. Di tengah berjalannya agenda, suami Kak Y mengajak dua orang anaknya untuk pergi namun hanya si bungsu yang mau ikut. Sedangkan kakaknya asyik bermain dengan putra Kak Z. Tidak lama kemudian, si bungsu dan ayahnya kembali dengan membawa sebuah es krim. Mengetahui adiknya datang membawa es krim yang dibuka di dekatnya sedangkan ia tidak, si kakak langsung menangis setengah tantrum, sambil menghentak-hentakkan kakinya. Kak Y kemudian memangku si sulung dan dengan lembut memintanya untuk bersabar juga menghentikan tangisnya sambil mengelus-elus pipinya. Tangis itu mengeras hingga akhirnya perlahan-lahan mereda walaupun tidak sepenuhnya berhenti setelah si sulung dijanjikan akan dibelikan es krim juga setelah acara selesai.
Tanpa bermaksud membuat perbandingan, tapi Kak Z adalah orang lain yang juga saya hormati karena kapasitasnya menjadi seorang ibu yang mampu menjalin hubungan sangat mengasyikkan dengan anak laki-lakinya yang berusia tujuh tahun. Sepulangnya, Kak Z berbicara pada saya tentang bagaimana seharusnya si Kakak tidak perlu ditenangkan untuk disuruh bersabar sebab dia, memang sedang marah. Dialog ini kemudian membawa kami pada cara-cara parenting yang dipakainya dan teori-teori perkembangana anak yang secara akademik juga saya pelajari.

Apakah memperlakukan anak dengan kelembutan semacam itu terlihat wajar? Tentu saja, atas nama kasih sayang, meminta anak untuk berhenti menangis dan menuruti permintaannya adalah hal yang sepenuhnya wajar. Namun segala sesuatu yang nampak wajar tidak sepenuhnya benar.

Siapapun barangkali tak bisa membenarkan sikap ayah yang hanya membelikan adik es krim tanpa membelikan kakaknya juga. Apalagi es krim tersebut dimakan di rumah, bukan di tempat lain yang pada akhirnya kakak juga bisa melihatnya. Demi apapun, saya tidak bisa menerima sikap seperti itu sekaligus tidak mau diperlakukan seperti itu pula. Hal ini mungkin sepele, tapi tentu saja, apa yang diterima anak-anak dengan sungguh-sungguh, selalu tidak pernah jadi sepele lagi. Ada hal-hal yang akan membekas dalam memori dan perilaku mereka.

Marah, sebenarnya tidak salah. Marah adalah bagian dari ekspresi yang dimiliki manusia yang oleh karena konotasinya yang begitu buruk maka harus segera dihindari. Orang dewasa mungkin mampu berpikir seperti itu -walaupun implementasinya jelas juga sulit-. Tapi anak-anak tidak. Mereka merespon segala sesuatu secara alamiah berdasarkan informasi yang diterimanya. Maka ketika seorang anak merasa diperlakukan tidak adil, dipaksa melakukan yang bukan kehendaknya, dan hal-hal lain yang tidak sesuai dengan keinginannya, yang terjadi adalah marah lalu menangis.

Berapa dari kita berfokus pada apa yang menyebabkan anak marah dan menangis daripada bagaimana cara menghentikan tangisnya? Tidak banyak. Berapa dari kita yang saat anak menangis menanyakan apa yang menyebabkan mereka seperti itu daripada menduga-duga sendiri? Tidak banyak. Berapa pula dari kita yang mengajak anak berpikir bagaimana cara agar ia tak marah dan menangis daripada sekedar memberi solusi? Tidak banyak. Bertemu dengan berbagai macam tipe orang tua membuat saya berani menyimpulkan, entah atas nama kesabaran atau ketidaksabaran itu sendiri, orang tua Indonesia masih terjebak dalam stereotip bahwa menghentikan anak marah dan menangis itu baik dan penting.

Di Child Care, saya dan teman-teman menegaskan agar tidak melarang anak meluapkan amarahnya. Marah adalah hak anak yang harus kami hargai sebagai bagian dari prinsip “Respect The Child“. Kami bahkan mengajarkan seperti apa ekspresi marah dan tentu saja menanyakan kepada mereka alasan-alasan dibalik kemarahannya. Biasanya mereka akan bercerita apa yang membuatnya marah. Dan kami akan menanyakan apa yang bisa membuatnya untuk tidak marah lagi, juga menawarkan solusi lain jika hal tersebut tak mungkin dilakukan. Kita hanya harus menegaskan bahwa ada batasan-batasan yang tidak boleh mereka langgar sekalipun sedang marah yaitu membuang-buang barang, menyakiti teman dan menyakiti diri sendiri.

Ini adalah dialog yang kami lakukan dengan D, seorang anak laki-laki yang akhir-akhir ini datang dengan mood kurang bagus akibat ketidaktuntasannya akan sesuatu yang terjadi di rumah.

D : “Aku mau pulang” sambil menangis
G : “Kenapa?”
D : “Mau sama ayah” merengek
G : “Kenapa mau sama ayah?”
D : ” Mau sama ayah. Ayah kemarin jalan-jalan ke hotel naik Nissan sama Ayah.” (Rupanya masih ingin liburan).
G : “Ayah dimana sekarang?”
D : “Ayah kerja” sesenggukan
G : “D tau tempat kerjanya ayah?”
D : Menggeleng
G : “Kalau ayah kerja bolehkah D kesana?”
D : Berpikir lalu Menggeleng
G : “Kalau ayah sedang kerja, D seharusnya sedang apa?”
D : “D sekolah”
G : ” Good, you are in school now’
D : Mulai diam
G : “Masih marah?”
D : Diam
G : “Kalau masih marah boleh duduk dsini dulu ya atau mau menangis disini juga tidak apa-apa”
D : ” Nggak mau”
G : ” Lalu maunya bagaimana”
D : ” Mau main sama R”
G : “Boleh, tapi marahnya diselesaikan dulu ya.”
D : “Sudah”
G : “Are you happy now?”
D : Mengangguk dan beranjak mengejar temannya sambil tertawa-tawa

Seorang anak lain, sebutlah B, mengajari kami tentang bagaimana itu kesabaran dalam pandangan anak. B mempunyai kecenderungan Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD) yang membuatnya menjadi anak yang paling tidak bisa sabar dan menahan amarahnya di kelas. Sebagaimana simptom yang biasanya nampak dalam ADHD, B tidak bisa mengantri, tidak bisa berkonsentrasi terhadap aktivitas lebih dari dua menit, sulit untuk duduk diam, membuang barang dan memukul teman. Dia bukannya mau melakukan itu semua, namun secara sederhana dia tidak bisa untuk menghindarinya. Dan apakah cukup bagi kami untuk mengahadapinya dengan kesabaran sekaligus memintanya untuk lebih bersabar? Tidak, kami justru bersikap sangat tegas terhadapnya.

Setiap melakukan aktivitas yang dilakukan bergiliran, seperti cuci tangan misalnya, B yang tidak bisa mengantri biasanya akan didahulukan. Namun perlahan-lahan kebiasaan itu dihilangkan dengan membuatnya mendapat giliran kedua, ketiga hingga terakhir. Tentu saja, B akan tantrum, berteriak-teriak, menangis. Kami akan biarkan ia meluapkan kemarahannya selama itu tidak membahayakan hingga ia mendapat giliran dan diam seketika setelahnya. Suatu ketika, B tak bisa menahan diri untuk memukul teman dan melempar segala sesuatu di dekatnya, kami tak pernah mentolerir perbuatan seperti itu. B perlu duduk dan menenangkan diri, memahami kesalahannya, mengambil sendiri semua yang dibuangnya dan meminta maaf pada teman yang sempat disakitinya. Tentu saja, dia melakukannya dengan menangis, tidak fokus dan seringkali karena setengah kami paksa, tapi kami terus konsisten melakukannya.

Itu adalah apa yang terjadi ketika awal B datang ke tempat kami. Sekarang, setelah serangkaian ketegasan yang berbulan-bulan diterapkan padanya, tanpa kami sadari, B menumbuhkan kebiasaan yang sangat berbeda dari sebelumnya. B sudah terbiasa menunggu giliran dan antri. B merapikan semua mainannya sendiri, ia bahkan menyapu dan mengelap saat menumpahkan sesuatu, membersihkan halaman dan sedikit terobsesi dengan pekerjaan rumah. Hal yang tak terduga lainnya adalah B menjadi anak yang sangat penyayang dengan temannya. Ia masih sering bertengkar dengan temannya, tapi B selalu baik terhadap adik kecil dan teman perempuan. Walaupun pada beberapa subjek yang membutuhkan konsentrasi lebih ia masih belum sepenuhnya bisa mengikuti, tapi B mampu memperpanjang rentang fokusnya. Kini ia bisa melakukan satu aktivitas selama lebih dari lima belas menit.

Bagaimana kami mengajarkan kesabaran pada anak yang paling tidak sabar seperti itu? Gunakan ukuran, sebab anak-anak sebenarnya hanya mampu menerima sesuatu yang disampaikan secara konkret. Apakah kesabaran itu? “Sabar adalah ketika kamu ada di urutan ketiga, kamu mau menunggu urutan ke satu dan kedua selesai.” “Sabar adalah saat kamu marah kamu memilih untuk duduk sendiri, tidak merusak barang dan menyakiti teman.” “Sabar adalah saat kamu ingin apa yang dibawa temanmu, kamu tidak merebutnya dan mau menunggunya selama sepuluh detik.” “Sabar adalah saat kamu sudah lapar tapi kamu mau duduk,berdoa dan cuci tangan dulu.” Dan hal-hal lain yang disampaikan dengan sangat konkrit, singkat, jelas dan terukur.

Apa yang kami dapat dari kebiasaan semacam itu? Kami mampu membangun lingkungan yang justru terhindar dari kemarahan-kemarahan. Setiap anak datang membawa moodnya masing-masing dari rumah yang tidak selalu bagus. Anak-anak punya pilihan untuk mengeluarkan segala perasaannya. Mereka yang sedang senang biasanya akan banyak bercerita. Mereka yang sedih biasanya akan menangis dan rewel, dan kami menghargainya. “It’s ok if you wanna cry.” Hasilnya, anak-anak jadi lebih suka bercerita dan kami jarang menemukan anak-anak tantrum.

Tidak, tulisan ini tidak sedang mengkritisi gaya parenting apapun, itu di luar kemampuan dan pengalaman saya. Tulisan ini hanya membandingkan apa yang banyak saya lihat dan apa yang saya pelajari. Tentang betapa banyaknya konsep terlalu abstrak yang kita berikan pada anak-anak tanpa benar-benar tahu apakah mereka mampu menterjemahkannya atau tidak.

Membiarkan anak marah -dan bukan marah-marah- bukanlah hal yang salah. Yang salah adalah ketika orang dewasa tak memahami apa yang membuatnya marah dan menutup peluangnya untuk meredakan kemarahannya sendiri.

temper-tantrums-in-aspergers-children-during-the-holidays

0

Apa Kabar Maryam?

Halo, Maryam apa kabar? Happy kah di sekolah baru?

Kak Dinar baper (terbawa perasaan) ketika tadi Umma tiba-tiba whatsapp minta foto-foto Maryam waktu di Maryam&Isa. Kak Dinar bilang ke Umma kalau ternyata rasanya ada yang hilang saat Maryam tidak datang lagi kesini.

Umma bilang, Maryam masih sering ngobrolin kakak-kakak di rumah. Umma bilang, Maryam masih suka excited dan bilang “itu sekolahku” kalau lewat sini. Maryam bilang, ‘Afiyah nggak boleh ke Maryam&Isa karena Maryam cuma mau kakak-kakak ngajarin Maryam.

Maryam pasti aslinya juga rindu, seperti kami disini. Tepatnya Kak Dinar sih. Rindu, rindu sekali.

Maryam cantik, lincah dan cerdas. Semua orang pasti akan senang saat lihat Maryam, lalu akan bertanya “itu siapa? usianya berapa?” Beberapa yang tidak bertanya akan bilang “Ih cantiknyaa,,” atau “ih,,,lucunya pakai hijab.”

Tapi bukan itu yang bikin kami rindu, Kak Dinar rindu. Lebih dari segala kelucuan sebagai anak-anak, Maryam adalah teman bagi kami. Teman mendewasa. Tepat saat Maryam tumbuh menjadi anak yang sangat manis dan cerdas, kami tumbuh menjadi orang yang lebih sabar, lebih mengerti dan lebih penyayang.

Kami punya banyak kenangan yang tak terlupakan dengan Maryam. Kenangan itu menempel di memori kami karena itu adalah pertama kalinya pula bagi kami. Mungkin Maryam akan melupakannya, tapi Kak Dinar yakin, jejak pembelajarannya akan tersimpan dalam jati diri Maryam sampai nanti.

Tiap datang Maryam selalu menangis, katanya mau sama Abah. Padahal sepuluh detik setelah Abah pergi, Maryam juga diam sendiri dengan ritual merenung sebentar. Dulu waktu Maryam kecil, kami harus bawa Maryam ke kebun dekat komplek untuk lihat ayam. “Ayam dimana dicari Maryam?” begitu kata kuncinya. Kami jadi tahu, anak-anak pun perlu waktu untuk meregulasi dirinya sendiri. Maka tiap mood Maryam tidak bagus, kami akan biarkan Maryam untuk duduk berdiam diri dulu

Saat Maryam berumur 2,5 tahun, Maryam bilang kata Umma nyanyi lagu ulang tahun itu nggak boleh. Dan sebenarnya, kakak-kakak juga tidak pernah mengajarkan lagu itu di sekolah, tapi teman-teman menyanyikannya. Mungkin tahu dari rumah. Waktu Sunda ulang tahun dan teman-teman bernyanyi lagu selamat ulang tahun, Maryam cuma diam. Sambil agak cemberut. Percayakah Maryam, kalau kami belajar dari sikap Maryam waktu itu? Sekecil itu Maryam sudah teguh prinsip, kami jadi malu. Kami, yang makin tua makin permisif ini.

Di sekolah, Maryam datang selalu dengan berhijab. Kalau pakai rok, Maryam selalu pakai celana panjang di dalamnya. Sebenarnya kebiasaan teman-teman juga begitu. Tapi pernah suatu kali Athaya pakai dress yang terlalu pendek dan tidak bawa celana panjang. Kami tidak minta Maryam, tapi Maryam langsung berikan celana panjang cadangan ke Athaya. “Pakai punya aku aja” kata Maryam. Begitu pula saat Rafa ngompol dan tidak bawa celana lagi. Maryam ambilkan celana merah polkadotnya untuk Rafa. Dan kami jadi tertawa terbahak-bahak, karena lihat Rafa jadi imut banget pakai celana polkadot. Anak kecil memang peka, tapi kami tak pernah menyangka akan sepenyayang itu. Kami jadi tertohok. Kami yang makin besar makin cuek ini.

Sejak bisa bicara, Maryam jadi ceriwis. Dan memang seharusnya begitu. Tapi Maryam juga mendengarkan teman saat mereka bicara, juga mengingatnya. Sejak itu pula kami tak pernah membicarakan teman-teman dan Maryam di dekat Maryam atau teman-teman. Kami juga tak pernah memaksa Maryam melakukan sesuatu, karena Maryam tidak suka dipaksa. Maryam hanya bisa diberi pilihan dan negoisasi. Dan dari situlah kami belajar, terhadap anak-anak pun, kami tidak boleh bicara main-main. Segala hal yang diterima dengan sungguh-sungguh, seharusnya juga diberikan dengan sungguh-sungguh. Termasuk kata-kata.

Begitu Maryam, Kakak kadang lupa, Maryam anak kecil dan bukan teman sebaya. Itu karena Maryam dewasa sejak dari dalam hatinya. Waktu itu Kakak bahkan pernah minta didoakan sama Maryam. Maryam cuma mengangguk-angguk dan tersenyum, entah tahu entah tidak.

Sudah itu dulu ya ceritanya. Setidaknya menulis sekian paragraf ini sudah menjawab kerinduan pada Maryam. Sebab yang terpenting nyatanya bukan hanya kenangan, namun pembelajaran yang diperoleh darinya. Maryam bagian dari titik balik yang Kak Dinar lalui.

Umma tidak pernah upload foto Maryam di social media. Dan karenanyalah Kak Dinar bangga sekali padanya. Tapi sekali ini, eh tidak, untuk kedua kalinya, biar foto Maryam ada disini ya, di blog pribadinya Kak Dinar.

A Brief Moment : Selfie with her

A Brief Moment : Selfie with her

0

Tentang Kekalahan

Tahun 2009 lalu, ketika masih menjadi mahasiswa,saya pernah terlibat dalam latihan politik ala-ala, apa yang sering terdengar sebagai pemilu raya mahasiswa (pemira). Sebenarnya setiap tahun sejak masuk hingga lulus kuliah saya selalu terlibat di dalamnya. Namun tahun 2009, menjadi tahun yang tak pernah terlupakan bukan hanya karena di tingkat tiga seperti itu saya dan teman-teman seangkatan sedang mengalami titik puncak soliditas tim dalam beraktivitas, tapi juga karena apa yang kami dapat adalah sesuatu yang jauh dari apa yang kami perkirakan, kekalahan.

Untuk sekedar tahu, bahwa pada masa itu, faksi kami selalu berada di atas awan. Bertahun-tahun kemenangan, bertahun-tahun dalam masa “aman” menjadikan kepercayaan diri adalah hal pertama yang kami tegakkan sebelum maju ke pertarungan. Sekalipun belum ada yang tahu, siapa yang harus diajukan dalam pemilihan. Beruntung, setelah berbagai macam pendekatan yang dilakukan beberapa orang diantara kami, seorang sahabat yang sangat bersahaja, banyak dihormati teman-teman lintas aktivitas dan generasi, seseorang yang rendah hati ditambah lagi cukup rupawan, bersedia dimajukan dalam pemilihan. Maka selanjutnya, dan sejujurnya kami merasa mampu -jika tak boleh dibilang tinggi hati- untuk memenangkan pemilihan.

Sampai dengan perhitungan selesai dilakukan pada tengah malam. Kami sungguh mendengar kabar yang jauh dari dugaan.

KEKALAHAN

Faksi kami kalah tipis, hanya sebanyak 37 suara. Setengah tidak percaya atau sebenarnya memang tidak percaya, kami mempertanyakan dan mencurigai adanya kecurangan dalam angka yang tidak besar tersebut.

Tapi begitulah, di depan statistik dan angka, perasaan manusia memang tak ada harganya.

Saya ingat malam itu, teman-teman menangis di ruang tamu kontrakan. Semuanya menyesali kejadian ini, semua seperti tidak terima hasil yang didapat setelah hari-hari melelahkan yang dijalani untuk sebuah pembelajaran tentang kemenangan, semuanya tidak siap menerima kekalahan. Saya, satu-satunya orang yang tak mengeluarkan air mata di ruangan itu. Logika saya tak menerima kekalahan secepat itu setelah sekian analisis tentang kemenangan ada di pihak kami. Lebih dari itu, saya sempat menyimpan pikiran berbahaya untuk membongkar adanya kecurangan-kecurangan yang menurut prasangka kami mungkin saja terjadi, untuk menolak aklamasi hasil pemilihan.

Kekalahan, sesungguhnya tak semenyedihkan itu. Saya sadari hingga lama setelahnya, bahwa yang menyedihkan adalah, kegagapan logika yang muncul sebagai dampaknya, ketidakmampuan saya sendiri menyusun kejernihan-kejernihan di kepala saya dan lebih dari itu penolakan saya untuk membawa perasaan dalam urusan ini. Padahal, sebenarnya, sedih lalu menangis itu sama sekali tak menyedihkan.

Esok harinya, pembicaraan diantara kami masih seputar isu-isu yang berkembang setelah pemilihan. Saya banyak berkoordinasi dengan koordinator kami tentang apa yang sebenarnya terjadi, kadang hingga berdebat. Dua hari setelahnya, setelah serangkaian pembicaraan-pembicaraan emosional yang pada waktu itu terasa begitu berat, membuat segala pertahanan perasaan saya ambruk pada akhirnya. Di balik layar gawai, saya tersedu sedan saat berbicara dengan seorang senior.

Kekalahan, ternyata memang menyakitkan. Iya, dan perasaan seperti itu, tak perlu selalu disembunyikan.

Seminggu setelahnya, ketika saya pikir sayalah yang paling kuat diantara keterkejutan teman-teman atas peristiwa ini, saya baru menyadari nyatanya sayalah yang paling tidak mau menerima kenyataan ini. Perlahan-lahan saya berusahan menurunkan ego logika, memahami persoalan dari sudut pandang yang lebih besar dan tentu saja melunakkan hati saya sendiri. Apa sesungguhnya yang paling buruk dari sebuah kekalahan selain ketidakmampuan untuk bangkit meninggalkannya? Begitu banyak orang hidup dalam rasa kalah yang selalu disimpan rapi di hatinya namun tak mampu menahan laju kedengkian yang menyeruak dari dirinya. Hari ketika saya telah mampu berdamai dengan diri saya sendiri itulah, saya mengirim ucapan terimakasih pada teman-teman yang drafnya ditulis dengan linangan air mata.

Tidak, saya tidak sedang berbicara urusan politik yang akhir-akhir ini banyak kita dengar. Saya hanya ingin berbicara tentang bagaimana hari-hari ini kita disibukkan dengan urusan kemenangan dan kekalahan yang entah karena apa membuat banyak orang terlihat lemah -jika tak mau dikatakan kalah-. Lama saya berpikir, sejak kapan urusan ‘saya lebih baik dari kamu’ menjadi hal yang penting sekali untuk dibicarakan? Sejak kapan narasi-narasi kebencian membuat kita tampak lebih pintar dari yang lainnya? Dan tetap saja, segala yang memassa seringkali sulit dicari jawabnya.

Setidaknya satu pembelajaran sederhana dari peristiwa yang -jika dilihat sekarang- nampak tidak penting itu, telah turut andil membangun jiwa saya. Tidak ada luapan kebencian dari jiwa-jiwa yang menang, sekalipun kemarahan mungkin menggelayuti dan keadaan begitu sulit untuk dilogika.

Tentang kekalahan, seberapapun ia pernah hadir dan menyakiti, Tuhan selalu menyediakan waktu.

Waktu barangkali tak melupakan, tapi ia menyembuhkan.

cr pic. Reuters

cr pic. Reuters

But when i’m cold, cold
When i’m cold, cold
There’s a light that you give me
When i’m in shadow
There’s a feeling within me, an everglow

(Everglow, Coldplay)

0

Pada Sebuah Tanya

Pada sebuah tanya, pernah kusandarkan rasa,
Apakah kita, memang terlahir untuk mencipta kata yang menggoreskan luka bagi sesama?
Hingga dunia, tampak seperti udara gelap yang keluar dari kantong nafas penuh murka

Pada sebuah tanya, air mata tak dapat lagi menahan dirinya
Apakah kita, memang ada untuk menciptakan kerusakan, permusuhan dan tangisan di wajah semesta?
Hingga pohon, daun dan nyamuk, tak mengerti lagi, untuk apa manusia diberi hati yang suci di alam rahim

Pada sebuah tanya, kuletakkan diriku dalam ruang penghayatan
yang berkali-kali gagal kutemukan kedalamannya
Apakah kesombongan telah menempel di sekujur lapisan epidermis yang terkoyak satu per satu oleh panasnya matahari?
Hingga tak sadar lagi, di hadapan takdir, manusia hanyalah sebutir debu yang terbang, hilang dan terlupakan

Pada sebuah tanya, yang belum kutemukan jawabnya
Ruhku berbisik memberi kehangatan pada malam hujan yang tak berkesudahan
Inilah kita yang demi masa depan seperti ini dulu Nabi pernah bersedu sedan pada detik menjelang kepergiannya
Inilah kita yang kini begitu sibuk berteriak-teriak pada urusan yang tak memberikan faedah apa-apa
Inilah kita yang terlena oleh kemajuan peradaban namun tersesat diantara substansi kehidupan
Pun begitu, tangan Tuhan tak pernah berhenti meraih segala keputusasaan
DibiarkanNya segala gaduh bergulung-gulung, bersahut-sahutan hingga sampai ke langit yang tujuh
Dan kita tahu, yang tersisa hanyalah kekosongan
Dan kesunyian yang dalam

lonely-012