Tentang Kekalahan

Tahun 2009 lalu, ketika masih menjadi mahasiswa,saya pernah terlibat dalam latihan politik ala-ala, apa yang sering terdengar sebagai pemilu raya mahasiswa (pemira). Sebenarnya setiap tahun sejak masuk hingga lulus kuliah saya selalu terlibat di dalamnya. Namun tahun 2009, menjadi tahun yang tak pernah terlupakan bukan hanya karena di tingkat tiga seperti itu saya dan teman-teman seangkatan sedang mengalami titik puncak soliditas tim dalam beraktivitas, tapi juga karena apa yang kami dapat adalah sesuatu yang jauh dari apa yang kami perkirakan, kekalahan.

Untuk sekedar tahu, bahwa pada masa itu, faksi kami selalu berada di atas awan. Bertahun-tahun kemenangan, bertahun-tahun dalam masa “aman” menjadikan kepercayaan diri adalah hal pertama yang kami tegakkan sebelum maju ke pertarungan. Sekalipun belum ada yang tahu, siapa yang harus diajukan dalam pemilihan. Beruntung, setelah berbagai macam pendekatan yang dilakukan beberapa orang diantara kami, seorang sahabat yang sangat bersahaja, banyak dihormati teman-teman lintas aktivitas dan generasi, seseorang yang rendah hati ditambah lagi cukup rupawan, bersedia dimajukan dalam pemilihan. Maka selanjutnya, dan sejujurnya kami merasa mampu -jika tak boleh dibilang tinggi hati- untuk memenangkan pemilihan.

Sampai dengan perhitungan selesai dilakukan pada tengah malam. Kami sungguh mendengar kabar yang jauh dari dugaan.

KEKALAHAN

Faksi kami kalah tipis, hanya sebanyak 37 suara. Setengah tidak percaya atau sebenarnya memang tidak percaya, kami mempertanyakan dan mencurigai adanya kecurangan dalam angka yang tidak besar tersebut.

Tapi begitulah, di depan statistik dan angka, perasaan manusia memang tak ada harganya.

Saya ingat malam itu, teman-teman menangis di ruang tamu kontrakan. Semuanya menyesali kejadian ini, semua seperti tidak terima hasil yang didapat setelah hari-hari melelahkan yang dijalani untuk sebuah pembelajaran tentang kemenangan, semuanya tidak siap menerima kekalahan. Saya, satu-satunya orang yang tak mengeluarkan air mata di ruangan itu. Logika saya tak menerima kekalahan secepat itu setelah sekian analisis tentang kemenangan ada di pihak kami. Lebih dari itu, saya sempat menyimpan pikiran berbahaya untuk membongkar adanya kecurangan-kecurangan yang menurut prasangka kami mungkin saja terjadi, untuk menolak aklamasi hasil pemilihan.

Kekalahan, sesungguhnya tak semenyedihkan itu. Saya sadari hingga lama setelahnya, bahwa yang menyedihkan adalah, kegagapan logika yang muncul sebagai dampaknya, ketidakmampuan saya sendiri menyusun kejernihan-kejernihan di kepala saya dan lebih dari itu penolakan saya untuk membawa perasaan dalam urusan ini. Padahal, sebenarnya, sedih lalu menangis itu sama sekali tak menyedihkan.

Esok harinya, pembicaraan diantara kami masih seputar isu-isu yang berkembang setelah pemilihan. Saya banyak berkoordinasi dengan koordinator kami tentang apa yang sebenarnya terjadi, kadang hingga berdebat. Dua hari setelahnya, setelah serangkaian pembicaraan-pembicaraan emosional yang pada waktu itu terasa begitu berat, membuat segala pertahanan perasaan saya ambruk pada akhirnya. Di balik layar gawai, saya tersedu sedan saat berbicara dengan seorang senior.

Kekalahan, ternyata memang menyakitkan. Iya, dan perasaan seperti itu, tak perlu selalu disembunyikan.

Seminggu setelahnya, ketika saya pikir sayalah yang paling kuat diantara keterkejutan teman-teman atas peristiwa ini, saya baru menyadari nyatanya sayalah yang paling tidak mau menerima kenyataan ini. Perlahan-lahan saya berusahan menurunkan ego logika, memahami persoalan dari sudut pandang yang lebih besar dan tentu saja melunakkan hati saya sendiri. Apa sesungguhnya yang paling buruk dari sebuah kekalahan selain ketidakmampuan untuk bangkit meninggalkannya? Begitu banyak orang hidup dalam rasa kalah yang selalu disimpan rapi di hatinya namun tak mampu menahan laju kedengkian yang menyeruak dari dirinya. Hari ketika saya telah mampu berdamai dengan diri saya sendiri itulah, saya mengirim ucapan terimakasih pada teman-teman yang drafnya ditulis dengan linangan air mata.

Tidak, saya tidak sedang berbicara urusan politik yang akhir-akhir ini banyak kita dengar. Saya hanya ingin berbicara tentang bagaimana hari-hari ini kita disibukkan dengan urusan kemenangan dan kekalahan yang entah karena apa membuat banyak orang terlihat lemah -jika tak mau dikatakan kalah-. Lama saya berpikir, sejak kapan urusan ‘saya lebih baik dari kamu’ menjadi hal yang penting sekali untuk dibicarakan? Sejak kapan narasi-narasi kebencian membuat kita tampak lebih pintar dari yang lainnya? Dan tetap saja, segala yang memassa seringkali sulit dicari jawabnya.

Setidaknya satu pembelajaran sederhana dari peristiwa yang -jika dilihat sekarang- nampak tidak penting itu, telah turut andil membangun jiwa saya. Tidak ada luapan kebencian dari jiwa-jiwa yang menang, sekalipun kemarahan mungkin menggelayuti dan keadaan begitu sulit untuk dilogika.

Tentang kekalahan, seberapapun ia pernah hadir dan menyakiti, Tuhan selalu menyediakan waktu.

Waktu barangkali tak melupakan, tapi ia menyembuhkan.

cr pic. Reuters

cr pic. Reuters

But when i’m cold, cold
When i’m cold, cold
There’s a light that you give me
When i’m in shadow
There’s a feeling within me, an everglow

(Everglow, Coldplay)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s