Pada Sebuah Tanya

Pada sebuah tanya, pernah kusandarkan rasa,
Apakah kita, memang terlahir untuk mencipta kata yang menggoreskan luka bagi sesama?
Hingga dunia, tampak seperti udara gelap yang keluar dari kantong nafas penuh murka

Pada sebuah tanya, air mata tak dapat lagi menahan dirinya
Apakah kita, memang ada untuk menciptakan kerusakan, permusuhan dan tangisan di wajah semesta?
Hingga pohon, daun dan nyamuk, tak mengerti lagi, untuk apa manusia diberi hati yang suci di alam rahim

Pada sebuah tanya, kuletakkan diriku dalam ruang penghayatan
yang berkali-kali gagal kutemukan kedalamannya
Apakah kesombongan telah menempel di sekujur lapisan epidermis yang terkoyak satu per satu oleh panasnya matahari?
Hingga tak sadar lagi, di hadapan takdir, manusia hanyalah sebutir debu yang terbang, hilang dan terlupakan

Pada sebuah tanya, yang belum kutemukan jawabnya
Ruhku berbisik memberi kehangatan pada malam hujan yang tak berkesudahan
Inilah kita yang demi masa depan seperti ini dulu Nabi pernah bersedu sedan pada detik menjelang kepergiannya
Inilah kita yang kini begitu sibuk berteriak-teriak pada urusan yang tak memberikan faedah apa-apa
Inilah kita yang terlena oleh kemajuan peradaban namun tersesat diantara substansi kehidupan
Pun begitu, tangan Tuhan tak pernah berhenti meraih segala keputusasaan
DibiarkanNya segala gaduh bergulung-gulung, bersahut-sahutan hingga sampai ke langit yang tujuh
Dan kita tahu, yang tersisa hanyalah kekosongan
Dan kesunyian yang dalam

lonely-012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s