0

Pada Sebuah Tanya

Pada sebuah tanya, pernah kusandarkan rasa,
Apakah kita, memang terlahir untuk mencipta kata yang menggoreskan luka bagi sesama?
Hingga dunia, tampak seperti udara gelap yang keluar dari kantong nafas penuh murka

Pada sebuah tanya, air mata tak dapat lagi menahan dirinya
Apakah kita, memang ada untuk menciptakan kerusakan, permusuhan dan tangisan di wajah semesta?
Hingga pohon, daun dan nyamuk, tak mengerti lagi, untuk apa manusia diberi hati yang suci di alam rahim

Pada sebuah tanya, kuletakkan diriku dalam ruang penghayatan
yang berkali-kali gagal kutemukan kedalamannya
Apakah kesombongan telah menempel di sekujur lapisan epidermis yang terkoyak satu per satu oleh panasnya matahari?
Hingga tak sadar lagi, di hadapan takdir, manusia hanyalah sebutir debu yang terbang, hilang dan terlupakan

Pada sebuah tanya, yang belum kutemukan jawabnya
Ruhku berbisik memberi kehangatan pada malam hujan yang tak berkesudahan
Inilah kita yang demi masa depan seperti ini dulu Nabi pernah bersedu sedan pada detik menjelang kepergiannya
Inilah kita yang kini begitu sibuk berteriak-teriak pada urusan yang tak memberikan faedah apa-apa
Inilah kita yang terlena oleh kemajuan peradaban namun tersesat diantara substansi kehidupan
Pun begitu, tangan Tuhan tak pernah berhenti meraih segala keputusasaan
DibiarkanNya segala gaduh bergulung-gulung, bersahut-sahutan hingga sampai ke langit yang tujuh
Dan kita tahu, yang tersisa hanyalah kekosongan
Dan kesunyian yang dalam

lonely-012

Iklan
0

Istirahatlah Kata-Kata (Solo, Solitude)

Pertama kali mendengar bahwa sosok Wiji Thukul akan difilmkan tahun lalu, saya telah bertekat untuk menontonnya, bersama dengan orang yang tepat. Terlepas dari pengetahuan saya tentang sosok Wiji Thukul itu sendiri. Saya selayaknya generasi milenial yang tumbuh tanpa benar-benar tahu apa itu reformasi, demokrasi dan tokoh-tokoh di baliknya, termasuk Wiji Thukul. Kecuali mereka yang pernah menjadi aktivis kiri dan banyak mendatangi forum-forum diskusi, nama Wiji Thukul barangkali begitu asing sebagai salah satu sosok yang pernah menentang rezim. Saya termasuk diantaranya, sampai dengan sajak-sajak dalam Nyanyian Akar Rumput dikutip oleh banyak orang yang tulisannya saya baca dan entah karena apa, kata dalam sajak-sajak puisi WIji Thukul seperti bergaung di dalam hati saya.

Wiji Thukul, banyak orang yang mengenalnya sebagai seorang sastrawan. Dulu, saya mengira,ia adalah aktivis buruh. Namun hidupnya sesungguhnya sangat bersinggungan dengan politik perlawanan dan juga seni. Bersama Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang didirikan oleh sekumpulan aktivis perlawanan, ia pernah menjadi bagian penentang rezim orde baru yang membuatnya masuk ke dalam daftar orang yang diburu. Selain itu, Wiji Thukul juga sangat aktif dalam teater dan musik yang menjadi dunianya semenjak muda dan berkali-kali melakukan aksi dengan para petani.

Wiji Thukul, lahir dari sebuah keluarga sederhana, ayahnya seorang tukang becak dan ibunya menjual ayam bumbu. Ia memutuskan berhenti sekolah di sekolah menengah atas karena kesulitan keuangan yang dihadapi. Kemudian memutuskan bekerja untuk menyambung hidup dengan berjualan koran, tukang pelitur di perusahaan mebel dan calo karcis bioskop (wikipedia). Kendati demikian, di rumahnya ditemukan ratusan buku-buku dan manuskrip atas puisi-puisinya yang menjadi ketertarikannya sejak ia berada di bangku SD. Wiji Thukul, telah menunjukkan pada kita, betapapun berat kehidupan diri sendiri yang dijalani, tak membuatnya berhenti untuk berjuang mengikuti kata hati. Hidupnya sederhana, tapi bermakna bagi banyak orang.

Film Istirahatlah Kata-Kata, menjadi pembuka tahun 2017 ini dengan amat mengesankan. Pertama, sebelum akhirnya ditayangkan di bioskop komersial dalam negeri, film ini telah terlebih dulu ditayangkan di beberapa festival film internasional seperti Locarno (Swiss), Vladivostok (Rusia), Rotterdam (Belanda) dan lain-lain. Dan sebagaimana film festival pada umumnya, saya percaya selalu ada yang berbeda dan bernilai dari sebuah film yang telah diakui oleh masyarakat film internasional dari film komersil lainnya. Ini terjawab oleh sosok-sosok yang di balik pembuatan Istirahatlah Kata-Kata.

Yosep Anggi Noen, Okky Mandasari, Marissa Anita dan Gunawan Maryanto, misalnya, adalah nama-nama yang secara umum barangkali belum banyak dikenal dalam dunia film nasional, namun karya-karyanya selalu tidak main-main. Pemain utama yang berlatar belakang teater menambah keyakinan saya bahwa film ini akan terasa sangat luar biasa. Maka saya merelakan diri jauh-jauh ke Bandung untuk melihat bersama seorang sahabat saya, Elin yang sama seperti saya, dulunya pernah bergabung dalam sebuah kelompok teater semasa SMA, hanya untuk supaya saya dapat berdiskusi dengannya tentang film ini.

Yosep Anggi Noen, punya pilihan yang tepat untuk lebih mengeksplorasi kehidupan Wiji Thukul sebagai manusia biasa daripada menceritakan mengenai kronologis peristiwa yang dialaminya dengan mengambil masa pelarian di Pontianak selama delapan bulan. Menurut hasil risetnya, itu adalah periode paling krusial dalam hidupnya, ketika untuk pertama kalinya Wiji Thukul ditetapkan sebagai tersangka. Dan film ini menggambarkan dengan sangat apik apa yang diungkapkan Wiji Thukul “ternyata, jadi buron itu jauh lebih menakutkan daripada menghadapi sekompi kacang ijo bersenapan lengkap yang membubarkan demonstrasi.” Saya dan Elin, beberapa kali merasakan gaung ketakutan ketika Wiji Thukul diceritakan harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tidak tidur dan bertemu tentara tanpa diduga.

Simbolisasi yang disajikan dalam film ini menjadikannya terasa sunyi sekaligus dalam. Penonton diberi kesempatan untuk terpaku dan merasakan, ketika melihat Wiji Thukul tidak tidur dan tak melakukan apa-apa selain diam,ketika Sipon melihat di kejauhan, ketika Wiji Thukul mengayuh sepeda lalu diam dan mendengarkan narasi puisi dan musik sebagai latar suaranya. Pada adegan-adegan seperti itu, kami terdiam dan tanpa sadar menitikkan air mata. Ini pertama kalinya, saya menonton film tanpa banyak bercakap dengan teman saya.

Beberapa blocking juga terasa unik. Misalnya ketika Wiji Thukul, Thomas dan Martin minum teh di pinggiran Kapuas dishoot secara jarak jauh. Terdapat adegan-adegan pendukung diantaranya seperti motor lewat dan pemain gitar di dekatnya. Adegan ini mengingatkan saya beberapa teknik panggung teater yang dulu pernah diajarkan oleh pelatih saya saat di teater. Saya tidak begitu tahu apa namanya, namun penggambaran seperti ini di film terasa tidak biasa.

Last but not least, Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul dan Marissa Anita sebagai Sipon menjadi dua sosok yang hingga hari ini membuat saya belum bisa move on dari film Istirahatlah Kata-Kata. Diamnya ekspresi Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul telah menggambarkan banyak hal, kebingungan, ketakutan sekaligus keberanian. Saya bahkan merasakan kesedihan hanya dengan melihat Wiji Thukul mengayuh sepeda dari belakang dan mendengarnya bicara yang sedikit pelo. Benar-benar kelas seorang sutradara teater. Marissa Anita, telah menjadi favorit saya sejak dulu pertama kali melihatnya sebagai anchorwoman. Saya tahu bahwa ia tergabung dalam sebuah kelompok teater, namun saya tak menyangka bahwa permainannya bisa semengesankan ini. Sebagai Sipon, ia menggunakan bahasa Jawa logat Solo hampir sempurna. Pengucapannya tidak medok berlebihan atau dibuat-buat. Istirahatlah Kata-Kata, ditutup dengan adegan pamungkas saat Sipon menangis mengeluarkan segala kebingungannya, tentang suaminya, yang baginya antara ada dan tiada. Diantara segala duka dan bahaya yang dialaminya, tangisnya keluar justru karena suaminya ada di sisinya.

Dari jauh saya berharap, film-film simbolis seperti ini akan lebih banyak dibuat.

cr pic. rollingstone.id

cr pic. rollingstone.id

kuterima kabar dari kampung

rumahku kalian geledah

buku-bukuku kalian jarah

tapi aku ucapkan banyak terima kasih
karena kalian telah memperkenalkan sendiri
pada anak-anakku
kalian telah mengajari anak-anakku
membentuk makna kata penindasan
sejak dini

0

Living Life As An INTJ

To Know Your Self is To Know Your God (Hadith Al Qudsi)-

Back then, when i was in college, my close friend who’d majoring in psycology told me that dividing billions of people into four hippocrates temperaments is just simply impossible. How can it be? We meet someone and judging his or her personality by telling that he or she is sanguins, plegmatic, melancolic or choleric. Life, sometimes, is just complicated, so do the people. Since then, either toward people or me,my own self, i’ve never clasifying human’s type of personalities by that theory. People are just simply they are.

I remembered the times i got easily annoyed when some peers i was not really close with, tried to read my personality. “Who are you judging me?” i said in my heart. And i was always kept away. My friends used to loved some know-your-personality things in magazines, social medias or other columns. I said big no for that kind of thing. “I know who really i am so why do i have to ask the machine about my self.’

Time flies, people change. Once, a friend of mine ever said one thing “maybe the furthest journey human ever supasses is journey of discovering them selves‘. I agree with that. In the time of reaching maturity, i feel like i lost my self oftentimes. I thought i was an extrovert type because i surrounded by the people who loved me dearly. My parents, my closest friends and (seemingly) good environment are the main part who design the way i am today. I used to be a cheerful girl when i was teenage, i am quite talkactive or maybe too talkactive till now and i have a good sense of humour and love to laugh with people. But something has missing. What looks on me is really not the essence. I’m keeping tons of questions in my head.

I love being with people but at the same time i draw a boundary among us. I’ve never been hated people but at the same time no once around me i can really adore. I like a deep inspiring conversation and new knowledges so i can build my own ideas without being follower. I declaring my self as open minded but at the same time i’m less compromise on basic thing i couldn’t resist. Long short story, those feeling gave me a sharp quetion. Why do i live in paradox? Who the real am i? How do i have to live my life? Until I think i need a tool to see my own self.

Not long ago, a journal of psychology gave me a glimpse of Myers Briggs Type Indicator (MBTI). The MBTI was constructed by Katharine Cook Briggs and her daughter Isabel Briggs Myers. It is based on the typological theory proposed by Carl Jung who had speculated that there are four principal psychological functions by which humans experience the world – sensation, intuition, feeling, and thinking – and that one of these four functions is dominant for a person most of the time. The underlying assumption of the MBTI is that we all have specific preferences in the way we construe our experiences, and these preferences underlie our interests, needs, values, and motivation (wikipedia).

Though i didn’t really have formal test of MBTI, thanks to this tool, i could describing my self in scientific way. And rather than got ah-this-is-me feeling, i was quite shock with the result. I’m not really what i thougt in the past. Among those sixteen personality types, i found my self being an Introversion Intuition Thinking Judging (INTJ).

They say, INTJ is innovative, independent, strategic, logical and represents The Mastermind. No, i’m not so smart, but, yes, i’m logic, i love books, i enjoy knowledge and i have mastered my mind. Seems fascinating? No, i’m struggling a lot.

For the past two years, i lived in solitariness after being apart with all my pals. This moment brought me into the journey of self talking and self contemplation. I might be unperfect or too much flaws, but sometimes i feel like i live in the world of radical ignorance. There are a lot of highly educated people around me, but most of them are thinking the same, between white and black, if i’m right-you’re wrong. In the era of social media, i just easily got sicked and tired of those mindsets. Why don’t people try to understand some other things who can extremely non mainstream? Many people seemingly loosing or forgeting the substance. I am a human who is looking for the substance for all the realities i have to face. That’s why i’m struggling. I think i just simply unfitted with all the trends.

Is it bad for the woman for not to fear on bugs or dark, for like any kinds of foods, for being a bookworm rather than make up junkies or foodist, for being less emotional and for not being so feminine? I thank to God because i can make my life independently, but sometimes, i feel like i’m lacking of gender stereotype. As far as i know, women are love to talk about themselves, post anything related to their life, their grudge or their excitament until they’re like emotionally helpless. I may be including that but i don’t like it. I hate my self for being so fussy and dramatic. And i always appreciate the moment i could talk with people something worth, something which can build my perspectives up. Not just about wounds, romance and gossip. I found it in a class, in a conference and seminar. I hope i can find it in daily life where i can talk about spirituality, phylosophy, history, humanity, culture or another particular subjects.

People may be unaware about how struggle i am and i hope they don’t. But being so different in society is not easy. Many said INTJ is the rarest population among those personality types and INTJ women are struggle of being utterly uncommmon. Just forget about strategist, thinker, independent, strong willed or intelectually driven because we live in society which do not care about it all. I often got stress for being tough, less emotional, not girly and very private. So, i must admit it, i’ve ever tried being someone else and wore persona(s).

Now, in the time where informations are uncontrollaby scattered, people tend to easily judge for what everything they heard or read. Trust me, i don’t even care about what people do, what people post or what happens to them, either happiness, achievement or confusion. I don’t have times for that. But i do really care, and i think hardly, deeply about the level of human development. We seem to keep high hopes while maintaining outrageously ridicolous people. What’s the point of debating about full time versus working mom, while parents having so much homework educating future generations? What’s the point of debating Assad’s real religion while thousands Syirian children are burning in the middle of guns and drones? What’s the point of debating people’s preference while many people live in proverty and ignorant? What’s the point of debating this and those while we’ve never been really read many books or think out loud? Why do we have to live in those trivialities?

Despite the anger to my self and my society, i consider not to surrender with all these circumtances. I can be my self for what everything i have. People should be growing up and so do i. INTJ is just a tool and it is not constant. Now i think i can make a peace with any kinds of dilemmas. Maybe i have no choice beside accept what happens on society. But it is my choose, for not being like society it self. This is just the way i am.

I swear to be more affectionate, caring and patient. Whenever i walk in the road, i see the face of fighting folks and it makes me cry. I swear i will be more grateful for the life full of grace God gives to me. Whenever i heard about so many unfairnesses happen in this world. I swear i will do something and praying more. Whenever i read a book and i found a new wisdom so that i stunned. I swear i try to be a better person.

rumi

First post in 2017, after series of broken heart, confusion and helpless feeling
Forget resolution
All you need to do is keep learning, keep walking and do you best
Allah will grant you what you deserve

0

Selamat Tinggal Banda Neira

Beberapa orang belajar dari orang lain, beberapa orang belajar dari buku, beberapa orang belajar dari musik dan beberapa diantaranya belajar dari kesemuanya. Saya, salah satu diantaranya. Sekitar tiga-empat tahun yang lalu, bersama sahabat setengah kembaran saya yang seorang musisi otodidak, saya mulai menggemari kelompok-kelompok musik indie. Itu tepatnya ketika youtube dan streaming internet mulai menjamur di kalangan anak muda. Payung Teduh, Efek Rumah Kaca, Angsa dan Serigala dan Float, mereka awalnya. Kemudian Banda Neira, White Shoes and Couples Company sampai Silampukau, Barasuara dan masih banyak lagi. Mereka itu, apa ya, seperti ke-kerenan dalam bentuk maksimal. Musik iya, sastra iya, kritik sosial juga iya. One package lah.

Maka, ketika tadi pagi, melalui akun fanpagenya, Banda Neira mengumumkan akhir perjalanan karyanya, saya seperti dilanda perasaan semacam sedih, patah hati dan “yahhh,,,kok bubar sih.” Entahlah, mungkin ada pengaruhnya dari banyaknya kabar kurang menyenangkan yang saya terima akhir-akhir ini. Tapi terlepas dari itu, beberapa nada dan lirik yang dibawakan oleh suara syahdunya Mbak Rara Sekar dan Mas Ananda Badudu ini pernah membantu batin saya melewati episode-episode yang tidak mudah di awal perjalanan.

Sampai sekarang lagu Di Atas Kapal Kertas selalu mengingatkan saya pada Raisa, gadis kecil dengan Pervasive Development Disorder Not Otherwise Specified (PDD NOS) bagian dari gangguan autistik yang pernah mengaduk-ngaduk perasaan saya antara kasihan, marah, sedih dan nelangsa. Dulu, karena keterbatasan pengetahuan yang saya miliki, sering sekali saya bersikap tak adil pada Raisa. Lagu ini secara sederhana menceritakan seorang anak yang bersembunyi di balik tirai, ingin keluar namun tidak bisa karena di luar sedang hujan. Tiba-tiba segala ke’baper’an yang melanda saya sewaktu Raisa tidak mau mendengar saya, sewaktu Raisa tidak mengalami banyak kemajuan, seperti terjawab. Bukan Raisa yang salah, saya yang kurang mengerti. Anak-anak dengan spektrum autistik seperti manusia yang terperangkap dan mencari jalan untuk keluar. Saya tersadar, bahwa terlepas dari segala ekpetasi saya padanya, tugas saya hanyalah membantu Raisa membangun kapal kertas agar ia bisa keluar melewati tirai di hari yang hujan, sedangkan yang bisa melewatinya, hanyalah Raisa sendiri.

Lagu Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti ini ultimate banget menurut saya, penutup yang paripurna di akhir masa karya. Lirik lagu ini seperti mengingatkan kita, bahwa suatu saat, yang patah akan tumbuh kembali, yang telah hilang bisa saja berganti, yang pernah jatuh akan bangkit lagi dan yang sia-sia tetap saja bermakna. Selanjutnya, adalah pengulangannya. Patah-tumbuh, hilang-ada, jatuh-bangkit, sia-sia -bermakna. Ini semacam pengingat bahwa, segala kekecewaan, kehilangan dan perasaan jatuh dan terbuang, tidak akan selamanya bersemayam. Sederhananya, adalah masa yang tetap harus dilalui, seberat apapun. Dan hidup, harus tetap berjalan dan baik-baik saja bukan? What’s done is done, what’s gone is gone, one of life’s lessons is always moving on.

Cyclamen

Cyclamen

Jadi, apakah postingan ini semacam curhat tipis-tipis?
Bukan. Bukan begitu maksudnya :D. Saya merasa saya perlu menjadi lebih santai sejak dalam pikiran, kalau perilaku sih sudah dari dulu. Intinya, saya sedang merasa perlu bermelankolia denga rasa sedih. Sedih karena Banda Neira berhenti, dan rasa sedih lain yang datang di hari-hari ini.

Selamat tinggal Banda Neira
Yang sekarang patah, akan ada masanya akan tumbuh lagi

0

Tentang Berbakti

Akan kuceritakan pada anak-anakku kelak, tentang kakeknya, bapakku, yang dalam naik turun kehidupannya, telah menunjukkan padaku bagaimana ia telah menjadi anak terbaik bagi kedua orang tuanya. Tuhan memilih bapak untuk membersamai kedua orang tuanya hingga mereka berpulang ke pangkuanNya, di atas pangkuan bapak.

Dulu, sewaktu aku kecil, mbah putri sering berkata kepadaku, ketika aku nakal dan sulit diberi tahu, kalau tiap malam bapak sering menangis karena merasa anak-anaknya sering membangkang. Entahlah itu benar atau tidak, namun sebagai anak-anak, aku tak percaya bahwa orang tua bisa menangis. Setelah dewasa, ketika Ramadhan kemarin bapak mentaujihi kami sekeluarga, baru aku sadar, barangkali yang dikatakan mbah putri ada benarnya. Bapak, menyimpan segala kekalutan batinnya dalam munajat panjang tanpa seorang pun manusia tahu. Mbah putri, sebagai ibunya, dulu mungkin merasakannya.

Bagiku, bapak bukanlah ayah yang sempurna. Terlalu banyak kekurangannya yang kutahu, dan tentu saja tak kusuka. Tapi bapak, adalah anak terbaik bagi kedua orang tuanya, setidaknya itulah yang kulihat. Ia adalah laki-laki biasa, yang dalam keterlalubiasaannya, mengharapkan orang tua dan keluarganya menjadi orang yang dekat dengan Tuhannya.

Hari ini, ketika akhirnya mbah kakung berpulang setelah dua bulan menjalani kesakitan fisik yang tak terkira, ingatanku dibawa pada masa meninggalnya mbah putri lima belas tahun yang lalu. Waktu itu aku baru beranjak remaja, dan tentu, tidak banyak orang dewasa yang membuatku mengerti keadaan. Yang kutahu, dalam kesakitan sakarotul mautnya, mbah putri tidak juga menghembuskan nafas terakhirnya. Sedangkan bapak berada dalam perjalanan pulang dari menjenguk orang tua ibuku yang juga sedang sakit. Bapak datang dan langsung menemani mbah putri. Detik itulah, mbah putri menghembuskan nafas terakhrinya, di atas pangkuan bapak.

Sekarang pun juga begitu. Dalam kelelahan fisik dan mental merawat mbah kakung, pilu duka memahami ketidakberdayaannya, membersihkan fesesnya, bapak masih berharap mbah kakung akan mengikuti tuntunannya. Pada jam-jam terakhirnya, bapak dan ibukku menemani mbah kakung dengan membaca Yasin di sampingnya. Beberapa saat setelahnya, kekakuan menjalari kaki hingga kepala mbah kakung yang diikuti dengan desahan nafas terakhirnya. Bapak tersedu setelahnya, menghubungi saudara-saudaranya. Aku merasakan, bukan kematian yang membuat bapak menangis, namun kenyataan bahwa ayahnya pergi tanpa menyebut nama Tuhan.

Aku belajar banyak hal tentang kisah bapak dan orang tuanya. Tentang bagaimana bakti seorang anak yang sesungguhnya pada orang tuanya. Bapak bukan anak yang paling berhasil secara materi dibanding saudara-saudaranya, namun ia adalah orang yang selalu ada bagi orang tuanya dan juga keluarganya. Diantara segala keterbatasannya sebagai anak, bapak berusaha mendorong orang tuanya dan keluarganya untuk mendekat pada Tuhan. Mencarikan guru mengaji, mengajak ikut berjamaah dan hal-hal di luar keduniawian yang membuatku semakin mencintainya, terlepas dari berapa banyak kenangan menyedihkan yang mungkin kudapat darinya. Atas tugasnya menanggung berbagai tanggung jawab itu, Tuhan memilihnya dan mengizinkannya melihat wajah terakhir kedua orang tuanya. Sesuatu yang tidak didapat saudara-saudaranya. Sesuatu yang menjadi pertanda, bahwa ia telah tuntas menunaikan amanah sebagai anak.

Kini aku terduduk sendiri dan lintasan pikiran berkelindan dalam semesta di kepalaku. Aku semakin meyakini, mengimani, bahwa keberkahan hidup terutama adalah dari bakti kita pada orang tua. Seberkekurangan apapun mereka. Kita selalu punya kesempatan untuk dunia dan seisinya, tapi orang tua, menjadi tua tanpa bisa mengingkarinya.

Pada diriku dan anak-anakku kelak akan kuceritakan, tentang bagaimana bapak berbakti pada orang tuanya.

Berbakti adalah, tentang mendekat pada Tuhan

caring-for-ill-or-aging-parents

13.12.16
Mbah Kung, teman masa kecilku
Berakhir sudah penderitaanmu di dunia
Sebab kesepian ternyata lebih menakutkan daripada kematian
Semoga Allah membuka jalanmu disana

0

Mengenal Tiga Tokoh Pendidikan dari Eropa

Semenjak keberangkatan sahabat sekaligus partner kerja saya, Zahra, ke Australia lima bulan lalu, selama lima bulan inilah kami intens berkoordinasi via aplikasi chat dan membicarakan banyak hal, yang menurut saya, begitu produktif dan serius dalam sebuah proses membangun apa yang kami cita-citakan bersama. Kami banyak berbicara tentang early childhood education dan hal-hal terkait apa yang dibutuhkan untuk menjadi preschool yang mampu menyatukan segala entitas pendidikan bagi perkembangan anak. Dari setiap pembicaraan inilah, dan apa-apa yang diceritakan olehnya kepada saya (karena kebetulan Zahra banyak mengambil workshop tentang early childhood education di Melbourne) saat kami bertukar pikiran, saya semakin mengenal tentang tiga tokoh besar dalam dunia pembelajaran dan metodenya yang hingga kini masih dianggap sangat relevan memunculkan manusia-manusia dengan kebermanfaatannya yang mendunia. Mereka adalah Maria Montessori, Rudolf Stenner (Waldorf Education) dan Loris Malaguzzi (Reggio Emilia Approach).

Tulisan ini terlepas dari kemampuan dan penguasaan saya terhadap metode yang ditelurkan tokoh-tokoh tersebut. Selain Montessori, saya belum pernah belajar secara resmi mengenai Waldorf dan Reggio Emilia dan hanya mengikutinya dari selancaran di dunia maya serta apa yang diceritakan Zahra kepada saya. Namun betapapun saya tak pernah berguru secara langsung tentang Waldorf dan Reggio Emilia, ketiga tokoh pendidikan tersebut telah banyak membuka perspektif saya dalam melihat segala sesuatu, bukan hanya tentang anak-anak. Barangkali ini seperti lintasan pikiran, bahwa niat saya belajar mengenai early childhod education tidak hanya membuat saya mempunyai kemampuan teknis baru. Lebih dari itu ternyata juga memperluas cakrawala saya dalam melihat segala aspek dalam kehidupan. Maka yang saya tuliskan disini mungkin lebih seperti hal-hal mengesankan apa yang saya temukan dari Montessori, Waldorf dan Reggio Emilia, bahkan ketika saya belum benar-benar mendalami kesemuanya.

1. Montessori
Maria Montessori, seorang dokter perempuan Italia yang juga reformer pendidikan itu, memiliki gagasan yang sangat ilmiah mengenai anak. Penelitiannya mengemukakan bahwa proses belajar dimulai dengan mendayagunakan seluruh kemampuan indra dan gerakan tubuh yang ada dalam diri seorang anak dan itu telah dimulai pada detik anak terlahir ke dunia. Dalam kondisi lingkungan yang mendukung, filosofi ini menekankan bahwa anak-anak secara alami mempunyai keinginan untuk belajar dan mengajari diri mereka sendiri. Dikenal dengan istilah The Absorbent Mind. Montessori inilah yang dikenal sebagai pioner dalam metode pendidikan yang berfokus pada anak (child centered).

Selama lebih dari seratus tahun, metode ini telah menyebar ke seluruh dunia dan banyak digunakan oleh para orang tua serta institusi pendidikan dalam memberikan pembelajaran pada anak. Filosofi “Biarkan Anak Menolong Dirinya Sendiri” ini menjadi dasar dari semua aktivitas dalam kelas Montessori. Tugas orang dewasa, adalah menyiapkan lingkungan pembelajaran dan menunjukkan tata caranya . Sementara anak akan memilih sendiri berdasarkan ketertarikannya tentang apa yang akan dipelajarinya. Mengoreksi kesalahan yang dilakukan anak sangat dilarang dalam metode ini. Selain merupakan bagian dari cara menghargai usaha anak, tidak mengoreksi kesalahan adalah juga untuk membiarkan anak mengembangkan cara berpikiranya sendiri dan pada poin lain adalah tentang kesabaran, usaha keras, self correcting serta kepuasan yang dapat dirasakan anak. Detik dimana anak dapat melakukan sesuatu dengan benar oleh usahanya sendiri, itulah yang disebut Montessori dengan kesuksesan.

Di dalam kurikulum Montessori terdapat lima area aktivitas pembelajaran, yaitu ketrampilan hidup yang dikenal dengan istilah EPL (Experience of Practical Life), Sensori, Matematika, Bahasa dan Culture (budaya, geografi, botani dan zologi, sains). Untuk kesemua subjek tersebut terdapat standar operasional yang sangat jelas dan mendetail dalam pelaksanaannya, termasuk dengan menggunakan material khusus yang dibuat oleh Montessori. Misalnya saja adalah area ketrampilan hidup. Dalam area tersebut, anak diberikan contoh mulai dari cara bersikap (berbicara santun, mengangkat kursi, membuka menutup pintu,membuka buku, dll); merawat diri (memakai melepas baju, makan, minum, dll); sampai dengan melakukan aktivitas-aktivitas keseharian yang ternyata mengembangkan proses belajar anak-anak seperti menuang air, memindahkan benda dengan alat, dan lain sebagainya. Peran guru -yang oleh Montessori disebut dengan Directress ini- adalah sebagai penyedia lingkungan belajar, pengarah dan yang paling penting, observer. Anak, menjadi pusat aktivitas di kelas dan mempunyai kebebasan untuk memilih apa yang ingin mereka kerjakan. Dan walaupun orbit berpusat pada anak, kemampuan directress dalam melaksanakan tugasnya menentukan keberhasilan sebuah pembelajaran dalam kelas Montessori.

Google founders, Sergey Brin dan Larry Page mengungkapkan betapa pendidikan Montessori yang mereka dapatkan memberikan pengaruh yang besar bagi keduanya dalam mendesain sistem di Google. Montessori selalu menekankan bahwa kebebasan adalah yang paling penting bagi seorang anak. Tanpa kebebasan, anak tak akan mampu mengembangkan kepribadiannya yang di masa depan kelak akan digunakan untuk menjadi bagian masyarakat sebagai orang dewasa. Montessori mendorong anak-anak berkembang sesuai dengan pada tingkat mana mereka berada. Filosofi ini harus selalu dipahami oleh setiap pengguna metode ini. Karena itulah, hingga kini, Google masih dianggap sebagai salah satu perusahan terunik di dunia karena memberikan kebebasan karyawannya untuk menggunakan 20% waktu kerja bagi ketertarikan personal.

2. Waldorf Education
Sekitar dua tahun yang lalu, dunia dikejutkan oleh fakta bahwa seorang technology guru seperti Steve Jobs ternyata amat membatasi penggunaan gadget dan teknologi di rumahnya dan bagi anak-anaknya. Orang membayangkan bahwa pendiri Apple ini akan memasang Ipad dalam ukuran besar di rumahnya dan memenuhi sudut rumah dengan segala yang bernama teknologi terbaru. Walter Isacson, penulis biografi Steve Jobs mengungkapkan bahwa setiap malam, Jobs dan keluarganya duduk di meja makan dan mendiskusikan buku, sejarah dan banyak hal lain tanpa ditemani teknologi apapun. Steve Jobs bahkan mengirim anak-anaknya untuk belajar di sekolah Waldorf, sekolah yang hingga kini dikenal sebagai sekolah non teknologi. Belakangan muncul tren di kalangan orang tua Silicon Valley -yang dikenal sebagai distrik teknologi itu- untuk mengirim anak-anaknya ke sekolah dengan teknologi terbatas.

Waldorf Education, diperkenalkan oleh Rudolf Steiner seorang filusuf, arsitek,seniman dan social reformer dari Austria di awal abad ke 20. Metode pengajaran Waldorf menekankan pada penggunaan dan pengembangan imajinasi dan seni dalam setiap aspek akademik yang dipelajari. Musik, tari, teater, sastra bukan hanya subjek yang dibaca dan diujikan namun juga dialami. Pengalaman itu, menurut Steiner dapat mengembangkan kapasitas intelektual, emosi, fisik dan spiritual yang menjadi bekal seseorang sebagai bagian dari masyarakat.

Di dalam kelas Waldorf, teknologi digital hampir tak ditemukan pada tingkat usia dini dan dasar. Setiap subjek diajarkan melalui musik, gerakan, tarian, lukisan, ritme dan aktivitas tangan (hands on activity) menggunakan material yang sepenuhnya berasal dari alam. Di kelas yang terlihat sangat artistik, semua material terbuat dari kayu, anak-anak melakukan semua aktivitas kehidupan seperti memasak, menanam, melukis,menjahit, menyulam, mengamati binatang, membaca sejarah dan lain sebagainya. Pada level menengah dan menengah atas, teknologi mulai diperkenalkan seperti komputer bukan hanya tentang bagaimana cara menggunakannya, namun juga berlatih bagaimana membuatnya.

3. Reggio Emilia Approach
Pasca Perang Dunia II, dunia dihadapkan pada berbagai macam pemikiran untuk mencari sistem yang mampu mengatasi dampak yang muncul pasca perang. Salah satunya dalam bidang pedidikan. Loris Malaguzzi menciptakan sebuah pendekatan yang kini dikenal sebagai Regio Emillia Approach. Metode yang dinamakan dengan nama kota tempat diciptakannya di utara Italia ini, tidak sepenuhnya berdiri sebagai metode yang rigid dimana orang harus menempuh pendidikan khusus untuk dapat menguasainya. Reggio Emillia dapat diterapkan oleh siapa saja dan dimana saja. Karena itulah pengadaptasinya biasa menyebut dengan Reggio Inspired.

Prinsip yang mendasari Malaguzzi membuat pendekatan ini sebenarnya tidak berbeda jauh dengan dua pendahulunya, Montessori dan Steiner. Malaguzzi berpendapat bahwa anak-anak mempunyai kemampuan untuk membangun cara belajarnya sendiri, menggunakan bahasa untuk bermain, belajar dengan lingkungan dan peran orang dewasa sebagai guide.

Hal yang membuat Reggio Emillia menjadi sebentuk inovasi dalam dunia pendidikan anak adalah kedekatannya dengan alam. Hampir semua material yang digunakan dalam Reggio Emilia adalah benda-benda alam di sekitar kita seperti batu, ranting, bunga dan dedaunan. Dalam sebuah kunjungannya di Sekolah Regio Emillia di dekat University of Melbourne, Zahra bercerita tentang bagaimana kepedulian mereka terhadap sustainibility begitu terasa walaupun mereka merupakan institusi yang nampak jauh dari tanggung jawab atas lingkungan. Dalam workshop yang ia ikuti, selain pembahasan tentang filosofi, yang dilakukan adalah membuat material dari lingkaran bekas isolasi, lakban, kardus bekas, dan barang-barang lain yang dengan mudahnya kita temui dan buang di rumah. Jika selama ini kita berpikir suatu material adalah tepat bagi anak, maka di Reggio Emilia kita diajak berpikir bagaimana membuat material tak terpakai tersebut layak dijadikan alat pembelajaran bagi anak. Ide yang sebenarnya sederhana dan banyak kita tahu namun sepenuhnya terasa baru.

Interlude

Setelah sedikit mempelajari apa yang dibawa ketiga tokoh tersebut, saya banyak menjumpai persamaan dalam nilai-nilai yang diajarkan oleh ketiganya. Nilai-nilai itulah barangkali yang membentuk kultur kecerdasan sebagian orang barat hingga saat ini. Ketiganya adalah metode non maintream yang membebaskan para pembelajarnya belajar sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Tidak ada grading system yang membuat anak-anak terdidik berkompetisi sejak dini. Montessori tidak memuji anak secara berlebihan akan keberhasilannya, tidak menyalahkan atas kesalahannya dalam belajar dan tidak mengenal sesuatu bernama menang kalah. Tidak ada reward dan punishment dalam bentuk apapun di kelas Montessori. Yang ada hanyalah sebuah kalimat ” You did a good job” atau “you can try next day“. Di kelas Waldorf, anak-anak juga tak pernah mengenal apa yang disebut dengan pekerjaan rumah atau homework, namun mereka dilatih untuk melakukan dan menyelesaikan project. Begitupun di sekolah Regio Emillia.

Dengan kebebasan semacam itu, anak-anak menumbuhkan dirinya, karakternya secara bebas pula. Mereka tak terbiasa menanggung beban atas ekspektasi orang lain. Sebaliknya, kebiasaan itu membuat anak-anak secara alamiah mempunyai ketertarikan untuk belajar bersama lingkungan di sekitarnya. Dari metode-metode inilah saya semakin meyakini, bahwa sebaik-baik pendidikan bagi seorang anak adalah kemandirian dan kedekatan dengan alam.

Melalui dua perang dunia bagi Montessori dan Steiner serta satu perang dunia hebat bagi Malaguzzi membuat mereka menyadari bahwa nilai-nilai perdamaian haruslah ditanamkan pada anak manusia sejak mereka lahir. Pada metode ketiganya ketertarikan pribadi dihargai dengan sungguh-sungguh, mereka menciptakan pola berpikiranya sendiri daripada menerima dan melakukan sesuatu yang sama. Tidak adanya reward and punishment membuat anak-anak tidak terbiasa berkompetisi, sebaliknya mereka hidup dalam lingkungan yang penuh kolaborasi.

Di kelas Montessori, mixed age class dimana anak-anak dengan usia berbeda disatukan membuat proses interaksi menjadi lebih dinamis. Anak berusia lebih tua akan belajar membimbing anak yang lebih muda, sebaliknya yang lebih muda juga akan belajar menghormati yang lebih tua. Di sekolah Waldorf, penekanan terhadap seni dalam proses akademik membuat anak-anak menunjukkan kreatifitasnya tanpa harus seseorang mengasah bakatnya. Sebab imajinasi dan kreatifitas yang bermanfaat memang muncul dari rahim kebahagiaan.

Epilog

Hingga saat ini, saya mungkin adalah Montessorian, sebutan bagi mereka yang mendalami dan menggunakan metode Montessori. Namun dari mempelajari metode ini saya menyadari satu hal, semakin sebuah metode itu didalami, semakin memberikan pemahaman bahwa ada banyak metode yang sama baiknya berkembang di luar sana. Waldorf, Reggio, Froebel, High Scope dan masih banyak lagi. Dan daripada berpikir bahwa satu metode lebih baik dari yang lain, mengambil mana yang baik diantaranya untuk dikolaborasikan terlihat lebih bernilai. Sebab metode, seperti apapun yang dibuat oleh manusia, tak terlepas dari kekurangan.

Saya, seperti juga banyak orang di negeri ini, lahir dan tumbuh dalam sebuah sistem yang menafikkan ketertarikan individu di dalamnya. Yang harus berlaku sesuai dengan aturan yang ada, yang terbiasa menggambar pemandangan yang sama, yang ketakutan jika mendapat peringkat tidak bagus, yang tidak percaya diri saat karyanya tidak sebaik milik temannya dan yang pada akhirnya menganggap bahwa belajar adalah soal bertahan agar tidak jatuh, bukan tentang menemukan pengetahuan baru. Mungkin saat dewasa banyak yang bisa berubah, tapi percayalah, apa yang ditorehkan di masa kecil membekas di sepanjang usia.

Itulah kenapa belajar tentang ini memberikan pada saya banyak sekali perspektif baru tentang hidup. Saya mengurangi diri melihat anak-anak dan manusia secara keseluruhan sebagai entitas perbandingan. Tidak satu pun manusia yang dapat dibandingkan dengan manusia lain dalam hal apapun. Mereka berdiri dengan garis takdirnya masing-masing. Dan karena itu pula, saya juga belajar menghargai seseorang bukan hanya seperti apa yang tampak dari luar namun juga kemungkinan-kemungkinan penyebab yang terkandung di baliknya.

Semoga saja, apa yang berubah dari kita, orang dewasa, menjadikan anak-anak mampu tumbuh sesuai fitrahnya sebagai manusia. Dan kelak memunculkan generasi-genarasi yang menjadikan tantangan bukanlah hal yang layak untuk ditakuti. Generasi-generasi yang memelihara impian bukan sebagai beban, melainkan harapan yang diwujudkan. Generasi yang bagaimanapun perpecahan muncul di bumi ini, tetap selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kedamaian dan saling menghargai bagi umat manusia.

Selamat mendidik generasi
Selamat Hari Guru 🙂

0

When Breath Becomes Air

Seorang filusuf Yunani pernah berkata, nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua adalah dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua. (Catatan Seorang Demonstran- Sok Hok Gie)

Filusuf Yunani yang disebutkan Gie tersebut mungkin ada benarnya. Tanpa membuat urutan semacam itu, dilahirkan tapi mati muda, bukanlah apa yang disebut dengan kesialan. Tentu tak layak menyebut kehidupan dengan kata kesialan, namun pilu duka karena nasib membawa seseorang pada kematian di masa mudanya bukanlah sesuatu yang layak untuk lama-lama diratapi. Sebab seperti yang dikatakan Gie, mati muda barangkali adalah nasib terbaik. Gie pun menjemput ujung akhirnya ketika usianya juga masih muda.

When Breath Becomes Air adalah kisah tentang hidup yang dijalani dengan bayang-bayang kematian di saat segala mimpi tentang kehidupan dan masa depan berada di depan mata. Paul Kalanithi adalah seorang dokter bedah syaraf yang telah menjalani pelatihan panjang menjadi ahli bedah syaraf dari sebuah universitas ternama. Kurang dari satu setengah tahun, pelatihannya akan berakhir dan ia akan menjadi seorang ahli sekaligus ilmuawan bedah syaraf. Masa depan tampak begitu menjanjikan, sampai dengan kanker datang mengubah segala rencana hidunya. Memoar ini ditulis pada hari-hari Kalanithi berjuang melawan kankernya. Perubahan dari seorang dokter yang membantu pasien menjadi pasien itu sendiri, memberikan sebuah kontemplasi mendalam baginya tentang makna kehidupan. Jika sudah begini, apa sesungguhnya yang membuat hidup layak untuk dijalani?

1163565_f3df296e-1a15-4681-b2df-8542b98b04f9
Pada awal kisahnya, Kalanithi banyak bercerita tentang bagaimana kehidupan masa kecilnya di Kingsman, sebuah kota yang berhadapan dengan gurun di Arizona telah membentuk dirinya. Tinggal dikelilingi bentangan gurun dan binatang yang menghuninya tidak membuat Kalanithi menjadi anak yang miskin pemikiran. Sastra telah membentuk pemikirannya, dan terlebih dari itu, ibunyalah yang menjadikannya seperti itu.

Seperti saat usia sepuluh tahun, ibunya telah menyuruhnya membaca 1984, menyediakan buku-buku milik sastrawan dunia seperti Gogol,Dickens,Twain atau Austeen dan mengantarnya berkendara berkilo-kilometer jauhnya untuk mengikuti ujian SAT. Pada satu bagian, Kalanithi menceritakan bagaimana ibunya menjadi fenomena karena berhasil mengubah sistem pendidikan di Kingsman yang kemudian memunculkan sebuah perasaan bahwa yang menjadi definisi cakrawala bukan lagi rangkaian pegunungan yang membatasi kota, melainkan apa yang membentang di baliknya. Paul Kalanithi, tumbuh menjadi seorang laki-laki pemikir hingga akhirnya ia diterima di Stanford.

Di Stanford, Paul Kalanithi mengambil jurusan Sastra Inggris dan Biologi Manusia. Kedua bidang tersebutlah yang berperan besar dalam proses pencariannya tentang makna hidup, ketersambungan antara biologi, moralitas dan filosofi sekaligus rasa penasaranya terhadap mortalitas. Ia mempelajari sastra dan organ manusia secara bersamaan. Yang kemudian memunculkan sebuah kesimpulan sederhana, kesusastraan memberikan berbagai penuturan mengenai makna menjadi manusia, maka otak adalah mesin yang entah bagaimana memungkinkan hal itu. Kegelisahan-kegelisahan itu, membawanya mendalami ilmu bedah syaraf.

Di bagian perjalannya mempelajari ilmu dan menjadi dokter, Kalanithi banyak memberikan cerita dan narasi-narasi mendalam tentang bagaimana menjadi dokter itu sendiri. Terlalu banyak mengahadapi darah, kegagalan dan kelelahan beban kerja, secara perlahan dapat menyebabkan memudarnya kesakralan menyentuh organ manusia dan pentingnya hubungan antar-manusia, dalam hal ini adalah dokter dan pasien. Pasien, apalagi yang telah menjalani bedah syaraf, akan menjalani hari yang tidak sama seperti sebelumnya. Mereka dihadapkan pada sebuah identitas baru yang barangkali jauh berbeda dari yang sebelumnya. Kelumpuhan setelah dulunya adalah seorang olahragawan, kecacatan bahasa setelah dulunya adalah pengajar, dan lain sebagainya. Di persimpangan-persimpangan kritis di antaranya, pertanyannya bukan hanya apakah pasien hidup atau mati, melainkan jenis kehidupan seperti apakah yang patut dijalani setelahnya.

Melalui kedalaman penuturannya mengenai dunia profesi yang dijalaninya setidaknya Kalanithi mengajak kita untuk berpikir, bahwa apa yang disebut panggilan hati memungkinkan seseroang melihat ruang-ruang tersembunyi dalam hubungan antar manusia yang tak hanya sekedar memberi dan menerima. Lebih dari itu adalah, memberi arti pada kehidupan orang lain. Ini disampaikannya tentang cita-cita tertingginya dalam menjadi seorang dookter. Keunggulan teknik tidaklah cukup. Sebagai dokter residen, cita-cita tertinggiku bukanlah menyelamatkan nyawa orang-orang -toh semua pada akhrinya akan meninggal- melainkan membimbing pasien dan keluarganya agar bisa memahami kematian atau penyakit yang diderita.

Bagian terakhir ketika Kalanithi menceritakan perubahan statusnya dari dokter menjadi seorang pasien kanker seperti menunjukkan betapa semakin melemahnya kondisi fisiknya. Tulisannya kadang meloncat-loncat, tanda bahwa ia amat bekerja keras untuk menyelesaikannya. Yang menarik bukan hanya penderitaan yang dialaminya melainkan perasaan-perasaannya dalam menerima hadirnya penyakit dan bayang-bayang kematian di depan mata. Ia mengalami krisis identitas, penyangkalan, depresi hingga kembali pada kehidupan relijius yang telah sekian lama ia tinggalkan. Hingga kemudian memutuskan menjalani kehidupannya di sisa waktu dengan penuh arti, sebab walaupun sekarat, ia masih hidup sampai benar-benar mati. Apa yang dulu banyak dirasakan oleh para pasiennya.

Epilog

Bagi saya, buku ini banyak memberikan jalan perenungan pada hari-hari dimana saya dilanda duka yang mendalam atas kepergian sahabat-sahabat saya. Kami yang masih sama-sama muda, sama-sama berjuang, namun segala akhir berbeda waktunya. Kematian adalah sebuah kepastian. Dan sebelum ia benar-benar datang, kita selalu punya kesempatan untuk mencari kehidupan macam apakah yang seharusnya kita jalani.

Bagian terakhir dan epilog dari Lucy Kalanithi membuat rasa sesak dalam dada saya pada akhirnya tertumpahkan dalam sedu sedan air mata. Itu adalah ketika Paul membersamai putrinya Cady di hari-hari terakhirnya. Cady yang saat Paul meninggal berusia delapan bulan. Kalimat yang paling mengharukan adalah bagaimana Paul yang fisiknya melemah membersamai Lucy saat melahirkan, sebab dimasa yang akan datang akan ada begitu banyak ketidakhadirannya dalam hidup Lucy dan putrinya.

Paul, Lucy & Cady Kalanithi

Paul, Lucy & Cady Kalanithi


Saya membayangkan Cady menjadi besar tanpa menyimpan memori sedikitpun tentang ayahnya. Membayangkannya menyanyikan Dance With My Father di depan potret ayahnya tanpa pernah mengingat ia pernah bercengkrama bersama ayahnya. Inilah momen yang membawa saya pada sebuah refleksi sederhana, apa jadinya saya jika tanpa Bapak, dan juga Ibu.

Lucy banyak bercerita bagaimana sesungguhnya keluarga dari pasien pun seringkali sama berjuangnya, sama menyangkalnya dan sama bingungnya dengan pasien itu sendiri. Terutama adalah bagi pasangan pasien. Namun kejujuran pasien dalam menghadapi penyakitnya, terkadang mengalihbentukkan segala keputusasaan menjadi cinta dan kehangatan diantara keluarganya. Hal yang menjadikan mortalitas sebagai sesuatu yang lebih mudah dipahami.

Paul Kalanithi wafat pada 2015 ketika usianya tiga puluh enam tahun. Setelah seumur hidupnya belajar mengungkap misteri dibalik kematian. Meninggalkan istri, bayi putrinya dan keluarga yang amat mencitainya.

Ketika nafas menjadi udara, dan jiwa terangkat dari persemayamannya, yang tersisa hanyalah kenangan dalam pusara keabadian