0

Membiarkan Anak Marah

Cerita ini terjadi kemarin lusa, di sebuah forum kecil berisi saya, Kak Y dan Kak Z. Kak Y yang kami hormati dalam forum itu mempunyai dua orang anak perempuan, tujuh dan tiga tahun sedangkan Kak Z memiliki seorang anak laki-laki juga berusia tujuh tahun dan anak perempuannya berusia empat belas bulan. Kami berkumpul bersama disitu. Di tengah berjalannya agenda, suami Kak Y mengajak dua orang anaknya untuk pergi namun hanya si bungsu yang mau ikut. Sedangkan kakaknya asyik bermain dengan putra Kak Z. Tidak lama kemudian, si bungsu dan ayahnya kembali dengan membawa sebuah es krim. Mengetahui adiknya datang membawa es krim yang dibuka di dekatnya sedangkan ia tidak, si kakak langsung menangis setengah tantrum, sambil menghentak-hentakkan kakinya. Kak Y kemudian memangku si sulung dan dengan lembut memintanya untuk bersabar juga menghentikan tangisnya sambil mengelus-elus pipinya. Tangis itu mengeras hingga akhirnya perlahan-lahan mereda walaupun tidak sepenuhnya berhenti setelah si sulung dijanjikan akan dibelikan es krim juga setelah acara selesai.
Tanpa bermaksud membuat perbandingan, tapi Kak Z adalah orang lain yang juga saya hormati karena kapasitasnya menjadi seorang ibu yang mampu menjalin hubungan sangat mengasyikkan dengan anak laki-lakinya yang berusia tujuh tahun. Sepulangnya, Kak Z berbicara pada saya tentang bagaimana seharusnya si Kakak tidak perlu ditenangkan untuk disuruh bersabar sebab dia, memang sedang marah. Dialog ini kemudian membawa kami pada cara-cara parenting yang dipakainya dan teori-teori perkembangana anak yang secara akademik juga saya pelajari.

Apakah memperlakukan anak dengan kelembutan semacam itu terlihat wajar? Tentu saja, atas nama kasih sayang, meminta anak untuk berhenti menangis dan menuruti permintaannya adalah hal yang sepenuhnya wajar. Namun segala sesuatu yang nampak wajar tidak sepenuhnya benar.

Siapapun barangkali tak bisa membenarkan sikap ayah yang hanya membelikan adik es krim tanpa membelikan kakaknya juga. Apalagi es krim tersebut dimakan di rumah, bukan di tempat lain yang pada akhirnya kakak juga bisa melihatnya. Demi apapun, saya tidak bisa menerima sikap seperti itu sekaligus tidak mau diperlakukan seperti itu pula. Hal ini mungkin sepele, tapi tentu saja, apa yang diterima anak-anak dengan sungguh-sungguh, selalu tidak pernah jadi sepele lagi. Ada hal-hal yang akan membekas dalam memori dan perilaku mereka.

Marah, sebenarnya tidak salah. Marah adalah bagian dari ekspresi yang dimiliki manusia yang oleh karena konotasinya yang begitu buruk maka harus segera dihindari. Orang dewasa mungkin mampu berpikir seperti itu -walaupun implementasinya jelas juga sulit-. Tapi anak-anak tidak. Mereka merespon segala sesuatu secara alamiah berdasarkan informasi yang diterimanya. Maka ketika seorang anak merasa diperlakukan tidak adil, dipaksa melakukan yang bukan kehendaknya, dan hal-hal lain yang tidak sesuai dengan keinginannya, yang terjadi adalah marah lalu menangis.

Berapa dari kita berfokus pada apa yang menyebabkan anak marah dan menangis daripada bagaimana cara menghentikan tangisnya? Tidak banyak. Berapa dari kita yang saat anak menangis menanyakan apa yang menyebabkan mereka seperti itu daripada menduga-duga sendiri? Tidak banyak. Berapa pula dari kita yang mengajak anak berpikir bagaimana cara agar ia tak marah dan menangis daripada sekedar memberi solusi? Tidak banyak. Bertemu dengan berbagai macam tipe orang tua membuat saya berani menyimpulkan, entah atas nama kesabaran atau ketidaksabaran itu sendiri, orang tua Indonesia masih terjebak dalam stereotip bahwa menghentikan anak marah dan menangis itu baik dan penting.

Di Child Care, saya dan teman-teman menegaskan agar tidak melarang anak meluapkan amarahnya. Marah adalah hak anak yang harus kami hargai sebagai bagian dari prinsip “Respect The Child“. Kami bahkan mengajarkan seperti apa ekspresi marah dan tentu saja menanyakan kepada mereka alasan-alasan dibalik kemarahannya. Biasanya mereka akan bercerita apa yang membuatnya marah. Dan kami akan menanyakan apa yang bisa membuatnya untuk tidak marah lagi, juga menawarkan solusi lain jika hal tersebut tak mungkin dilakukan. Kita hanya harus menegaskan bahwa ada batasan-batasan yang tidak boleh mereka langgar sekalipun sedang marah yaitu membuang-buang barang, menyakiti teman dan menyakiti diri sendiri.

Ini adalah dialog yang kami lakukan dengan D, seorang anak laki-laki yang akhir-akhir ini datang dengan mood kurang bagus akibat ketidaktuntasannya akan sesuatu yang terjadi di rumah.

D : “Aku mau pulang” sambil menangis
G : “Kenapa?”
D : “Mau sama ayah” merengek
G : “Kenapa mau sama ayah?”
D : ” Mau sama ayah. Ayah kemarin jalan-jalan ke hotel naik Nissan sama Ayah.” (Rupanya masih ingin liburan).
G : “Ayah dimana sekarang?”
D : “Ayah kerja” sesenggukan
G : “D tau tempat kerjanya ayah?”
D : Menggeleng
G : “Kalau ayah kerja bolehkah D kesana?”
D : Berpikir lalu Menggeleng
G : “Kalau ayah sedang kerja, D seharusnya sedang apa?”
D : “D sekolah”
G : ” Good, you are in school now’
D : Mulai diam
G : “Masih marah?”
D : Diam
G : “Kalau masih marah boleh duduk dsini dulu ya atau mau menangis disini juga tidak apa-apa”
D : ” Nggak mau”
G : ” Lalu maunya bagaimana”
D : ” Mau main sama R”
G : “Boleh, tapi marahnya diselesaikan dulu ya.”
D : “Sudah”
G : “Are you happy now?”
D : Mengangguk dan beranjak mengejar temannya sambil tertawa-tawa

Seorang anak lain, sebutlah B, mengajari kami tentang bagaimana itu kesabaran dalam pandangan anak. B mempunyai kecenderungan Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD) yang membuatnya menjadi anak yang paling tidak bisa sabar dan menahan amarahnya di kelas. Sebagaimana simptom yang biasanya nampak dalam ADHD, B tidak bisa mengantri, tidak bisa berkonsentrasi terhadap aktivitas lebih dari dua menit, sulit untuk duduk diam, membuang barang dan memukul teman. Dia bukannya mau melakukan itu semua, namun secara sederhana dia tidak bisa untuk menghindarinya. Dan apakah cukup bagi kami untuk mengahadapinya dengan kesabaran sekaligus memintanya untuk lebih bersabar? Tidak, kami justru bersikap sangat tegas terhadapnya.

Setiap melakukan aktivitas yang dilakukan bergiliran, seperti cuci tangan misalnya, B yang tidak bisa mengantri biasanya akan didahulukan. Namun perlahan-lahan kebiasaan itu dihilangkan dengan membuatnya mendapat giliran kedua, ketiga hingga terakhir. Tentu saja, B akan tantrum, berteriak-teriak, menangis. Kami akan biarkan ia meluapkan kemarahannya selama itu tidak membahayakan hingga ia mendapat giliran dan diam seketika setelahnya. Suatu ketika, B tak bisa menahan diri untuk memukul teman dan melempar segala sesuatu di dekatnya, kami tak pernah mentolerir perbuatan seperti itu. B perlu duduk dan menenangkan diri, memahami kesalahannya, mengambil sendiri semua yang dibuangnya dan meminta maaf pada teman yang sempat disakitinya. Tentu saja, dia melakukannya dengan menangis, tidak fokus dan seringkali karena setengah kami paksa, tapi kami terus konsisten melakukannya.

Itu adalah apa yang terjadi ketika awal B datang ke tempat kami. Sekarang, setelah serangkaian ketegasan yang berbulan-bulan diterapkan padanya, tanpa kami sadari, B menumbuhkan kebiasaan yang sangat berbeda dari sebelumnya. B sudah terbiasa menunggu giliran dan antri. B merapikan semua mainannya sendiri, ia bahkan menyapu dan mengelap saat menumpahkan sesuatu, membersihkan halaman dan sedikit terobsesi dengan pekerjaan rumah. Hal yang tak terduga lainnya adalah B menjadi anak yang sangat penyayang dengan temannya. Ia masih sering bertengkar dengan temannya, tapi B selalu baik terhadap adik kecil dan teman perempuan. Walaupun pada beberapa subjek yang membutuhkan konsentrasi lebih ia masih belum sepenuhnya bisa mengikuti, tapi B mampu memperpanjang rentang fokusnya. Kini ia bisa melakukan satu aktivitas selama lebih dari lima belas menit.

Bagaimana kami mengajarkan kesabaran pada anak yang paling tidak sabar seperti itu? Gunakan ukuran, sebab anak-anak sebenarnya hanya mampu menerima sesuatu yang disampaikan secara konkret. Apakah kesabaran itu? “Sabar adalah ketika kamu ada di urutan ketiga, kamu mau menunggu urutan ke satu dan kedua selesai.” “Sabar adalah saat kamu marah kamu memilih untuk duduk sendiri, tidak merusak barang dan menyakiti teman.” “Sabar adalah saat kamu ingin apa yang dibawa temanmu, kamu tidak merebutnya dan mau menunggunya selama sepuluh detik.” “Sabar adalah saat kamu sudah lapar tapi kamu mau duduk,berdoa dan cuci tangan dulu.” Dan hal-hal lain yang disampaikan dengan sangat konkrit, singkat, jelas dan terukur.

Apa yang kami dapat dari kebiasaan semacam itu? Kami mampu membangun lingkungan yang justru terhindar dari kemarahan-kemarahan. Setiap anak datang membawa moodnya masing-masing dari rumah yang tidak selalu bagus. Anak-anak punya pilihan untuk mengeluarkan segala perasaannya. Mereka yang sedang senang biasanya akan banyak bercerita. Mereka yang sedih biasanya akan menangis dan rewel, dan kami menghargainya. “It’s ok if you wanna cry.” Hasilnya, anak-anak jadi lebih suka bercerita dan kami jarang menemukan anak-anak tantrum.

Tidak, tulisan ini tidak sedang mengkritisi gaya parenting apapun, itu di luar kemampuan dan pengalaman saya. Tulisan ini hanya membandingkan apa yang banyak saya lihat dan apa yang saya pelajari. Tentang betapa banyaknya konsep terlalu abstrak yang kita berikan pada anak-anak tanpa benar-benar tahu apakah mereka mampu menterjemahkannya atau tidak.

Membiarkan anak marah -dan bukan marah-marah- bukanlah hal yang salah. Yang salah adalah ketika orang dewasa tak memahami apa yang membuatnya marah dan menutup peluangnya untuk meredakan kemarahannya sendiri.

temper-tantrums-in-aspergers-children-during-the-holidays

Iklan