Maternity Journey

Saya dan Arief menikah setelah melalui hanya dua kali pertemuan. Sesaat setelah kami menikah, kami harus menjalani kehidupan awal pernikahan di sebuah kota -tempat Arief berdinas-yang kami berdua belum mengenalnya sama sekali, Atas kehendak Tuhan, saya diberi anugrah kehamilan sebulan setelah kami menikah, itu berarti, saya tidak melalui periode kosong. Membangun kehidupan baru dengan orang yang belum sepenuhnya dikenal (tentu saja walaupun dalam banyak sisi kami sangat mirip, kami tetap perlu beradaptasi), kota asing dan kehamilan yang datang lebih kepada begitu tiba-tiba, membuat saya kembali pada titik dimana saya perlu menemukan diri saya kembali.
Arief selalu berkata, menikah artinya kita siap menjadi orang tua, terlepas dari ia pun tidak menyangka akan secepat ini. Beberapa orang terdekat kami sedikit terkejut, beberapa terpana dan mengatakan betapa bahagianya kami diberi kehamilan cepat saat orang lain begitu lama menanti. Tapi berbagai lintasan pikiran di kepala saya kala itu membuat saya sulit merasakan rasa bahagia yang membuncah walaupun hari-hari tetap kami lalui dengan penuh tawa. Perubahan fisiologis nyatanya bukanlah sekedar sakit yang dilalui kemudian sembuh. Pada banyak sisi, it hitted me so hard.

Saya menjalani trimester pertama kelahiran di sebuah rumah kontrakan petak yang panas, bau selokan dan kamar mandi yang menggenang karena bertanah miring dan letak lubang pembuangannya di bagian atas. Itu adalah bagian ketidaknyamanan, tapi bukan itu yang membuat pikiran saya sering kalut. Senyaman apapun rumah, barangkali pada tiga bulan pertama setiap ibu hamil akan dilanda kekalutan. Perubahan fisiologis dari seseorang yang amat bugar menjadi orang dengan masuk angin yang tak sembuh-sembuh, pusing kepala yang mennjadi teman, muntah yang tiba-tiba menjadi kebiasaan adalah rangkaian perjuangan yang tidak mudah untuk dihadapi. Dan pada fase ini, ya, saya sering mengeluh. Saya sering berkata bahwa rasanya seperti sakit tapi tidak tahu kapan kamu akan sembuh.

Sesuatu kemudian mengalihkannya ketika disini saya mulai punya teman (untuk pertama kalinya saya bergaul dengan perkumpulan ibu-ibu) dan mulai tahu tempat-tempat menarik untuk didatangi. Walaupun masih diliputi morning sickness, saya beberapa kali mengikti Arief pergi ke luar kota. Hingga puncaknya di minggu kedelapan saya terbang ke rumah orang tua di Jawa (saya di Samarinda) melalui rute Samarinda-Balikpapan-Bandung-Depok-Madiun-Surabaya-Balikpapan-Samarinda dalam waktu sepekan. Sangat melelahkan, namun di luar dugaan, mual dan pusing saya mereda, Saya merasa sehat dan terlihat lebih sehat dari beberapa orang biasa yang kelelahan.

Lamat-lamat mulai saya sadari bagaimana tubuh ini dan janin saya merespon banyak hal. Perjalanan menjadi ibu sedang mendatangi saya. Hati saya mulai berdegup ketika melihat foto hasil USG menandakan ada kehidupan lain daam tubuh saya. Dan saya berterima kasih padanya, yang saat itu baru sebesar buah anggur karena telah sangat kooperatif dengan tubuh dan keadaan saya. Begitulah sedikit-sedikit saya menumbuhkan rasa syukur saya, tidak serta merta memang. Saya belajar mengikhlaskan apa yang terjadi pada tubuh saya dan begitulah rasa cinta terhadap janin saya bertumbuh menjadi doa-doa dan pengharapan.

Unable to perceive the shape of you
I find you all around me
Your Presence fills my eyes with your love
It humbles my heart
For you are everywhere

-The Shape of Water-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s