Memayu Hayuning Bumi

Dalam membuat sebuah lembaga pendidikan atau sederhananya disebut sekolah, menentukan filosofi pendidikan yang dianut menjadi dasar pembentukan visi, misi, tujuan dan segala proses pembelajaran yang berlangsung di dalamnya. Bagi saya filosofi seharusnya mencakup hal-hal besar dan bernilai perbaikan. Mengandaikan diri dapat membangun sekolah (yang juga saya amini dalam hati) saya ingin menerapkan filsafat yang terkenal dalam bahasa Jawa, Memayu Hayuning Bumi.

Memayu Hayuning Bumi diperkenalkan pertama kali oleh pujangga besar Ronggowarsito dan telah sekian lama menjadi falsafah hidup orang Jawa yang kemudian saya ambil karena mengandung unsur kearifan lokal dan nilainya yang universal. Memayu berarti mempercantik/memperindah, Hayuning adalah keadaan yang indah dan Bumi berarti tempat hidup dan seluruh isi di dalamnya. Memayu Hayuning Bumi, bisa diartikan dengan memperindah dunia yang sebenarnya sudah diciptakan indah. Sekolah bagi saya, adalah salah satu upaya yang paling nyata dalam menciptakan keadaan dunia yang lebih baik. Sekolah, mendidik manusia-manusia yang di masa depannya akan menjadikan seperti apa dunia ini kelak.

Dalam menciptakan keadaan dunia atau lingkungan yang lebih baik, falsafah ini terbagi menjadi dua bagian besar yaitu Memayu Hayuning Pribadi (memperbaiki kualitas pribadi) dan Memayu Hayuning Bebrayan (memperbaiki kualitas sosial). Memayu Hayuning Pribadi berarti sekolah mengajarkan sesuatu yang memunculkan perbaikan pribadi pada diri seseorang. Nilai ini kemudian saya turunkan menjadi beberapa prinsip seperti kemandirian, pemahaman beragama, perbaikan sikap, keberanian dalam berpendapat dan penanaman jiwa kepemimpinan. Melalui prinsip-prinsip tersebut, saya berharap sekolah memunculkan pribadi-pribadi yang walaupun mungkin bukan yang paling cemerlang dalam keilmuan, namun terdidik secara keseluruhan.

Memayu Hayuning Bebrayan berarti sekolah menyediakan lingkungan sosial tempat manusia berinteraksi dengan manusia lain pada fase-fase pertama masa hidupnya. Pembelajaran terkait pergaulan atau interaksi sesama manusia menjadi penting untuk mempersiapkan seorang manusia nantinya menghadapi pergaulan dunia yang sesungguhnya di luar sekolah. Falsafah ini melahirkan prinsip-prinsip seperti menghormati/menghargai orang lain, toleransi atau dapat menerima perbedaan, kepedulian, cinta alam dan kasih sayang. Falsafah Memayu Hayuning Bebrayan memungkinkan setiap manusia di dalam sekolah bergaul dengan seseorang yang sangat berbeda dengannya secara fisik, kondisi dan latar belakang.

Walaupun pemahaman pribadi saya tentang asal mula Ronggowarsito menelurkan filsafat diatas belum sempurna, namun melalui tiga filosofi di atas, saya berharap, sekolah dapat membentuk manusia-manusia yang berkualitas dan bersinergi dalam pergaulan untuk membuat keadaan lingkungan dan alam menjadi lebih indah.

pinwheel-three

*dalam suatu tugas membuat filosofi pendidikan*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s