Di Ujung Pintu Gerbang

Cinta tak pernah memaknai hanya dengan menerima dan memberi
Karena pada saatnya, cinta sendiri adalah menunggui

Satu malam di ujung pintu gerbang kos-kosan, satu jam lamanya kuhabiskan dengan perbincangan dengan perempuan yang matanya memancarkan sinar bulan. Dan setelahnya, aku tersadar kian dalam, bukan satu, tapi banyak lagi, makna-makna dari masa. Dan setelahnya, biarlah kuucap doa sedikit untuknya, yang kupanggil dengan panggilan anaknya “Mama Nabiel”, agar matamu bersinar semakin terang di berlalunya hari.

Tentang hatiku, yang ternyata selama ini kulapisi dengan dinding-dinding keyakinan semu. Kubilang aku percaya kepadaMu, tapi aku tak pernah benar-benar menyerahkan urusanku kepadaMu. Kubilang aku akan melaksanakan perintahMu, tapi aku tak pernah benar-benar menikmati saat bersamaMu. Kubilang lagi, aku ikhlas menerima pemberianMu, tapi nyatanya aku tak benar-benar berkeinginan untuk menjaganya, tersenyum dengannya dan bahkan yang terucap dari lisanku adalah yang tidak seharusnya. Aku dan hatiku, terkurung di lorong semu.

Perempuan yang matanya memancarkan sinar bulan itu, bukanlah dia yang berpenampakan seperti guru. Yang dia sampaikan hanyalah beberapa potong hikmah diantara sekian curhatannya. Tapi dari beberapa itu, ternyata terlalu berat kuterima dengan tidak meneteskan air mata.

Hidup, katamu, bersinggungan selalu antara kesedihan-keterpurukan dan kesenangan. Demi apapun, itu adalah hal yang telah kutahu, kuingat dan kusampaikan beberapa lamanya. Tapi ternyata, aku tak pernah benar-benar memahami dan merasakannya.

Yakin, katamu harus dilakukan dengan total. Tidak ada keyakinan yang setengah-setengah. Maka, jadilah yakin yang sebenarnya walaupun itu dengan menuntut.

Amal, katamu, lakukan dengan keinginan untuk menikmatinya. maka itu akan memberimu satu energi baru yang dampaknya tak akan engkau sangka untuk hari-harimu.

Dan yang terakhir, adalah sesuatu yang kali ini aku baru tersadar olehnya. Saat semua kau dapatkan, jaga kesombonganmu karena dialah yang akan menghancurkan apa yang kau bangun perlahan-lahan. Karena menghilangkannya adalah sama dengan kemustahilan, maka jagalah jangan sampai ia bertahan berlama-lama,

Tuhan, dalam tulisan yang belum kuucap menjadi doa ini, satu yang ingin aku lakukan adalah jujur. Dan untuk itulah, aku memohon petunjukMu dalam menjalani tiap tapak langkahnya.

Kugapai kembali cinta beriring cerita, di malam tak berbintang, di ujung pintu gerbang.
011012.22.56
Bersama Daisy,Kobukuro Tsubomi, I Believe dan Cinta Bersabarlah

Iklan

Satu respons untuk “Di Ujung Pintu Gerbang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s