Turki, Islam dan Erdogan

Jika kita pernah mendengar kisah kepemimpinan Islam, ada satu kisah di masa tahun yang tak terlalu jauh dari saat ini kita berada namun tak sering mendapatkan perhatian kita. Keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1924 telah menjadi titik awal kemunduran, kedzaliman dan penjajahan besar-besaran terhadap Islam dan para pemeluknya dan 89 tahun setelahnya -mudah-mudahan-menjadi titik balik kebangkitannya.

Saya menggunakan analogi sederhana tentang hal ini, untuk menunjukkan betapa tanda-tanda yang ada telah menunjukkan satu hal, bahwa Masa Depan Dunia,ada di Tangan Islam. 28 Rajab 1342H kekhalifahan Turki sebagai benteng terakhir kekuatan Islam runtuh, namun pada pemilu Turki yang bertepatan dengan bulan Rajab 1432 H ternyata Islam diijinkan pula menang melalui sebuah partai Islam bernama Adalet ve Kalkina Partij (AKP) dengan pemimpinnya bernama Erdogan. Maka setelahnya, tidak ada lagi yang muncul dari dunia Islam selain gelombang optimisme dan harapan. Menggenggam masa depan dunia dengan Islam, maka disini saya tulis sedikit tentang Turki dan Erdogan.

Turki, selama ratusan tahun lamanya, tepatnya setelah penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al Fatih 1453 menjadi pusat kepemimpinan umat Islam. Dari pintu Konstantinopel inilah, jalan Islam terbentang di wilayah Eropa hingga menguasai 2/3 wilayah dunia. Namun peradaban yang dibangun selama ratusan tahun tersebut kemudian runtuh di tangan seorang Muslim yang tunduk pada kekuasaan barat. Hancurnya kekhalifahan Ottoman dan munculnya kekuasaan barat di penjuru dunia inilah yang kemudian menambah kegelisahan Hasan Al Banna sehingga melahirkan satu gerakan Islam terbesar di dunia bernama Ikhwanul Muslimin.

Kita tak akan berlama-lama membahas bagaimana kekuasaan pada saat itu muncul hingga memunculkan negara-negara Islam yang saling bertengkar satu sama lain hingga kini, namun yang lebih penting, bagaimana bukti nyata dari sebuah bangsa diberikan Allah pada kita sebagai bentuk optimisme perjuangan.

Selama lebih dari 80 tahun berada di bawah aturan sekuler, ternyata Turki tak pernah benar-benar melupakan dan meninggalkan Islam. Mereka yang masih konsisten berpegan teguh pada ISlam di tengah aturan negara yang berlepas dari aturan agama,pelarangan adzan, pelarangan jilbab, pengahapusan adzan,kalender Islam sekaligus hari rayanya serta memutus akar munculnya generasi Islam di masa depan. Dan kesabaran, tak pernah meninggalkan suatu kesia-siaan.

Tahun 70an kelompok Islamis muncul menjadi musuh utama sekulerisme. Ditandai dengan munculnya seorang negarawan bernama Necmetin Erbakan yang kala itu berusaha melawan sekulerisme di tahun 1997. Orang inilah, yang menjadi cikal bakal munculnya sosok Recep Tayyib Erdogan. Erbakan adalah mentor Erdogan dalam masalah kepemimpinan dan Islam,tapi jalan yang mereka ambil berbeda. Erbakan memilih jalur perlawanan secara tegas, sedangkan Erdogan lebih memilih cara yang halus. Mereka serupa tapi tak sama. Tak ada yang salah dan mereka benar sesuai jamannya.

Kemudian apa sebenarnya yang dilakukan oleh Erdogan? Sebelumnya orang turki sendiri tak menyadari bahwa beliau adalah seorang aktivis muslim yang konsisten dengan kemuslimannya. Orang menghargai Erdogan lebih dari seorang muslim saja, namun lebih dari itu adalah orang yang mampu merevitalisasi Istanbul, merepakan prinsip-prinsip demokrasi, memperbaiki pertumbuhan ekonomi dan kebijakan luar negeri yang luar biasa percaya diri.

Kepemimpinannya diisi oleh orang-orang yang profesional, ahli sekaligus konsisten. Dr.Ahmet Davutaglu, salah satunya. Mentri luar negeri yang berhasil menelorkan kebijakan-kebijakan strategis seperti mengunjungi negara-negara Arab yang di dalamnya terjadi revolusi, menyuarakan kebebasan Palestina dengan berkali-kali mendukung pengiriman kapal bantuan kemanusiaan, menjawab ancaman Israel dan melakukan pendekatan strategis dengan Jerman agar mampu menembus Uni Eropa.

Di dalam negeri sendiri tak sedikit yang dilakukan oleh Erdogan dalam menjawab tantangan sekularisme. Partainya berhasil memenangkan keputusan penghapusan pelarangan jilbab di tempat umum bahkan sekolah atau universitas. Bahkan di suatu acara wisuda Erdogan perrnah mengatakan dalam pidatonya “Kita ingin membesarkan para pemuda yang mencintai agamanya”. Sesuatu yang mungkin tidak keluar dari sorang pemimpin negeri muslim justru keluar dari pemimpin negara sekular.

AKP dan Erdogan adalah Islam, terlepas dari pencitraan yang sama sekali tak membawa simbol keagamaan. AKP dan Erdogan adalah Islam, terlepas dari kebijakan moderatnya. AKP dan Erdogan adalah Islam dan mereka berusaha mewujudakan satu cita-cita Islam dengan cara yang lebih beradab dan diterima, masa depan di tangan Islam.

Rumah.3.4.12
Source:suaranews,thewhitepath.com,globalmuslim.co.id,dinarulfi.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s