Bila Kita Suka, Biarkan Tuhan yang Menilainya

Di ruang pribadi ini, jarang sekali kutulis episode-episode bahagia nan membahana tentang hari-hari penuh cinta. Memang seringkali, inspirasi lebih menepi ketika sedang ada mendung di hati. Maka tulisan pun lebih banyak berbentuk pencarian energi yang membuahkan kekuatan mengahdapai kesedihan. Sekarang biarlah kutulis tentang suka, rasa dimana seringkali kita mungkin melupakanNya. Biar menjadi kenangan dalam ingatan, bahwa saat suka pun, kita mengingatNya.

Suatu hari dalam sejarah cerita, aku berjalan sendiri di pinggir jalan kota besar. Panasnya, gerahnya, baunya, mengingatkan ku pada sebuah cerita di dalam kitab suci, tentang bagaimana Hajar waktu itu tertinggal sendiri d bukit yang tak menyediakan banyak harapan untuk tetap bertahan. Jikalau mungkin ada gubuk di sekitaran padang tandus itu, mungkin ia aku memasukinya dan menangis sekencang-kencangnya, sewaktu suami yang dicintainya sepenuh jiwa harus meninggalkan dirinya dan bayinya sendirian disaja di bukit maha tandus. Tapi yang dilakukannya bukan itu. Yang dilakukannya adalah perkara hebat tiada tara!

Hajar yang tak lagi mampu menyusui putranya yang haus, berlarian di antara dua bukit untuk mencari setetes air penghidupan. Dan yang ia temukan hanyalah fatamorgana, tak lebih tak kurang. Bukankah fatamorganapun seringkali menyakitkan bagi sebagian besar logika orang awam??

Dengan fatamorgana itulah ia terus berharap. Dengan fatamorgana itulah ia terus bergerak. Karena walaupun menyakitkan, fatamorgana juga mampu membuat seseorang menjadi penuh pengharapan. Ia lihat di bukit nun jau ada ir, maka ia berlari. Dan ketika tidak ditemui, ia cari ke tempat yang lain. Senantiasa berusaha.

Dan pada titik kemampuannya, Tuhan ternyata lebih tahu. Tuhan tau tapi menunggu. Mata air itu justru keluar dari bawah mata kaki anaknya. Air jernih tiada terkira, yang ternyata mampu memberi kebermanfaatan jauh di masa semenjak ia hidup. Pada titik inilah, sukanya kemudian menjadi berkah.

Untuk Dinar, biarkan kemudian cerita Hajar ini terpatri di lorong-lorong neutron. Sehingga di setiap sisi kegagalan dalam hidup, kita pun akan tetap bangkit. Hingga tuhan, berkenan membayar lelah kita, hingga muncul perasaan suka di hati kita. Jadikan kesukaan itu menjadi satu bentuk kebermanfaatan yang lain.

Maka bila kita suka, biarlah tuhan yang menilainya.

24.2.12
13.46
tiba2 teringat salah satu ibu hebat di dunia, Ibunda Siti Hajar, dan ibuku sendriri:)
Gang atap, depok

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s