Perempuan Berdaya: Manifestasi Eksistensi Perempuan Bagi Peradaban

Peradaban menjadi lebih berarti jika berempu pada perempuan. Sebab perempuan, seperti kata Buya Hamka, adalah per-empua-an Adalah perempuan, makhluk ciptaan tuhan yang telah mengalami dinamisasi eksistensi dari awal diciptakannya hingga masa sekarang ini. Fase-fase eksistensi perempuan ini terlihat jelas di zaman mitos Yunani yang berkembang di Eropa, Renaisance, munculnya Islam yang kala itu menguasai dua pertiga wilayah dunia, dan masa modern yang ditandai dengan munculnya berbagai macam paham feminisme. Jika pada zaman mitos, perempuan menjadi makhluk yang terpinggirkan, pada zaman perkembangan Islam, perempuan dimuliakan, maka pada zaman modern, isu gender inequality atau kesamaan gender menjadi satu gerakan yang marak diperjuangkan oleh perempuan pada zaman ini. Kita perlu melihat sisi tengah perubahan perempuan dari sisi budaya dan sosial di masa kemunculan Islam. Sebelum kemunculannya, kondisi perempuan Arab kala itu sama seperti di Eropa bahkan lebih parahnya adalah pembunuhan terhadap bayi perempuan karena dinilai tak memberikan kemanfaatan apa-apa. Namun setelah kehadiran Muhammad, peradaban bodoh diubah menjadi peradaban yang mulia. Dimana perempuan tidak hanya di tempatkan sesuai dengan posisinya sebagai istri dan ibu, tapi juga berperan dalam masyarakat sesuai potensinya sendiri-sendiri. Misalnya As Syifa sebagai dokter perempuan arab, Asma binti Abu Bakar yang menjalankan tugas spionase atau Khadijah yang menjadi bussiness woman paling sukses kala itu. Muhammad telah meletakkan dasar-dasar pijakan perempuan yang berdaya kala itu. Perempuan yang secara kodrati memanglah berperan sebagai istri yang melayani kebutuhan suami, sebagai ibu yang mendidik anak-anaknya namun juga mempunyai peranan besar bagi perkembangan peradaban. Dan justru, peran terberat berada pada posisi ibu, sesuatu yang pada akhirnya membuat perempuan disebut sebagai tiang negara. Sebab tegaknya sebuah bangsa kata Muhammad saw, baiknya sebuah bangsa, berasal dari para ibu yang berhasil menggunakan segenap dayanya untuk mendidik anak-anak generasi masa depan. Dan seperti istilah yang telah diungkapkan HAMKA di atas, bahwa peradaban menjadi lebih berarti jika berempu atau bersandar pada perempuan karena secara bahasa pun perempuan bisa diartikan sebagai pe-empu-an. Jika saat ini gerakan perempuan feminis yang terwujud dalam berbagai organisasi tadinya menuntut kesamaan hak pada akhirnya menuntut persamaan peran dengan laki-laki, maka kita perlu menginstrospeksi kembali pemikiran semacam ini. Sebab definisi keadilan yang paling indah, adalah penempatan sesuatu yang proporsional atau sesuai dengan kemampuannya. Sehingga menjadi hal yang tidak mungkin jika permpuan harus benar-benar disamakan dengan lelaki, padahal dari fungsi alamiahnya pun jelas bahwa laki-laki menjadi ayah sedangakan perempuan menjadi ibu. Maka menjadikan perempuan sebagai sosok yang berdaya, haruslah menjadi titik tekan proses pemberdayaan perempuan. Perempuan yang berdaya, adalah perempuan yang menjalankan fungsi utamanya sebagai istri, ibu dan memberdayakan potensi dirinya yang lain seperti berdagang, berorganisasi, akademisi dan kemampuan lainnya. Menjadi perempuan, istri, ibu yang berdaya adalah satu bentuk manifestasi eksistensi perempuan yang paling menyejukkan bagi peradaban. Bukan dengan meninggalkan kodrat untuk meraih pekerjaan, popularitas, intelektual yang bertujuan untuk menyamai laki-laki, melainkan dengan melaksanakan kodrat sebagai istri yang melayani suami, ibu yang mendidik anak-anaknya dan perempuan yang mampu berdaya secara kualitas dan intelektual untuk mennciptakan peradaban yang lebih baik. Sehingga kita dapat sadari, bahwa menjadi ibu rumah tangga pun, membutuhkan intelektualitas yang bukan ala kadarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s